Kisah tentang Unmadayanti (Kisah Relief Jatakamala 13)

Kisah tentang Unmadayanti
(Kisah Relief Jatakamala 13)

Ringkasan:

Seorang pedagang menawarkan putrinya yang dijuluki “Unmadayanti” (dia yang membuat orang tergila-gila) untuk dinikahi oleh raja. Namun atas saran dari para Brahmana yang mengatakan bahwa Unmadayanti tidak membawa peruntungan bagi raja, raja menolak tawaran untuk menikahinya. Akhirnya Unmadayanti dinikahkan dengan Abhiparaga, salah seorang pejabat kerajaan. Suatu hari, ketika sang raja sedang melihat-lihat kota, ia tidak sengaja melihat seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu adalah Unmadayanti. Sang raja kemudian terus memikirkan Unmadayanti dan tergila-gila kepadanya. Abhiparaga yang mengetahui ini menemui raja dan mempersilahkan raja untuk merebut Unmadayanti darinya. Namun sang raja tahu bahwa hal ini tidak sesuai dengan Dharma, menolak penawaran tersebut.


13.1. Pedagang memberi tahu raja bahwa ia memiliki putri yang sangat cantik

Pada suatu ketika, Bodhisattva terlahir sebagai raja suku Sibi. Ia memerintah dengan benar dan berperilaku sesuai dengan Dharma. Di ibu kota negeri tersebut, hiduplah seorang pedagang yang memiliki putri berparas amat cantik. Semua pria mengagumi kecantikan putri pedagang tersebut, membuat mereka terus memikirkannya. Oleh sebab itu, putri sang pedagang dijuluki sebagai Unmadayanti, yang berarti “membuat tergila-gila”.

Bermaksud untuk menikahkan anaknya dengan sang raja, pedagang itu menghadap raja dan memberi tahu bahwa ia memiliki putri yang cantik. Menyambut perkenalan dari pedagang, raja mengirim beberapa Brahmana untuk melihat perempuan itu untuk menilai apakah putri sang pedagang memiliki tanda-tanda keberuntungan sehingga dapat dinikahi oleh raja.

13.2. Unmadayanti menjamu para brahmana

Pedagang itu kemudian mengantar para brahmana menuju ke rumahnya. Di sana, ia memerintahkan Unmadayanti untuk menjamu mereka. Para brahmana, setelah melihat Unmadayanti, tidak dapat mengalihkan pandangan mereka darinya. Kecantikan Unmadayanti telah menyentuh hati mereka. Ayahnya (sang pedagang), mengetahui bahwa ini sudah tidak benar, meminta Unmadayanti untuk masuk ke dalam rumah serta mempersilakan para brahmana untuk pulang.

13.3. Para brahmana melapor kepada raja

Sebelum menghadap kembali kepada raja, para brahmana mulai berdiskusi. Mereka berpikir bahwa kecantikan Unmadayanti dapat membuat seseorang tergila-gila, dan oleh sebab itu berbahaya bagi sang raja. Mereka berpendapat bahwa kecantikan Unmadayanti dapat mengurangi semangat raja dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai pemimpin kerajaan.

Mereka kemudian menghadap raja. Di sana mereka mengatakan bahwa Unmadayanti tidak cocok untuk dinikahi oleh raja:

“Kami telah melihat gadis itu, wahai raja yang agung. Dia cantik dan memiliki pesona yang indah, tapi tidak lebih lagi; dia memiliki tanda yang tidak menguntungkan, pertanda kehancuran dan ketidakberuntungan. Untuk alasan inilah Yang Mulia seharusnya tidak melihatnya, apalagi menikahinya.”

Raja, atas nasihat para brahmana, mengurungkan niat untuk menikahi Unmadayanti. Pedagang itu, yang tahu bahwa raja tidak tertarik dengan anaknya, kemudian menikahkan Unmadayanti dengan Abhiparaga, seorang pejabat kerajaan sang raja.

13.4. Raja melihat Unmadayanti

Waktu terus berjalan hingga tibalah festival Kaumudi, salah satu perayaan besar di kerajaan tersebut. Jalan-jalan dihiasi dengan dekorasi yang indah, disertai dengan suara-suara nyanyian yang indah dan meriah. Raja kemudian ingin menyaksikan pemandangan kota dan meminta agar para penjaga menemaninya. Raja menikmati pemandangan dan riuh meriah ibu kota, hingga akhirnya ia berada dekat dengan rumah Abhiparaga. Unmadayanti, yang kini sudah menjadi istri Abhiparaga, merasa kecewa karena pernah ditolak oleh sang raja. Ia kemudian berpura-pura penasaran ingin melihat raja, kemudian keluar dari dalam rumah. Raja, yang selama ini belum pernah meliaht Unmadayanti, akhirnya melihatnya untuk pertama kali. Kecantikannya yang luar biasa membuat sang raja terdiam menatapnya.

Ketika kembali lagi ke istana, sang raja terdiam. Benaknya terus terbayang-bayangi oleh sosok Unmadayanti, yang membuat ia bertanya kepada kusirnya mengenai sosok wanita yang ia lihat tadi. Sang kusir mengatakan bahwa wanita itu bernama Unmadayanti, istri dari pejabatnya sendiri yang bernama Abhiparaga. Mengetahui bahwa wanita tadi sudah bersuami, raja merasa putus asa.

“Ah! Sungguh, dia pantas menyandang namanya yang lembut dan terdengar indah. Unmādayantī yang tersenyum manis ini telah membuatku hampir gila. Aku akan melupakannya, tetapi aku selalu melihatnya dalam pikiranku; karena pikiranku bersamanya, atau lebih tepatnya, dia telah menguasai pikiranku. Dan pikiran lemah ini adalah salahku karena memikirkan istri orang lain! Tidak diragukan lagi, aku tergila-gila; rasa malu tampaknya telah meninggalkanku, seolah telah tertidur lelap.”

13.5. Abhiparaga menemui Sang Raja

Abhiparaga yang adalah pejabat sang raja mengamati bahwa ada yang tidak beres dengan sang raja. Ia kemudian mencari tahu penyebab hal itu dan mengetahui bahwa sang raja ternyata sedang tergila-gila dengan istrinya. Abhiparaga merenung sebentar. Ia menyadari bahwa seseorang yang dimabuk cinta dapat melakukan sesuatu yang berada di luar kendali, pun ia juga menghormati sang raja. Maka, ia meminta raja untuk bertemu secara rahasia.

Raja yang menyetujui ajakan tersebut kemudian bertemu dengan Abhiparaga. Pada pertemuan itu, Abhiparaga meminta agar raja mau merebut Unmadayanti yang adalah istrinya sendiri. Raja tentu saja menolak tawaran tersebut.

“Tidak, itu tidak mungkin. Aku akan kehilangan jasa kebajikanku dan aku tahu bahwa diriku tidak abadi. Selanjutnya, perbuatan jahatku juga akan diketahui oleh publik. Lagipula, jika api kesedihan membakar hatimu karena perpisahan ini, api itu akan melalapmu dalam waktu yang lama, seperti api yang membakar habis rumput kering.

Dan perbuatan seperti itu, yang akan menyebabkan penderitaan baik di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya, dilakukan oleh orang yang tidak bijaksana dan tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang bijaksana. Inilah alasannya.”

Namun Abhiparaga tetap bersikeras untuk menyerahkan istrinya kepada sang raja. Abhiparaga kemudian berusaha meyakinkan sang raja:

“Ini adalah kesepakatan di antara kita; tidak ada orang lain yang perlu mengetahuinya. Oleh karena itu, jangan pikirkan rasa takut akan disalahkan oleh pendapat masyarakat.”

Namun raja tetap bersikeras untuk tidak merebut Unmadayanti dari Abhiparaga, bahkan raja menyatakan bahwa ia menghormati mereka berdua.

“Siapa yang dengan melampaui kesetiaannya kepadaku tidak mengindahkan hidupnya sendiri, adalah temanku, yang lebih kucintai daripada kerabat-kerabatku sendiri. Istrinya harus aku hormati sebagai istri seorang teman.”

Dan untuk ketiga kalinya, Abhiparaga tetap berupaya agar raja dapat menikahi Unmadayanti. Tapi raja tetap menolaknya, mengatakan bahwa hal itu tidak sepantasnya ia lakukan. Raja kemudian menyampaikan bahwa rakyat-rakyatnya meneladani tindak-tanduknya. Jika ia berani merebut istri orang, maka rakyatnya pun akan meniru perilaku salah itu.

Selain itu, sang raja yang telah mengenal Dharma, paham bahwa ia harus mampu mengendalikan nafsunya sendiri. Ia tidak sehendaknya merebut istri orang lain. Ia harus mampu mengendalikan dirinya sendiri agar pantas untuk memimpin orang lain.

Setelah diyakinkan oleh sang raja, Abhiparaga kemudian memahami bahwa raja benar-benar tidak menginginkan istrinya. Abhiparaga merasa kagum dan berkata, “Oh! Sungguh para rakyat ini dicintai oleh nasib baik karena memiliki penguasa sepertimu, raja yang terhormat.”

Abhiparaga pun tetap hidup bersama dengan istrinya, dan sang raja tetap kukuh dengan pengendalian dirinya.

Orang-orang bajik enggan untuk mengikuti jalan hidup yang rendah, bahkan ketika sedang dilanda sakit yang sangat menyedihkan sekalipun. Keteguhan hati mencegah mereka dari tindakan seperti itu. Ini akan diajarkan sebagai berikut

Bagaimana mungkin kebahagiaan dapat dimiliki oleh seseorang yang melakukan perbuatan buruk, meskipun tidak ada yang menyaksikannya?

Siapapun, dengan mengabaikan kebenaran, tidak peduli terhadap celaan manusia atau akibar buruk di kelahiran berikutnya, akan memperoleh hal ini: dalam kehidupan ini orang-orang tidak akan mempercayainya; dan pasti, setelah kematian dia akan kehilangan kebahagiaannya.

Jika aku tidak mampu mengatur diriku sendiri, maka bagaimana dengan nasib orang-orang yang mengharapkan perlindungan dariku?

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *