Jātakamālā 2 – Śibijātaka
(Kisah Raja Sibi)


Ditulis dalam Bahasa Sanskerta oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris
ke dalam Bahasa Indonesia oleh:

Garvin Goei

Referensi terjemahan Bahasa Inggris:
J.S. Speyer
Clay Sanskrit Library


Dharma yang luhur ini harus disimak dengan penuh perhatian, karena melalui ratusan rintangan yang sulit Sang Bhagavā menemukan Dharma yang luar biasa ini demi kita. Inilah yang akan diajarkan melalui kisah berikut.

Saat sang guru masih merupakan seorang Bodhisattva, ia terlahir sebagai raja para Śibi, sebagai akibat dari akumulasi jasa kebajikan yang dikumpulkan melalui praktik dalam waktu yang sangat panjang. Sejak kecil ia sudah terbiasa menghormat kepada orang yang lebih tua dan terkendali dalam perilakunya, sehingga ia dicintai oleh rakyat-rakyatnya. Berkat kecerdasannya, ia mengembangkan batinnya dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Dia diunggulkan oleh kekuatan, kebijaksanaan, keagungan dan kekuasaannya, serta disenangi oleh keberuntungan. Dia memimpin rakyatnya seolah-olah mereka adalah anak-anaknya sendiri.

(1)
Kemuliaan yang terdiri dari tiga unsur (dharma, artha, dan kāma)
terlihat senantiasa menyertainya dengan gembira.
Ketiganya tidak kehilangan kemegahan mereka,
meskipun terdapat perbedaan di antara mereka.

(2)
Seperti ejekan bagi mereka yang besar dengan cara yang salah,
seperti malapetaka yang mengerikan bagi orang bodoh,
seperti minuman yang memabukkan bagi yang berpikiran lemah,
Demikianlah kejayaan yang ada di dalam dirinya, sesuai dengan namanya.

(3)
Berhati mulia, berwelas asih, dan bergelimang harta,
ialah raja yang terbaik,
yang bersukacita saat melihat wajah pengemis
berseri-seri dengan kegembiraan ketika mendapatkan   yang diinginkan.

Sang raja, sesuai dengan sifatnya yang senang memberi, membangun aula-aula derma di seluruh kota, dilengkapi dengan setiap jenis peralatan, barang, dan biji-bijian. Dengan cara ini dia mencurahkan hujan pemberiannya bagai awan Kṛta Yuga. Dia membagikannya dengan cara yang sedemikian rupa, sebagai wujud keagungan pikirannya, untuk memenuhi kebutuhan masing-masing sesuai dengan keinginannya, dengan rasa hormat yang indah dan kecepatan yang baik sehingga meningkatkan manfaat dari pemberiannya. Dia memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan makanan, memberikan minuman kepada mereka yang membutuhkan minuman; demikian pula dia membagikan tempat tidur, tempat duduk, tempat tinggal, makanan, wewangian, karangan bunga, perak, emas, dan sebagainya kepada mereka yang memintanya.

Kemurahan hati sang raja menyebar hingga ke luar negeri. Orang-orang yang berasal dari berbagai daerah dan belahan dunia pergi ke negara itu, dengan ketakjuban dan kegembiraan di hati mereka.

(4)
Para peminta, mengamati orang-orang yang lewat melalui pikiran mereka,
tidak menemukan kesempatan lain untuk mengajukan permintaan mereka
Demikianlah mereka masuk ke dalam kerumunan dengan wajah gembira,
bagai gajah liar yang masuk ke dalam danau besar.

Di sisi lain, ketika sang raja melihat mereka yang bergembira dengan harapan mendapatkan keuntungan berkumpul bersama dari segala arah, meskipun penampilan luar dari pengemis-pengemis itu sama sekali tidak menarik,

(5)
Sang raja tetap menerima mereka, dengan mata terbelalak gembira,
seolah-olah mereka adalah teman yang kembali dari negeri seberang.
Ia mendengarkan permintaan mereka seperti berita baik untuknya,
dan setelah memberi, hatinya merasa lebih puas dari pada para penerima.

(6)
Kemashyurannya atas kemurahan hatinya yang wang
disebarkan oleh suara para pengemis,
menghilangkan kebanggaan raja-raja lain,
Seperti aroma harum gajah menghilangkan bau nanah gajah lainnya.[1]

Suatu hari. saat raja sedang mengujungi aula derma, ia memperhatikan bahwa kerumunan pemohon sudah sangat berkurang, karena kebutuhan dari para pengemis sudah terpenuhi. Mempertimbangkan hal tersebut, ia merasa resah, karena kebiasaannya untuk memberi tidak dapat berjalan dengan baik.

(7)
Ketika menemui sang raja, dahaga keinginan para pemohon terpuaskan,
tetapi tidak dengan dahaga sang raja untuk memberi.
Begitu besar semangat sang raja untuk memberi,
sehingga tidak ada permintaan yang dapat mengalahkan tekadnya.

Kemudian pikiran ini muncul di dalam dirinya; “Oh, diberkatilah mereka yang terunggul di antara yang berbudi luhur, yang kepadanyalah para pengemis mengucapkan keinginan mereka dengan keyakinan dan tanpa pembatasan, bahkan meminta anggota tubuh mereka! Tetapi bagiku, mereka hanya berani meminta kekayaanku, seolah-olah mereka takut dengan kata-kata penolakan yang kasar.”

(8)
Menyadari pemikiran yang sangat luhur itu,
betapa kukuhnya ia untuk memberi, tidak melekati tubuhnya sendiri,
maka bumi pun bergetar,
bagaikan seorang wanita yang mencintai suaminya.

Permukaan bumi terguncang. Sumeru, penguasa pegunungan, bersinar dengan kilauan bermacam permata, juga ikut berguncang. Śakra, raja para dewa (Devendra), yang menyelidiki penyebab dari guncangan ini, menemukan bahwa pikiran luhur raja itulah yang menimbulkan getaran di permukaan bumi; dan saat dia terheran-heran, ia merenungi hal ini:

(9)
“Pemikiran apakah yang dipikul oleh raja ini,
sehingga batinnya penuh dengan kegembiraan dalam memberi?
Dia telah menetapkan batas kehendaknya untuk memberi,
dengan tekad yang kuat untuk berpisah dengan anggota tubuhnya sendiri?

Baiklah, aku akan mengujinya.”

Saat itu raja sedang dikelilingi oleh para pejabatnya, duduk (di singgasananya, di aula) di tengah-tengah majelis. Pengumuman telah digaungkan, mengundang siapa saja yang membutuhkan sesuatu; simpanan kekayaan, perak, emas, dan permata ditunjukkan oleh bendahara; kotak-kotak yang berisi berbagai jenis pakaian dibuka; berbagai kereta barang yang sangat bagus, yang pikulannya menutupi leher berbagai binatang penarik yang terlatih dengan baik, ditarik maju; dan para pengemis pun berkerumun masuk. Di antara mereka, Śakra, raja para dewa, telah menyamar sebagai seorang brāhmana tua dan buta, menarik perhatian raja. Sang raja tampil dengan tegas, tenang, dan lembut dengan penuh welas asih dan keramahan kepadanya, dan bersama pejabat-pejabatnya ia datang menemui brāhmana tua itu dan merangkulnya. Para pelayan kerajaan memintanya untuk mengatakan apa yang dia inginkan, tetapi iia mendekati sang raja, dan setelah mengucapkan salam dan berkat, berkata sebagai berikut:

(10)
“Aku, seorang tua yang buta, datang dari jauh
untuk memohon mata darimu, wahai raja tertinggi.
Untuk menjalankan aktivitas duniawi biasa,
satu mata sudah cukup, wahai penguasa bermata teratai.”

Meskipun Bodhisattva merasakan kegembiraan yang luar biasa saat keinginan hatinya terwujud, keraguan muncul di dalam dirinya. Apakah brāhmana benar-benar berkata demikian atau, pikirannya saja yang sedang membayangkannya karena sering memikirkannya. Karena ingin mendengar kata-kata permintaan mata yang sangat menyenangkan ini, dia kemudian berbicara kepada sang pemohon:

(11)
“Siapakah yang telah memerintahkanmu, wahai brāhmana agung,
untuk datang ke sini dan meminta satu mata dariku
Tak seorang pun akan dengan mudah berpisah dengan matanya
Siapakah yang berpikir bahwa ini tidak berlaku kepadaku?”

Śakra, raja para dewa yang menyamar sebagai seorang brāhmana, mengetahui maksud dari raja, dan menjawab:

(12)
“Śakra menyuruhku untuk meminta matamu,
sehingga membuatku datang ke sini.
Kabulkanlah penghargaannya beserta harapanku
dengan memberikan matamu.”

Mendengar nama Śakra, sang raja berpikir: “Tentunya, melalui kekuatan dewa, brāhmana ini akan mendapatkan kembali penglihatannya dengan cara ini,” dan dia berbicara dengan suara, jernih yang menunjukkan kegembiraannya:

(13)
“Brāhmana, aku akan memenuhi keinginanmu,
yang telah mendorongmu untuk datang ke sini.
Meski engkau menginginkan satu mata dariku,
aku akan memberikan keduanya!

(14)
Setelah aku menghiasi wajahmu dengan sepasang mata yang cerah bagai teratai,
pergilah, perlihatkan dirimu kepada orang-orang.
Mereka akan meragukanmu terlebih dahulu,
tetapi mereka akan merasa takjub ketika menyadarinya.”

Setelah memahami bahwa sang raja telah memutuskan untuk berpisah dengan matanya, para penasihat merasa bingung dan gelisah; kesedihan melanda pikiran mereka. Mereka berkata kepada sang raja:

(15)
Yang Mulia, kegemaran besar Anda dalam memberi
membuat Anda mengabaikan bahwa ini adalah salah dan merugikan.
Kami mohon, Yang Mulia, jangan lakukan ini.
Jangan merelakan penglihatan Anda!

(16)
Janganlah mengabaikan kami semua
demi satu brāhmana ini.
Jangan biarkan api kesedihan membakar rakyat-rakyatmu,
mereka yang telah engkau berikan kenyamanan dan kemakmuran.

(17)
Berikanlah kekayaan yang membawa keberuntungan,
seperti permata mulia, sapi perah,
kereta dengan hewan yang terlatih,
gajah yang kuat dengan keindahan anggun.

(18)
Berikanlah rumah yang nyaman untuk setiap musim,
bergema dengan suara gemerincing gelang kaki,
yang kecerahannnya melebihi awan musim gugur.
Tetapi jangan berikan penglihatanmu,
wahai engkau yang satu-satunya mata bagi dunia.

Selain itu, Baginda, Anda harus mempertimbangkan ini:

(19)
Bagaimana bisa mata seseorang
dipindahkan ke wajah orang lain?
Jika itu hanya bisa melalui kekuatan dewa,
mengapa harus matamu yang dibutuhkan?

Lagipula, Yang Mulia.

(20)
Mengapa pengemis malang ini membutuhkan mata?
Agar ia dapat melihat kemakmuran orang lain?
Kalau begitu, berilah ia uang,
mohon jangan bertindak gegabah!”

Kemudian raja menjawab para menterinya dengan lembut dan menenangkan

(21)
Ia yang memutuskan untuk tidak memberi
ketika telah berjanji untuk memberi,
sesungguhnya ia mengikatkan diri pada keserakahan
setelah melepaskan diri darinya.

(22)
Ia yang telah berjanji untuk memberi
tetapi tidak menepati janjinya
karena didorong oleh ketamakan,
bukankah ia adalah yang paling buruk?

(23)
Ia yang telah menguatkan harapan para pengemis
dengan berjanji untuk memberi,
tetapi mengecewakan mereka dengan melanggar janji,
sungguh tidak ada pemaafan baginya.

Dan sehubungan dengan pernyataanmu tentang ‘apakah kekuatan dewa itu sendiri tidak cukup untuk memulihkan penglihatan orang itu?’ Kalian harus diajarkan tentang hal ini.

(24)
Ada berbagai cara yang berbeda
untuk mencapai tujuan.
Demikian pula bahkan takdir (vidhi), meski dewa sekalipun
membutuhkan berbagai cara yang berbeda.

Oleh karena itu, hendaknya kalian tidak menghalangi tekadku untuk melekukan pemberian yang luar biasa.”

Para menteri menjawab: “Kami hanya memberanikan diri untuk memberi saran kepada Yang Mulia untuk memberikan barang, biji-bijian dan perhiasan, bukan mata Anda; ketika mengatakan ini, kami tidak membujuk Yang Mulia untuk melakukan kejahatan.”

Raja berkata:

(25)
“Hal yang diminta harus diberikan.
Hadiah yang tidak diharapkan tidak memberi kesenangan.
Apa gunanya air bagi seseorang yang terbawa oleh arus?
Maka itu, aku akan memberikan barang yang diminta oleh orang ini.

Setelah ini, perdana menteri yang lebih lebih dekat dengan raja, datang menghadap karena perhatiannya dan rasa hormatnya kepada raja, kemudian berbicara sebagai berikut: “Kumohon, jangan lakukan.

(26)
Anda sedang menggenggam kerajaan ini,
yang bersaing dengan kekayaan Śakra,
yang tidak dapat diperoleh tanpa kerja keras dan meditasi dalam jumlah besar,
membutuhkan berlapis-lapis pengorbanan untuk mencapainya,
membuka jalan menuju kemuliaan dan alam surga.
Tetapi Anda tidak memedulikannya dan hendak memberikan kedua mata Anda!
Apa tujuan dari tindakan ini? Dari mana asal mulanya?

(27)
Melalui pengorbananmu, Anda telah mendapatkan tempat di antara para dewa,
ketenaranmu bersinar jauh dan luas ke segala arah.
Kakimu mencerminkan kemegahan mahkota para raja.
Maka apa lagi yang Anda inginkan dengan menyerahkan penghilatanmu?”

Tapi raja menjawab menteri itu dengan nada lembut:

(28)
“Aku berjuang bukan demi seluruh alam di dunia,
juga bukan demi surga, kebebasan, atau pun kemuliaan.
Dengan maksud untuk menjadi penyelamat dunialah
aku mengupayakan agar jerih payah permohonan pria ini dapat membuahkan hasil.”

Kemudian raja memerintahkan agar salah satu matanya, cahaya indah yang tampak seperti kelopak bunga teratai biru, untuk diambil melalui petunjuk para tabib secara bertahap dan utuh, dan dengan kegembiraan terbesar dia menyerahkannya kepada pemohon yang memintanya. Lalu Śakra, penguasa para dewa, dengan kesaktiannya menciptakan ilusi yang sedemikian rupa sehingga raja dan para pengiringnya melihat mata itu memenuhi lubang mata sang brāhmana tua. Ketika raja melihat si peminta mata memiliki satu mata yang tidak tertutup, hatinya melapang dengan sangat gembira, dan dia memberinya mata yang satunya lagi.

(29)
Setelah mata diberikan, raut wajah sang raja
tampak seperti kolam teratai tanpa bunga teratai,
namun menunjukkan kepuasan, meskipun tidak dimiliki oleh para rakyat.
Di sisi lain, sang brāhmana terlihat dengan mata yang utuh.

(30)
Di seluruh istana maupun di kota,
air mata kesedihan membasahi tanah.
Tetapi Śakra tersentuh dengan rasa kagum dan puas,
melihat niat baik raja yang tidak tergoyahkan untuk mencapai pencerahan sempurna (Sambodhi).

Dan dalam tataran batin ini ia merenungi:

(31)
“Betapa teguhnya! Betapa bajiknya!
Betapa ia ingin memberi manfaat bagi para makhluk!
Meskipun aku telah melihatnya sendiri,
aku hampir tidak dapat mempercayai ini telah terjadi!

Maka, tidaklah benar bahwa orang yang memiliki kebaikan yang luar biasa ini harus menanggung kesulitan yang luar biasa dalam waktu yang panjang. Aku akan mencoba memunculkan penglihatannya kembali dengan cara tertentu.”

Setelah itu, ketika waktu telah menyembuhkan luka-luka yang disebabkan oleh operasi, dan telah mengurangi dan hampir meredakan kesedihan para penghuni istana, kota, dan desa; pada suatu hari sang raja berkeinginan untuk bertapa sendirian, sedang duduk bersila di tamannya di tepi kolam teratai. Tempat itu dipenuhi oleh pepohonan yang indah dan halus yang membungkuk karena beban bunganya; kawanan lebah bersenandung; angin sepoi-sepoi, segar, dan harum bertiup dengan nyaman. Tiba-tiba Śakra, raja para dewa menampakkan dirinya di hadapan raja. Ketika ditanya siapakah ia, dia menjawab:

(32a)
Aku adalah Śakra, raja para dewa,
aku datang untuk menemuimu.

Setelah itu raja menyambutnya dan berkata bahwa dia menunggu perintahnya. Setelah disambut dengan seperti itu, ia kembali berbicara kepada raja:

(32b)
“Pilihlah satu anugerah, wahai raja bijaksana (rājarṣi);
sebutkanlah apa yang engkau inginkan.”

Raja sudah terbiasa memberi dan tidak pernah menapaki jalan meminta-minta yang menyedihkan. Sesuai dengan rasa takjubnya dan pikirannya yang luhur, sang raja berkata kepadanya:

(33)
Kekaayaanku melimpah, wahai Śakra,
pasukanku besar dan kuat.
Tetapi kebutaanku, membuatku
hanya tertarik dengan kematian saat ini.

(34)
Tidak mampu melihat wajah para peminta
yang berseri oleh kesenangan dan keceriaan
ketika harapan-harapan mereka terpenuhi,
kini aku hanya menyenangi kematian, wahai Indra.

Śakra berkata: “Cukup dengan keteguhan hati seperti itu! Hanya orang berbudi luhur yang dapat mencapai keadaan sepertimu. Tetapi ini yang harus engkau katakan kepadaku;

(35)
Para pengemislah yang menyebabkanmu berada dalam kondisi ini,
bagaimana mungkin pikiranmu masih sibuk memikirkan mereka?
Katakan kepadaku! Jangan menyembunyikan kebenaran dariku,
dan engkau dapat segera mengambil cara untuk penyembuhanmu.”[2]

Raja menjawab: “Mengapa engkau bersikeras untuk membuat diriku bangga? Namun dengarkanlah, wahai raja para dewa:

(36)
Seyakin permohonan dari para pengemis,
baik itu di masa lalu maupun saat ini
yang terdengar menyenangkan bagiku sebagai berkah,
semoga salah satu mataku muncul di hadapanku!”

Tidak lama setelah raja mengucapkan kata-kata itu, dengan kekuatan kejujurannya yang teguh dan kumpulan tindakan baiknya yang luar biasa, sebuah mata muncul di hadapannya, menyerupai kelopak bunga teratai, yang meliputi pupil bagai batu safir. Bersukacita melihat kemunculan matanya yang ajaib ini, sang raja berbicara kepada Śakra sekali lagi:

(37)
“Dan seyakin, setelah memberikan kedua mata
kepada ia yang hanya meminta satu,
batinku tidak merasakan hal lain selain kegembiraan penuh,
semoga aku juga mendapatkan mata yang kedua!”

Raja baru saja selesai mengucapkannya, di hadapannya muncul satu mata yang lain, seolah-olah itu adalah sandingan dari mata yang pertama.

(38)
Bumi dan gunung-gunung berguncang,
lautan mengalir melewati perbatasan pantainya.
Genderang surgawi berbunyi,
dengan suara yang dalam dan menyenangkan.

(39)
Segala penjuru langit tampak tenang dan indah.
Matahari bersinar semurni cahaya musim gugur.
Berbagai macam bunga jatuh dari surga,
diwarnai oleh bubuk cendana.

(40)
Para makhluk surgawi, termasuk para apsarasa dan gaṇa,
datang berkumpul dengan mata yang terbelalak takjub.
Angin bertiup sepoi-sepoi dengan menyenangkan.
Kegembiraan berkembang di batin setiap makhluk.

(41)
Suara pujian terdengar di segala arah,
diucapkan para makhluk sakti melalui kekuatannya.
Penuh dengan kegembiraan dan kekaguman,
mereka mengagungkan perbuatan mulia sang raja:

(42)
“Betapa mulianya! Betapa ia berwelas asih!
Lihatlah kemurnian hatinya!
Betapa ia tidak peduli dengan kesenangannya sendiri!
Terpujilah engkau, yang unggul oleh keteguhan dan keberanianmu!

(43)
Dunia telah memeroleh kembali dirimu sebagai pelindungnya!
Kilau mata terataimu telah terbuka sekali lagi!
Sesungguhnya, simpanan jasa kebajikan adalah harta yang kokoh!
Sungguh, kebajikan telah memperoleh kemenangan yang besar!”

Kemudian Śakra memberikan tepuk tangan padanya, “Sangat baik, sangat baik!” dan berucap lagi:

(44)
“Kemurnian batinmu yang sesungguhnya
diketahui olehku, yang mulia.
Oleh karena itu, wahai raja,
aku telah mengembalikan matamu.”

(45)
Melalui mata ini,
engkau akan memiliki kekuatan tanpa hambatan
untuk melihat lebih dari seratus yojana ke segala arah,
bahkan menembus pegunungan yang menghalangi.

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Śakra menghilang dari tempat itu.

Kemudian, Sang Bodhisattva, diikuti oleh para pejabatnya,[3] yang matanya terbuka lebar dan hampir tidak berkedip karena rasa heran yang memenuhi pikiran mereka, naik ke dalam arak-arakan menuju ibukota. Kota itu menampilkan pakaian festival, dihiasi dengan bendera yang dikibarkan dan berbagai spanduk, warga melihat-lihat dan para brāhmana memuji raja dengan salam dan doa. Ketika ia telah duduk di ruang pertemuan, di tengah-tengah kerumunan besar, yang pertama-tama terdiri dari para menteri, para brāhmana dan para tetua, para penduduk kota dan desa, yang semuanya telah datang untuk mengungkapkan ucapan selamat mereka yang penuh hormat: ia mengkhotbahkan Dharma kepada mereka, mengambil isinya berdasarkan pengalamannya sendiri.

(46)
“Siapakah di dunia ini yang akan lamban
dalam memuaskan keinginan pengemis dengan kekayaannya,
setelah melihat aku memperoleh mataku ini melalui kekuatan surgawi,
sebagai akibat dari jasa kebajikanku dalam memberi?

(47)
Aku dapat melihat ke segala arah
dalam keliling seratus yojana
meskipun tersembunyi di balik gunung,
sejelas seolah-olah itu dekat.

(48)
Apa cara yang lebih unggul untuk mencapai kemakmuran,
selain memberi dengan welas asih dan kerendahan hati?
Setelah aku merelakan penglihatan duniawi,
aku menerima penglihatan surgawi.

(49)
Mengetahui ini, para Śibi, buatlah kekayaanmu berbuah
dengan melakukan pemberian dan melepaskannya.[4]
Inilah jalan menuju kemuliaan dan kebahagiaan
baik dalam kehidupan ini maupun berikutnya.

(50)
Kekayaan adalah sesuatu yang rendah dan tidak bermakna.
Kekayaan menjadi bermakna ketika diberikan untuk kesejahteraan para makhluk.
Ketika diberikan, kekayaan menjadi harta karun (nidhāna),
ketika tidak diberikan, tujuan akhirnya hanyalah kehancuran (nidhana).”

Demikianlah, melalui ratusan kesulitan yang sulit itulah Sang Bhagavā memperoleh Dharma yang luhur ini demi kita; karena alasan inilah khotbahnya harus didengar dengan penuh perhatian.

Seseorang harus menceritakan kisah ini ketika sedang mendiskusikan keluhuran batin Sang Tathagata, seperti kisah yang telah disebutkan sebelumnya.[5]

Begitu pula ketika sedang mendiskusikan welas asih, dan ketika menunjukkan hasil dari perbuatan baik yang telah muncul pada kehidupan ini, berkata: “Dengan cara inilah, jasa kebajikan yang telah dikumpulkan melalui perbuatan-perbuatan baik, menunjukkan kekuatannya di kehidupan ini, laksana mekarnya bunga yang pesonanya meningkatkan kemuliaan.”


[1] Dalam bahasa aslinya perumpamaan ini diekspresikan oleh figur retoris, yang disebut ślea.

[2] Cara ini adalah Tindakan Kebenaran, sebagaimana dalam Hardy, Manual of Buddhism, 197 menyebutnya. Dalam Jātaka Pāli, Sakka menghasut raja untuk itu secara sederhana. Contoh lain dari saccakiriyā, seperti yang ditata dalam Pāḷi, akan muncul dalam Cerita 14, 15, 16.

[3] Kemunculan para pejabat dan menteri yang tiba-tiba agak aneh di sini. Jātaka Pāli dapat menjelaskannya. ‘Pada saat yang sama, dikatakan di sana (4, hlm. 411) bahwa saat [mata] muncul kembali, seluruh pengikut raja (sabbā rājaparisā) hadir melalui kekuatan Sakka.’

[4]      Inti dari petunjuk kerajaan ini mungkin diilustrasikan oleh bagian-bagian yang sesuai dari narasi di Pāli Jātaka. Petunjuk di sana diberikan dua kali, dalam prosa dan dalam sajak, lihat Jataka terjemahan versi Fausböll buku IV, hal. 41, 22, dan hal. 412, 7.

[5] Yaitu kisah harimau betina.

[Kembali ke daftar isi]