Kisah tentang Avisahya (Kisah Relief Jatakamala 5)

Kisah tentang Avisahya
(Kisah Relief Jatakamala 5)

Ringkasan:

Avisahya adalah seorang kaya raya yang senang membantu orang-orang yang berada dalam kesusahan. Kemurahan hatinya membuat namanya sangat termahsyur, bahkan hingga ke alam para dewa sekalipun. Pada suatu ketika, Sakra (raja para dewa) ingin menguji hatinya. Dengan menggunakan kesaktian, Sakra menghilangkan seluruh harta milik Avisahya, menyisakan sebuah arit dan seutas tali saja. Menyadari hartanya lenyap, Avisahya justru semakin menyadari betapa menderitanya hidup dalam kemiskinan. Ia pun mengambil arit, mencari rumput, dan menjualnya untuk mendapatkan uang. Alih-alih menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri, Avisahya justru menggunakan uang itu untuk membantu orang-orang miskin yang masih datang kepadanya. Sakra merasa takjub atas kemurahan hati Avisahya, kemudian mengembalikan hartanya.


5.1. Bodhisattva terlahir sebagai Avisahya

Pada suatu ketika, hiduplah seorang pemimpin perkumpulan yang bernama Avisahya. Harta kekayaannya yang melimpah tidak menggelapkan matanya, ia justru menggunakannya untuk membantu orang-orang yang sedang berada dalam kesusahan. Hartanya terus ia gunakan demi kepentingan orang lain. Nama Avisahya sendiri sebenarnya adalah julukan yang diberikan orang-orang kepadanya, yang berarti “Tidak Terkalahkan” karena ia tidak terkalahkan oleh kejahatan dan keegoisan.

5.2. Avisahya senang membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan

Rasa welas asih dan kemurahan hati Avisahya sangat besar. Ketika ia melihat para pengemis yang datang meminta bantuannya, hati kecilnya tersentuh. Rasa welas asih mendorongnya untuk membantu mereka, dan dalam hatinya tidak ada ruang sama sekali untuk melekati harta bendanya. Ia menyadari betul bahwa segala materi adalah sementara, oleh karena itu harus ia gunakan untuk meringankan penderitaan orang lain.

5.3. Avisahya kehilangan harta bendanya dan tetap membantu sesama

Kemurahan hati Avisahya terdengar hingga ke alam para dewa, membuat Sakra – raja para dewa – merasa penasaran dengannya. Sakra kemudian berniat mengujinya. Pada suatu hari, Avisahya menyadari bahwa hartanya menghilang dengan semakin cepat. Tapi alih-alih berhenti membantu orang lain, Avisahya justru merasa semakin terdorong untuk berbuat baik karena menyadari hartanya akan habis tidak lama lagi dan ia akan kehilangan kemampuan untuk membantu sesama.

Hal ini membuat Sakra semakin merasa penasaran. Akhirnya, Sakra melenyapkan seluruh harta benda miliki Avisahya, menyisakan dua hal saja, yakni sebuah arit dan seutas tali. Dan ketika Avisahya menyadari ia sudah kehabisan harta, ia sama sekali tidak meratapi harta bendanya. Ia justru berpikir bahwa orang yang diam-diam mencuri isi rumahnya mungkin sedang membutuhkan bantuan dan tidak berani meminta, oleh karena itu setidaknya hartanya masih berguna untuk orang lain.

Tetapi orang-orang masih datang untuk meminta bantuan Avisahya, sedangkan ia menyadari bahwa ia sudah tidak memiliki apa pun untuk diberikan. Menyadari hal ini, ia semakin merasa iba dengan para fakir miskin. Akhirnya ia mengambil arit untuk mencari rumput, mengikatnya dengan tali, dan menjualnya untuk mendapatkan uang. Uang tersebut kemudian ia gunakan untuk membantu fakir miskin.

5.4. Sakra merasa kagum dan mengembalikan harta milik Avisahya

Sakra, menyaksikan hal ini, merasa sangat kagum dengan Avisahya. Tapi Sakra berniat mengujinya satu kali lagi. Ia menampakkan dirinya di depan Avisahya yang sedang menyiangi rumput, dan berkata,

“Bukan pencuri, air, atau api yang merampok kekayaanmu. Ini adalah akibat dari kemurahan hatimu sendiri, yang telah membawamu ke dalam kondisi ini. Hal ini membuat teman-temanmu merasa khawatir.

Untuk alasan inilah aku memberitahumu, demi kebaikanmu sendiri: tahanlah kecintaanmu yang menggebu-gebu terhadap berdana. Meskipun engkau miskin saat ini, jika engkau tidak memberi, engkau mungkin akan mendapatkan kembali kekayaan indahmu yang dulu.”

Tetapi Avisahya menjawab:

“Kekayaan datang dan pergi bagai kilatan petir, melekatinya akan menyebabkan banyak penderitaan; sedangkan berdana adalah sumber kebahagiaan. Bagaimana mungkin aku dapat memikirkan diriku sendiri saja?”

Sakra kembali menggodanya:

“Engkau harus mengumpulkan kekayaan yang melebihi kemegahan pesaing-pesaingmu, dan dengan ini hartamu akan terkumpul kembali. Lepaskanlah keinginanmu untuk membantu fakir miskin. Bukankah engkau tidak melakukan kejahatan apa pun, jika engkau tidak memberi karena sudah tidak memiliki apa-apa?”

Avisahya kembali menjawab:

“Durasi hidup kita tidak pasti seperti kemakmuran dari harta kekayaan kita. Setelah merenungkan ini, kita tidak boleh mementingkan kekayaan kita saat bertemu dengan fakir miskin.

Dan jika sekali lagi aku mendapatkan kekayaan yang besar, itu pasti akan menyenangkan pikiran para pengemis: dan untuk saat ini, bahkan dalam kondisi ini, aku akan memberikan dana sesuai dengan kemampuanku. Dan semoga aku tidak pernah ceroboh dalam menepati ikrar amalku, wahai Śakra!”

Mendengar hal ini, Sakra tidak mampu lagi untuk menguji Avisahya. Hatinya dipenuhi dengan kekaguman. Akhirnya Sakra mengakui bahwa ia hanya sedang menguji Avisahya, dan mengembalikan seluruh hartanya. Setelah meminta maaf terhadap apa yang sudah ia lakukan kepada Avisahya, Sakra berpamitan dan kembali ke alam surga.

Kekayaan berubah-ubah bagai kilatan petir; itu mungkin datang kepada semua orang, dan itu adalah penyebab dari banyak bencana; sedangkan berdana adalah sumber kebahagiaan. Dengan demikian, bagaimana mungkin seorang bangsawan berpegang teguh pada keegoisan?

Bahkan dia yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri daripada kepentingan orang lain, harus melakukan pemberian, bukan memedulikan kekayaan. Karena kemewahan yang besar tidak memberinya kegembiraan seperti itu, karena kegembiraan disebabkan oleh kepuasan yang dia nikmati dengan menundukkan ketamakan melalui perbuatan berdana.

Durasi hidup kita tidak pasti seperti kemakmuran dari harta kekayaan kita. Setelah merenungkan ini, kita tidak boleh mementingkan kekayaan kita saat bertemu dengan fakir miskin.

Ah! Betapa hatimu bersinar dengan kilau keagungan yang luar biasa, dan betapa ia telah menghapus kegelapan perasaan mementingkan diri sendiri sepenuhnya, bahkan setelah kehilangan kekayaanmu, harapan untuk memulihkannya tidak dapat merusaknya dengan mengurangi kemurahan hatinya!

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *