Garvin Goei

Ceramah Dharma Pemuda di Vihara SilaParamita Cipinang, 12 November 2023

Pendiri dan pengelola Borobudur Wisdom, Garvin Goei, mengisi puja bakti pemuda di Vihara Silaparamita Cipinang hari Minggu lalu.

Dalam kesempatan itu, Garvin menyampaikan beberapa poin:

  • Pikiran yang baik akan menghasilkan tindakan jasmani dan ucapan yang baik, dengan demikian menimbulkan karma yang baik dan kehidupan yang baik.
  • Pikiran yang buruk – sebaliknya – menghasilkan tindakan jasmani dan ucapan yang buruk, dan menimbulkan karma buruk.
  • Mengapa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau? Karena kita sibuk melihat rumput tetangga dan lupa menyiram rumput sendiri. Ajaran Buddha begitu lengkap dan relate, tetapi kita jarang membaca teks-teks di dalam Tripitaka.

Adapun sutta yang menjadi acuan ceramah ini adalah:

“Pikiran mengawali semua kondisi batin.
Pikiran adalah pemimpin,
mereka dibentuk oleh pikiran.
Jika dengan pikiran yang tidak murni,
seseorang berucap atau bertindak,
maka penderitaan mengikutinya
seperti roda mengikuti kaki lembu.

Pikiran mengawali semua kondisi batin.
Pikiran adalah pemimpin,
mereka dibentuk oleh pikiran.
Jika dengan pikiran yang murni
seseorang berucap atau bertindak,
maka kebahagiaan mengikutinya
seperti bayangan yang tidak pernah pergi.”

(Dhammapada 1 & 2, Khuddaka Nikaya)

Semoga Dharma tetap lestari, Sadhu!

Ceramah Dharma Remaja di Vihara Dharma Suci Pluit, 5 November 2023

Pendiri dan pengelola Borobudur Wisdom, Garvin Goei, kembali mengisi ceramah Dharma untuk puja bakti remaja di Vihara Dharma Suci Pluit, pada awal November kemarin.

Tema yang diusung adalah “Tindakan dan Karaktermu Membentuk Masa Depanmu”, tema ini diambil mengingat audiens yang masih berada pada usia sekolah sehingga masih membutuhkan arahan mengenai masa depan.

Kegiatan ini berlangsung baik dengan dihadiri 20an peserta, juga disertai dengan penampilan musik dari Sadhu.

Referensi yang digunakan oleh Garvin adalah:
Dhammapada 1 & 2, Khuddaka Nikaya.

“Pikiran mengawali semua kondisi batin.
Pikiran adalah pemimpin,
mereka dibentuk oleh pikiran.
Jika dengan pikiran yang tidak murni,
seseorang berucap atau bertindak,
maka penderitaan mengikutinya
seperti roda mengikuti kaki lembu.

Pikiran mengawali semua kondisi batin.
Pikiran adalah pemimpin,
mereka dibentuk oleh pikiran.
Jika dengan pikiran yang murni
seseorang berucap atau bertindak,
maka kebahagiaan mengikutinya
seperti bayangan yang tidak pernah pergi.”

Semoga Dharma tetap lestari dan bermanfaat bagi semua makhluk.

Sarva Sattva Bhavantu Sukhitatta,
semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Jātakamālā 2 – Śibijātaka
(Kisah Raja Sibi)


Ditulis dalam Bahasa Sanskerta oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris
ke dalam Bahasa Indonesia oleh:

Garvin Goei

Referensi terjemahan Bahasa Inggris:
J.S. Speyer
Clay Sanskrit Library


Dharma yang luhur ini harus disimak dengan penuh perhatian, karena melalui ratusan rintangan yang sulit Sang Bhagavā menemukan Dharma yang luar biasa ini demi kita. Inilah yang akan diajarkan melalui kisah berikut.

Saat sang guru masih merupakan seorang Bodhisattva, ia terlahir sebagai raja para Śibi, sebagai akibat dari akumulasi jasa kebajikan yang dikumpulkan melalui praktik dalam waktu yang sangat panjang. Sejak kecil ia sudah terbiasa menghormat kepada orang yang lebih tua dan terkendali dalam perilakunya, sehingga ia dicintai oleh rakyat-rakyatnya. Berkat kecerdasannya, ia mengembangkan batinnya dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Dia diunggulkan oleh kekuatan, kebijaksanaan, keagungan dan kekuasaannya, serta disenangi oleh keberuntungan. Dia memimpin rakyatnya seolah-olah mereka adalah anak-anaknya sendiri.

(1)
Kemuliaan yang terdiri dari tiga unsur (dharma, artha, dan kāma)
terlihat senantiasa menyertainya dengan gembira.
Ketiganya tidak kehilangan kemegahan mereka,
meskipun terdapat perbedaan di antara mereka.

(2)
Seperti ejekan bagi mereka yang besar dengan cara yang salah,
seperti malapetaka yang mengerikan bagi orang bodoh,
seperti minuman yang memabukkan bagi yang berpikiran lemah,
Demikianlah kejayaan yang ada di dalam dirinya, sesuai dengan namanya.

(3)
Berhati mulia, berwelas asih, dan bergelimang harta,
ialah raja yang terbaik,
yang bersukacita saat melihat wajah pengemis
berseri-seri dengan kegembiraan ketika mendapatkan   yang diinginkan.

Sang raja, sesuai dengan sifatnya yang senang memberi, membangun aula-aula derma di seluruh kota, dilengkapi dengan setiap jenis peralatan, barang, dan biji-bijian. Dengan cara ini dia mencurahkan hujan pemberiannya bagai awan Kṛta Yuga. Dia membagikannya dengan cara yang sedemikian rupa, sebagai wujud keagungan pikirannya, untuk memenuhi kebutuhan masing-masing sesuai dengan keinginannya, dengan rasa hormat yang indah dan kecepatan yang baik sehingga meningkatkan manfaat dari pemberiannya. Dia memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan makanan, memberikan minuman kepada mereka yang membutuhkan minuman; demikian pula dia membagikan tempat tidur, tempat duduk, tempat tinggal, makanan, wewangian, karangan bunga, perak, emas, dan sebagainya kepada mereka yang memintanya.

Kemurahan hati sang raja menyebar hingga ke luar negeri. Orang-orang yang berasal dari berbagai daerah dan belahan dunia pergi ke negara itu, dengan ketakjuban dan kegembiraan di hati mereka.

(4)
Para peminta, mengamati orang-orang yang lewat melalui pikiran mereka,
tidak menemukan kesempatan lain untuk mengajukan permintaan mereka
Demikianlah mereka masuk ke dalam kerumunan dengan wajah gembira,
bagai gajah liar yang masuk ke dalam danau besar.

Di sisi lain, ketika sang raja melihat mereka yang bergembira dengan harapan mendapatkan keuntungan berkumpul bersama dari segala arah, meskipun penampilan luar dari pengemis-pengemis itu sama sekali tidak menarik,

(5)
Sang raja tetap menerima mereka, dengan mata terbelalak gembira,
seolah-olah mereka adalah teman yang kembali dari negeri seberang.
Ia mendengarkan permintaan mereka seperti berita baik untuknya,
dan setelah memberi, hatinya merasa lebih puas dari pada para penerima.

(6)
Kemashyurannya atas kemurahan hatinya yang wang
disebarkan oleh suara para pengemis,
menghilangkan kebanggaan raja-raja lain,
Seperti aroma harum gajah menghilangkan bau nanah gajah lainnya.[1]

Suatu hari. saat raja sedang mengujungi aula derma, ia memperhatikan bahwa kerumunan pemohon sudah sangat berkurang, karena kebutuhan dari para pengemis sudah terpenuhi. Mempertimbangkan hal tersebut, ia merasa resah, karena kebiasaannya untuk memberi tidak dapat berjalan dengan baik.

(7)
Ketika menemui sang raja, dahaga keinginan para pemohon terpuaskan,
tetapi tidak dengan dahaga sang raja untuk memberi.
Begitu besar semangat sang raja untuk memberi,
sehingga tidak ada permintaan yang dapat mengalahkan tekadnya.

Kemudian pikiran ini muncul di dalam dirinya; “Oh, diberkatilah mereka yang terunggul di antara yang berbudi luhur, yang kepadanyalah para pengemis mengucapkan keinginan mereka dengan keyakinan dan tanpa pembatasan, bahkan meminta anggota tubuh mereka! Tetapi bagiku, mereka hanya berani meminta kekayaanku, seolah-olah mereka takut dengan kata-kata penolakan yang kasar.”

(8)
Menyadari pemikiran yang sangat luhur itu,
betapa kukuhnya ia untuk memberi, tidak melekati tubuhnya sendiri,
maka bumi pun bergetar,
bagaikan seorang wanita yang mencintai suaminya.

Permukaan bumi terguncang. Sumeru, penguasa pegunungan, bersinar dengan kilauan bermacam permata, juga ikut berguncang. Śakra, raja para dewa (Devendra), yang menyelidiki penyebab dari guncangan ini, menemukan bahwa pikiran luhur raja itulah yang menimbulkan getaran di permukaan bumi; dan saat dia terheran-heran, ia merenungi hal ini:

(9)
“Pemikiran apakah yang dipikul oleh raja ini,
sehingga batinnya penuh dengan kegembiraan dalam memberi?
Dia telah menetapkan batas kehendaknya untuk memberi,
dengan tekad yang kuat untuk berpisah dengan anggota tubuhnya sendiri?

Baiklah, aku akan mengujinya.”

Saat itu raja sedang dikelilingi oleh para pejabatnya, duduk (di singgasananya, di aula) di tengah-tengah majelis. Pengumuman telah digaungkan, mengundang siapa saja yang membutuhkan sesuatu; simpanan kekayaan, perak, emas, dan permata ditunjukkan oleh bendahara; kotak-kotak yang berisi berbagai jenis pakaian dibuka; berbagai kereta barang yang sangat bagus, yang pikulannya menutupi leher berbagai binatang penarik yang terlatih dengan baik, ditarik maju; dan para pengemis pun berkerumun masuk. Di antara mereka, Śakra, raja para dewa, telah menyamar sebagai seorang brāhmana tua dan buta, menarik perhatian raja. Sang raja tampil dengan tegas, tenang, dan lembut dengan penuh welas asih dan keramahan kepadanya, dan bersama pejabat-pejabatnya ia datang menemui brāhmana tua itu dan merangkulnya. Para pelayan kerajaan memintanya untuk mengatakan apa yang dia inginkan, tetapi iia mendekati sang raja, dan setelah mengucapkan salam dan berkat, berkata sebagai berikut:

(10)
“Aku, seorang tua yang buta, datang dari jauh
untuk memohon mata darimu, wahai raja tertinggi.
Untuk menjalankan aktivitas duniawi biasa,
satu mata sudah cukup, wahai penguasa bermata teratai.”

Meskipun Bodhisattva merasakan kegembiraan yang luar biasa saat keinginan hatinya terwujud, keraguan muncul di dalam dirinya. Apakah brāhmana benar-benar berkata demikian atau, pikirannya saja yang sedang membayangkannya karena sering memikirkannya. Karena ingin mendengar kata-kata permintaan mata yang sangat menyenangkan ini, dia kemudian berbicara kepada sang pemohon:

(11)
“Siapakah yang telah memerintahkanmu, wahai brāhmana agung,
untuk datang ke sini dan meminta satu mata dariku
Tak seorang pun akan dengan mudah berpisah dengan matanya
Siapakah yang berpikir bahwa ini tidak berlaku kepadaku?”

Śakra, raja para dewa yang menyamar sebagai seorang brāhmana, mengetahui maksud dari raja, dan menjawab:

(12)
“Śakra menyuruhku untuk meminta matamu,
sehingga membuatku datang ke sini.
Kabulkanlah penghargaannya beserta harapanku
dengan memberikan matamu.”

Mendengar nama Śakra, sang raja berpikir: “Tentunya, melalui kekuatan dewa, brāhmana ini akan mendapatkan kembali penglihatannya dengan cara ini,” dan dia berbicara dengan suara, jernih yang menunjukkan kegembiraannya:

(13)
“Brāhmana, aku akan memenuhi keinginanmu,
yang telah mendorongmu untuk datang ke sini.
Meski engkau menginginkan satu mata dariku,
aku akan memberikan keduanya!

(14)
Setelah aku menghiasi wajahmu dengan sepasang mata yang cerah bagai teratai,
pergilah, perlihatkan dirimu kepada orang-orang.
Mereka akan meragukanmu terlebih dahulu,
tetapi mereka akan merasa takjub ketika menyadarinya.”

Setelah memahami bahwa sang raja telah memutuskan untuk berpisah dengan matanya, para penasihat merasa bingung dan gelisah; kesedihan melanda pikiran mereka. Mereka berkata kepada sang raja:

(15)
Yang Mulia, kegemaran besar Anda dalam memberi
membuat Anda mengabaikan bahwa ini adalah salah dan merugikan.
Kami mohon, Yang Mulia, jangan lakukan ini.
Jangan merelakan penglihatan Anda!

(16)
Janganlah mengabaikan kami semua
demi satu brāhmana ini.
Jangan biarkan api kesedihan membakar rakyat-rakyatmu,
mereka yang telah engkau berikan kenyamanan dan kemakmuran.

(17)
Berikanlah kekayaan yang membawa keberuntungan,
seperti permata mulia, sapi perah,
kereta dengan hewan yang terlatih,
gajah yang kuat dengan keindahan anggun.

(18)
Berikanlah rumah yang nyaman untuk setiap musim,
bergema dengan suara gemerincing gelang kaki,
yang kecerahannnya melebihi awan musim gugur.
Tetapi jangan berikan penglihatanmu,
wahai engkau yang satu-satunya mata bagi dunia.

Selain itu, Baginda, Anda harus mempertimbangkan ini:

(19)
Bagaimana bisa mata seseorang
dipindahkan ke wajah orang lain?
Jika itu hanya bisa melalui kekuatan dewa,
mengapa harus matamu yang dibutuhkan?

Lagipula, Yang Mulia.

(20)
Mengapa pengemis malang ini membutuhkan mata?
Agar ia dapat melihat kemakmuran orang lain?
Kalau begitu, berilah ia uang,
mohon jangan bertindak gegabah!”

Kemudian raja menjawab para menterinya dengan lembut dan menenangkan

(21)
Ia yang memutuskan untuk tidak memberi
ketika telah berjanji untuk memberi,
sesungguhnya ia mengikatkan diri pada keserakahan
setelah melepaskan diri darinya.

(22)
Ia yang telah berjanji untuk memberi
tetapi tidak menepati janjinya
karena didorong oleh ketamakan,
bukankah ia adalah yang paling buruk?

(23)
Ia yang telah menguatkan harapan para pengemis
dengan berjanji untuk memberi,
tetapi mengecewakan mereka dengan melanggar janji,
sungguh tidak ada pemaafan baginya.

Dan sehubungan dengan pernyataanmu tentang ‘apakah kekuatan dewa itu sendiri tidak cukup untuk memulihkan penglihatan orang itu?’ Kalian harus diajarkan tentang hal ini.

(24)
Ada berbagai cara yang berbeda
untuk mencapai tujuan.
Demikian pula bahkan takdir (vidhi), meski dewa sekalipun
membutuhkan berbagai cara yang berbeda.

Oleh karena itu, hendaknya kalian tidak menghalangi tekadku untuk melekukan pemberian yang luar biasa.”

Para menteri menjawab: “Kami hanya memberanikan diri untuk memberi saran kepada Yang Mulia untuk memberikan barang, biji-bijian dan perhiasan, bukan mata Anda; ketika mengatakan ini, kami tidak membujuk Yang Mulia untuk melakukan kejahatan.”

Raja berkata:

(25)
“Hal yang diminta harus diberikan.
Hadiah yang tidak diharapkan tidak memberi kesenangan.
Apa gunanya air bagi seseorang yang terbawa oleh arus?
Maka itu, aku akan memberikan barang yang diminta oleh orang ini.

Setelah ini, perdana menteri yang lebih lebih dekat dengan raja, datang menghadap karena perhatiannya dan rasa hormatnya kepada raja, kemudian berbicara sebagai berikut: “Kumohon, jangan lakukan.

(26)
Anda sedang menggenggam kerajaan ini,
yang bersaing dengan kekayaan Śakra,
yang tidak dapat diperoleh tanpa kerja keras dan meditasi dalam jumlah besar,
membutuhkan berlapis-lapis pengorbanan untuk mencapainya,
membuka jalan menuju kemuliaan dan alam surga.
Tetapi Anda tidak memedulikannya dan hendak memberikan kedua mata Anda!
Apa tujuan dari tindakan ini? Dari mana asal mulanya?

(27)
Melalui pengorbananmu, Anda telah mendapatkan tempat di antara para dewa,
ketenaranmu bersinar jauh dan luas ke segala arah.
Kakimu mencerminkan kemegahan mahkota para raja.
Maka apa lagi yang Anda inginkan dengan menyerahkan penghilatanmu?”

Tapi raja menjawab menteri itu dengan nada lembut:

(28)
“Aku berjuang bukan demi seluruh alam di dunia,
juga bukan demi surga, kebebasan, atau pun kemuliaan.
Dengan maksud untuk menjadi penyelamat dunialah
aku mengupayakan agar jerih payah permohonan pria ini dapat membuahkan hasil.”

Kemudian raja memerintahkan agar salah satu matanya, cahaya indah yang tampak seperti kelopak bunga teratai biru, untuk diambil melalui petunjuk para tabib secara bertahap dan utuh, dan dengan kegembiraan terbesar dia menyerahkannya kepada pemohon yang memintanya. Lalu Śakra, penguasa para dewa, dengan kesaktiannya menciptakan ilusi yang sedemikian rupa sehingga raja dan para pengiringnya melihat mata itu memenuhi lubang mata sang brāhmana tua. Ketika raja melihat si peminta mata memiliki satu mata yang tidak tertutup, hatinya melapang dengan sangat gembira, dan dia memberinya mata yang satunya lagi.

(29)
Setelah mata diberikan, raut wajah sang raja
tampak seperti kolam teratai tanpa bunga teratai,
namun menunjukkan kepuasan, meskipun tidak dimiliki oleh para rakyat.
Di sisi lain, sang brāhmana terlihat dengan mata yang utuh.

(30)
Di seluruh istana maupun di kota,
air mata kesedihan membasahi tanah.
Tetapi Śakra tersentuh dengan rasa kagum dan puas,
melihat niat baik raja yang tidak tergoyahkan untuk mencapai pencerahan sempurna (Sambodhi).

Dan dalam tataran batin ini ia merenungi:

(31)
“Betapa teguhnya! Betapa bajiknya!
Betapa ia ingin memberi manfaat bagi para makhluk!
Meskipun aku telah melihatnya sendiri,
aku hampir tidak dapat mempercayai ini telah terjadi!

Maka, tidaklah benar bahwa orang yang memiliki kebaikan yang luar biasa ini harus menanggung kesulitan yang luar biasa dalam waktu yang panjang. Aku akan mencoba memunculkan penglihatannya kembali dengan cara tertentu.”

Setelah itu, ketika waktu telah menyembuhkan luka-luka yang disebabkan oleh operasi, dan telah mengurangi dan hampir meredakan kesedihan para penghuni istana, kota, dan desa; pada suatu hari sang raja berkeinginan untuk bertapa sendirian, sedang duduk bersila di tamannya di tepi kolam teratai. Tempat itu dipenuhi oleh pepohonan yang indah dan halus yang membungkuk karena beban bunganya; kawanan lebah bersenandung; angin sepoi-sepoi, segar, dan harum bertiup dengan nyaman. Tiba-tiba Śakra, raja para dewa menampakkan dirinya di hadapan raja. Ketika ditanya siapakah ia, dia menjawab:

(32a)
Aku adalah Śakra, raja para dewa,
aku datang untuk menemuimu.

Setelah itu raja menyambutnya dan berkata bahwa dia menunggu perintahnya. Setelah disambut dengan seperti itu, ia kembali berbicara kepada raja:

(32b)
“Pilihlah satu anugerah, wahai raja bijaksana (rājarṣi);
sebutkanlah apa yang engkau inginkan.”

Raja sudah terbiasa memberi dan tidak pernah menapaki jalan meminta-minta yang menyedihkan. Sesuai dengan rasa takjubnya dan pikirannya yang luhur, sang raja berkata kepadanya:

(33)
Kekaayaanku melimpah, wahai Śakra,
pasukanku besar dan kuat.
Tetapi kebutaanku, membuatku
hanya tertarik dengan kematian saat ini.

(34)
Tidak mampu melihat wajah para peminta
yang berseri oleh kesenangan dan keceriaan
ketika harapan-harapan mereka terpenuhi,
kini aku hanya menyenangi kematian, wahai Indra.

Śakra berkata: “Cukup dengan keteguhan hati seperti itu! Hanya orang berbudi luhur yang dapat mencapai keadaan sepertimu. Tetapi ini yang harus engkau katakan kepadaku;

(35)
Para pengemislah yang menyebabkanmu berada dalam kondisi ini,
bagaimana mungkin pikiranmu masih sibuk memikirkan mereka?
Katakan kepadaku! Jangan menyembunyikan kebenaran dariku,
dan engkau dapat segera mengambil cara untuk penyembuhanmu.”[2]

Raja menjawab: “Mengapa engkau bersikeras untuk membuat diriku bangga? Namun dengarkanlah, wahai raja para dewa:

(36)
Seyakin permohonan dari para pengemis,
baik itu di masa lalu maupun saat ini
yang terdengar menyenangkan bagiku sebagai berkah,
semoga salah satu mataku muncul di hadapanku!”

Tidak lama setelah raja mengucapkan kata-kata itu, dengan kekuatan kejujurannya yang teguh dan kumpulan tindakan baiknya yang luar biasa, sebuah mata muncul di hadapannya, menyerupai kelopak bunga teratai, yang meliputi pupil bagai batu safir. Bersukacita melihat kemunculan matanya yang ajaib ini, sang raja berbicara kepada Śakra sekali lagi:

(37)
“Dan seyakin, setelah memberikan kedua mata
kepada ia yang hanya meminta satu,
batinku tidak merasakan hal lain selain kegembiraan penuh,
semoga aku juga mendapatkan mata yang kedua!”

Raja baru saja selesai mengucapkannya, di hadapannya muncul satu mata yang lain, seolah-olah itu adalah sandingan dari mata yang pertama.

(38)
Bumi dan gunung-gunung berguncang,
lautan mengalir melewati perbatasan pantainya.
Genderang surgawi berbunyi,
dengan suara yang dalam dan menyenangkan.

(39)
Segala penjuru langit tampak tenang dan indah.
Matahari bersinar semurni cahaya musim gugur.
Berbagai macam bunga jatuh dari surga,
diwarnai oleh bubuk cendana.

(40)
Para makhluk surgawi, termasuk para apsarasa dan gaṇa,
datang berkumpul dengan mata yang terbelalak takjub.
Angin bertiup sepoi-sepoi dengan menyenangkan.
Kegembiraan berkembang di batin setiap makhluk.

(41)
Suara pujian terdengar di segala arah,
diucapkan para makhluk sakti melalui kekuatannya.
Penuh dengan kegembiraan dan kekaguman,
mereka mengagungkan perbuatan mulia sang raja:

(42)
“Betapa mulianya! Betapa ia berwelas asih!
Lihatlah kemurnian hatinya!
Betapa ia tidak peduli dengan kesenangannya sendiri!
Terpujilah engkau, yang unggul oleh keteguhan dan keberanianmu!

(43)
Dunia telah memeroleh kembali dirimu sebagai pelindungnya!
Kilau mata terataimu telah terbuka sekali lagi!
Sesungguhnya, simpanan jasa kebajikan adalah harta yang kokoh!
Sungguh, kebajikan telah memperoleh kemenangan yang besar!”

Kemudian Śakra memberikan tepuk tangan padanya, “Sangat baik, sangat baik!” dan berucap lagi:

(44)
“Kemurnian batinmu yang sesungguhnya
diketahui olehku, yang mulia.
Oleh karena itu, wahai raja,
aku telah mengembalikan matamu.”

(45)
Melalui mata ini,
engkau akan memiliki kekuatan tanpa hambatan
untuk melihat lebih dari seratus yojana ke segala arah,
bahkan menembus pegunungan yang menghalangi.

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Śakra menghilang dari tempat itu.

Kemudian, Sang Bodhisattva, diikuti oleh para pejabatnya,[3] yang matanya terbuka lebar dan hampir tidak berkedip karena rasa heran yang memenuhi pikiran mereka, naik ke dalam arak-arakan menuju ibukota. Kota itu menampilkan pakaian festival, dihiasi dengan bendera yang dikibarkan dan berbagai spanduk, warga melihat-lihat dan para brāhmana memuji raja dengan salam dan doa. Ketika ia telah duduk di ruang pertemuan, di tengah-tengah kerumunan besar, yang pertama-tama terdiri dari para menteri, para brāhmana dan para tetua, para penduduk kota dan desa, yang semuanya telah datang untuk mengungkapkan ucapan selamat mereka yang penuh hormat: ia mengkhotbahkan Dharma kepada mereka, mengambil isinya berdasarkan pengalamannya sendiri.

(46)
“Siapakah di dunia ini yang akan lamban
dalam memuaskan keinginan pengemis dengan kekayaannya,
setelah melihat aku memperoleh mataku ini melalui kekuatan surgawi,
sebagai akibat dari jasa kebajikanku dalam memberi?

(47)
Aku dapat melihat ke segala arah
dalam keliling seratus yojana
meskipun tersembunyi di balik gunung,
sejelas seolah-olah itu dekat.

(48)
Apa cara yang lebih unggul untuk mencapai kemakmuran,
selain memberi dengan welas asih dan kerendahan hati?
Setelah aku merelakan penglihatan duniawi,
aku menerima penglihatan surgawi.

(49)
Mengetahui ini, para Śibi, buatlah kekayaanmu berbuah
dengan melakukan pemberian dan melepaskannya.[4]
Inilah jalan menuju kemuliaan dan kebahagiaan
baik dalam kehidupan ini maupun berikutnya.

(50)
Kekayaan adalah sesuatu yang rendah dan tidak bermakna.
Kekayaan menjadi bermakna ketika diberikan untuk kesejahteraan para makhluk.
Ketika diberikan, kekayaan menjadi harta karun (nidhāna),
ketika tidak diberikan, tujuan akhirnya hanyalah kehancuran (nidhana).”

Demikianlah, melalui ratusan kesulitan yang sulit itulah Sang Bhagavā memperoleh Dharma yang luhur ini demi kita; karena alasan inilah khotbahnya harus didengar dengan penuh perhatian.

Seseorang harus menceritakan kisah ini ketika sedang mendiskusikan keluhuran batin Sang Tathagata, seperti kisah yang telah disebutkan sebelumnya.[5]

Begitu pula ketika sedang mendiskusikan welas asih, dan ketika menunjukkan hasil dari perbuatan baik yang telah muncul pada kehidupan ini, berkata: “Dengan cara inilah, jasa kebajikan yang telah dikumpulkan melalui perbuatan-perbuatan baik, menunjukkan kekuatannya di kehidupan ini, laksana mekarnya bunga yang pesonanya meningkatkan kemuliaan.”


[1] Dalam bahasa aslinya perumpamaan ini diekspresikan oleh figur retoris, yang disebut ślea.

[2] Cara ini adalah Tindakan Kebenaran, sebagaimana dalam Hardy, Manual of Buddhism, 197 menyebutnya. Dalam Jātaka Pāli, Sakka menghasut raja untuk itu secara sederhana. Contoh lain dari saccakiriyā, seperti yang ditata dalam Pāḷi, akan muncul dalam Cerita 14, 15, 16.

[3] Kemunculan para pejabat dan menteri yang tiba-tiba agak aneh di sini. Jātaka Pāli dapat menjelaskannya. ‘Pada saat yang sama, dikatakan di sana (4, hlm. 411) bahwa saat [mata] muncul kembali, seluruh pengikut raja (sabbā rājaparisā) hadir melalui kekuatan Sakka.’

[4]      Inti dari petunjuk kerajaan ini mungkin diilustrasikan oleh bagian-bagian yang sesuai dari narasi di Pāli Jātaka. Petunjuk di sana diberikan dua kali, dalam prosa dan dalam sajak, lihat Jataka terjemahan versi Fausböll buku IV, hal. 41, 22, dan hal. 412, 7.

[5] Yaitu kisah harimau betina.

[Kembali ke daftar isi]

Jātakamālā 1 – Vyāghrījātaka
(Kisah Harimau Betina)


Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris
ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei

Referensi terjemahan Bahasa Inggris:
J.S. Speyer
Clay Sanskrit Library


SYAIR PEMBUKA

Om! Terpujilah para Buddha dan Bodhisattva!

(1)
Agung dan mulia, puja serta pesona yang tiada habisnya,
Terdiri dari kebajikan luar biasa dan membawa kebaikan,
Itulah tindakan luar biasa Sang Muni dalam berbagai kelahiran sebelumnya.
Melalui segenggam bunga-bunga puisiku ini,
Aku memuja dengan penuh bakti, tindakan-tindakan luhur ini.

(2)
Dengan berbagai perbuatan terpuji,
Juga dengan petunjuk-petunjuk yang jelas,
Diajarkanlah jalan menuju menuju ke-Buddha-an itu;
Semoga mereka yang berhati keras dapat melunak,
Semoga ajaran-ajararan agama ini juga semakin mempesona!

(3)
Tidak bertentangan dengan tradisi suci,
Kata-kata maupun ajaran Buddha,
Dan karena kepedulian terhadap kebaikan dunia,
Aku akan berusaha membuat perenunganku ini
Menyenangkan bagi pendengarnya,
Dengan menceritakan perbuatan-perbuatan luar biasa,
Dari Sang Tertinggi di dunia.

(4)
Ketika bertindak demi makhluk lain,
Dia memancarkan kebajikan,
Yang tidak dapat ditiru oleh siapapun,
Bahkan oleh mereka yang menghendakinya sendiri.
Kemuliaannya berkobar dalam kebenaran,
Seperti namanya, Yang Maha Mengetahui,
Aku menundukkan kepalaku, menghormat
Kepada makhluk yang tiada taranya ini,
Kepada Dharma, dan kepada Komunitas Saṇgha.


Dalam kelahiran sebelumnya sekalipun, Sang Bhagavā menunjukkan cinta kasihnya yang mendalam, tanpa ego, dan mengidentifikasikan dirinya dengan semua makhluk, tanpa membeda-bedakan. Karena inilah, kita harus menunjukkan keyakinan yang tertinggi kepada Buddha, Sang Bhagavā. Hal ini akan dibuktikan dengan tindakan agung Sang Bhagavā dalam sebuah kelahiran sebelumnya, yang diagungkan oleh guruku, pemuja Sang Triratna, seseorang yang patut dihormati karena pembelajarannya yang menyeluruh tentang kebajikan, dicintai oleh gurunya sendiri karena kebajikan dalam praktik spiritualitasnya.

Pada suatu saat Sang Bodhisattva, yang kemudian menjadi Guru Agung kita, memberi manfaat kepada dunia dengan curahan cinta kasihnya yang berlipat ganda: melalui pemberian, kata-kata baik, bantuan, dan perbuatan tak bercacat ― serupa dengan pikirannya yang telah mengembangkan kebijaksanaan, dan sesuai dengan ikrar besar yang telah mengikatnya, dia terlahir dalam keluarga Brāhmana yang paling terkemuka dan perkasa, diunggulkan oleh kemurnian tingkah laku mereka karena ketaatan mereka terhadap tugas-tugas keagamaan. Dimurnikan oleh jātakarma dan ritual-ritual lainnya secara berurutan, ia tumbuh besar; dan dalam waktu singkat, karena kecepatan pemahamannya yang alamiah, sokongan unggul dalam pembelajarannya, keinginannya untuk belajar dan semangatnya, ia menguasai delapan belas cabang ilmu pengetahuan dan dalam semua seni (kalā) yang tidak bertentangan dengan kebiasaan keluarganya.

(5)
Bagi para Brāhmana, ia dihormati bagai suri tauladan seperti ajaran luhur itu sendiri,
Bagi para Kṣatriya ia dimuliakan bagai seorang raja;
Di hadapan banyak orang ia tampak seperti Sang Bermata Seribu[1];
Bagi mereka yang mendambakan pengetahuan ia bagaikan ayah yang mengarahkan.

Karena nasibnya yang makmur (sebagai hasil dari perbuatan baik yang telah dikumpulkan sebelumnya), sejumlah besar kekayaan, kehormatan, dan ketenaran jatuh menjadi miliknya. Tetapi Bodhisattva tidak menyukai hal-hal seperti itu. Pikirannya telah dimurnikan dengan terus mempelajari Dharma, dan ia menjadi akrab dengan penolakan kedunawian.

(6)
Perbuatan lampaunya telah memurnikan batinnya,
sehingga ia dapat melihat banyak penderitaan dalam nafsu keinginan.
Maka ia meninggalkan kehidupan perumah tangga bagai sebuah penyakit,
pergi ke suatu dataran tinggi yang dihiasi dengan kehadirannya.

(7)
Ketidakmelekatan yang ia tunjukkan di sana,
beserta ketenangan yang dicerahkan oleh kebijaksanaan,
ia mengecam orang-orang di dunia yang karena melekat
pada tindakan buruk menjadi enggan pada ketenangan para bijaksana.

(8)
Ketenangannya yang penuh cinta kasih itu menyebar
dan menembus ke dalam hati para hewan buas,
membuat mereka tidak melukai satu sama lain,
dan hidup seperti para pertapa.

(9)
Berkat kemurnian perilakunya, pengendalian dirinya,
kepuasan hatinya, dan kewelasan asihnya,
membuat ia disenangi bahkan oleh orang asing sekalipun,
sebab semua makhluk adalah teman baginya.

(10)
Karena keinginannya sedikit, ia hidup tanpa iri hati.
Ia meninggalkan keinginan untuk keuntungan, kemuliaan, dan kesenangan,
sehingga ia membuat para dewa
merasa yakin kepadanya dan menghormatinya.

(11)
Tergugah oleh kebajikannya,
orang-orang yang mendengar kehidupan pertapaannya.
meninggalkan keluarga dan kepemilikan mereka,
pergi kepadanya dan menjadi muridnya.

(12)
Ia mengajar murid-muridnya sebaik mungkin
mengenai kebajikan (śīla), kesucian, pemurnian indera,
menjaga perhatian, ketidakmelekatan terhadap dunia,
meditasi cinta kasih (maitrī) dan lainnya.[2]

Sebagian besar muridnya mencapai kesempurnaan karena ajarannya, di mana jalan suci (menuju keselamatan) ini dikukuhkan dan orang-orang berada pada jalan non-keduniawian yang unggul. Kini pintu kejahatan telah ditutup dan jalan kebahagiaan terbuka lebar bagai jalan besar. Suatu saat Sang Mahātman sedang berjalan menelusuri sepanjang gua-gua bersemak di gunung untuk menyesuaikan diri dengan baik pada praktik meditasi (yoga), untuk menikmati tatanan yang ada ini dengan nyaman. Ajita, muridnya saat itu, menemaninya.

(13)
Di sana, dalam sebuah goa di gunung,
ia melihat seekor harimau betina muda
yang hampir tidak mampu bergerak,
setelah berupaya keras melahirkan.

(14)
Matanya cekung,
perutnya kurus menunjukkan rasa lapar,
ia melihat anak-anak yang ia lahirkan sendiri,
seolah mereka adalah makanan.

(15)
Percaya dengan induknya, mereka tanpa rasa takut
mendekati induknya, haus akan susunya,
tetapi harimau betina itu menggeram keras,
mengancam mereka seolah adalah lawannya.

(16)
Saat melihat harimau itu,
Bodhisattva, meskipun batinnya tenang,
terguncang oleh welas asih karena penderitaan makhluk lain,
bagai penguasa pegunungan (Meru) yang terguncang oleh gempa.

(17)
Sungguh menakjubkan welas asih itu,
meskipun tabah dalam penderitaan besar mereka sendiri,
masih tersentuh oleh penderitaan makhluk lain,
sekecil apapun itu.

Dan welas asihnya yang kuat membuatnya menggumam, kegelisahan membuatnya mengulangi kata-kata berikut kepada muridnya, menunjukkan sifatnya mulianya: “Muridku, muridku!” serunya,

(18)
“Lihatlah, betapa tidak berartinya saṁsāra ini!
Hewan ini berusaha untuk memakan anak-anaknya sendiri.
Rasa kelaparan telah membuatnya
tidak mampu memahami cinta kasih.

(19)
Betapa kejamnya rasa mementingkan diri sendiri yang buas
hingga membuat seorang ibu ingin memakan anak-anaknya sendiri!

(20)
Siapalah yang mau memumpuk musuh yang bernama mementingkan diri sendiri,
jika menyebabkan seseorang melakukan tindakan seperti ini?

Cepatlah pergi, carilah cara untuk menenangkan rasa laparnya, agar ia tidak mencelakai anak-anaknya dan dirinya sendiri. Aku juga akan berusaha untuk mencegahnya dari tindakan gegabah itu.”

Sang murid berjanji untuk melakukannya dan pergi mencari makanan. Namun Bodhisattva sudah memiliki alasan untuk mengorbankan dirinya sendiri. Dia merenungkan ini:

(21)
“Mengapa aku harus mencari daging dari tempat lain,
sementara seluruh tubuhku ini telah tersedia?
Selain daging itu belum tentu ditemukan,
aku juga akan kehilangan kesempatan untuk melaksanakan tugasku.

Lagipula,

(22)
Tubuh ini tanpa inti, melapuk, dan tidak berarti.
Sumber rasa sakit, tubuh ini tidak tahu bersyukur dan kotor.
Sungguh tidak bijaksana bila tidak bergembira
bila telah menggunakan tubuh ini demi kebaikan makhluk lain.

(23)
Orang-orang mengabaikan penderitaan makhluk lain
ketika tidak mampu menolong atau melekat pada kesenangannya sendiri.
Tetapi aku tidak bisa bergembira sementara yang lain menderita.
Jika aku memiliki kemampuan untuk membantu,
mengapa aku harus bersikap acuh?

(24)
Dan jika, sementara bisa membantu, tetapi aku bersikap tidak peduli
bahkan kepada penjahat yang sedang tenggelam dalam kesedihan sekalipun,
pikiranku akan merasakan penyesalan atas perbuatan yang jahat itu,
terbakar seperti semak belukar yang terjebak dalam api besar.

(25)
Dengan menjatuhkan tubuhku ke jurang ini,
aku akan menggunakan tubuhku yang tidak bernyawa
untuk melindungi harimau betina itu dari membunuh anak-anaknya
dan menolong mereka agar tidak mati dalam gigi ibu mereka.

Terlebih lagi, dengan melakukan demikian

(26)
Aku akan memberi teladan bagi mereka yang ingin memberi manfaat kepada dunia,
aku menyemangati mereka yang memiliki sedikit keberanian,
aku bersukacita bagi mereka yang memahami arti memberi,
aku membangkitkan pikiran para bajik.

(27)
Aku mematahkan semangat pasukan besar Māra,
tetapi menggembirakan mereka yang mencintai kebajikan Buddha,
aku membangkitkan rasa malu mereka yang mementingkan diri sendiri,
dan tunduk pada iri hati beserta keserakahan.

(28)
Aku membangkitkan keyakinan kepada pengikut wahana unggul,
aku membuat takjub mereka yang mencemooh perbuatan memberi
dan membersihkan jalan menuju surga
dengan cara yang disenangi oleh mereka yang dermawan.

(29)
Dengan mempersembahkan anggota tubuhku sendiri,
aku juga memenuhi keinginanku
untuk memberi manfaat kepada makhluk lain
dan menjadi semakin dekat dengan pencerahan sempurna.

Lebih jauh lagi,

(30)
Bukanlah ambisi maupun menginginkan kemuliaan,
juga bukan demi pencapaian di alam surga maupun kerajaan
pun bukan demi kebahagiaan abadi, yang memotivasiku.
Tujuanku hanyalah untuk memberi manfaat bagi makhluk lain.

(31)
Maka semoga aku memiliki kekuatan
untuk melenyapkan penderitaan di dunia
juga menciptakan kebahagiaan pada saat yang sama,
seperti matahari yang melenyapkan kegelapan dan memberikan cahaya!

(32)
Entah aku akan diingat, dilihat, atau menjadi terkemuka,
atau ketika kisah tentang pengorbananku ini disampaikan,
semoga aku memberi manfaat bagi dunia dalam segala hal
dan secara terus-menerus memberikan kebahagiaan kepada dunia!”

(33)
Setelah mengambil keputusan, ia merasa bergembira
bahwa ia akan mengorbankan hidupnya demi manfaat makhluk lain,
ia melemparkan dirinya ke bawah,
memunculkan rasa takjub dalam batin para dewa yang paling tenang sekalipun.

Suara tubuh Bodhisattva yang terjatuh membangkitkan keingintahuan dan kemarahan harimau betina. Dia berhenti dari dorongannya untuk membunuh anak-anaknya, dan mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Segera setelah dia melihat tubuh Bodhisattva yang tak bernyawa, ia bergegas ke sana dan mulai melahapnya.

Tetapi muridnya ‒ yang kembali tanpa daging karena tidak mendapatkannya ‒ tidak melihat gurunya. Sang murid pun mencarinya, hingga ia melihat harimau betina muda itu sedang menyantap tubuh Bodhisattva yang tidak bernyawa. Dan rasa kekaguman terhadap tindakan luar biasa itu kesedihan dan rasa sakitnya, tetapi ia memberikan ucapan[3] yang pantas sebagai penghormatan kepada gurunya yang taat pada kebajikan, dalam monolog berikut:

(34)
“Oh, betapa Sang Mahātman berwelas asih kepada mereka yang didera oleh penderitaan!
Betapa ia tidak melekat pada kesejahteraannya sendiri!
Betapa perilaku yang baik telah ia sempurnakan!
Ia telah menghancurkan kemuliaan musuhnya menjadi berkeping-keping!

(35)
Betapa mulianya cinta kasih yang telah ia tunjukkan,
begitu berani, tak kenal takut, dan berdasarkan kebajikan!
Tubuhnya, yang begitu berharga dalam kebajikan,
kini telah menjadi wadah penghormatan yang tertinggi!

(36)
Lembut dalam kemurahan hati dan kukuh bagai bumi,
betapa ia tidak tahan dengan penderitaan makhluk lain!
Dan betapa pikiranku yang kasar ini,
Kontras dengan tindak keberaniannya yang luar biasa!

(37)
Sesungguhnya, para makhluk tidak perlu bersedih,
setelah memilikinya sebagai pelindung mereka.
Sedangkan Manmatha[4] sedang menghela nafas,
gemetar dalam rasa takut akan kekalahan!

Dalam segala hal, aku menghormat kepada Mahāsattva yang termasyhur, yang welas asihnya melimpah, dengan kebaikan yang tak terbatas, perlindungan bagi semua makhluk, Bodhisattva bagi para makhluk.” Dan dia menceritakan kejadian itu kepada sesama murid.

(38)
Kemudian para murid merasa kagum
atas tindakan sang Bodhisattva,
dan bersama para gandarwa, para yaksa,
para naga dan para dewa pemimpin,
mereka menaburi tanah
yang menadah harta tulang-belulangnya
dengan karangan bunga, kain,
permata dan bubuk cendana yang melimpah.

Demikianlah, bahkan di kelahiran sebelumnya sekalipun, Sang Bhagavā menunjukkan cinta kasihnya yang mendalam, tanpa ego, dan memancar kepada semua makhluk, serta mengidentifikasikan dirinya kepada semua makhluk. Untuk alasan inilah kita harus menunjukkan keyakinan yang tertinggi kepada Buddha, Sang Bhagavā.

Maka seseorang hendaknya mengemukakan, “Setelah mengembangkan keyakinan kepada Sang Buddha, ktia juga harus merasakan kegembiraan yang tertinggi. Dengan cara inilah keyakinan kita akan berada di dalam perlindungannya.” Demikian pula kita harus mendengarkan pengajaran Dharma dengan seksama, karena telah dibawa kepada kita melalui ratusan rintangan yang sulit.[5]

Dan seseorang juga harus menceritakan kisah ini ketika mengajarkan welas asih, dengan berkata: “Melalui welas asih seperti inilah, kita tergerak untuk bertindak demi kebaikan makhluk lain, produktif dengan sifat yang teramat luhur.”[6]


[1] Śakra, Indra, atau raja para dewa.

[2] Maksudnya adalah empat atau lima bhāvanā (latihan meditasi)

[3] Teks tersebut tertulis śobheta, bukan aśobhata, sesuai dengan dugaan.

[4] Manmatha, Kāma, Kandarpa dan nama-nama lain dari dewa nafsu dan kesenangan sensual adalah padanan yang umum untuk Māra. Bandingkan dengan Buddhacarita XIII, 2.

[5] Dukaraśatasamudānītatvāt, bandingkan dengan Divyāvadāna, ed. Cowell, hal. 490.

[6] Yaitu selama mengumpulkan jasa baik, konsekuensi dari perbuatan baik, meningkatkan kualitas kita.

[Kembali ke daftar isi]

KISAH DHAMMAPADA 1 – CAKKHUPALA THERA

Kisah Latar Syair 1
Cakkhupālatthera Vatthu

Ketika sedang menetap di hutan Jetavana di Savatthi, Buddha mengucapkan syair tersebut, merujuk kepada seorang biksu tua bernama Cakkhupala.

Pada suatu ketika, biksu Cakkhupala datang untuk menghormat kepada Buddha di biara Jetavana. Suatu malam, sambil bermeditasi jalan, sang biksu secara tidak sengaja menginjak beberapa serangga. Pagi harinya, biksu-biksu lain yang mengunjungi sang biksu tua menemukan serangga mati itu. Mereka berpikiran buruk kepada sang biksu tua dan melaporkan hal ini kepada Sang Buddha. Buddha bertanya kepada mereka apakah mereka telah melihat biksu tua itu membunuhnya. Ketika mereka menjawab tidak, Buddha berkata, “Sama seperti kalian yang tidak melihatnya membunuh, demikian pula dia tidak melihat serangga hidup itu. Di samping itu, sang biksu tua telah mencapai tingkat arahat sehingga ia tidak memiliki niat untuk membunuh dan dengan demikian ia tidak bersalah.” Ketika mereka mempertanyakan mengapa Cakkhupala bisa menjadi buta meskipun ia adalah seorang arahat, Buddha menyampaikan cerita berikut ini:

Pada kehidupan sebelumnya, Cakkhupāla adalah seorang tabib. Suatu ketika, ia secara sengaja telah membuat seorang pasien wanita menjadi buta. Sebelumnya, wanita itu telah berjanji bahwa ia dan anaknya akan menjadi budak dari sang tabib bila matanya dapat disembuhkan. Merasa takut bahwa ia dan anaknya benar-benar akan menjadi budak, ia pun berbohong kepada sang tabib. Ia mengatakan bahwa kondisi matanya menjadi semakin buruk setelah diobati, padahal sebenarnya matanya sudah benar-benar sembuh. Sang tabib mengetahui bahwa ia sedang dikelabui, dan sebagai pembalasan, ia memberikan wanita itu sejenis obat salep yang membuat sang wanita buta total. Sebagai akibat dari perbuatan buruknya itu, sang tabib terlahir buta dalam berbagai kelahiran berikutnya.

Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair berikut:Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair berikut:

Pikiran memelopori semua kondisi batin.
Pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.
Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran jahat,
maka penderitaan mengikutinya seperti roda yang mengikuti jejak kaki lembu.

Pada akhir khotbah, sejumlah 30.000 biksu mencapai tingkatan arahat bersamaan dengan pencerahan analitis (patisambhidā).

Penjelasan oleh Daw Mya Tin:

1.   Manopubbaṅgamā dhamma: Pikiran memelopori semua kondisi batin dalam artian bahwa pikiran merupakan aspek yang paling dominan dan penyebab dari tiga fenomena batin lainnya, yaitu perasaan (vedanā), persepsi (saññā), dan bentukan batin (saṅkhāra). Ketiga aspek tersebut dipelopori oleh pikiran atau kesadaran (viññāṇa), karena meskipun mereka muncul bersama pikiran tetapi mereka tidak dapat muncul bila pikiran tidak muncul.

2.   Manasā ce paduṭṭhena: Manasā berarti niat atau kehendak (cetana); kehendak menggiring seseorang untuk melakukan tindakan yang disengaja, baik atau buruk. Tindakan dan akibat tindakan ini merupakan karma, dan karma selalu mengikuti seseorang untuk membuahkan hasil. Kebutaan Cakkhupala merupakan akibat dari perbuatannya dengan niat jahat dalam kehidupan sebelumnya.

3.   Dukkha: Pada konteks ini, dukkha berarti penderitaan, rasa sakit mental atau fisik, kemalangan, ketidakpuasan, akibat buruk, dan lain-lain, dan kelahiran kembali di alam kehidupan yang lebih rendah atau sebagai manusia dengan status sosial yang rendah bila ia terlahir di alam manusia.

Penjelasan oleh Weragoda Sarada Thero:

Seluruh pengalaman (kondisi batin) kita diawali oleh pikiran. Kata-kata dan tindakan-tindakan kita berasal dari pikiran. Jika kita berbicara atau bertindak dengan pikiran yang jahat, maka situasi dan pengalaman yang tidak menyenangkan pasti terjadi. Ke manapun kita pergi, kita menciptakan situasi buruk karena kita membawa pikiran buruk. Kita tidak dapat melepaskan diri dari penderitaan ini selama kita masih terikat dengan pikiran jahat kita. Ini sama seperti roda pedati yang mengikuti jejak langkah kaki lembu yang terikat dengan pedati. Roda pedati ini, beserta dengan isi pedatinya yang berat, terus mengikuti lembu. Hewan ini terikat pada beban yang berat dan tidak dapat meninggalkannya.

Dua syair pertama dalam Dhammapada mengungkap sebuah konsep penting dalam Buddhisme. Ketika sebagian besar agama memegang dogma penting bahwa dunia ini diciptakan oleh sosok supranatural yang disebut “Tuhan”, Buddhisme mengajarkan bahwa semua pengalaman kita (‘dunia’ dan ‘diri’) merupakan ciptaan dari pikiran, atau proses kognitif dari persepsi dan konsepsi indrawi. Hal ini juga membuktikan bahwa beberapa penulis Buddhisme telah keliru dalam menyatakan bahwa Buddha diam saja mengenai awal dari dunia. Dalam Rohitassa Sutta di dalam Aṅguttara Nikāya, Buddha menyatakan dengan jelas bahwa dunia, awal dari dunia, akhir dari dunia, dan cara dunia berakhir, semuanya berada di dalam tubuh ini beserta dengan persepsi dan konsepsinya.

Kata mano umumnya diterjemahkan sebagai ‘batin’, tetapi Buddha menggunakan sudut pandang fenomenalistis dalam kontroversi batin-jasmani yang telah membingungkan para filsuf sepanjang sejarah. Dualisme batin dan jasmani ini ditolak oleh Sang Buddha. Beliau menjelaskan dalam Sabba Sutta di dalam Saṃyutta Nikāya bahwa semua yang dapat kita ucapkan merupakan ‘pengalaman indrawi’, termasuk pemikiran atau konsepsi sebagai indra yang keenam. Istilah nama dan rupa, yang umumnya diterjemahkan sebagai ‘batin’ dan ‘jasmani’ bukanlah dua entitas yang muncul bersamaan dalam hubungan satu sama lain. Mereka hanyalah dua cara dalam melihat sebuah aktivitas tunggal yang disebut ‘pengalaman’. Nāma (penamaan) merupakan pengalaman yang dilihat secara subjektif sebagai ‘proses mental dalam mengidentifikasi objek’ (rūpa kāyē adhivācana sapassa).

Rupa (wujud) merupakan pengalaman yang dilihat secara objektif sebagai sebuah entitas yang dipersepsikan dan dipahami melalui proses identifikasi secara mental (nāma kāyē patigha saṃpassa). Mano merujuk kepada ‘pikiran’ atau proses konseptualisasi secara mental, yang mengintegrasikan dan menciptakan makna dari persepsi-persepsi berbeda yang dibawa melalui indra-indra yang berbeda. Pengalaman total yang bermakna ini adalah dhammā, yang dilihat secara subjektif sebagai ‘pengenalan sebuah entitas’ (nāma) dan secara objektif sebagai ‘entitas yang dikenali’ (rupa). Dhamma yang merupakan ‘keseluruhan pengalaman yang berarti’ ini secara normal dilihat sebagai keadaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan (loka dhamma).

[Unduh e-book Penjelasan Dhammapada 1 Gratis]

[Kembali ke Daftar Isi]

JATAKAMALA 11 – SAKRA-JATAKA

Jātakamālā 11 – Śakrajātakam
(Kisah tentang Sakra)

Jātakamālā 11 – Śakrajātakam
(Kisah tentang Sakra)

Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh:
J. S. Speyer

Suntingan Bahasa Inggris oleh:
Bhikkhu Anandajoti

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei


Tiada kesulitan maupun kesulitan dari sebuah kekuasaan yang dapat mengendurkan kebajikan welas asih Sang Mahātmā terhadap para makhluk hidup. Ini akan diajarkan sekarang.

Pada masa ketika Bodhisattva, yang telah lama mempraktikkan perbuatan baik dengan baik; dan mengembangkan kemurahan hati, pengendalian diri, pengawasan diri dan welas asih, mengarahkan tindakannya yang luar biasa untuk kepentingan orang lain. Suatu ketika dikisahkan bahwa ia terlahir sebagai Śakra, raja para dewa,

(1)
Keagungan Pemimpin Surgawi bersinar di tingkatan yang lebih tinggi
dan menunjukkan keagungan yang lebih besar, karena posisi itu telah jatuh menjadi bagiannya.
Seperti sebuah istana yang dihiasi selubung dinding indah yang digemerlapkan oleh sinar rembulan.

(2)
Demikianlah kemilau dari negara yang perkasa itu, menaklukkan putra-putra Diti
yang berani melawan serbuan gajah-gajah dunia dan menghadapi gading-gadingnya.
Kecemerlangan itu adalah miliknya.
Tetapi meskipun dia dengan mudah menikmati kebahagiaan itu, atas kehendaknya sendiri,
kebahagiaan itu tidak menodai hatinya dengan kesombongan.

Memimpin langit dan bumi dengan cara yang benar, dia memperoleh kemuliaan yang luar biasa, yang meliputi seluruh alam semesta. Para Asura tidak mampu menahan kemasyhuran atau kebahagiaan sangat indah yang dia nikmati, dan berperang melawannya. Mereka berbaris untuk bertemu dan melawannya dengan pasukan gajah, kereta perang, pasukan berkuda, dan pasukan infanteri yang sangat besar, dan suasana menjadi lebih mengerikan, karena mereka terseret dalam barisan pertempuran yang penuh kesombongan dan membuat suara yang menakutkan bagai di samudra lepas. Melalui kobaran api dari berbagai jenis senjata mereka untuk menyerang dan bertahan, mereka terlihat menakutkan.

(3)
Meskipun dia terikat pada moralitas yang benar,
namun di dalam hatinya merasakan keinginan untuk terlibat dalam hiruk-pikuk pertempuran.
Dia terdorong untuk melakukannya karena kesombongan musuh-musuhnya,
merasa bahwa rakyat-rakyatnya berada dalam bahaya,
yang kedamaiannya sudah terganggu secara tidak menyenangkan,
juga oleh kepatuhannya terhadap tradisi kerajaan dan ajaran tata negaranya.

Maka dia menaiki kereta emas unggulannya, tempat seribu kuda unggul ditugaskan. Depan kereta ini dihias dengan sebuah panji indah yang melayang tinggi dengan gambar Arhat sebagai lambangnya. Tampilan luarnya sangat cemerlang berkat kilau yang dipantulkan oleh bermacam-macam batu dan permata berharga yang menghiasinya, disertai dengan kecerahan yang menyinari sisi-sisinya dan yang berasal dari berbagai senjata api yang beragam jenis, berujung tajam, dan siap untuk digunakan di kedua sisi kereta. Di bagian dalamnya ditutupi dengan selimut putih halus. Berdiri di atasnya dan dikelilingi oleh pasukan surgawinya yang besar dengan berbagai pasukan, gajah, kereta, kuda dan infanteri, Bodhisattva bertemu dengan kekuatan Asura tepat di garis perbatasan samudera.

(4)
Maka pertempuran besar pun terjadi, merusak ketegangan rasa takut
seperti perisai dan baju besi yang ditembus oleh pukulan senjata
yang mereka gunakan untuk bertarung satu sama lain.

(5, 6)
Berbagai teriakan terdengar dalam riuh pergulatan itu.
“Diam! Tidak dengan cara ini! Lihat! Di mana kau sekarang?
Kau tidak akan bisa melarikan diri dariku! Kau adalah orang mati!”

(7)
Gajah-gajah dari kedua sisi saling menyerbu
dengan amarah yang meningkat
karena bau sari yang mengalir,
seperti gunung yang terguncang oleh angin di akhir zaman.

(8)
Bagai awan hitam yang menakutkan, kereta-kereta itu menyapu medan tempur;
panji-panji mereka melayang seperti kilat, dengan suara gemerincing
seperti gemuruh guntur yang mereka timbulkan.

(9)
Anak panah yang tajam berterbangan di antara kedua pasukan,
terjatuh di tengah-tengah prajurit baik para dewa dan asura,
mengenai panji dan payung kerajaan, busur dan tombak,
perisai dan baju tempur, dan kepala manusia.

(10)
Pada akhirnya pasukan Śakra melarikan diri karena ketakutan
oleh pedang dan anak panah yang berapi-api dari para asura.
Raja para dewa bertahan sendirian di medan pertempuran,
menghalangi para musuh dengan kereta perangnya.

Ketika Matali, kusir kereta paja para dewa, menyadari bahwa pasukan asura dengan semangat tinggi dan gembira sedang mendekati mereka dengan suara teriakan perang dan kemenangan yang keras, sedangkan pasukan para dewa telah bersiap untuk terbang pergi, dia berpikir bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mundur. Matali memutar balik kereta raja para dewa. Saat mereka mulai terbang naik, Śakra, raja para dewa, melihat beberapa sarang elang di atas pohon yang berada tepat segaris dengan tiang kereta, sehingga mereka harus dihancurkan. Tidak lama setelah melihatnya, diliputi oleh welas asih, dia berkata kepada Matali, kusirnya:

(11)
“Sarang burung di pohon ini dipenuhi dengan anak-anak burung yang belum bersayap.
Bawalah keretaku sedemikian rupa sehingga sarang-sarang ini tidak akan rusak karena tertimpa tiang kereta.”

Matali menjawab: “Namun kumpulan asura itu akan menyusul kita, tuan.”

Śakra berkata: “Tidak apa-apa. Lakukanlah dengan berhati-hati untuk menghindari sarang burung elang ini.” Kemudan Matali menjawab:

(12)
“Saya tidak mungkin memutar kereta untuk menyelamatkan burung-burung, wahai yang bermata teratai.
Di belakang kita ada segerombolan musuh yang dalam waktu tertentu dapat mengalahkan para dewa.”

Pada saat ini Śakra, raja para dewa, digerakkan oleh welas asihnya yang terdalam, menunjukkan kebaikan hatinya yang luar biasa dan niatnya yang teguh.

(13)
“Baiklah,” katanya, “putar keretanya.
Aku lebih baik mati karena pukulan tongkat yang mengerikan dari para pemimpin asura
daripada hidup dengan rasa bersalah dan tidak terhormat,
jika aku harus membunuh makhluk malang yang sedang ketakutan itu.”

Matali berjanji untuk melakukannya, dan membalikkan keretanya, yang ditarik oleh seribu kuda.

(14)
Para musuh yang telah menyaksikan kepahlawanannya dalam pertempuran,
melihat bahwa kereta itu berputar ke arah mereka, menjadi bingung dan ketakutan.
Barisan mereka tersisih seperti awan hujan gelap yang terbawa oleh angin.

(15)
Di tengah kekalahan, jika seorang pria memalingkan wajahnya
ke arah musuh dan menghalangi jalan pasukan musuh,
kadang-kadang akan menaklukan kesombongan dan keangkuhan pihak yang menang
dengan keberanian heroiknya yang tidak terduga.

(16)
Pemandangan barisan pasukan musuh yang hancur
membangkitkan semangat para dewa, membuat mereka kembali.
Para asura, yang ketakutan dan melarikan diri,
tidak berpikir lagi untuk bersatu dan melawan.

(17)
Para dewa, yang kegembiraannya bercampur dengan rasa malu,
memberi penghormatan kepada raja mereka yang cemerlang dan
indah oleh pancaran cahaya kemenangan.
Kemudian dia kembali diam-diam dari medan pertempuran ke kotanya,
di mana istrinya sudah menunggu dengan tidak sabar.

Dengan cara inilah kemenangan diperoleh dalam pertempuran itu. Dan karena alasan inilah pepatah mengatakan:

(18)
Orang yang berpikiran rendah melakukan perbuatan jahat sebagai akibat dari kekejaman mereka.
Pria biasa, meskipun menyedihkan, akan melakukannya ketika mengalami kesulitan.
Tetapi yang bajik, bahkan ketika hidupnya dalam bahaya,
tidak dapat melanggar batas pantas perilaku mereka seolah samudera menjadi pembatasnya.

[Dengan cara ini Sang Bhagavā telah lama melindungi kehidupan para binatang bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri dan harus kehilangan kekuasaan surgawi. Dengan mengingat bahwa orang bijak sungguh tidak pantas untuk menyakiti makhluk hidup, apalagi berbuat kejahatan kepada mereka, orang yang bajik harus berniat mempraktikkan welas asih terhadap para makhluk hidup.

Dan ungkapan bahwa Dharma sesungguhnya menjaga dia yang berjalan dalam kebenaran (dharma), harus dikemukakan di sini juga.

Demikian pula (cerita) ini dapat ditambahkan ketika berkhotbah tentang Sang Tathāgata, dan ketika mendengarkan khotbah Dharma dengan perhatian.

[Kembali ke daftar isi]

JATAKAMALA 9 – VISVANTARA-JATAKA

Jātakamālā 9 – Viśvantarajātakam
(Kisah tentang Visvantara)

Jātakamālā 9 – Viśvantarajātakam
(Kisah tentang Visvantara)

Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh:
J. S. Speyer

Suntingan Bahasa Inggris oleh:
Bhikkhu Anandajoti

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei


Orang yang tidak bajik tidak akan mampu membenarkan perilaku sang Bodhisattva, apalagi meneladaninya. Ini akan diajarkan sebagai berikut.

Suatu ketika para Śibi diperintah oleh seorang raja bernama Saṁjaya, yang menjalankan tugas kerajaannya dengan cara yang benar. Setelah sepenuhnya mengendalikan pancaindranya, dan memiliki tingkat kebajikan yang tinggi dalam keberanian, kebijaksanaan, dan kerendahan hati, dia berjaya dan berkuasa. Berkat ketaatan yang konstan dan ketat terhadap para tetua, dia telah menguasai isi penting dari tiga Veda (trayi) dan metafisika. Kemampuan tata aturan peradilannya yang baik dipuji oleh rakyat-rakyatnya yang penuh cinta kasih, yang menyukai pelaksanaan perdagangan dan tugas mereka yang berbeda, dan menikmati manfaat dari keamanan serta perdamaian.

(1)
Dengan kemajuannya dalam kebajikan, dia telah memperoleh berbagai bakat dalam memerintah kerajaan yang setia padanya, bagaikan wanita yang jujur, tidak menjadi milik raja-raja lain; sama seperti sarang singa yang tidak dapat dimasuki oleh hewan lain.

(2)
Semua orang yang menghabiskan pekerjaan mereka dalam berbagai jenis pertapaan, ilmu pengetahuan atau seni, biasa mendatanginya, dan jika mereka menunjukkan jasa kebajikan mereka, mereka memperoleh penghormatan yang unggul darinya.

Penerusnya dalam hal kemuliaan, namun tidak kalah dalam hal kebajikan, adalah putranya Viśvantara sang pewaris takhta.

(3)
Meskipun masih muda, ia memiliki ketenangan pikiran yang indah layaknya seorang tetua. Meskipun dia penuh semangat, tetapi sifatnya sabar. Meskipun terpelajar, tetapi dia terbebas dari kesombongan akan pengetahuan. Meskipun perkasa dan termasyhur, tetapi dia tidak memiliki keangkuhan.

(4)
Karena tingkat dari kebajikannya terkemuka di segala wilayah dan ketenarannya menembus tiga dunia, tidak ada ruang bagi reputasi orang lain yang lemah dan remeh; sepertinya mereka tidak berani menunjukkan diri.

(5)
Dia tidak tahan dengan banyaknya malapetaka dan penyebab penderitaan lainnya di antara umat manusia. Dia mengobarkan perang dan pertempuran terhadap musuh-musuh seperti itu, menembakkan anak panah pemberian dari busur welas asihnya yang besar tanpa terhitung jumlahnya.

Setiap hari ia terbiasa menyenangkan orang miskin yang kebetulan datang kepadanya dengan pemberiannya, yang diberikan tanpa kesulitan dan lebih dari yang mereka harapkan, yang diberikan dengan rasa hormat dan ucapan-ucapan yang menyenangkan. Tetapi pada hari poṣadha, karena ia taat terhadap pengendalian diri dan ketenangan di hari poṣadha, setelah memandikan kepalanya dan mengenakan pakaian linen putih, ia menunggangi gajahnya yang unggul, terlatih dengan baik, cepat, dan kuat, yang (menurut warna dan ukurannya) dapat dibandingkan dengan puncak Gunung Salju, yang wajahnya dihiasi dengan jejak air mengalir pada musim kawin, dan yang di tubuhnya ditemukan tanda-tanda keberuntungan. Ia duduk di atas gajah tunggangan kerajaan yang wangi dan sangat terkenal itu. Ia memiliki kebiasaan membangun ruang derma, yang telah dia dirikan di semua bagian kota bagai sumur yang menyegarkan untuk para fakir miskin. Dan ketika pergi ke sana, dia mengalami kegembiraan yang meluap.

(6)
Sesungguhnya, tiada kemewahan yang dapat memberikan kegembiraan kepada orang dermawan seperti yang dihasilkannya ketika dia berdana kepada fakir miskin.

Para fakir miskin yang bersukacita menceritakan kemurahan hati sang raja ke mana-mana. Beberapa raja tetangga yang telah mendengarnya kemudian berpikir untuk menjebak pangeran muda melalui kegemarannya dalam berdana, kemudian mengerahkan beberapa Brāhmana utusannya untuk merampok gajah yang luar biasa itu. Sehingga, pada suatu hari, ketika Viśvantara sedang memeriksa aula derma ― dengan raut wajahnya yang indah memancarkan kebahagiaan yang muncul di dalam pikirannya, ― para Brāhmana tersebut menghadang jalannya, mengucapkan doa dengan tangan kanan mereka yang terangkat dan terulur. Dia menghentikan gajah unggulannya, dan dengan hormat menanyakan alasan kedatangan mereka; mereka harus mengungkapkan keinginan mereka, ucapnya. Para Brāhmana berbicara:

(7, 8)
“Baik itu kualitas yang sangat baik dari gajah milikmu ini, yang berjalan dengan anggun, maupun kesenanganmu dalam memberi, membuat kami tampak seperti pengemis.

Berikanlah kami gajah (putih) ini, yang indah bagai puncak gunung Kailāsa, dan engkau akan memenuhi dunia dengan kekaguman.”

Sang Bodhisattva, mendengarkan permintaan itu, pikirannya dipenuhi dengan kegembiraan yang tulus dan merenungi ini:

“Sungguh, setelah sekian lama kini aku melihat pengemis yang meminta hadiah besar. Tetapi, bagaimanapun juga, untuk apa para Brāhmana ini menginginkan gajahku? Tidak diragukan lagi, ini pasti tipu daya menyedihkan dari beberapa raja, yang pikirannya diliputi oleh ketamakan, kecemburuan, dan kebencian.

(9)
Tetapi raja itu, yang mengabaikan nama baiknya sendiri dan ajaran kebenaran, memberikan kesempatan untuk meningkatkan kebaikanku, [dia] tidak boleh bersedih karena merasa kecewa.”

Setelah mempertimbangkan demikian, Sang Mahātman turun dari punggung gajah yang luar biasa itu dan berdiri di depan mereka dengan kendi emas yang terangkat; lalu dia mengucapkan (dengan serius) “Terimalah.”

(10)
Setelah itu, meskipun mengetahui bahwa pengetahuan politik tidak selaras jalan kebenaran (Dharma) dan hanya sesuai dengan kepentingan material (artha), ia menyerahkan gajah utamanya. Kesenangannya pada kebenaran tidak membuatnya takut dengan kebohongan ajaran politik.

(11)
Setelah memberikan gajah itu, yang dihiasi dengan kisi-kisi kursi emas yang indah di punggungnya, menyerupai awan musim gugur yang lebat, bersinar dengan kilatan cahaya, pangeran kerajaan memperoleh kegembiraan yang luar biasa ― tetapi penduduk dilanda oleh ketakutan, karena mereka adalah pengikut ajaran politik.

Ketika para Śibi mendengar tentang pemberian gajah besar itu, menjadi marah dan murka. Para tetua Brāhmana, para menteri, para ksatria dan para kepala desa, membuat kegemparan dan pergi menghadap raja Saṁjaya.

Karena kegelisahan, kebencian, dan amarah mereka, mereka mengabaikan tata krama untuk menghormat kepada raja mereka, dan berbicara: “Mengapa Anda mengabaikan hal ini, Yang Mulia, ketika kekayaan kerajaan Anda dibawa? Yang Mulia tidak boleh mengabaikan bahwa dengan cara ini Anda memupuk kemalangan di wilayah Anda.” Ketika sang raja dengan khawatir bertanya kepada mereka apa yang mereka maksud dengan ini, mereka menjawab: “Mengapa, apakah Anda tidak mengetahui apa yang telah terjadi, Yang Mulia?

(12, 13)
Binatang yang luar biasa itu, yang wajahnya harum dengan aroma sari buah yang mengalir, memabukkan kerumunan lebah yang berkeliaran di sekitarnya, dan juga meresapi angin teduh dengan wewangiannya, sehingga mendorongnya untuk dengan senang dan mudah membersihkan bau cairan gajah angkuh lainnya; gajah perang itu, yang kekuatan cemerlangnya menundukkan daya dan kekuatan musuh-musuhmu, dan merendahkan harga diri mereka hingga tertidur tanpa bergerak ― lihat, kemenangan yang diwujudkan itu telah dilepaskan oleh Viśvantara dan sedang dibawa ke negeri luar.

(14)
Gandum, emas, pakaian, barang-barang yang dapat dimakan, itulah barang-barang yang pantas untuk diberikan kepada para Brāhmana, tetapi berpisah dengan gajah utama kita, ikrar kemenangan yang mulia, adalah sebuah pemberian yang berlebihan dan terlalu jauh.

(15)
Bagaimana mungkin keberhasilan dan kekuasaan dapat bergabung dengan pangeran yang bertindak bertentangan dengan prinsip-prinsip kebijakan negara? Dalam hal ini kesabaran dari pihak Anda tidak pada tempatnya, Yang Mulia, jangan sampai dia membuat musuh-musuh Anda bersukacita.”

Mendengar hal ini, sang raja yang menyayangi putranya tidak terlalu senang kepada mereka: tetapi ia menunjukkan tata krama dan dengan cepat berkata kepada mereka bahwa mereka benar; setelah itu dia mencoba menenangkan para Śibi. “Aku tahu,” katanya, “bahwa Viśvantara menuruti keinginannya yang tidak sepadan untuk berdana sehingga mengabaikan aturan-aturan kebijaksanaan politik, yang perilakunya tidak sesuai sebagai seseorang yang ditunjuk sebagai pejabat kerajaan. Tetapi karena dia telah menyerahkan gajahnya sendiri, seolah itu adalah lendir, siapa yang akan membawa kembali hewan itu? Aku akan mengambil tindakan sedemikian rupa sehingga Viśvantara akan mengetahui batasan dalam perbuatan dananya. Ini mungkin cukup untuk meredakan amarah kalian.

Para Śibi menjawab: “Tidak, Yang Mulia, ini tidak akan berhasil. Dalam hal ini Viśvantara bukanlah orang yang dapat diyakinkan dengan kecaman sederhana.”

Saṁjaya berbicara: “Tapi apa lagi yang bisa aku lakukan?

(16)
Dia menjauhi perbuatan-perbuatan buruk, dia hanya terlalu terikat lepada praktik kebajikan sehingga menjadi sebuah hasrat. Apakah kalian menganggap bahwa pemenjaraan atau kematian putraku sendiri merupakan ganti rugi yang sepadan untuk gajah itu?

Meskipun demikian, para Śibi tetap bertahan dalam amarah mereka dan berkata:

(17, 18)
“Siapa yang akan senang, wahai raja, jika putra Anda mendapatkan rasa sakit karena kematian, atau penjara, atau cambukan sebagai hukumannya? Tetapi mengabdikan diri pada tugas-tugas agamanya, Viśvantara tidak pantas menjadi pemikul tugas-tugas kerajaan yang penuh dengan beban, karena kelembutan hati dan belas kasihnya.

Biarlah takhta ini ditempati oleh pangeran yang telah terkenal karena kemampuan berperangnya dan terampil dalam seni memberikan haknya kepada ketiga anggota trivarga. Sedangkan putra Anda, sebagai akibat dari kecintaannya pada kebenaran (Dharma), tidak mengindahkan kebijakan negara (naya), adalah orang yang pantas untuk tinggal di hutan pertapaan.

(19)
Tentunya, jika para pangeran menerapkan peraturan yang salah dan buruk, akibat dari kesalahan-kesalahan itu akan jatuh pada rakyatnya. Meskipun hal-hal itu dapat ditahan oleh mereka, seperti yang sudah pernah dialami; tetapi tidak demikian halnya bagi para raja yang akar kekuatannya sedang digerogoti.

(20)
Maka, kemudian, apa lagi yang harus diucapkan? Tidak mampu bersekutu dengan keadaan hal-hal yang akan menyebabkan kehancuran Anda, para Śibi telah mengambil keputusan ini. Pangeran kerajaan harus diasingkan ke Gunung Vaṅka, kediaman para Siddha; di sana ia dapat melakukan pertapaan.

Ditegur demi kebaikannnya dengan cara yang sangat kasar oleh para pejabat itu, ― yang berbicara dengan terus terang karena tergerak oleh hormat dan rasa sayang, meramalkan bencana yang dapat muncul akibat kebijakan yang buruk ― sang raja merasa malu dengan amarah para pemimpin rakyatnya, dan dengan mata tertunduk, diliputi oleh pikiran sedih tentang perpisahan dengan putranya, dia menghela napas yang dalam dan menyedihkan, berkata kepada para Śibi: “Jika ini adalah keputusan kalian, setidaknya izinkan dia dapat menunda selama satu siang dan malam. Besok saat fajar, Viśvantara akan mewujudkan keinginanmu.”

Jawaban ini memuaskan para Śibi. Kemudian raja berkata kepada pengurus rumah tangganya: “Pergi dan beri tahu Viśvantara tentang apa yang telah terjadi.” Pengurus rumah tangga berkata dia akan melakukannya, dan, dengan wajah berlinang air mata, pergi menemui Viśvantara,yang pada saat itu berada di istananya sendiri. Karena kesedihannya, utusan kerajaan menjatuhkan dirinya ke kaki pangeran, menangis keras-keras. Kemudian Viśvantara dengan cemas menanyakan kesehatan keluarga kerajaan, yang dijawab dengan suara yang agak tidak jelas karena kesedihan:

“Oh, keluarga kerajaan baik-baik saja.” “Tapi kenapa kamu begitu gelisah?” Viśvantara bertanya. Ditanya sekali lagi, utusan yang tenggorokannya masih tercekik oleh rasa sedih, mengucapkan kata-kata ini perlahan dengan nada tersendat-sendat dan isak tangis:

(21)
“Para Śibi, digerakkan oleh amarah, dengan kasar mengabaikan perintah kerajaan, meskipun mereka menyatakannya dengan niat baik, memerintahkanmu untuk diasingkan dari kerajaan, pangeranku.”

Viśvantara berkata: “Aku… oleh para Sibi… diperintahkan untuk dibuang, digerakkan oleh amarah! Apa yang engkau katakan itu tidak masuk akal.

(22)
Aku tidak pernah melanggar peraturan, juga tidak pernah melakukan tugas-tugasku dengan ceroboh. Tindakan jahat apa yang tidak aku ketahui, yang membuat para Śibi marah kepadaku?”

Pengurus rumah tangga berkata: “Mereka tersinggung atas keluhuran pikiran Anda.

(23, 24)
Kepuasan Anda dimurnikan oleh ketidakmelakatan yang Anda alami, tetapi peminta itu bermasalah oleh keserakahannya.

Ketika Anda memberikan gajah yang paling utama itu, wahai pangeran yang mulia, kemurkaan membuat para Śibi kehilangan kesabaran dan menyebabkan mereka melanggar batas tugas mereka. Mereka sangat marah terhadap Anda. Engkau harus pergi, sungguh, mengikuti cara hidup sebagai pertapa.”

Kemudian, Bodhisattva menunjukkan kasih sayangnya yang kepada para pengemis yang sudah mengakar dalam, yang dikukuhkan oleh praktik welas asihnya yang mendalam, dan kesabarannya yang agung dan luar biasa. dia berkata:

“Sifat para Śibi tidak dapat diandalkan, dan tampaknya mereka tidak bisa memahami sifatku.

(25)
Objek indria berada di luar diri kita, berlebihan untuk mengatakan bahwa aku akan memberikan mata atau kepalaku. Aku menyokong tubuh ini demi kepentingan para makhluuk, bukan demi kepemilikan pakaian dan kendaraan.

(26)
Aku ingin menghormati permintaan para pengemis, jika perlu, dengan anggota tubuhku sendiri, sedangkan para Śibi berusaha untuk menahan diri dari berdana karena ketakutan! Mempertimbangkan ini, mereka mengungkapkan ketidakstabilan pikiran mereka yang bodoh.

(27)
Biarkan semua Śibi membunuhku atau mengusirku, aku tidak akan berhenti dari berdana karena alasan itu. Dengan pikiran ini aku siap untuk pergi ke hutan pertapaan.”

Setelah ini, Bodhisattva berkata kepada istrinya, yang menjadi pucat saat mendengar berita sedih: “Yang Mulia telah mendengar keputusan para Śibi.” Madrī menjawab: “Aku sudah mendengarnya.” Viśvantara kemudian mengatakan:

(28)
“Sekarang simpanlah, wahai yang bermata cerah, seluruh kepemilikanmu, dengan mengambil apa yang engkau dapatkan dariku dan juga dari ayahmu.”

Madrī menjawab: “Di mana aku harus meletakkan simpanannya, pangeranku?” Viśvantara menjawab:

(29, 30)
“Engkau harus memberi dengan kerelaan hati kepada orang-orang yang berperilaku baik, menghiasi kemurahan hatimu dengan ketaatan yang baik. Barang yang disimpan dengan cara ini tidak akan binasa dan akan mengikuti kita setelah kematian.

Jadilah putri yang penuh kasih bagi mertuamu, wahai ibu yang penuh perhatian terhadap anak-anak kita. Teruslah bertingkah laku bajik, berwaspadalah terhadap kelalaian; tetapi janganlah bersedih atas kepergianku.”

Atas hal ini, Madrī, menghindari apa yang dapat merusak keteguhan pikiran suaminya, menahan kesedihan mendalam yang membuat hatinya sedih, dan berkata sambil berpura-pura tenang:

(31, 32)
“Tidak benar, Yang Mulia, bahwa engkau harus pergi ke hutan sendirian. Aku juga akan pergi bersamamu kemana pun engkau harus pergi. Saat menemanimu, bahkan kematian akan menjadi sebuah kegembiaraan bagiku; tetapi hidup tanpamu terasa lebih buruk dari kematian.

Aku juga tidak berpiki bahwa kehidupan hutan itu tidak menyenangkan sama sekali. Pertimbangkanlah dengan baik.

(33)
Dijauhkan dari orang-orang jahat, didatangi oleh rusa, bergema dengan burung-burung yang berkicau, hutan pertapaan dengan anak sungai dan pepohonan, keduanya lengkap, dengan petak-petak rumput bertatahkan lantai lapis lazuli yang indah, sejauh ini lebih menyenangkan daripada taman buatan milik kita.

Sungguh, pangeranku,

(34)
Ketika melihat anak-anak ini berpakaian rapi dan dihiasi dengan karangan bunga, bermain di semak-semak liar, engkau tidak akan memikirkan keluarga kerajaanmu.

(35)
Sungai-sungai pembawa air, dilintasi oleh gubuk alami dengan keindahan yang terus diperbarui, beragam sesuai dengan pergantian musim, akan menyenangkanmu di hutan.

(36, 37)
Suara merdu dari kicauan burung yang memdambakan cinta, tarian burung merak yang terbawa oleh musim kawin, dengungan manis dan bagai pujian dari lebah pencari madu: mereka membuat perpaduan suara hutan bersama itu yang akan menggembirakan pikiranmu.

(38, 39)
Lalu, bebatuan bertebaran di malam hari dengan kain sutra cahaya bulan; angin hutan yang lembut membelai dengan aroma pepohonan berbunga; suara gumaman anak sungai, mendorong air melewati kerikil yang bergerak sehingga meniru suara sejumlah ornamen wanita yang berderak – semua ini akan menyenangkan pikiranmu di hutan.”

Permohonan istri tercintanya ini membuatnya sangat ingin pergi ke hutan. Oleh karena itu, dia bersiap untuk melimpahkan pemberian yang besar kepada orang-orang yang mengemis.

Namun di istana raja, berita tentang pengusiran yang diucapkan kepada Viśvantara menyebabkan kekhawatiran dan ratapan besar. Demikian pula para pengemis, yang diganggu oleh kesedihan dan duka cita, menjadi hampir gila, berperilaku seolah-olah mereka sedang mabuk atau kehilangan akal, dan mengucapkan banyak serta berbagai ratapan semacam ini:

(40)
“Bagaimana mungkin bumi tidak merasa malu, membiarkan kapak menebang pohon yang rindang itu, sang pemberi buah yang begitu manis? Sekarang jelas dia telah kehilangan kesadaran.

(41)
Jika tidak ada yang mencegah mereka yang akan menghancurkan sumur berisi air yang dingin, murni, dan manis itu, maka sebenarnya penjaga perempat-dunia ini salah dinamai demikian, atau sebenarnya mereka tidak ada, atau mereka hanyalah sebutan belaka.

(42)
Oh! Sungguh ketidakadilan telah bangkit dan kebenaran entah sedang tidur atau mati, karena Pangeran Viśvantara diusir dari kekuasaannya.

(43)
Siapakah yang begitu mahir dalam menimbulkan kesusahan, sehingga memiliki kekejaman yang bertujuan untuk membuat kami kelaparan, yang tidak bersalah, yang hanya hidup dengan mengemis?”

Bodhisattva kemudian melepaskan kekayaannya. Kepada para pengemis, dia melimpahkan isi dari perbendaharaannya, yang hingga bagian paling atas terisi dengan batu-batu berharga, emas, dan perak, yang bernilai ratusan ribu; gudang-gudang senjata dan lumbung-lumbung, berisi berbagai jenis barang dan biji-bijian; semua miliknya yang lain, terdiri dari budak dari kedua jenis kelamin, binatang-binatang buas, kereta, pakaian dan sejenisnya. Semuanya ini dia bagikan sesuai dengan jasa kebajikan penerima.

Setelah selesai, dia memberi penghormatan kepada ayah dan ibunya, berpamitan dengan mereka, yang diliputi kesedihan dan duka cita. Kemudian dia menaiki kereta kerajaannya bersama istri dan anak-anaknya. Dia meninggalkan ibu kota, sementara sekelompok besar orang mengucapkan ratapan, jalanan menjadi ramai seperti sedang ada perayaan; dia juga tidak berhasil dengan mudah untuk membuat keramaian berbalik, yang mengikutinya karena kasih sayang, meneteskan air mata kesedihan.

Kemudian dirinya mengambil kendali, dia mengemudi ke arah Gunung Vaṅka. Dan tanpa sedikit pun pikiran gelisah, dia meninggalkan ibu kota, dimahkotai dengan taman dan rumpun yang menawan, dan mendekati hutan, yang ditandai oleh semakin jarangnya pepohonan rindang serta manusia, pemandangan sekawanan antelop berlarian di jarak yang jauh dan kicauan jangkrik.

Secara kebetulan beberapa Brāhmana datang menemuinya, meminta kuda-kuda yang menarik keretanya kepadanya.

(44)
Dan meskipun dia dalam perjalanan banyak yojana tanpa pengiring sambil menanggung istrinya, dia memberikan keempat kudanya kepada para Brāhmana ini, menjadi gembira atas kesempatan memberi , dan tidak memikirkan masa depan.

Sekarang, ketika Bodhisattva hendak meletakkan dirinya di bawah kuk, dan sedang mengencangkan lingkar pinggangnya dengan erat, di sana muncul empat Yakṣa muda, dalam bentuk rusa merah. Seperti kuda-kuda unggul yang terlatih dengan baik, mereka meletakkan bahu mereka sendiri di bawah kuk. Saat melihat mereka, Bodhisattva berkata kepada Madrī, yang menatap mereka dengan sukacita dan keterkejutan:

(45)
“Lihatlah kekuatan luar biasa dari hutan pertapaan yang dihormati oleh kediaman para pertapa. Kebaikan mereka terhadap para tamu dalam hal ini telah mengakar dalam dada rusa yang paling utama.”

Madrī menjawab:

(46)
“Menurutku, ini lebih merupakan karena kesaktianmu. Praktik kebajikan oleh orang baik, telah mengakar dalam, tidak sama bagi semua orang.

(47)
Ketika pantulan indah bintang-bintang di air dilampaui oleh kilau tawa bunga lili malam, penyebabnya dapat ditemukan dalam sinar yang diturunkan oleh sang dewa rembulan seolah-olah karena keingintahuannya.”

Sementara mereka pergi, mengucapkan kata-kata kasih sayang satu sama lain, seorang brāhmana lain mendekat, dan meminta kereta kerajaan Bodhisattva.

(48)
Dan Sang Bodhisattva tidak mempedulikan kenyamanannya sendiri, tetapi mengasihi para pengemis seperti kerabatnya sendiri, memenuhi keinginan Brāhmana itu.

Dia dengan senang hati meminta keluarganya turun dari kereta, mempersembahkannya kepada brāhmana itu, dan membawa Jālin ― putranya ― dalam pelukannya, melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Madrī, yang juga bebas dari kesedihan, mengangkat putrinya, Kṛṣṇājinā, dalam pelukannya dan berjalan mengejar suaminya.

(49)
Kepadanya, pohon-pohon menjulurkan dahan-dahan yang ujungnya dihiasi dengan buah-buahan yang menawan, seolah-olah mengundangnya untuk menikmati keramahan mereka, dan memberi penghormatan pada kemuliaan jasa kebajikannya, membungkuk kepadanya seperti murid yang taat ketika mereka melihatnya.

(50)
Dan, di mana ia merindukan air, di tempat-tempat itu kolam teratai muncul di hadapannya, menutupi permukaannya dengan serbuk sari putih dan coklat kemerahan yang jatuh dari kepala sari teratai yang diguncang oleh kepakan sayap para angsa.

(51)
Awan menutupi dirinya dengan kanopi yang indah; di sana bertiup angin yang menyenangkan dan harum; dan jalannya diperpendek karena para Yakṣa tidak tahan melihat kerja keras dan kelelahannya.

Dengan cara ini, Bodhisattva bersama istri dan anak-anaknya mengalami kesenangan dan kegembiraan saat berjalan, tanpa merasa kelelahan, seolah-olah sedang berada di suatu taman, dan akhirnya dia melihat gunung Vaṅka. Ditunjukkan jalannya oleh beberapa penjaga hutan, dia pergi ke hutan pertapaan yang ada di gunung itu.

Hutan ini diliputi oleh berbagai pohon yang menawan, berkulit halus, yang sangat bagus, dengan ornamen ranting, bunga, dan buah-buahan; burung-burung yang bersuka ria dengan nafsu menggemakan beragam nada mereka; kelompok burung merak yang menari meningkatkan keindahannya; banyak jenis rusa tinggal di dalamnya. Bagai ikat pinggang, hutan itu dikelilingi oleh sungai yang airnya berwarna biru murni dan angin yang sepoi-sepoi di sana, membawa serbuk bunga merah.

Di hutan ini berdiri sebuah gubuk dengan dedaunan, indah untuk dilihat, dan menyenangkan di setiap musim. Viśvakarman sendiri membangunnya atas perintah Śakra. Di sanalah Bodhisattva menempati kediamannya.

(52)
Ditemani oleh istri tercintanya, dia menikmati pembicaraan yang manis dan santai bersama anak-anaknya. Tidak memikirkan urusan kerajaannya, seperti orang yang tinggal di tamannya sendiri, dia berlatih di rerimbunan hutan pertapaan yang kuat selama setengah tahun.

Suatu hari, ketika sang putri pergi mencari akar dan buah-buahan, dan pangeran sedang berada di dalam pertapaan sambil mengawasi anak-anaknya, tibalah seorang Brāhmana yang kaki dan pergelangan kakinya sudah lelah akibat perjalanan jauh, matanya kaku dan pipinya cekung akibat bekerja keras; dia membawa tongkat kayu di atas bahunya, tempat wadah airnya digantung. Istrinya telah mengutusnya dengan tugas mendesak, untuk pergi dan mencarikan beberapa pembantu.

Ketika Bodhisattva melihat seorang pengemis mendatanginya setelah sekian lama, hatinya bersukacita, dan wajahnya mulai bersinar. Dia pergi menemuinya, dan menyambutnya dengan kata-kata yang ramah. Setelah percakapan yang biasa dia katakan padanya untuk memasuki pertapaan, di mana dia menghiburnya dengan kehormatan karena seorang tamu. Kemudian dia bertanya kepadanya tentang apa yang akan dia lakukan. Brāhmana, karena menyukai istrinya, telah membuang kebajikan dan rasa malu dan ingin sekali menerima pemberiannya, berkata secara jujur seperti ini:

(53)
“Di mana terdapat terang dan jalan yang rata, di situ mudah bagi manusia untuk pergi. Tetapi di dunia ini kegelapan mementingkan diri sendiri telah berlaku sedemikian rupa sehingga tidak ada orang lain yang akan mendukung kata-kata permintaanku.

(54)
Kemasyhuranmu yang cemerlang atas pemberian yang penuh pengorbanan telah merambah ke mana-mana. Untuk alasan ini aku datang untuk meminta darimu. Berilah aku kedua anakmu untuk menjadi pelayanku.”

Disapa seperti itu, Bodhisattva, Sang Mahāsattva itu,

(55)
Karena dia memiliki kebiasaan berdana dengan gembira kepada pengemis dan tidak pernah belajar untuk mengatakan tidak, dengan berani mengatakan bahwa dia akan memberi bahkan kedua kesayangannya sekalipun.

“Terberkatilah! Apa lagi yang masih engkau tunggu?” Demikian Brāhmana mendesak Bodhisattva. Anak-anak, setelah mendengar ayah mereka berkata bahwa dia akan memberikan mereka, menjadi menderita, dan mata mereka berlinang air mata. Kasih sayangnya kepada mereka membuatnya gelisah, dan membuat hatinya tenggelam. Maka Bodhisattva berbicara kepada Brāhmana itu:

(56, 57)
“Mereka adalah milikmu, yang diberikan olehku kepadamu. Tapi ibu mereka sedang tidak berada di rumah. Dia pergi ke hutan untuk mencari akar dan buah-buahan; dia akan kembali pada malam hari.

Biarkan ibu mereka melihat mereka, berpakaian rapi seperti sekarang dan membawa karangan bunga, dan mencium mereka sebagai perpisahan. Beristirahatlah malam ini di sini; engkau akan membawa mereka pergi besok.”

Brāhmana itu berkata: “Yang Mulia seharusnya tidak mendesakku.

(58)
Wanita memiliki kuasan ‘pemikat cantik,’ engkau tentu mengetahuinya. Dia akan menghalangimu untuk memenuhi janjimu. Oleh karena itu aku tidak ingin bermalam di sini.”

Bodhisattva menjawab: “Jangan pikirkan itu. Istriku tidak akan menghalangiku memenuhi janji. Dia sebenarnya adalah pendamping dari praktik kebajikanku. Bertindaklah sesuka hati Yang Mulia. Namun, Brāhmana yang agung, engkau harus mempertimbangkan ini:

(59-61)
Bagaimana mungkin anak-anak ini dapat memuaskan keinginanmu dengan kerja paksa? Mereka sangat muda dan lemah, tidak terbiasa dengan pekerjaan seperti itu.

Tetapi raja Śibi, kakek mereka, setelah melihat mereka jatuh ke dalam perbudakan, pasti akan memberimu uang sebanyak yang engkau minta sebagai tebusannya.

Maka, untuk alasan ini aku menyarankan kepadamu, bawalah mereka pergi ke kerajaannya. Ketika bertindak demikian, engkau akan memiliki kekayaan yang besar dan menjalankan kebajikan pada saat yang sama.”

“Tidak” (ucap Brāhmana), “Aku tidak berani datang kepada sang raja dengan tawaran yang akan membangkitkan amarahnya; dia tidak bisa didekati bagaikan seekor ular.

(62)
Dia akan memerintahkan agar anak-anak itu diambil paksa dariku, mungkin dia juga akan menjatuhkan hukuman kepadaku. Aku akan membawa mereka kepada Brāhmaṇī-ku agar dapat merawat mereka.”

Atas hal ini Bodhisattva tidak berkata apa-apa selain menjawab, “Bila demikian, terserah kepadamu,” tanpa menyelesaikan kalimatnya. Dia menginstruksikan anak-anak dengan kata-kata yang meyakinkan tentang bagaimana mereka harus bertindak sesuai dengan status baru mereka sebagai pelayan; setelah itu ia mengambil wadah air, membalikannya di atas tangan Brāhmana yang terulur, yang serakah untuk menerima pemberian.

(63)
Menyerah pada usahanya, air mengalir dari wadah, dan pada saat yang sama air mata jatuh tanpa usaha dari matanya yang menyerupai kelopak bunga teratai merah tua.

Gembira dengan keberhasilannya dan tidak tenang oleh kegembiraannya, tergesa-gesa untuk membawa anak-anak Bodhisattva, Brāhmana mengucapkan kalimat pemberkatan pendek, dan memberi tahu anak-anak dengan suara perintah yang kasar untuk pergi keluar. Dia bersiap untuk membuat mereka meninggalkan pertapaan. Namun, mereka tidak dapat menahan kesedihan karena perpisahan yang terlalu mendalam, hati mereka menciut bersama dan mereka memeluk kaki ayah mereka. Bermandikan air mata, mereka berseru:

(64)
“Ibu sedang keluar rumah saat engkau akan menyerahkan kami. Jangan relakan kami sebelum kami mengucapkan selamat tinggal kepada ibu juga.

Sekarang Brāhmana itu merenung: “Sang ibu akan kembali dalam waktu yang lama, atau kemungkinan cintanya sebagai seorang ayah akan membuatnya menyesal.” Dengan mempertimbangkan itu, dia mengikat tangan mereka seperti seikat teratai dengan tanaman menjalar, dan karena mereka enggan untuk pergi serta melihat kembali pada ayah mereka, dia mulai menyeret anak-anak yang kecil dan lembut itu bersamanya, mengancam mereka. Pada saat itu Kṛṣṇājinā, sang gadis, yang belum pernah mengalami bencana yang tiba-tiba, menangis dengan berlinang air mata sambil berucap kepada ayahnya:

(65, 66)
“Brāhmana yang kejam ini, ayah, melukaiku dengan tanaman menjalar. Orang ini pasti bukan Brāhmana. Para Brāhmana adalah orang-orang yang baik. Ini adalah raksasa yang berkedok seorang Brāhmana. Pasti dia membawa pergi kami untuk memakan kami. Mengapa engkau membuat kami menderita, ayah, untuk dibawa pergi oleh raksasa ini?”

Dan Jālin, sang anak laki-laki, meratap karena ibunya, berkata:

(67)
“Bukan tindakan kasar Brāhmana ini aku menderita, melainkan karena ketidakhadiran ibu. Hatiku seolah-olah tertusuk oleh kesedihan karena aku tidak dapat melihatnya.

(68)
Oh! Tentu saja, ibu akan menangisi kita untuk waktu yang lama di tempat pertapaan yang kosong, seperti burung cātaka yang anak-anaknya telah dibunuh.

(69)
Bagaimana sikap ibu, ketika kembali dengan banyak akar dan buah yang dia kumpulkan di hutan untuk kita, lalu dia menemukan tempat pertapaan yang kosong?

(70)
Ayah, ini adalah mainan kuda, gajah, dan kereta kami. Separuh dari itu harus engkau berikan kepada ibu, agar dia dapat meredakan kesedihannya.

(71)
Engkau juga harus menyampaikan salam hormat kami kepadanya dan menahannya agar tidak menyakiti dirinya sendiri; karena akan sulit bagi kami, ayah, untuk bertemu dengan kalian lagi.

(72)
Ayo, Kṛṣṇā, marilah kita mati. Apa gunanya kita hidup? Kita telah diserahkan oleh sang pangeran kepada seorang Brāhmana yang menginginkan uang.”

Setelah berbicara demikian, mereka berpisah. Tetapi Bodhisattva, meskipun pikirannya terguncang oleh ratapan yang sangat memilukan dari anak-anaknya, tidak beranjak dari tempat dia duduk. Sementara menyatakan kepada dirinya sendiri bahwa tidak benar untuk menyesal karena telah memberi, hatinya dibakar oleh api kesedihan yang tidak dapat disembuhkan, dan pikirannya menjadi kacau, seolah-olah dilumpuhkan oleh kelambanan yang disebabkan oleh racun. Angin yang berembus sejuk membuat akal sehatnya segera pulih, dan melihat pertapaan yang tak bersuara dan sunyi, tanpa anak-anaknya, dia berkata pada dirinya sendiri dengan suara yang tercekat dengan air mata:

(73)
“Bagaimana mungkin orang ini tidak segan-segan untuk menyerang hatiku di depan mataku pada anak-anakku? Oh, Brāhmana yang tak tahu malu itu!

(74)
Bagaimana mereka dapat melakukan perjalanan dengan bertelanjang kaki, tidak dapat menahan kelelahan karena usia mereka yang masih muda, dan menjadi pelayan bagi pria itu?

(75)
Siapa yang akan mengistirahatkan mereka, ketika mereka lelah dan tidak bertenaga? Kepada siapa mereka dapat bertanya, jika kesal dengan penderitaan kelaparan dan kehausan?

(76)
Jika kesedihan ini dapat menyerangku, yang berusaha sungguh-sungguh mengejar keteguhan pikiran, bagaimana dengan kondisi anak-anak kecil itu, yang dibesarkan dengan kenyamanan?

(77)
Oh! Perpisahan dengan anak-anakku bagaikan api yang membara di dalam pikiranku! Tapi apakah mereka yang telah berpegang pada jalan kebajikan akan menyesali pemberiannya?

Sementara itu, Madrī gelisah oleh pertanda-pertanda buruk, merasakan suatu petaka, sehingga ia ingin segera kembali dengan akar dan buahnya. Tetapi dalam perjalanan ia dihalangi oleh binatang buas sehingga dia terpaksa pulang ke tempat pertapaan dengan jalan memutar yang panjang. Dan ketika dia tidak melihat anak-anaknya di jalan, di mana mereka biasa datang untuk menemuinya, termasuk di tempat mereka bermain, dia semakin merasa gelisah.

(78)
Memahami pertanda buruk yang menakutkan ini, dia merasa gelisah dan cemas. Melihat ke sekeliling, dia berharap dapat melihat anak-anaknya, kemudian memanggil mereka. Tetapi setelah tidak menerima jawaban, dia mulai meratap, berduka karena kesedihan.

(79)
“Dulunya tempat pertapaan ini, yang bergema dengan teriakan anak-anakku, tampak seperti tempat yang ramai. Sekarang karena aku tidak melihat mereka, aku merasa diriku tidak berdaya di tempat ini yang kini seperti berada di hutang belantara.

(80)
Tapi mungkin mereka sudah tertidur dan terlelap karena kelelahan bermain. Atau mungkinkah mereka tersesat di semak belukar? Atau mungkinkah mereka menyembunyikan diri karena rasa kekanak-kanakan, merasa tidak senang karena aku terlalu lama pulang?

(81)
Tapi mengapa burung-burung di sana tidak berkicau? Apakah mungkin mereka bingung, setelah menyaksikan kemalangan yang terjadi pada anak-anak? Mungkinkah kesayanganku jatuh ke dalam sungai deras, terbawa oleh arusnya yang kuat?

Oh! Kecurigaanku mungkin tidak berdasar dan salah. Semoga pangeran serta anak-anak baik-baik saja! Oh! Semoga firasat ini hanya terjadi pada diriku sendiri! Tetapi mengapa hatiku terasa berat dengan kesedihan karena memikirkan mereka? Mengapa hatiku seolah terselimuti dalam malam yang kelam dan seperti akan tenggelam? Mengapa anggota tubuhku seperti melemah, aku tidak dapat lagi melihat benda-benda di sekitarku, sehingga hutan ini, yang kehilangan kilaunya, tampak berputar?”

Setelah memasuki tempat pertapaan dan menyisihkan akar dan buahnya, dia pergi menemui suaminya. Setelah melakukan salam seperti biasa, dia menanyakan anak-anak. Sekarang Bodhisattva, yang mengetahui kelembutan cinta seorang ibu dan juga menganggap bahwa kabar buruk sulit untuk diceritakan, tidak dapat memberikan jawaban apa pun.

(82)
Ini adalah masalah yang sangat sulit bagi seorang pria yang bersedih hati, sungguh, untuk menyiksa pikiran seseorang yang telah datang kepadanya dan pantas untuk mendengar kata-kata yang menyenangkan dengan sebuah kabar buruk.

Kemudian Madrī berpikir: “Pasti, beberapa penyakit telah menimpa anak-anak; keheningannya pasti karena dia diliputi oleh duka cita dan kesedihan,” dan dia hampir pingsan setelah menatap sekitar tempat pertapaan tetapi tidak melihat anak-anak. Dan sekali lagi dia berucap dengan suara yang agak tidak jelas karena isak tangis yang tidak tertahan:

(83)
“Aku tidak melihat anak-anak, dan engkau tidak berbicara apa-apa kepadaku! Sungguh disayangkan! Aku merasa sedih, putus asa. Keheningan ini menyampaikan sebuah hal buruk yang besar.

Tidak lama setelah dia mengucapkan kata-kata tersebut, terlalu larut oleh kesedihan yang menyiksa hatinya, dia terjatuh bagai tanaman merambat yang dipotong dengan keras. Bodhisattva mencegahnya jatuh ke tanah, memeluknya dengan tangan, dan membawanya ke atas rumput untuk dibaringkan dan dipercik dengan air dingin untuk memulihkan kesadarannya. Kemudian dia berusaha untuk menghiburnya, dengan mengatakan:

(84)
“Aku belum menyampaikan kabar duka ini secara langsung kepadamu, Madrī, karena tidak mungkin mengharapkan ketegaran dari seseorang yang pikirannya lemah oleh kasih sayang.

(85)
Jadi, seorang Brāhmana yang menderita karena usia tua dan kemiskinannya telah mendatangiku. Aku telah memberikan kedua anak itu kepadanya. Tenangkan dirimu dan jangan bersedih.

(86)
Lihatlah aku, Madrī, jangan mencari anak-anak ataupun tenggelam dalam ratapan. Jangan lagi menyerang hatiku, yang masih tertusuk oleh panah kesedihan karena anak-anak.

(87)
Ketika hidupku diminta, haruskah aku dapat menahannya? Pertimbangkan ini, cintaku, dan bergembiralah atas pemberian yang telah kulakukan bagi anak-anak.”

Madrī, yang mengalami kesedihan berat karena kecurigaan akan kematian anak-anaknya, sekarang mendengar bahwa mereka masih hidup, mulai pulih dari ketakutan dan penderitaannya. Dia menyeka air matanya dengan tujuan untuk menghibur dan menguatkan suaminya; lalu mendongak, dia melihat (sesuatu) yang membuatnya berbicara secara takjub kepada suaminya:

“Sungguh baik! Sungguh baik!

(88)
Sesungguhnya, bahkan para dewa sedang diliputi kekaguman kepada hatimu yang sampai saat ini tidak dapat disentuh oleh perasaan egois.

(89)
Ini terbukti dari suara genderang surgawi yang bergema ke segala arah. Untuk merayakan kemuliaanmu, alam surga telah menyusun pujian yang diucapkan dalam bahasa yang berbeda dari jauh.

(90)
Bumi berguncang, bergetar, berasal dari kegembiraan, seperti yang ditunjukkan oleh pegunungan besar yang terangkat. Bunga-bunga keemasan berjatuhan dari surga, membuat langit nampak seolah sedang diterangi oleh kilat.

(91)
Tinggalkan kesedihan dan ratapan. Engkau telah memberi dalam kemurahan hati yang akan mencerahkan batinmu. Kembali menjadi mata air yang memberi manfaat bagi para makhluk, dan menjadi seorang pemberi seperti sebelumnya!”

Permukaan bumi terguncang, Sumeru, raja di antara gunung, bersinar dengan kilauan permatanya, mulai bergoyang. Śakra, raja para dewa, mencari tahu penyebab dari gempa bumi, dan diberitahu tentang oleh pengawas penjuru dunia, yang dengan mata membesar karena keheranan, mengatakan kepadanya bahwa hal itu disebabkan oleh Viśvantara memberikan anak-anaknya.

Bersemangat dengan kegembiraan dan keheranan, keesokan harinya saat fajar menyingsing dia pergi ke hadapan Viśvantara, berpura-pura menjadi seorang Brāhmana yang datang kepadanya sebagai seorang pengemis. Bodhisattva menunjukkan kepadanya keramahan yang harus dia berikan kepada seorang tamu, setelah itu dia memintanya untuk menyampaikan permintaannya. Kemudian Śakra meminta istrinya.

(92)
“Praktik berdana pada orang-orang yang bajik,” katanya, “Orang yang bajik tidak pernah berhenti memberi sampai lautan mengering. Untuk alasan ini aku memohon kepadamu untuk wanita di sana yang berpenampilan seperti seorang dewi. Dia, istrimu, kumohon, berikanlah kepadaku!

Bagaimanapun juga, Bodhisattva tetap tidak kehilangan keteguhan pikirannya, dan berjanji untuk memberikannya.

(93)
Kemudian memegang Madrī dengan tangan kiri dan wadah air dengan tangan kanannya, dia menuangkan air ke tangan Brāhmana, juga api kesedihan ke dalam pikiran sang dewa cinta nafsu.

(94)
Tidak ada kemarahan yang muncul di dalam dada Madrī, dia juga tidak menangis, karena dia telah mengetahui sifat suaminya. Dengan hanya menjaga matanya tetap tertuju padanya, dia berdiri seperti bayangan, tertegun oleh beban besar dari penderitaan baru itu.

Saat melihat ini, Śakra, raja para dewa, tersentuh oleh kekaguman yang luar biasa, mengagungkan sang Bodhisattva:

(95)
“Oh! Begitu lebar jarak antara tingkah laku orang yang bajik dan jahat! Bagaimana mereka yang belum memurnikan hati mereka akan mampu mempercayai tindakan yang luar biasa ini?

(96)
Menyayangi istri yang penuh kasih sayang dan anak-anak yang sangat dicintai, namun tetap melepaskan mereka, mematuhi sumpah ketidakmelekatan yang ditetapkan sendiri ― apakah mungkin untuk memahami kemuliaan seperti ini?

(97)
Ketika kemuliaanmu akan disebar ke seluruh dunia melalui kisah-kisah dari perbagai orang yang terinspirasi dengan kebajikanmu, nama baik yang cemerlang orang lain akan memudar dibandingkan dengan dirimu, tanpa perlu diragukan lagi, layaknya cahaya bintang-bintang yang lenyap oleh kecemerlangan cahaya matahari.

(98)
Bahkan sekarang kualitas-kualitas seorang manusia agungmu ini telah disetujui dengan pujian oleh para Yakṣa, para Gandharwa, para naga, dan oleh para dewaa, termasuk Vāsava.”

Setelah berbicara demikian, Śakra memunculkan sosoknya yang cemerlang dan membuat dirinya dikenali oleh Bodhisattva. Setelah itu dilakukan, dia berkata:

(99)
“Sekarang kukembalikan kepadamu Madrī, istrimu. Di mana lagi seharusnya sinar rembulan berada selain bersama dengan bulan?

100. Engkau juga tidak perlu khawatir tentang perpisahan dari putra dan putrimu, atau bersedih hati karena kehilangan kemuliaan kerajaanmu. Tak lama kemudian ayahmu akan datang kepadamu, ditemani oleh kedua anakmu, dan menempatkan kerajaannya di dalam perlindungan, menegakkanmu kembali dalam tingkatan yang tinggi.”

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Śakra menghilang di tempat.

Dan Brāhmana itu, sebagai akibat dari kekuatan Śakra, membawa anak-anak Bodhisattva ke tanah Śibi. Dan ketika para Śibi beserta Saṁjaya, raja mereka, mendengar tentang tindakan Bodhisattva yang paling berwelas-asih, yang sulit dilakukan oleh orang lain, hati mereka melunak dengan kelembutan. Mereka menebus anak-anak dari tangan Brāhmana, dan setelah memperoleh pengampunan dari Viśvantara, membawanya kembali dan mengembalikannya dalam kemuliaan kerajaannya.

[Dengan cara ini, kemudian, perilaku seorang Bodhisattva sangatlah luar biasa. Untuk alasan ini makhluk-makhluk terhormat yang berjuang untuk keadaan itu, tidak boleh diremehkan atau dihalangi.

Cerita ini juga untuk disampaikan, ketika berkhotbah tentang Sang Tathāgata dan ketika mendengarkan khotbah Dharma dengan penuh perhatian.]

[Kembali ke daftar isi]

Kisah tentang Maitribala (Kisah Relief Jatakamala 8)

Kisah tentang Maitribala
(Kisah Relief Jatakamala 8)

Ringkasan:

Maitribala adalah seorang raja yang memerintah dengan cinta kasih. Suatu hari, lima yaksa ingin mencelakai orang-orang di negara tersebut, tetapi gagal karena kekuatan cinta kasih Maitribala yang melindungi rakyat-rakyatnya. Merasa dendam, mereka menyamar menjadi brahmana, mendatangi Maitribala dan meminta makanan. Saat Maitribala menyajikan makanan kerajaan, mereka menolaknya. Mereka kemudian menampilkan wujud asli mereka sebagai yaksa dan meminta darah dan daging sebagai santapan. Raja yang menyadari ini justru merasa kasihan dengan mereka, karena makanan mereka yang begitu sulit untuk diperoleh. Ia kemudian memberikan darah dan dagingnya untuk mereka santap. Melihat hal ini, kelima yaksa itu merasa tersentuh. Mereka kemudian menyesali tindakan mereka dan meminta petunjuk dari sang raja. Maitribala kemudian mengajarkan mereka aturan dasar moralitas (tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berucap salah, dan tidak meminum minuman keras). Para yaksa berjanji akan mematuhinya.


8.1. Sekelompok yaksa bertemu dengan seorang penggembala

Pada suatu ketika hiduplah seorang raja yang bernama Maitribala. Sesuai dengan namanya (maitri = cinta kasih), sang raja sangat mencintai rajanya. Baginya, kesusahan rakyatya adalah kesusahannya juga; sehingga ia selalu berupaya untuk melindungi rakyat-rakyatnya dari segala bentuk mara bahaya. Ia memerintah dengan penuh bijaksana, menerapkan hukuman dan penghargaan tanpa melanggar aturan Dharma.

Pada suatu hari, datanglah lima yaksa yang diusir dari tempat asal mereka. Yaksa ini melihat bahwa kerajaan tersebut sangat makmur dan rakyat-rakyatnya sangat bahagia. Munculah keinginan dari dalam diri mereka untuk mencelakai rakyat di kerajaan itu dengan menyebabkan penyakit. Namun, berkat perlindungan dari kekuatan kebajikan sang raja, seberapa kerasnya mereka berusaha, mereka tidak berhasil mengusik kesehatan para rakyat di negara itu.

Melihat usaha mereka gagal, mereka mencari upaya lain. Mereka menyamar menjadi brahmana dan berkeliling di sekitar kerajaan itu, yang akhirnya bertemu dengan seorang penggembala. Meniru suara manusia, kelima yaksa itu bertanya kepada sang penggembala, : “Wahai teman yang sedang bertugas menjaga sapi, apakah engkau tidak takut tinggal sendirian di hutan yang sepi ini, di mana tidak ada manusia lain yang terlihat?”

Penggembala itu menjawab, “Hal apa yang harus aku takuti?”

“Apakah kamu belum pernah mendengar bahwa makhluk seperti para Yakṣa, Rākṣasa, atau Piśāca itu berwatak kejam?” jawab yaksa.

Penggembala itu kemudian menjawab bahwa orang-orang di kerajaan tersebut dilindungi oleh seorang raja yang sangat bajik dan bijaksana, sehingga mereka tidak dapat dicelakai oleh siapa pun termasuk para yaksa. Oleh karena itulah, ia tidak takut berada sendirian di hutan belantara pada malam hari.

Para yaksa yang mendengar jawaban ini menjadi sangat merasa penasaran dan mendesak penggembala itu untuk menceritakan lebih detil mengenai raja pelindung mereka yang sangat kuat itu.

Penggembala itu kemudian menjawab dengan keheranan,

“Begitu terkenalnya kekuatan raja kami, tetapi kalian belum pernah mendengarnya! Bagaimana ini bisa terjadi? Atau pernahkah kalian mendengarnya, tetapi tidak mempercayai keajaiban besar dari ketenaran itu, dan tidak mempermasalahkannya?


Aku menduga orang-orang di negeri tempat asal kalian datang ke sini karena enggan mencari kebajikan atau merasa acuh tak acuh tentangnya; Mungkin juga, simpanan jasa bajik mereka sudah habis , sehingga kemasyhuran raja kami telah menghindari mereka.

Raja kami telah memperoleh kekuatan ini melalui pikirannya yang tinggi. Lihatlah, wahai Brāhmana yang mulia. Kekuatannya terletak pada cinta kasih, bukan pada pasukannya yang beraneka ragam, yang dia pertahankan hanya untuk mematuhi tradisi. Dia tidak mengenal amarah, juga tidak mengucapkan kata-kata kasar. Dia melindungi tanahnya dengan cara yang tepat. Kebenaran adalah pengatur tindakannya, bukan pengetahuan berpolitik yang merupakan ilmu dasar itu. Kekayaannya berfungsi untuk menghormati yang bajik. Meski diberkahi dengan kualitas-kualitas yang luar biasa itu, tetap saja dia tidak mengambil kekayaan dari orang jahat bagi dirinya sendiri, juga tidak bersikap angkuh.”

8.2. Para yaksa mencari sang raja

Setelah mendengar penjelasan itu, para yaksa menjadi sangat marah kepada raja karena telah menghalangi tugas mereka untuk membuat sakit para rakyat. Oleh karena itu, mereka kemudian mendatangi sang raja dan meminta makanan. Raja yang memang senang membantu orang dan menjamu tamunya, bersukacita dan segera meminta para petugasnya untuk menjamu mereka dengan makanan terbaik. Tetapi kelima yaksa (yang sedang menyamar menjadi brahmana) itu menolaknya, tidak memakannya sama sekali. Hal ini membuat sang raja bertanya-tanya, “Jenis makanan apa yang cocok dengan pencernaanmu, sehingga bisa diambilkan?”

Pertanyaan itu mereka jawab, “Daging manusia mentah, yang baru dipotong dan masih hangat, beserta darah manusia, oh raja bermata teratai, adalah makanan dan minuman para yakṣa, wahai engkau yang taat dalam menepati janjimu.”

Setelah mereka menjawab pertanyaan tersebut, mereka segera menampilkan wujud asli mereka yang seram dan menakutkan, dengan gigi-gigi tajam dan mata yang berwarna merah menyala. Sang raja segera menyadari bahwa mereka adalah yaksa, bukanlah manusia, dan oleh sebab itulah mereka tidak menyukai makanan yang ia tawarkan kepada mereka.

8.3. Maitribala dan istrinya menerima kedatangan yaksa yang menyamar

Namun sang raja tidak merasa takut, ia justru merasa kasihan melihat mereka yang kelaparan ini. Ia berpikir bahwa betapa menderitanya para yaksa ini yang harus hidup dengan menyantap daging dan darah manusia, yang begitu sulit untuk diperoleh. Jika tidak mendapatkan daging dan darah, mereka akan mati kelaparan; tetapi jika ingin mendapatkannya, mereka harus menyakiti orang lain, yang justru hanya menambah perbuatan buruk mereka sehingga mereka tidak dapat mengakhiri penderitaan.

Sang raja kemudian menjawab, “Jika daging dan darah ini, yang aku tanggung hanya untuk kebaikan makhluk hidup sekarang dibuang dengan tujuan untuk menjamu para tamu, aku akan menganggap ini sebagai keberuntungan bagi diriku sendiri dengan manfaat yang besar.”

Para yaksa terkejut mendengar jawaban itu karena di luar ekspektasi mereka.

Raja kemudian memerintahkan para tabibnya untuk datang dan mengambil darahnya untuk diberikan kepada para yaksa itu. Menteri kerajaan yang mendengar ini segera mencegah sang raja menyakiti dirinya sendiri, tetapi raja sudah bertekad akan menjamu kelima yaksa itu dengan darah dan dagingnya. Raja pun menjawab,

“Diminta dengan cara yang jelas, bagaimana mungkin orang sepertiku berucap bohong dengan berkata tidak memiliki, ketika sedang memiliki, atau aku tidak akan memberi? Aku telah menjadi pemimpin kalian dalam hal kebenaran. Jika aku sendiri berjalan di jalan yang salah, bagaimana dengan kondisi rakyat-rakyatku, yang siap mengikuti teladan tingkah lakuku?”

Setelah berhasil menenangkan para menteri, raja pun memerintah para tabib untuk mengambil darahnya, kemudian ia memberikannya kepada para yaksa.

Yaksa-yaksa itu mengiyakan dan mulai meminum darah sang raja. Namun sementara para yaksa itu memuaskan dahaga mereka terhadap darah manusia, tubuh sang raja tiba-tiba bersinar terang. Darahnya mengalir seolah tidak bisa habis, membuat para yaksa kekenyangan dan meminta raja untuk berhenti menghidangkan darah lagi bagi mereka.

Raja yang sudah bertekad akan memuaskan lapar dan dahaga mereka, mengambil sebilah pedang yang tajam. Dengan pedang itu, ia memotong dagingnya sendiri dan memberikannya kepada para yaksa. Meski terlihat mengerikan, tetapi sesungguhnya sang raja tidak merasa sakit sama sekali, karena ia merasa sangat bergembira untuk memberi.

Kelima yaksa yang melihat ketenangan sang raja, meski darah dan dagingnya telah diambil, menjadi sangat kagum. Sifat jahat mereka pun melunak dan menghormat kepada raja,

Oh, ini sungguh sesuatu yang menakjubkan! Oh, sungguh sebuah keajaiban! Apakah ini benar atau mungkin hanyalah sebuah khayalan? Jangan lagi melukai tubuhmu sendiri! Tindakanmu yang luar biasa ini, yang dengannya Anda memenangkan hati semua fakir miskin, telah memuaskan kami.”

Mereka menundukkan kepala, meminta raja untuk berhenti. Air mata keluar dari mata mereka dan hati mereka dipenuhi oleh rasa sesal, kemudian berkata,

“Pantaslah orang-orang terdorong oleh ketaatan untuk menyatakan kemuliaan Anda di mana-mana. Śrī yang pantas, memandang rendah kolam teratai, senang tinggal bersamamu. Sungguh, jika surga, meskipun dilindungi oleh kekuasaan Śakra, tidak merasakan sesuatu seperti kecemburuan ketika memandang ke bumi ini, dijaga oleh kepahlawanan Anda – Surga, bagaimanapun juga, sungguh tertipu.

Apa lagi yang bisa kami ucapkan? Umat manusia merasa bahagia, sungguh, berada di bawah perlindungan orang seperti engkau; tetapi kami, kami benar-benar tertekan karena telah menyebabkan penderitaan kepadamu. Namun, kami berharap bahwa melalui makhluk sepertimu, dapat menjadi sarana keselamatan bagi kami, kami yang kejam seperti ini. Dengan harapan tersebut, kami mengajukan pertanyaan ini kepadamu.

Tingkatan luar biasa apa yang Anda miliki, sehingga bertindak dengan cara ini tanpa memperhatikan kebahagiaanmu sebagai raja?”

Sang raja kemudian menjawab,

“Pangkat tinggi yang termasyhur bergantung pada keberadaan, diperoleh dengan usaha, dan dapat dengan mudah hilang. Hal itu tidak bisa memberikan kesenangan dari kepuasan, apalagi ketenangan pikiran. Untuk alasan ini, aku tidak menginginkan kecemerlangan dari raja para dewa, apalagi sebagai seorang raja di bumi. Hatiku juga tidak akan puas, jika aku berhasil menghancurkan penderitaan diriku sendiri.

Aku lebih menganggap makhluk-makhluk tak berdaya itu, yang tertekan oleh perangkap dan penderitaan akibat bencana dan kejahatan yang kejam yang merupakan tanggungan mereka. Demi mereka, semoga aku melalui tindakan berjasa ini dapat mencapai pengetahuan tertinggi, dan mengalahkan hawa nafsu, musuh-musuhku. Semoga aku menyelamatkan makhluk-makhluk dari samudra kelahiran kembali, lautan ganas dengan ombak penuaan, penyakit, dan kematian!”

8.4. Kelima yaksa meminta maaf dan petunjuk dari Maitribala

Mendengar hal ini, kelima yaksa tersebut merasa merinding. Mereka kemudian membungkuk kepada raja dan meminta maaf atas perbuatan buruk yang telah mereka lakukan, kemudian meminta perintah dari sang raja agar dapat mereka ikuti.

Raja kemudian menjawab,

“Jika kalian sekarang berniat untuk melakukan apa yang mungkin menyenangkan bagiku, kalian harus menghindari perbuatan-perbuatan buruk yang bagai racun ini: menyakiti orang lain, mengingini barang atau istri orang lain, berucap tidak benar, dan minum-minuman keras yang memabukkan.”

Para yaksa kemudian berjanji untuk melakukan perintahnya. Setelah membungkuk memberi hormat, mereka menghilang di tempat.

Dan setelah itu, dewa Sakra muncul karena tersentuh dengan tindakan sang raja. Dengan kesaktiannya, ia menyembuhkan luka-luka Maitribala.

Demikianlah Maitribala menaklukkan musuh-musuhnya dengan kekuatan cinta kasih.

Jika daging dan darah ini, yang aku tanggung hanya untuk kebaikan makhluk hidup sekarang dibuang dengan tujuan untuk menjamu para tamu, aku akan menganggap ini sebagai keberuntungan bagi diriku sendiri dengan manfaat yang besar.

Diminta dengan cara yang jelas, bagaimana mungkin orang sepertiku berucap bohong dengan berkata tidak memiliki, ketika sedang memiliki, atau aku tidak akan memberi?

Aku telah menjadi pemimpin kalian dalam hal kebenaran. Jika aku sendiri berjalan di jalan yang salah, bagaimana dengan kondisi rakyat-rakyatku, yang siap mengikuti teladan tingkah lakuku?

Sekarang mempertimbangkan tubuhku yang lemah ini dan bahwa itu adalah tempat tinggal kesengsaraan, kupikir adalah hal yang buruk untuk bersikap ragu-ragu pada saat kemunculan pengemis yang tidak biasa seperti itu; sedangkan rasa cinta diri yang menyedihkan akan berada di sini dalam kegelapan yang paling dalam.

Dan jika kalian sekarang berniat untuk melakukan apa yang mungkin menyenangkan bagiku, kalian harus menghindari perbuatan-perbuatan buruk yang bagai racun ini: menyakiti orang lain, mengingini barang atau istri orang lain, berucap tidak benar, dan minum-minuman keras yang memabukkan.”

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah tentang Agastya (Kisah Relief Jatakamala 7)

Kisah tentang Agastya
(Kisah Relief Jatakamala 7)

Ringkasan:

Agastya, pemuda brahmana yang termashyur dan kaya raya, melepaskan seluruh harta bendanya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mengasingkan diri ke sebuah pulau untuk menjadi seorang pertapa. Sakra yang melihat kemuliaan praktik tapa ini hendak mengujinya dengan menghilangkan akar-akaran, buah-buahan, dan dedaunan yang menjadi makanan Agastya. Namun Agastya sama sekali tidak terpengaruh oleh kehilangan tersebut dan hanya menyantap daun kering yang direbus. Sakra kemudian menemuinya dalam wujud dewa, dan menawarkan enam permintaan. Agastya meminta agar ia terbebas dari keserakahan dan kebencian, diajuhkan dari orang-orang bodoh, dan didekatkan dengan orang bijak. Pada permintaan keenam, Agastya meminta agar Sakra tidak muncul lagi di hadapannya dalam wujud megah.


7.1. Bodhisattva terlahir sebagai pemuda brahmana bernama Agastya

Pada suatu ketika hiduplah seorang pemuda dari keluarga brahmana yang terpandang, sehingga ia berkesempatan untuk mempelajari Veda dan mendapatkan berbagai ritual pemberkatan. Tindak tanduknya sangat baik, ia bermurah hati kepada orang-orang dan menghormati mereka yang perlu dihormati. Pemuda itu bernama Agastya.

Meski terlahir dari keluarga terpandang dan mendapatkan penghormatan yang tinggi, ia memahami bahwa kehidupan perumah tangga bukanlah kehidupan yang ideal. Kehidupan perumah tangga mewajibkannya untuk mengumpulkan kekayaan dan menjaganya, serta kadangkala upaya untuk mengumpulkan kekayaan harus disertai dengan usaha yang salah. Mengetahui adanya potensi keburukan dari kehidupan perumah tangga, ia mulai memikirkan kehidupan tanpa rumah sebagai seorang pertapa.

Pertama-tama ia membuang kekayaannya yang melimpah, melepaskannya seolah itu hanyalah jerami. Ia membagikannya kepada yang membutuhkan, dan setelah itu ia pergi ke pulau Kara dan bertekad untuk hidup menyendiri. Di sana ia menjalankan praktik tapa dan bertahan hidup melalui akar dan buah-buahan yang ia kumpulkan.

Sakra, raja para dewa, mendapat kabar mengenai kemuliaan pertapaannya dan ingin membuktikan keteguhan hatinya. Melalui kesaktiannya, Sakra melenyapkan semua akar dan buah yang biasa disantap oleh pertapa di pulau itu. Bodhisattva, yang terserap ke dalam meditasi dan mampu berpuas hati, sama sekali tidak terusik dengan lenyapnya sumber makanan itu. Ia menata dedaunan di atas api, menjadikannya santapan dan berpuas hati untuk itu, juga sama sekali tidak memikirkan makanan yang lebih baik.

Raja Sakra menjadi terheran-heran dengan Agastya yang sama sekali tidak goyah oleh lenyapnya makanan. Kemudian, ia melenyapkan semua pohon, semak-semak, dan rerumputan yang ada di tempat itu sehingga Agastya tidak dapat menyantap dedaunan. Agastya, lagi-lagi, sama sekali tidak terusik oleh hal itu. Ia memungut daun-daun kering yang sudah gugur, merebusnya dalam air dan menjadikannya makanan tanpa merasa tidak nyaman sama sekali.

7.2. Agastya bersiap melakukan persembahan / pemberian

Sakra yang merasa semakin kagum berniat untuk mengujinya lebih jauh. Ia kini turun ke bumi, menyamar sebagai seorang tamu yang hendak menemui sang pertapa. Agastya menyambutnya dengan sangat baik, menunjukkan keramahtamahan dan menjamunya dengan daun rebus yang ia miliki. Semua dilakukan oleh Agastya dengan hati yang puas.

Demikianlah Sakra muncul kembali pada hari esok hingga hari kelima, dan setiap hari pula pertapa itu menjamu Sakra dengan daun rebus yang ia miliki dengan hati yang gembira.

Sakra yang melihat semua ini menyadari kekuatan pertapaan Agastya yang luar biasa, dan jika Agastya mau menggunakan kekuatannya, ia bisa memiliki alam para dewa yang saat ini dimiliki oleh Sakra. Maka Sakra mulai merasa takut dan gelisah. Ia kemudian muncul di depan Agastya dalam wujud seorang dewa, dan bertanya:

“Katakanlah, apa harapanmu, sehingga mereka dapat mendorongmu untuk meninggalkan sanak-saudara yang engkau cintai, yang meneteskan air mata saat kepergianmu, rumah tangga dan harta benda yang telah menjadi sumber kebahagiaan bagimu, dan mengambil jalan pertapaan yang berat ini?”

Agastya kemudian menjawab,

“Kelahiran yang berulang cenderung sangat menyedihkan; begitu pula usia tua dan penyakit yang membawa malapetaka, wabah yang menyedihkan itu; dan keharusan untuk mati adalah gangguan pada pikiran. Dari keburukan-keburukan itu aku bertekad untuk menyelamatkan makhluk-makhluk itu.”

Sakra yang mendengar ini menjadi semakin kagum dan hormat kepada Agastya, kemudian menawarkan permintaan untuk dikabulkan. Namun Agastya sudah tidak memikirkan kesenangan duniawi sama sekali dan berpikir bahwa meminta sesuatu tidaklah sesuai dengan kehidupan pertapaannya, oleh karena itu ia menjawab:

“Jika engkau ingin memberiku anugerah, itu mungkin menyenangkanku, aku meminta anugerah ini kepada para dewa yang paling utama: Semoga api ketamakan, yang setelah mendapatkan istri tercinta, anak-anak, kekuasaan, kekayaan yang lebih melimpah dari yang didambakan, masih terus memanaskan pikiran manusia untuk tidak pernah puas ― semoga api itu tidak pernah memasuki hatiku!”

Demikianlah Agastya menunjukkan kepuasan hatinya dan membuat Sakra memujinya. Lalu, untuk kedua kalinya, Sakra meminta Agastya untuk mengajukan permintaan,

“Muni, juga untuk kebenaran dan kalimat yang diucapkan dengan baik ini, aku dengan senang hati menawarkanmu imbalan dari anugerah yang kedua.”

Agastya kembali menjawab,

“Semoga api kebencian, yang menundukkan para makhluk yang kehilangan kekayaan, kehilangan kasta dan reputasi yang baik, seolah-olah mereka dikalahkan oleh serangan yang bermusuhan ― semoga api itu jauh dariku!”

Sakra kembali memuji Agastya atas ucapan tersebut, dan untuk ketiga kalinya meminta kembali agar Agastya mau mengajukan permintaan kepadanya.

Namun kali ini Agastya menjawab bahwa orang-orang yang dipenuhi oleh nafsu adalah orang yang bodoh, dan semoga ia tidak pernah melihat, mendengar, atau berbicara dengan orang seperti itu.

Demikianlah, untuk keempat kalinya, Sakra memberi kesempatan kepada Agastya untuk mengajukan permintaan.

“Bolehkah aku melihat orang bijak, dan mendengar orang bijak, tinggal dengan orang yang demikian, Śakra, dan bercakap-cakap dengan orang seperti itu! Inilah anugerah yang terbaik dari para dewa, kabulkanlah ini.” Jawab Agastya.

Namun Sakra memberikan kesempatan lagi kepada Agastya untuk mengajukan permintaannya yang kelima, yang dijawab oleh Agastya:

“Semoga makananmu, yang bebas dari kehancuran dan kerusakan; pikiranmu, yang indah karena praktik amal, dan para pengikutmu yang dihiasi oleh kemurnian perilaku baik mereka, menjadi milikku! Inilah anugerah terbaik yang kuminta.”

Sakra, yang masih terkagum-kagum dengan jawaban Agastya, memberikan kembali kesempatan untuk mengajukan permintaannya yang keenam. Namun kali ini Agastya menjawab:

“Jika engkau mau memberiku anugerah yang menyertakan kemurahan hati tertinggi bagiku, wahai yang teragung dari para dewa, jangan datang kepadaku lagi dalam kemegahanmu yang membara ini. Untuk anugerah ini aku meminta penghancur para Daitya.”

Mendengar jawaban itu, Sakra merasa terheran-heran karena orang-orang berusaha untuk bertemu dengannya dan mengajukan permintaan, tetapi Agastya justru tidak menginginkan apapun yang bersifat duniawi ketika bertemu dengannya. Sakra kemudian membungkuk kepadanya, memutarinya dari kiri dan kanan sebagai tanda hormat, kemudian menghilang dari sana.

7.3. Agastya melakukan persembahan / pemberian kepada Pratyekabuddha

Pada saat fajar tiba, Sakra muncul kembali di hadapan Agastya, namun kali ini ia datang bersama para dewa pengikutnya dan Pratyekabuddha. Mereka membawa makanan dan persembahan bagi Sakra

7.4. Sakra menyaksikan persembahan itu

Agastya, melihat kemunculan Pratyekabuddha, menerima makanan tersebut dan mempersembahkannya kepada Pratyekabuddha. Kejadian ini disaksikan oleh Sakra yang mengagumi kemuliaan batinnya, dan setelah peristiwa ini usai, para rombongan Sakra pergi dengan membawa persembahan.

7.5. Para hadirin menerima pemberian

Demikianlah Agastya yang kukuh dalam praktik tapa dan kepuasan hatinya.

Penghidupan tidaklah sulit didapatkan oleh orang-orang yang berlatih dengan tekun. Sebutkanlah, di mana rumput, daun, dan kolam air tidak dapat ditemukan?

Sederhana dalam apa yang dipelajari, ketidaktertarikan pada harta kekayaan, dan kepuasan di dalam pertapaan: setiap kebajikan yang luar biasa ini adalah harta tertinggi dari tiap-tiap hal tersebut.

Kelahiran yang berulang cenderung sangat menyedihkan; begitu pula usia tua dan penyakit yang membawa malapetaka, wabah yang menyedihkan itu; dan keharusan untuk mati adalah gangguan pada pikiran. Dari keburukan-keburukan itu aku bertekad untuk menyelamatkan makhluk-makhluk itu.

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah Sang Kelinci (Kisah Relief Jatakamala 6)

Kisah Sang Kelinci
(Kisah Relief Jatakamala 6)

Ringkasan:

Di sebuah hutan yang indah, hiduplah empat sekawan: kelinci, serigala, kera, dan berang-berang. Kelinci adalah pemimpin dari empat sekawan itu dan kerapkali memberikan khotbah tentang kebajikan kepada tiga sahabatnya. Pada suatu hari, Dewa Sakra menyamar sebagai seorang brahmana dan turun ke dunia, berpura-pura menangis karena tersesat, kelelahan, dan kelaparan. Empat sekawan segera menolongnya; serigala, kera, dan berang-berang menyajikan makanan mereka untuk disantap oleh brahmana. Tetapi kelinci, karena tidak memiliki apapun, tidak dapat mempersembahkan apa-apa. Kelinci pun bermaksud untuk mempersembahkan dirinya sendiri kepada brahmana, dengan cara melemparkan dirinya ke dalam api yang menyala. Dewa Sakra kagum atas kebajikan empat sekawan ini dan membawa mereka ke surga.


6.1. Sang Kelinci dengan Sakra yang menyamar sebagai brahmana

Pada suatu ketika, Bodhisattva terlahir sebagai seekor kelinci yang hidup di sebuah hutan. Tempat itu begitu indah, dipenuhi dengan berbagai tumbuhan merambat, rerumputan, dan pepohonan; berlimpah dengan bunga dan buah. Rerumputan hijau menghampar menutupi permukaan tanah bagai karpet, dan di salah satu sisinya terdapat sungai yang dialiri oleh air jernih.

Kelinci itu bersikap baik ke hewan-hewan lainnya di dalam hutan, sehingga hewan-hewan lain menghormati dan menyayanginya. Di sana, sang kelinci bersahabat dengan seekor berang-berang, serigala, dan kera. Ketiga hewan itu menganggap sang kelinci bagai guru karena kebijaksanaannya, dan mereka menghormati satu sama lain.

Pada suatu malam di saat bulan hampir penuh, sang kelinci mengumumkan kepada sahabat-sahabatnya bahwa besok adalah bulan penuh, di mana pada saat itu mereka harus menghormati tamu yang datang dengan menyajikan makanan berkualitas baik. Hewan-hewan itu setuju, kemudian memberi hormat kepada sang kelinci dan pulang ke rumahnya masing-masing.

Pada malam itu pula, sang kelinci merenung:

“Mereka bisa memberi hormat dengan beberapa makanan kepada tamu lain yang mungkin kebetulan datang, tetapi aku berada dalam kondisi yang menyedihkan di sini. Sama sekali tidak mungkin untuk memberikan tamu dengan bilah rumput yang sangat pahit yang kupotong dengan gigiku.

Oh! betapa tak berdayanya diriku! Ketidakberdayaanku merundungiku. Maka, apa gunanya hidup bagiku, karena seorang tamu yang seharusnya menjadi kegembiraan bagiku, dengan cara ini harus menjadi kesedihan!

Dalam kesempatan apa, tubuh yang tidak berharga ini, yang bahkan tidak dapat melayani seorang tamu, menyerah untuk memberikan keuntungan bagi siapa pun?

Kepemilikan yang sesuai dengan tujuan untuk menghormati setiap tamu mudah untuk didapatkann ; karena itu ada di dalam kekuatanku, tidak bisa dibanta, bukan milik siapa pun kecuali aku; itu adalah milik tubuhku.

Aku telah menemukan makanan yang layak untuk tamuku; Sekarang, hatiku, meninggalkan duka dan kesedihanmu! Dengan tubuhku yang kusam ini, aku akan mempraktikkan keramahan dan memuaskan keinginan tamuku.”

Lalu Sakra, raja para dewa, bermaksud untuk mencobai sang kelinci. Ia kemudian menyamar sebagai seorang brahmana dan turun ke hutan itu. Di sana dia menangis dan meratap dengan keras seperti orang yang tersesat, kelelahan, dan kelaparan. Dia terus meratapi nasibnya,

6.2. Sakra meminta bantuan

“Sendirian dan tersesat, setelah kehilangan gerobakku, aku menjelajahi hutan yang dalam, kelelahan oleh lapar dan letih. Tolonglah aku, wahai yang bajik!

Tidak mengetahui jalan yang benar atau yang salah, kehilangan arah pedomanku, mengembara secara acak, sendirian di hutan belantara ini. Aku menderita kepanasan, kehausan, dan kelelahan. Siapakah yang akan menggembirakanku dengan kata-kata bersahabat yang ramah?”

Empat sekawan itu, mengetahui bahwa ada seorang manusia yang tersesat dan kelelahan, segera menghampirinya dan memberi penghiburan. Berang-berang mengeluarkan tujuh ikan dan memberikannya kepada brahmana itu, serigala membawakan seekor kadal dan satu bejana susu asam untuk diberikan kepada brahmana itu, dan demikian pula kera membawa buah mangga yang sudah matang. Brahmana itu menyantapnya.

Kelinci, setelah memberi hormat keapda brahmana tersebut, kemudian berkata:

“Seekor kelinci, yang dibesarkan di hutan, tidak memiliki kacang, biji wijen, ataupun beras untuk dipersembahkan, hanya mempersiapkan tubuhku ini dengan api, dan setelah menyantapnya, bermalamlah di pertapaan ini.

Pada hari baik datanglah seorang pengemis, setiap hewan memberinya apa pun dari barang-barangnya yang dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi kekayaanku terbatas hanya pada tubuhku; ambillah, kalau begitu. Inilah seluruh kepemilikanku.”

Sakra, yang memahami bahwa kelinci bermaksud untuk mengorbankan dirinya, semakin berniat mencobainya. Melalui kesaktiannya, dia menciptakan tumpukan arang yang terbakar. Kelinci itu kemudian berucap dengan gembira:

“Aku telah menemukan cara untuk menunjukkan kepadamu kebaikanku. Maka, engkau harus memenuhi harapan di mana aku memberi engkau anugerah ini, dan menyantap tubuhku. Lihat, Brāhmana yang agung,

Merupakan kewajibanku untuk memberi dalam berdana, dan hatiku cenderung untuk melakukannya, dan pada orang seperti engkau aku telah bertemu dengan seorang tamu yang layak; kesempatan untuk memberi seperti itu tidak dapat diperoleh dengan mudah. Maka buatlah pemberianku tidak sia-sia, karena itu tergantung pada engkau.”

6.3. Kelinci mengorbankan dirinya

Usai mengucapkan hal tersebut, sang kelinci melemparkan dirinya ke dalam api yang berkobar. Raja Sakra yang melihatnya merasa kagum. Dengan kesaktiannya kembali, dia mengangkat kelinci itu ke atas dan menunjukkannya kepada para dewa, “Lihatlah, para dewa, penghuni kediaman surgawi, lihatlah dan bersukacitalah atas perbuatan yang menakjubkan ini, pengorbanan dari Bodhisattva ini!”

Setelah memuji kebajikan sang kelinci, Sakra menghiasi kedua puncak istananya dengan wujud kelinci. Kemudian, ketiga temannya – berang-berang, serigala, dan kera – tiba-tiba menghilang dari bumi dan terlahir kembali di alam para dewa.

Demikianlah kisah kelinci dan ketiga temannya yang bajik ini.

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti