Febita Valencia

JATAKAMALA 19 – BISA-JATAKA

Jātakamālā 19 – Bisajātakam
(Kisah Batang Teratai)

Jātakamālā 19 – Bisajātakam
(Kisah Batang Teratai)

Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh:
J. S. Speyer

Suntingan Bahasa Inggris oleh:
Bhikkhu Anandajoti

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei


Mereka yang telah belajar untuk menghargai kebahagiaan dari tidak melekat, akan menjauhi kesenangan duniawi. Mereka akan menolaknya bagai menolak tipu daya dan kesakitan. Ini akan diajarkan sebagai berikut.

Suatu ketika Sang Bodhisattva terlahir di keluarga Brāhmana yang terkenal karena kebajikan dan mereka bebas dari perbuatan tercela. Dia memiliki enam orang adik laki-laki yang memiliki kebajikan yang sama dengannya. Mereka, karena menyayangi dan menghormatinya, selalu meneladaninya. Dia juga memiliki saudara perempuan yang merupakan adik ketujuh. Setelah mempelajari Veda beserta dengan ilmu-ilmu tambahannya, juga Upaveda, ia memperoleh kemasyhuran dan penghormatan yang tinggi dari masyarakat karena pembelajarannya. Dia melayani ayah dan ibunya dengan penuh bakti, memuja mereka bagai dewa, dan mengajarkan saudara-saudaranya tentang berbagai cabang ilmu bagai seorang guru spiritual atau seorang ayah. Dia berdiam di dunia ini, menjadi ahli dalam seni yang berkaitan dengan urusan duniawi dan diunggulkan oleh perilakunya yang baik. Tetapi dalam perjalanan waktu, orangtuanya meninggal, memunculkan rasa kehilangan yang sangat memukul hatinya. Setelah melakukan upacara pemakaman untuk mereka dan menghabiskan beberapa hari untuk berkabung, dia mengumpulkan saudara-saudaranya, berkata kepada mereka:

(1, 2)
“Ini adalah hal yang pasti terjadi di dunia, merupakan sumber kesedihan dan rasa sakit yang mendalam. Pada akhirnya kematian akan memisahkan kita dari mereka yang telah hidup bersama selama beberapa waktu, tak peduli seberapa lama mereka telah bersama. Untuk alasan inilah aku ingin menjalani kehidupan tanpa rumah, di dalam jalan terpuji menuju pencerahan, sebelum musuh kita yang bernama kematian menangkapku dalam keadaan yang terikat pada kehidupan perumah tangga.

Setelah memutuskan ini, aku harus menasihati kalian semua. Keluarga Brāhmana kita memiliki kepemilikan yang sah dari beberapa kekayaan yang diperoleh dengan cara yang jujur. Dengan harta itu, kalian dapat menopang diri kalian sendiri. Kemudian, kalian harus menetap di sini sebagai perumah tangga yang hidup dengan cara yang selaras. Hendaknya kalian semua memiliki niat untuk saling mencintai dan menghormati, serta berhati-hatilah untuk tidak mengendurkan ajaran moral dan praktik perilaku yang benar. Teruslah mempelajari Veda dengan tekun, bersiaplah untuk memenuhi kebutuhan teman-temanmu, tamu-tamumu, dan sanak saudaramu. Singkat kata, utamakanlah kebenaran di atas segalanya.

(3)
Selalu berperilaku baik, mematuhi pelajaran Veda, dan senang dalam berdana; kalian harus menjaga kehidupan perumah tangga sebagaimana seharusnya.

(4)
Dengan cara ini, nama baik kalian tidak hanya akan meningkat, kebajikan dan kekayaan kalian – yang merupakan hakikat kesejahteraan – pun tidak hanya meluas, kalian mungkin mengharapkan terlahir dengan bahagia dalam kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu, jangan melakukan kecerobohan apa pun selama menjalani kehidupan perumah tangga.”

Tetapi saudara-saudaranya, yang mendengarnya berbicara tentang kehidupan tanpa rumah, merasakan kesedihan dalam hati karena tidak mengharapkan perpisahan. Wajah mereka basah oleh air mata kesedihan, dan membungkuk berbicara kepadanya dengan hormat: “Luka yang disebabkan oleh panah kesedihan dari kematian ayah kita belum sembuh, janganlah menggosoknya lagi dengan garam kesedihan yang baru ini.

(5)
Bahkan sekarang luka itu masih terbuka di benak kita karena kematian ayah kita. Oh! Engkau harus menarik kembali tekadmu, wahai saudara yang bijaksana. Engkau tidak boleh menaburkan garam pada luka kami.

(6)
Atau, jika memang engkau yakin bahwa keterikatan pada rumah itu tidak layak, atau bahwa kebahagiaan kehidupan hutan adalah jalan menuju pembebasan, mengapa engkau ingin pergi ke hutan sendirian, meninggalkan kami di rumah ini tanpa pelindung?

Maka, keadaan hidupmu akan menjadi hidup kamu juga. Kami juga akan ikut meninggalkan keduniawian.”

Sang Bodhisattva menjawab:

(7)
“Orang-orang yang belum membiasakan diri dengan ketidakmelekatan akan mengikuti keinginan duniawi. Sebagai aturan, mereka memandang sama antara menyerahkan dunia atau jatuh ke jurang.

Mengingat demikian, aku menahan diri dan tidak mendesak kalian untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, meskipun mengetahui perbedaan antara kedua kehidupan tersebut. Tetapi jika pilihanku menyenangkan kalian juga, mari kita tinggalkan rumah kita bersama-sama!” Maka ketujuh bersaudara itu, dengan saudara perempuan mereka sebagai yang kedelapan, menyerahkan harta kekayaan dan barang-barang berharga mereka, menginggalkan teman, sanak-saudara, dan kerabat mereka yang menangis; dan mereka beralih ke kehidupan pertapaan. Dan berkat persahabatan yang dilandasi cinta kasih, satu orang pelayan laki-laki dan satu orang pelayan perempuan juga ikut berangkat ke hutan bersama mereka.

Di suatu tempat tertentu di dalam hutan, terdapat sebuah danau besar yang airnya berwarna biru jernih. Tempat itu menunjukkan keindahan yang menyala cemerlang ketika tempat tidur lotusnya diperluas, menawarkan keceriaaan ketika sekelompok bunga lili air memekarkan kelopaknya dan kawanan lebah selalu bersenandung di sana. Di tepi danau itu mereka membangun gubuk beratap daun sebanyak jumlah mereka masing-masing, menempatkan mereka agak jauh satu sama lain, tersembunyi di bawah bayangan pepohonan di tengah-tengah kesendirian yang indah. Di sana mereka bertempat tinggal, mengabdikan diri pada ikrar dan ketaatan mereka sendiri, dan pikiran mereka berfokus pada praktik meditasi.

Pada setiap hari kelima mereka memiliki kebiasaan mengunjungi Bodhisattva untuk mendengarkan khotbah Dharma darinya. Kemudian ia menyampaikan khotbah yang membangun untuk menunjukkan kepada mereka jalan menuju kedamaian dan ketenangan pikiran. Dalam khotbah-khotbahnya ia menasihati mereka untuk bermeditasi, meninggalkan keburukan yang timbul dari kesenangan duniawi, menunjukkan rasa puas yang berasal dari ketidakmelekatan, mencela kemunafikan, ucapan yang tidak bermakna, kemalasan dan keburukan-keburukan lainnya. Dia memberikan kesan yang mendalam kepada pendengarnya.

Pelayan perempuan mereka, didorong oleh rasa hormat dan cinta kasih, tidak berhenti melayani mereka yang masih berada di hutan. Dia memiliki kebiasaan menarik batang teratai (yang bisa dimakan) dari danau dan meletakkannya di atas daun teratai besar di tempat yang bersih di tepi danau. Ketika dia selesai menyiapkan makanan, dia akan mengumumkan waktu makan dengan mengambil dua potong kayu dan membenturkannya satu sama lain, lalu meninggalkan tempat tersebut. Kemudian para pertapa itu, setelah melakukan doa dan persembahan yang benar dan seperti biasanya, akan datang ke tepi danau satu demi satu sesuai dengan usia mereka, dan masing-masing setelah mengambil bagiannya secara berurutan, kembali ke gubuknya. Di sana mereka akan menikmati makanan dengan cara yang telah ditentukan dan menghabiskan sisa waktu mereka dengan bermeditasi. Dengan latihan ini mereka menghindari bertemu satu sama lain, kecuali pada waktu berkhotbah.

Moralitas, cara hidup, dan perilaku yang tidak tercela seperti itu, serta kecintaan terhadap ketidakmelekatan, dan kebiasaan bermeditasi seperti itu membuat mereka terkenal hingga di mana-mana. Śakra, raja para dewa, setelah mendengar reputasi mereka, datang ke tempat tinggal mereka dengan tujuan untuk mencobai mereka. Ketika dia mengetahui ketekunan mereka dalam bermeditasi, kemurnian mereka dari perbuatan buruk, kebebasan mereka dari nafsu dan keteguhan yang berasal dari ketenangan mereka, pendapatnya yang tinggi tentang kebajikan mereka tumbuh semakin kuat, dan dia menjadi semakin ingin mencobanya.

(8)
Dia yang tinggal di kedalaman hutan tanpa keinginan apa pun, yang hanya menginginkan ketenangan pikiran, kebajikannya memunculkan rasa hormat dari dalam hati orang-orang berbudi luhur.

Śakra, raja para dewa, melihat pelayan wanita mengumpulkan makanan berupa batang teratai yang dapat dimakan, seputih dan selembut gigi gajah muda, mencucinya dan mengaturnya dalam porsi yang sama di atas meja di atas daun teratai berwarna hijau zamrud, berhati-hati untuk menghiasi setiap bagian dengan menambahkan beberapa kelopak dan benang sari. Setelah mengumumkan waktu makan kepada para pertapa suci, seperti biasa, dengan suara benturan potongan kayu, dia meninggalkan tempat. Pada saat itu Śakra, dengan tujuan menguji Bodhisattva, membuat makanan pada bagian pertama menghilang (dari daun teratai).

(9)
Ketika masalah muncul dan kebahagiaan menghilang, maka ada kesempatan untuk mengukur keteguhan hati dari dia yang bermoral, karena pada saat itulah mulai terlihat.

Ketika Bodhisattva, datang ke tempat bagian pertama, menyadari bahwa tangkai yang dapat dimakan itu hilang dari atas daun teratainya, sementara hiasan kelopak bunga dan bunga sari berceceran, dia berpikir: “Seseorang telah mengambil makanan bagianku.” Kemudian, tanpa merasakan gelisah atau marah di dalam hatinya, ia kembali ke gubuknya, memasuki praktik meditasinya seperti yang biasa ia lakukan. Dia juga tidak memberitahu pertapa suci lainnya tentang masalah ini untuk menghindari kesedihan mereka. Dan mereka yang berpikir bahwa ia telah mengambil batang Teratai bagiannya, mengambil bagian mereka juga seperti biasa, secara berurutan dan dalam urutan yang tepat, dan memakannya beberapa kali secara masing-masing di gubuknya; dan setelah itu mereka terserap dalam meditasi. Dengan cara yang sama Śakra menyembunyikan batang Teratai bagian Bodhisattva pada hari kedua, ketiga, keempat dan kelima. Tetapi efeknya sama. Pikiran sang Bodhisattva tetap tenang seperti biasanya, dan sepenuhnya bebas dari masalah.

(10)
Orang bajik menganggap bergejolaknya pikiran, bukan padamnya kehidupan, sebagai kematian. Karena alasan inilah orang bijak tidak pernah merasa gelisah, bahkan ketika hidupnya dalam bahaya sekalipun.

Pada sore hari (yang kelima) itu, para Ṛṣi pergi ke gubuk daun Bodhisattva, seperti yang biasa mereka lakukan, untuk mendengarkan khotbah Dharma darinya. Saat melihatnya, mereka melihat tubuhnya yang sangat kurus. Pipi dan matanya tampak cekung, kemegahan wajahnya telah memudar, dan suaranya yang nyaring telah kehilangan suara penuhnya. Namun, betapapun kurusnya, dia tetap indah untuk dilihat seperti bulan sabit; karena kebajikan, kebijaksanaan, keteguhan, dan ketenangannya tidak berkurang. Oleh karena itu, setelah datang ke hadapannya dan memberi penghormatan seperti biasa, mereka bertanya dengan penuh khawatir tentang penyebab tubuh kurusnya itu. Dan Bodhisattva menceritakan hal itu kepada mereka sesuai dengan yang telah dialaminya.

Para pertapa itu, yang tidak menyangka bahwa salah satu di antara mereka sendiri yang telah melakukan tindakan yang tidak pantas seperti ini, dan yang merasa sangat khawatir dengan rasa sakitnya, mengungkapkan kesedihan mereka dengan seruan, dan mengarahkan pandangan mereka ke tanah karena merasa malu. Tetapi Śakra dengan kekuatannya menghalangi pemikiran mereka, sehingga mereka tidak bisa mengetahui penyebab hilangnya makanan tersebut. Kemudian saudara laki-laki Bodhisattva, yang lahir setelahnya, menunjukkan pikirannya yang waspada dan tidak bersalah, mengucapkan protes yang luar biasa ini:

(11)
“Wahai Brāhmana, semoga dia yang telah mengambil batang terataimu akan memperoleh sebuah rumah, yang kekayaan dekorasinya menunjukkan kekayaan pemiliknya, mendapatkan seorang istri yang sesuai keinginan hatinya, dan semoga dia diberkati dengan banyak anak dan cucu!”

Kakak kedua berkata:

(12)
“Wahai Brāhmana terkemuka, semoga dia yang telah mengambil batang terataimu, yang dinodai dengan keterikatan yang kuat pada keduniawian, semoga dia memakai karangan dan untaian bunga, beserta bubuk cendana, pakaian, dan perhiasan yang bagus, disentuh oleh anak-anaknya yang sedang bermain!”

Kakak ketiga berkata:

(13)
“Semoga dia yang telah mengambil batang terataimu sekali saja, menjadi seorang petani yang setelah memperoleh kekayaan sebagai hasil dari peternakannya dan senang dengan celotehan anak-anaknya, menikmati kehidupan rumah tangga tanpa memikirkan waktu ketika kehidupannya di dunia ini berakhir!”

Saudara keempat berbicara:

(14)
“Semoga dia yang telah didorong oleh keserakahan untuk mengambil batang terataimu, memerintah seluruh bumi sebagai seorang raja, dipuja oleh para raja yang melayaninya dalam sikap rendah hati bagai para budak, menundukkan kepala mereka yang bergetar!”

Saudara kelima berbicara:

(15)
“Semoga dia menjadi pendeta keluarga raja yang memiliki mantra-mantra kuat dan sejenisnya, semoga dia juga diperlakukan dengan hormat oleh raja, siapa pun itu dia yang telah mengambil batang terataimu!”

Saudara keenam berkata:

(16)
“Semoga dia yang lebih berkeinginan untuk memiliki batang teratai dan bukan kebajikanmu, menjadi guru terkenal yang menguasai Veda dan menikmati penyembahan sebagai pertapa dari orang-orang yang berkerumun untuk melihatnya!”

Sang teman berbicara:

(17)
“Semoga dia yang tidak bisa menaklukkan keserakahannya terhadap batang terataimu memperoleh sebuah desa yang sangat baik yang diberkahi dengan empat kelimpahan (berlimpah dalam populasi, jagung, kayu dan air) dari raja, dan semoga dia mati tanpa menundukkan nafsunya!”

Pelayan laki-laki itu berkata:

(18)
“Semoga dia menjadi kepala desa, hidup bahagia bersama rekan-rekannya, terlena oleh tarian dan nyanyian wanita, dan tidak pernah mendapat kerugian dari pihak raja, dia yang menghancurkan kepentingannya sendiri demi batang teratai itu!”

Saudara perempuan berkata:

(19)
“Semoga orang yang memberanikan diri mengambil tangkai teratai dari orang sepertimu, menjadi seorang wanita dengan kecantikan dan penampilan yang luar biasa, semoga seorang raja memperistrinya dan menempatkannya sebagai kepala selirnya yang terdiri dari seribu perempuan!”

Pelayan perempuan itu berkata:

(20)
“Semoga dia sangat senang dalam menyantap makanan manis sendirian secara diam-diam, mengabaikan seseorang yang berbudi luhur, dan sangat bersukacita ketika dia mendapat hidangan lezat; dia yang menaruh hatinya pada batang terataimu, bukan pada kebenaranmu!”

Kemudian tiga penghuni hutan juga telah datang ke tempat itu untuk mendengarkan khotbah Dharma, yaitu seorang Yakṣa, seekor gajah, dan seekor kera. Mereka telah mendengar percakapan itu dan diliputi oleh rasa malu dan kebingungan yang luar biasa. Di antara mereka, Yakṣa membuktikan ketidakbersalahannya, mengucapkan di hadapan mereka bantahan ini:

Gajah berbicara:

(21)
“Semoga dia yang gagal menentangmu demi tangkai teratai, mendapatkan tempat tinggal di Biara Agung, dipercayakan dengan tugas memperbaiki (kota) Kacaṅgalā, dan diwajibkan untuk membuat satu buah jendela setiap hari!”

(22)
“Wahai Muni yang paling agung, semoga dia keluar dari hutan yang indah ini dan masuk ke dalam kelompok manusia, terbelenggu dengan enam ratus rantai yang kokoh, dan merasakan sakit akibat tongkat tajam pengendali, dia yang telah mengambil batang terataimu!

Kera itu berkata:

(23)
“Semoga dia yang tergerak oleh keserakahan sehingga mengambil tangkai terataimu, akan memakai karangan bunga dan kerah timah akan mengelilingi lehernya, dipukul dengan tongkat di hadapan seekor ular, dan dengan karangan bunga panjang tergantung di bahunya, hidup di dalam rumah (manusia)!”

Sebagai jawaban, Bodhisattva menyapa mereka semua dengan kata-kata yang meyakinkan dan baik, menunjukkan ketidakmelekatannya yang telah mangakar dalam.

(24)
“Semoga dia yang dengan salah mengatakan ‘mereka telah menghilang,’ meskipun dia memilikinya, memperoleh kesenangan duniawi sesuai dengan keinginan hatinya dan mati sebagai perumah tangga. Dan semoga mereka yang telah mencurigai seseorang melakukan tindakan serupa juga mengalami nasib yang sama!

Ungkapan protes mereka yang luar biasa, yang menunjukkan kebencian mereka terhadap kenikmatan duniawi, membangkitkan rasa heran dan rasa hormat pada Śakra, sang raja para dewa. Dia menunjukkan dirinya dalam wujud yang cemerlang, dan mendekati para Ṛṣi itu, berkata seolah-olah diliputi dengan kebencian: “Kalian seharusnya tidak berbicara begitu.

(25)
“Kenikmatan-kenikmatan itu – yang didambakan oleh mereka yang menginginkan kebahagiaan sedemikian rupa dengan berjuang hingga melewatkan tidurnya dan melakukan segala bentuk pertapaan maupun kerja keras – kalian mengecam, menyebutnya sebagai ‘kesenangan duniawi!’ Mengapa engkau menilai begitu?”

Bodhisattva berkata: “Tuan, kenikmatan indria disertai dengan penderitaan yang tak berkesudahan. Dengarlah, aku akan memberi tahu engkau secara singkat, apa pandangan dari para Muni yang membuat mereka menjauhi kenikmatan indria.

(26)
Karena hal-hal tersebutlah, manusia terjebak dan menanggung kematian, kesedihan, kelelahan, bahaya, dalam berbagai penderitaan singkat. Demi mendapatkannya, para raja menindas kebenaran, dan jatuh ke dalam neraka setelah kematian sebagai akibatnya.

(27)
Ketika ikatan persahabatan tiba-tiba merenggang, ketika manusia memasuki jalan yang kotor dan salah demi kepentingan diri sendiri, ketika mereka kehilangan nama baik mereka dan setelahnya bertemu dengan penderitaan ― bukankah hal-hal itu disebabkan oleh kenikmatan indriawi?

(28)
Melalui cara inilah, kesenangan duniawi cenderung menghancurkan segala kondisi manusia, yang tertinggi, menengah maupun yang terendah, baik di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya. Para Muni, yang berkehendak untuk melatih diri, menjauhi mereka, seolah itu adalah ular-ular yang sedang marah.”

Kemudian Śakra, raja para dewa, menyetujui kata-katanya dengan mengatakan, “Sungguh baik,” dan ketika dia telah tersentuh oleh kebesaran pikiran para Ṛṣi itu, dia mengaku bahwa dia sendirilah yang telah melakukan pencurian itu.

(29, 30)
“Suatu pendapat yang tinggi tentang kebajikan dapat diuji dengan pencobaan. Mempertimbangkan demikian, aku menyembunyikan batang teratai untuk menguji engkau. Dan sekarang, betapa beruntungnya dunia karena memiliki Muni sepertimu, yang kemuliaannya telah teruji oleh kenyataan. Ambilah batang teratai ini, sebagai bukti dari perilaku sucimu yang konstan.”

Dengan kata-kata ini dia menyerahkan batang-batang teratai itu kepada Bodhisattva. Tetapi Bodhisattva mencela caranya yang lancang dan tidak pantas, yang meski disampaikan dengan rendah hati, namun menunjukkan harga dirinya yang mulia.

(31)
“Kami bukan kerabatmu, bukan rekanmu, kami juga bukan pemain peran maupun penghiburmu. Apa alasan kedatanganmu ke sini, wahai raja para dewa, untuk bermain-main dengan para Ṛṣi dengan cara seperti ini?”

Mendengar kata-kata ini, Śakra, raja para dewa, dengan tergesa-gesa menanggalkan penampilan dewatanya ― yang cemerlang dengan anting-antingnya, hiasan kepalanya, dan kilatan cahayanya ― dan dengan hormat membungkuk kepada Bodhisattva, berbicara demikian untuk menenangkannya:

(32)
“Wahai engkau yang bebas dari segala keegoisan, berkenanlah untuk memaafkan aku atas perbuatan ceroboh yang telah aku lakukan dengan tujuan yang sudah kusebutkan tadi; maafkanlah aku bagai seorang ayah, bagai seorang guru.

(33)
Wajar bagi mereka yang matanya belum terbuka oleh kebijaksanaan untuk menyinggung orang lain, bahkan jika mereka sederajat sekalipun. Demikian pula wajar bagi para bijaksana yang telah memahami kebenaran untuk memaafkan pelanggaran-pelanggaran seperti itu. Dengan alasan ini, aku memohon agar hatimu tidak merasa marah terhadap perbuatan itu.”

Setelah menenangkannya, Śakra menghilang di tempat.Mereka yang telah belajar untuk menghargai kebahagiaan dari tidak melekat, akan menjauhi kesenangan duniawi. Mereka akan menolaknya bagai menolak tipu daya dan kesakitan.


[Kembali ke daftar isi]

JATAKAMALA 18 – APUTRA-JATAKA

Jātakamālā 18 – Aputrajātakam
(Kisah Seorang Tanpa Anak)

Jātakamālā 18 – Aputrajātakam
(Kisah Seorang Tanpa Anak)

Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh:
J. S. Speyer

Suntingan Bahasa Inggris oleh:
Bhikkhu Anandajoti

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei


Kehidupan sebagai perumah tangga dipenuhi dengan kekhawatiran yang bertentangan dengan tujuan spiritual. Karena itulah, mereka yang mencari jati diri tidak menyukai kehidupan yang seperti itu. Ini akan diajarkan sebagai berikut.

Suatu ketika Bodhisattva lahir dalam keluarga kaya yang terkenal karena kebajikan dan perilaku baik mereka, sehingga mereka terpandang dalam komunitas dan sangat dihargai oleh orang-orang. Keluarga itu bagai sumur yang menyegarkan bagi orang-orang yang terlahir baik; mereka berbagi harta benda dan bahan makanan mereka dengan para Śramaṇa dan Brāhmana; rumah mereka terbuka untuk teman dan kerabat; orang miskin dan pengemis hidup dari pemberian mereka; para pengrajin mendapatkan penghidupan dan perlindungan dari mereka; dan dengan kekayaan mereka yang luar biasa, mereka diizinkan untuk membantu dan beramah tamah kepada raja.

Dilahirkan dalam keluarga ini, dia bertumbuh seiring dalam perjalanan waktu, mempelajari cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dianggap bernilai tinggi di dunia, sementara ia mengalihkan pikirannya dengan semangat yang sama untuk berbagai seni dan pengetahuan yang sebenarnya tidak diwajibkan kepadanya. Karena pendidikannya yang ulung, sosoknya yang rupawan menyenangkan mata manusia, dan pengetahuan tentang dunia yang ia tunjukkan tanpa melanggar Dharma, ia memenangkan hati sesama warganya, yang menganggapnya sebagai saudara mereka.

(1,2)
Bukan karena ikatan keluarga yang membuat mereka menghormati hubungan kita, pun kita tidak menganggap orang lain sebagai orang asing karena mereka tidak memiliki hubungan dengan kita.

          Kebajikan atau keburukannya, itulah yang membuat seseorang menganggap orang lain sebagai kerabat atau bukan.

Tetapi Sang Mahāsattva telah membiasakan dirinya dengan ketidakduniawian.

(3)
Dia pernah mengalami kehidupan berumah tangga, dan mengetahui bahwa itu adalah keadaan yang tidak sesuai dengan praktik kewajiban agama, karena rasa sakit untuk mencari keuntungan tentu tersirat di dalamnya. Di sisi lain, dia memahami kebahagiaan dalam hutan pertapaan. Maka, pikirannya menjadi terlepas dari kesenangan kehidupan berumah tangga.

Ketika ayah dan ibunya meninggal, di dalam hatinya dia merasakan kehawatiran besar. Dia meninggalkan rumah dan tanah miliknya yang indah, yang berjumlah ratusan ribu, yang sepatutnya diberikan kepada teman-teman dan kerabatnya, orang miskin, para Śramaṇa, dan para Brāhmana; setelah itu dia meninggalkan rumahnya.

Dia melewati desa-desa, kota-kota dan wilayah-wilayah, melalui kerajaan-kerajaan dan ibukotanya, dan menempati tempat tinggalnya di dataran tinggi berkayu tertentu di sekitar kota. Di sana ia segera menjadi terkemuka dengan ketenangannya, ucapannya, dan perilakunya. Ketenangan indranya, yang merupakan hasil dari praktik meditasi yang lama, adalah alami dan tidak dibuat-buat. Bahasanya menyenangkan pikiran dan telinga, dan meskipun menunjukkan kebijaksanaannya, ia masih dipenuhi dengan kerendahan hati; dia memberikan khotbah tanpa mengharapkan keuntungan apapun. Terkemuka oleh pembelajarannya yang kukuh, oleh kelembutannya dalam berbicara kepada pendengar yang dia hormati, dan oleh keterampilan yang dia tunjukkan dalam menelusuri batas antara tindakan yang diperkenankan dan yang dilarang oleh Dharma.

Perilakunya, yang dihiasi dengan praktik-praktik seperti yang pantas dilakukan oleh seorang petapa tanpa rumah, sesuai dengan yang disetujui oleh para bajik. Dan ketika orang-orang yang ingin tahu tentang pribadinya, menyadari bagaimana dia telah meninggalkan derajat tinggi di dunia, mereka semakin mencintainya.

(4)
Sungguh, kebajikan akan tampak lebih menarik ketika ditemukan pada orang-orang yang berkedudukan tinggi, seperti halnya sinar rembulan menjadi lebih indah ketika menyinari objek yang bagus.

Setelah mendengar bahwa dia telah menetap di tempat itu, beberapa teman dan rekan dari ayahnya datang menemuinya, tergerak karena menghargai tinggi kebajikannya. Setelah berbincang seperti biasa mengenai kesehatannya, pengunjung itu memperkenalkan dirinya kepada pertapa itu dan memberitahunya tentang hubungannya dengan pihak ayah. Kemudian terjadilah percakapan di antara mereka, di mana teman tersebut mengucapkan kata-kata yang penuh perhatian ini: “Yang Mulia mungkin telah bertindak tanpa pertimbangan, meninggalkan dunia pada zaman ini tanpa memperhatikan keluargamu dan (memelihara) garis keturunanmu.

(5)
Untuk apa engkau meninggalkan tempat tinggalmu yang kaya, mengarahkan pikiranmu pada kehidupan hutan? Mereka yang mempraktikkan kehidupan yang bajik dapat menjalankan Dharma ini di rumah mereka maupun di padang belantara.

(6,7)
Lalu, mengapau engkau menyerahkan dirimu pada kehidupan yang menyakitkan, seolah-olah merangkul penjelmaan kemiskinan ini? Engkau menopang dirimu dengan sedekah yang diperoleh dari pemberian orang asing, tidak dianggap lebih daripada seorang tunawisma.

Ditutupi dengan kain lusuh, tanpa saudara dan teman, engkau menyembunyikan diri di tempat tinggal ini di tengah-tengah hutan. Bahkan mata musuhmu sekalipun akan berlinang air mata jika mereka melihatmu dalam kondisi seperti ini.

(8)
Karena itu, kembalilah ke rumah ayahmu. Tentu saja, kekayaan hartanya harus engkau ketahui juga. Tinggalah di sana, pada saat yang sama engkau dapat memenuhi kewajiban spiritualmu dan keinginanmu untuk memiliki seorang putra yang berbudi luhur.

Karena demikianlah, sesungguhnya engkau tahu:

(9)
Bahkan rumah seorang pekerja upahan pun terasa nyaman bagai sumur air tawar, apalagi tempat tinggal mewah yang mudah diperoleh, yang gemerlap dengan kekayaan!”

Tetapi pikiran Bodhisattva telah dimurnikan oleh ambrosia yang lezat dan menenangkan, yang disebut sebagai ketidakmelekatan. Hatinya sudah berpegang teguh padanya, karena dia tahu betul perbedaan antara kehidupan seorang perumah tangga dan kehidupan hutan; dan ajakan untuk menikmati kesenangan duniawi membuatnya merasa tidak nyaman, seperti membicarakan tentang makanan kepada orang yang sedang kenyang. Maka dia menjawab:

(10)
“Engkau mengucapkan itu karena perhatianmu kepadaku, dan karena itu kata-katamu tidak terlalu membuatku merasa sedih. Namun demikian, jangan gunakan istilah ‘kenyamanan’ ketika berbicara tentang seseorang yang hidup di dunia.

(11)
Kehidupan perumah tangga adalah keadaan yang sangat tidak nyaman, terlepas dari ia memiliki uang atau tidak. Orang kaya bekerja keras untuk menjaga kekayaannya, sedangkan orang miskin bekerja keras untuk mendapatkannya.

(12)
Sekarang, karena tidak ada kenyamanan yang dapat ditemukan dalam keadaan itu, baik bagi orang kaya maupun orang miskin, maka bersenang-senang di dalamnya adalah sebuah kebodohan. Akibatnya sama seperti kejahatan.

Mengenai pernyataanmu bahwa seorang perumah tangga juga dapat menjalankan aturan-aturan Dharma, tentu saja ini benar. Tetapi menurutku itu adalah hal yang sangat sulit. Kehidupan di dunia ini penuh dengan urusan-urusan yang bertentangan dengan ajaran Dharma, dan membutuhkan banyak jerih payah. Pertimbangkanlah baik-baik, tuan.

(13)
Kehidupan perumah tangga tidak cocok bagi orang yang tidak menginginkan apa-apa, tidak cocok bagi orang yang tidak pernah berbohong, tidak cocok bagi orang yang tidak pernah menggunakan kekerasan, atau seseorang yang tidak pernah menyakiti orang lain.

Dan dia yang hatinya terikat pada kenyamanan kehidupan berumah tangga, harus berusaha untuk mengamankannya dengan cara ini.

(14)
Jika engkau mengabdikan diri pada Dharma, engkau harus meninggalkan rumahmu, dan sebaliknya, bagaimana mungkin ada Dharma bagi orang yang melekati rumahnya? Dari ketenangan, jalan Dharma memperoleh cita rasanya, sedangkan jalan seorang perumah tangga penuh dengan kesibukan dan gangguan.

(15,16)
Karena kehidupan seorang perumah tangga bertentangan dengan Dharma, siapa yang setelah mendapatkan pemahaman sejati tentang dirinya, akan menaatinya? Sungguh, dia yang karena kesenangan pernah tergoda untuk mengabaikan Dharma, akan merasa dirinya tidak memiliki pengendalian diri sama sekali untuk mendapatkan kesenangan itu.

Selain itu, mereka juga akan kehilangan reputasi baik, diikuti oleh kemalangan dan penyesalan. Karena alasan inilah, para bijaksana menghindari kehidupan seperti itu, yang mendatangkan kesenangan yang bertentangan dengan Dharma; mereka lebih melihatnya sebagai kemalangan.

Lebih jauh lagi aku harus berpikir, pernyataan bahwa hidup di dunia menghasilkan kebahagiaan hanyalah didukung oleh keyakinan (tidak didukung dengan bukti).

(17,18)
Rasa sakit yang disebabkan oleh mendapatkan kekayaan atau dengan menjaganya tidak pernah berhenti bagi perumah tangga. Dia lebih dari siapa pun rentan terhadap pembunuhan, penahanan, dan bencana lainnya. Bahkan jika seorang raja, dia tidak akan puas dengan kekayaannya, tidak lebih dari laut yang diguyur oleh hujan.

Bagaimana mungkin ada kebahagiaan dalam keadaan di mana seseorang terus-menerus merindukan objek-objek indra daripada menyempurnakan diri? Orang seperti itu dapat diibaratkan dengan seseorang yang mencoba menyembuhkan luka dengan menggosoknya.

Sesungguhnya, dalam kebenaran, aku berani mengatakan,

(19)
Biasanya, kemakmuran materi membuat perumah tangga menjadi sombong, keturunan sebagai bangsawan membuatnya angkuh, kekuatan membuatnya menjadi kasar. Kemarahannya dibangkitkan oleh kesedihan, dan kesulitan membuatnya sedih. Maka kapan kehidupan seperti itu dapat memberikan ketenangan?

Dan untuk alasan inilah aku akan membujuk Yang Mulia untuk tidak menentang tekadku.

(20)
Rumah adalah kediaman dari banyak penderitaan yang berat. Hal itu dihantui oleh ular bernama kesombongan, keangkuhan, dan hawa nafsu. Di dalamnya, kebahagiaan dari ketenangan yang indah pun hancur. Lalu siapa yang akan memilih tempat tinggal yang rapuh itu?

(21)
Sedangkan di hutan, rumah bagi orang yang tidak menginginkan apa pun, pikiran menjadi tenang, menikmati kebahagiaan dari ketidakmelekatan. Mungkinkah ada kepuasan yang sedemikian besarnya di surga milik Śakra?

(22)
Mengingat itu, aku senang berada di tengah-tengah hutan, meskipun tertutup oleh kain lusuh dan mendapatkan penghidupan melalui kebaikan hati dari orang asing. Aku tidak merindukan kebahagiaan yang dinodai oleh ketidakbenaran. Aku membencinya seperti makanan yang dilumuri racun; aku telah mendapatkan pencerahan tentang diriku.”

Kata-kata yang meyakinkan ini berhasil membuat teman ayahnya terkesan, yang kemudian menunjukkan rasa hormat yang tinggi kepada Bodhisattva dengan menjamunya makan dengan cara yang paling terhormat.

Maka, dengan cara ini, mereka yang hanya merindukan kebenaran meninggalkan kehidupan sebagai perumah tangga, memahami bahwa keadaan itu dipenuhi dengan kekhawatiran yang bertentangan dengan tujuan spiritual.

[Ketika membahas tentang kebajikan ketidakmelekatan, hal ini harus dikemukakan: “Mereka yang pernah merasakan ketidakmelekatan tidak akan kembali kepada kesenangan duniawi.”]

Versi Pāli dari cerita ini tidak ditemukan dalam Pāli Jātaka maupun dalam Cariyāpiṭaka. Keseluruhan kisah ini tidak lain adalah permohonan untuk kebajikan pelepasan keduniawian, naiṣkrama[ṇa], yang didandani dalam bentuk cerita, dan dapat berfungsi sebagai semacam pengantar untuk kisah-kisah berikutnya, di mana keadaan seorang petapa dimuliakan


[Kembali ke daftar isi]

JATAKAMALA 17 – KUMBHA-JATAKA

Jātakamālā 17 – Kumbhajātakam
(Kisah Sebuah Kendi)

Jātakamālā 17 – Kumbhajātakam
(Kisah Sebuah Kendi)

Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh:
J. S. Speyer

Suntingan Bahasa Inggris oleh:
Bhikkhu Anandajoti

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei


Meminum minuman keras yang memabukkan adalah perbuatan yang sangat buruk, merupakan sumber dari banyak kejahatan. Mengetahui hal ini, orang-orang bajik akan menjauhkan sesama mereka dari hal buruk ini, terlebih lagi bagi diri mereka sendiri. Ini akan diajarkan sebagai berikut.

Suatu ketika Bodhisattva, dengan welas asihnya yang besar memurnikan pikirannya, yang selalu berniat membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain, mewujudkan praktik suci perilaku baik melalui perbuatan amal, kerendahan hati, pengendalian diri, dan sejenisnya; memperoleh kelahiran bermartabat sebagai Śakra, raja para dewa. Dalam kehidupan ini, meskipun dia menikmati kesenangan indria yang pantas dinikmati oleh para dewa, namun Sang Berwelas Asih dapat mengendalikan pikirannya sehingga dia tidak mengendurkan usahanya dalam menguntungkan dunia.

(1)
Mereka yang meminum anggur (minuman keras) tidak berwaspada terhadap kemakmurannya, bahkan tidak untuk kepentingan mereka sendiri. Śakra, sebaliknya, tidak hanya terbebas dari kemabukan yang berasal dari kenikmatan-kenikmatan tinggi yang dimiliki oleh dewa-dewa dengan peringkat tinggi, namun kewaspadaannya terhadap kepentingan makluk lain tetap besar seperti sebelumnya.

(2)
Ia dipenuhi dengan rasa kasih sayang terhadap para makhluk yang mengalami berbagai kemalangan, seolah-olah mereka adalah kerabatnya sendiri. Ia tidak pernah lupa untuk mengurus kepentingan orang lain, bertahan dalam tekad yang kuat dan menyadari sifatnya sendiri (yang luar biasa).

Suatu hari Bodhisattva sedang mengamati dunia manusia. Matanya, agung bagai wataknya dan tampak lembut sesuai dengan keramahannya, sambil membungkuk kepada umat manusia dengan welas asih, melihat seorang raja yang bernama Sarvamitra, yang karena pergaulan salahnya dengan teman-teman buruk yang memiliki kebiasaan minum minuman keras, dirinya bersama rakyat-rakyatnya, para warga kota dan tuan tanah. Sekarang, setelah memahami bahwa raja tidak mengetahui kesalahan dalam kebiasaan ini, dan mengetahui bahwa meminum minuman keras merupakan kesalahan besar, Sang Mahātmā, diliputi oleh welas asih yang besar, merenung, “Sungguh sayang sekali, betapa besar kesengsaraan yang telah menimpa orang ini!

(3)
Minum minuman keras, bagaikan jalan yang indah tetapi salah – karena itu adalah hal yang manis pada awalnya – menjauhkan orang-orang dari pencerahan karena gagal mengenali keburukan yang ditimbulkannya.

Lalu, apa cara yang tepat untuk bertindak pada kali ini? Aku telah menemukannya.

(4)
Orang-orang meniru perilaku seseorang yang paling utama di antara mereka; ini adalah sifat tetap mereka. Oleh karena itu, sang raja adalah orang yang harus disembuhkan, karena dari dia akan timbul kebaikan maupun keburukan bagi rakyat-rakyatnya.”

Setelah memutuskan demikian, Sang Mahāsattva mengambil wujud sebagai seorang brāhmana yang berpenampilan agung. Warnanya bersinar seperti emas murni; dia mengenakan rambutnya yang kusut dan terpilin, yang memberinya penampilan tegas; dia menutupi tubuhnya dengan pakaian kulit kayu dan kulit rusa.

Sebuah kendi berukuran sedang, penuh dengan surā, tergantung di sisi kirinya. Dalam wujud ini, dia berdiri di udara dan menampakkan dirinya kepada raja Sarvamitra, ketika dia sedang duduk bersama rombongannya di aula pertemuannya, dan pembicaraan mereka (raja dan rombongannya) berubah menjadi seperti menghadiri kegiatan meminum surā, āsava, maireya, rum, dan minuman keras yang dicampur madu. Saat melihatnya, orang-orang yang berkumpul, tergerak oleh keterkejutan dan rasa hormat, bangkit dari tempat duduk mereka, dan dengan hormat menangkupkan telapak tangan mereka kepadanya. Setelah itu, dia mulai berbicara dengan suara nyaring, menyerupai suara dalam dari awan yang besar karena hujan:

(5)
“Lihat, kendi ini terisi hingga penuh,
Bunga-bunga tertawa di lehernya;
Hiasannya yang indah diukir dengan tangan;
Siapakah yang akan membeli kendi ini dariku?

(6)
Aku memiliki kendi yang dihiasi dengan karangan bunga lebar bagai gelang, berkibar tertiup angin. Lihatlah betapa anggun penampilannya, dihiasi dengan deadunan yang lembut. Siapakah di antara kalian yang ingin memilikinya dengan cara membeli?”

Setelah itu, raja itu, yang rasa keingintahuannya bangkit dengan keheranan, dengan hormat menatap matanya dan mengangkat telapak tangannya yang tertangkup, mengucapkan kata-kata berikut ini:

(7)
“Bagaikan matahari pagi engkau menampakkan diri kepada kami dengan kilaumu, keanggunanmu yang bagaikan rembulan, dan sosokmu yang bagaikan beberapa Muni. Berkenanlah untuk memberi tahu kami, dengan apa namamu dikenal di dunia. Kualitas termasyhurmu yang berbeda membuat kami tidak yakin tentangmu.”

Śakra berkata:

(8)
“Setelah ini engkau akan mengenalku dan siapa diriku, tetapi sekarang niatkanlah untuk membeli kendi ini dariku – setidaknya jika engkau tidak takut terhadap penderitaan di kehidupan berikutnya atau bencana berat yang masih akan terjadi di sini.”

Raja menjawab: “Sungguh, perkenalan berupa tawar-menawar seperti yang dilakukan oleh Yang Mulia, belum pernah aku lihat sebelumnya.

(9, 10)
Cara yang biasa menawarkan benda untuk dijual di antara manusia adalah dengan memuji kualitas baik mereka dan menyembunyikan kesalahan mereka. Sungguh, sikap yang engkau lakukan itu mencerminkan orang-orang sepertimu, yang membenci kebatilan. Sebab orang yang berbudi luhur tidak akan pernah meninggalkan kejujuran, bahkan ketika dalam kesusahan sekalipun!

(11)
Beritahu kami, Yang Mulia, dengan apa guci ini diisi. Dan apakah yang diinginkan oleh makhluk perkasa seperti engkau dari kami, melalui pertukaran barang ini?”

Śakra berkata: “Dengarlah, penguasa yang perkasa.

(12)
Kendi itu tidak diisi dengan air, baik yang didapatkan dari awan atau diambil dari aliran suci; juga tidak dengan madu harum yang dikumpulkan dari tangkai sari bunga; atau dengan mentega yang sangat baik; juga dengan susu, yang warnanya sama dengan sinar rembulan yang membangunkan bunga lili di malam tak berawan. Kendi ini diisi dengan minuman keras yang tidak baik. Sekarang, pelajarilah kebajikan dari minuman keras ini.

(13)
Dia yang meminumnya akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sebagai akibat dari mabuk yang mengacaukan pikiran; karena perhatiannya akan mengendur, dia akan tersandung bahkan di atas tanah datar sekalipun; dia tidak akan mampu membedakan antara makanan yang diperbolehkan dan yang dilarang, dan akan memakan apa pun yang dia peroleh. Sifat seperti itulah, cairan di dalam kendi ini. Belilah kendi yang terburuk ini!

(14)
Minuman keras ini memiliki kekuatan untuk menghilangkan kesadaranmu, sehingga membuat engkau kehilangan kendali atas pikiranmu dan berperilaku bagai binatang buas, membuat musuh-musuhmu menertawakanmu. Sebab, engkau akan menari di tengah-tengah pertemuan, mengiringi dirimu dengan suara-suara dari mulutmu. Karena sifatnya seperti itu, engkau layak membeli minuman keras di dalam kendi ini, yang tidak mengandung kebaikan apa pun!

(15)
Bahkan orang yang tahu malu pun akan kehilangan rasa malu jika meminumnya, dan tidak lagi terkekang dalam berpakaian; telanjang seperti para Nirgrantha, mereka akan berjalan dengan berani di jalan besar yang penuh sesak dengan orang-orang. Sifat seperti itulah, minuman keras yang terkandung dalam kendi ini dan sekarang ditawarkan untuk dijual.

(16)
Meminumnya bahkan dapat menyebabkan seseorang terbaring lelap tanpa akal di atas jalan milik raja, tubuh mereka kotor dengan makanan yang mereka muntahkan dan wajah mereka dijilat oleh anjing-anjing dengan tanpa rasa malu. Demikianlah minuman ini, menyenangkan untuk dibeli, yang telah dituang ke dalam kendi ini!

(17)
Bahkan seorang wanita yang menikmatinya dapat terbawa mabuk ke dalam keadaan yang sedemikian rupa, sehingga dia akan mengikat orangtuanya ke pohon dan mengabaikan suaminya, berharap dia kaya raya bagai Kubera. Inilah yang diperdagangkan di dalam kendi ini!

(18)
Minuman keras itu, ketika diminum yang membuat para Vṛṣṇaya dan Andhakā kehilangan akal sehat mereka sampai tingkat ini, tanpa memedulikan hubungan mereka, mereka menghancurkan satu sama lain dengan tongkat mereka, minuman dengan efek menggilakan itu dimasukkan ke dalam kendi ini!

(19)
Kecanduan sehingga tempat tinggal seluruh keluarga yang berasal dari derajat tertinggi pun binasa, demikianlah minuman keras yang telah menyebabkan kehancuran bagi keluarga-keluarga yang kaya raya, berada di dalam kendi ini dan ditawarkan untuk dijual.

(20)
Di sini, di dalam kendi inilah yang membuat lidah dan kaki tidak terkendali, menangguhkan setiap tangis dan tawa; yang karenanya mata terlihat berat dan kusam seperti orang yang kerasukan roh jahat; sesuatu yang merusak pikiran seseorang, harus merendahkannya menjadi objek penghinaan.

(21)
Di dalam guci inilah dijual sesuatu yang mengganggu indra orang-orang yang berusia tua sekalipun dan membuat mereka malu untuk melanjutkan jalan yang menuju kebaikan mereka, mendorong mereka untuk banyak bicara tanpa tujuan dan gegabah.

(22)
Inilah kesalahan dari minuman ini, bahwa para dewa tua, menjadi ceroboh, kehilangan kemegahan mereka oleh raja para dewa, dan tenggelam di dalam samudra mencari pertolongan. Dengan minuman itulah kendi ini terisi. Maka, ambillah!

(23)
Bagai perwujudan dari kutukan, ia berada di dalam toples ini, ia dengan kekuatan kepalsuan yang diucapkan dengan kepercayaan diri, seolah-olah itu adalah kebenaran, dan tindakan terlarang dilakukan dengan gembira, seolah-olah itu seharusnya dilakukan. Ialah yang membuat seseorang berpegang baik pada apa yang buruk, dan bepegang buruk pada apa yang baik.

(24)
Maka, belilah penghasil kegilaan ini, tempat kediaman bencana ini, bencana yang menjelma ini, ibu dari perbuatan-perbuatan buruk ini, satu-satunya jalan salah yang tak tertandingi ini, kegelapan batin yang mengerikan ini.

(25)
Belilah dariku, oh baginda, minuman yang mampu menghilangkan indra manusia sepenuhnya, sehingga, tanpa mempedulikan kebahagiaan atau keadaannya di masa depan, dia dapat menyerang ayah atau ibunya yang tidak bersalah atau seorang pertapa suci.

(26)
Begitulah minuman keras ini, yang dikenal di antara manusia dengan nama surā, wahai penguasa manusia, yang dengan kemegahanmu menyamai para dewa (surā). Biarkanlah dia berusaha untuk membelinya, yang bukan pendukung kebajikan.

(27)
Orang-orang, karena kecanduan minuman keras ini, menjadi terbiasa dalam berperilaku buruk, dan akibatnya akan jatuh ke jurang neraka yang mengerikan, atau terlahir sebagai binatang maupun pretā yang menyedihkan. Kalau begitu, siapa yang akan memutuskan untuk melihat minuman keras ini?

(28)
Dan, sedikit meminum minuman keras yang memabukkan ini sekalipun, tetap saja sifat buruk itu menghancurkan perilaku baik dan pemahaman yang baik dari mereka yang melewati kelahiran sebagai manusia. Terlebih lagi, setelah itu akan mengarah pada kelahiran di neraka Avīci yang luar biasa, terbakar dengan api yang menyala-nyala, atau di alam para arwah, atau di dalam tubuh binatang buas yang keji.

(29)
Singkatnya, meminum ini menghancurkan setiap kebajikan; mematikan perilaku baik (śīla), secara paksa membunuh reputasi baik, menghilangkan rasa malu, dan mengotori batin. Bagaimana seharusnya engkau membiarkan dirimu meminum minuman keras yang memabukkan untuk seterusnya, wahai raja?

Melalui kata-kata Śakra yang meyakinkan dan penjelasannya yang kuat, sang raja menjadi sadar terhadap kesalahan meminum minuman keras yang memabukkan. Dia membuang keinginan untuk mengambilnya, dan berbicara kepada lawan bicaranya:

(30)
“Seperti seorang ayah yang penuh kasih sayang akan sudi untuk berbicara dengan putranya, atau seorang guru kepada muridnya sebagai imbalan atas kedisiplinan dan kepatuhannya, atau seorang Muni yang mengetahui perbedaan antara cara hidup yang baik dan yang buruk, makna semacam itu disampaikan dalam kata-kata baik yang telah engkau ucapkan kepadaku karena kebajikan. Untuk alasan inilah aku akan berusaha untuk menghormatimu sebagaimana mestinya, melalui suatu perbuatan.

Sebagai imbalan atas kalimat-kalimat yang diucapkan dengan baik, Yang Mulia setidaknya akan berkenan menerima penghormatan dari kami ini.

(31)
Aku memberimu lima desa yang luar biasa, seratus budak wanita, lima ratus sapi, dan sepuluh kereta dengan kuda terbaik yang digunakan untuk mereka. Sebagai pembicara kata-kata yang baik, engkau adalah seorang guru bagiku.

Atau, jika engkau menginginkan hal lain untuk dilakukan olehku, Yang Mulia dapat berbaik hati sekali lagi dengan memerintahkan demikian.”

Śakra menjawab:

(32, 33)
“Aku tidak menginginkan desa atau anugerah lainnya. Ketahuilah bahwa aku adalah raja para dewa, wahai raja. Tetapi penutur kata-kata kebajikan harus dihormati dengan menerima kata-katanya dan bertindak sesuai dengannya.

Karena inilah jalan yang menuju kepada kemuliaan dan kebahagiaan, dan setelah kematian menuju berbagai bentuk kebahagiaan. Oleh karena itu, buanglah kebiasaan meminum minuman yang memabukkan. Berpegang teguh pada Dharma, maka engkau akan mengambil bagian dari surgaku.”

Setelah berbicara demikian, Śakra menghilang di tempat, dan raja, dengan para penduduk kota dan penghuninya, berhenti dari kebiasaan meminum minuman keras.

Maka dengan cara ini, orang yang berbudi luhur, mengetahui penggunaan minuman keras yang memabukkan sebagai tindakan yang sangat buruk, disertai dengan banyak kejahatan, akan menjauhkan sesama mereka dari keburukan ini, terlebih lagi bagi diri mereka sendiri.

[Dan ketika berkhotbah tentang Sang Tathāgata, ini juga harus dikemukakan: “Dengan cara ini Sang Bhagavā berhati-hati terhadap kebaikan dunia yang sudah ada dalam kelahiran sebelumnya.”]


[Kembali ke daftar isi]

JATAKAMALA 16 – VARTAKAPITAKA-JATAKA

Jātakamālā 16 – Vartakāpītakajātakam
(Kisah Anak Burung Puyuh)

Jātakamālā 16 – Vartakāpītakajātakam
( Kisah Anak Burung Puyuh )

Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh:
J. S. Speyer

Suntingan Bahasa Inggris oleh:
Bhikkhu Anandajoti

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei


Bahkan api sekalipun tidak dapat menghancurkan kekuatan kata-kata yang dimurnikan dalam kebenaran. Dengan mengingat hal ini, seseorang hendaknya tergerak untuk mengucapkan kebenaran. Ini akan diajarkan sebagai berikut.

Pada suatu ketika, Sang Bodhisattva tinggal di sebuah bagian hutan sebagai seekor burung puyuh muda. Dia baru saja menetas dari telur beberapa malam sebelumnya dan tidak bisa terbang karena sayapnya yang lembut masih bertumbuh. Tubuhnya juga sangat kecil dan lemah, dengan beberapa anggota badan yang kecil sehingga hampir tidak terlihat. Dia tinggal bersama saudara-saudaranya di sarang yang dibangun oleh induknya dengan sangat hati-hati, yang mampu menahan air berkat lapisan rumput yang kuat. Sarang ini ditempatkan pada tanaman merambat di dalam semak belukar. Meskipun terlahir sebagai hewan, dia tidak kehilangan kesadarannya terhadap Dharma. Dia tidak akan memakan makhluk hidup yang diberikan oleh ayah dan ibunya kepada mereka. Secara khusus dia menyokong dirinya melalui makanan nabati yang dibawa oleh induknya seperti biji-bijian, buah ara dari pohon beringin, dan sebagainya. Sebagai akibat dari makanan yang kasar dan tidak mencukupi ini, tubuhnya tidak bertumbuh dan sayapnya tidak berkembang. Sebaliknya, burung puyuh muda lainnya yang memakan semua yang ditawarkan kepada mereka, tumbuh menjadi kuat dan memiliki sayap yang dewasa. Demikianlah aturan yang berlaku:

(1)
Dia yang tidak menghiraukan aturan-aturan Dharma akan memakan segala sesuatu dan akan berkembang dengan nyaman; tetapi mereka yang menghidupi diri sesuai dengan Dharma akan memilih makanannya dengan cermat dan menanggung kesukaran di kehidupan ini.

(2)
Sungguh mudah penghidupan burung gagak, binatang yang tidak tahu malu dan terbawa nafsu, yang melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Tetapi ini adalah kehidupan yang sangat salah.

(3)
Sedangkan makhluk yang rendah hati yang selalu mengejar kemurnian, yang tahu malu dan berhati-hati, dan yang mempertahankan dirinya hanya melalui cara hidup yang murni, memiliki penghidupan yang sulit.

Sementara mereka hidup seperti ini, kebakaran hutan besar terjadi di tempat yang tidak jauh dari mereka, dicirikan dengan suara besar yang tiada henti-hentinya, dengan munculnya awan asap yang mengepul, kemudian oleh percikan api yang terbang berserakan dari garis api. Kebakaran ini membuat para hewan ketakutan ― seolah menghantui hutan, merusak pepohonan dan semak belukar.

(4)
Api dibangkitkan oleh pusaran angin, yang seolah-olah mendorongnya untuk melakukan berbagai macam dan bentuk tarian, mengaduk-aduk lengan apinya yang merentang lebar, melompat menggoyangkan rambut asapnya yang berantakan dan berderak, menghilangkan keberanian dan kekuatan mereka (para hewan dan tumbuhan).

(5)
Ia melompat, seolah-olah sedang murka, ke atas rerumputan yang bergetar akibat sentuhan keras angin yang kencang, seolah-olah akan terbang; dan menginginkan mereka melalui percikannya yang berkilauan, membakar mereka.

(6)
Hutan itu, dengan gerombolan burung yang terbang menghambur dengan ketakutan dan kecemasan, dengan hewan berkaki empat yang ketakutan dan berkeliaran ke semua sisi, dengan asap tebal yang menyelimutinya, dan dengan suara derak api yang tajam, seolah-olah meraungkan kesakitan yang kuat.

Kobaran api itu, didorong ke depan seolah-olah ditekan oleh angin kencang, mengikuti rerumputan dan semak-semak, akhirnya mencapai sekitar sarang itu. Pada saat itu, burung-burung puyuh muda itu menjerit bingung dan ketakutan. Masing-masing memikirkan dirinya sendiri, bukan yang lain, dan tiba-tiba terbang secara bersama-sama. Hanya Bodhisattva, karena tubuhnya yang sangat lemah dan karena belum memiliki sayap, tidak melakukan upaya seperti itu. Namun Sang Mahāsattva mengetahui kekuatannya dan sama sekali tidak terganggu ketika api mendekat dengan cepat untuk melalap sarangnya, dia menyapanya dengan kata-kata yang lembut ini:

(7)
“Kakiku tidak cukup kuat untuk menyandang nama itu, demikian pula sayapku tidak bisa membuatku terbang. Kedua indukku juga telah terbang akibat gangguan yang disebabkan olehmu. Aku tidak menemukan apapun yang layak untuk ditawarkan kepada tamu sepertimu di sini. Untuk alasan inilah, engkau harus berbalik dari sini, wahai api.”

Ketika Sang Mahāsattva telah mengucapkan kata-kata ini, dimurnikan oleh kekuatan kebenaran,

(8)
Api itu, meskipun digerakkan oleh angin, meskipun mengamuk di bawah kayu kering yang bercampur dengan rerumputan gersang, tiba-tiba mereda, seolah-olah terhalang oleh sungai yang meluap setelah mendengar ucapannya.

(9)
Sampai hari ini, setiap kebakaran hutan yang mencapai tempat terkenal di Himalaya itu, betapapun tingginya nyala api, betapapun kuatnya angin, kebakaran itu akan mereda dan kehilangan kekuatannya seperti ular buas yang dipengaruhi oleh mantra.

Untuk alasan apa, kemudian, (kisah) ini dikemukakan? Ini akan dikatakan.

(10)
Bagai laut yang tidak dapat melampaui batasnya, atau bagai orang berbudi yang tidak dapat mengabaikan Dharma yang diajarkan oleh raja para Muni, demikian pula nyala api tidak dapat melanggar perintah orang-orang yang jujur. Mengetahui hal ini, seseorang hendaknya tidak meninggalkan kebenaran.

Maka, dengan cara inilah, bahkan api sekalipun tidak dapat kekuatan kata-kata yang dimurnikan dalam kebenaran. Mengingat hal ini, seseorang hendaknya tergerak untuk mengucapkan kebenaran.

[Kisah ini juga harus diceritakan, ketika berkhotbah tentang Sang Tathāgata.]

[Kembali ke daftar isi]

JATAKAMALA 15 – MATSYAJATAKA

Jātakamālā 15 – Matsyajātakam
(Kisah Seekor Ikan)

Jātakamālā 15 – Matsyajātakam
(Kisah Seekor Ikan)

Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh:
J. S. Speyer

Suntingan Bahasa Inggris oleh:
Bhikkhu Anandajoti

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei


Mereka yang melakukan perbuatan baik akan berhasil mewujudukan cita-cita mereka pada kehidupan ini, dan terlebih lagi di kehidupan selanjutnya. Karena alasan inilah, perilaku yang murni harus diupayakan, seperti yang akan diajarkan berikut ini.

Konon, Bodhisattva terlahir sebagai pemimpin para ikan, tinggal di sebuah danau kecil yang airnya indah berhiaskan berbagai teratai dan lili air berwarna putih, merah, dan biru. Danau itu dihiasi dengan pasangan angsa dan bebek, dan ditutupi dengan bunga-bunga dari pohon yang tumbuh di perbatasannya. Berkat praktik (kebajikannya) dalam berbagai kelahiran sebelumnya, yang terus-menerus membantu makhluk lain, dia bertekad untuk bertindak hanya demi kebaikan dan kepentingan makhluk lain, sekalipun dia terlahir sebagai seekor ikan dalam kehidupan ini ini.

(1)
Melalui kebiasaan dalam waktu yang lama, perbuatan baik atau buruk melekat pada makhluk hidup sedemikian rupa sehingga mereka akan melakukannya kembali dalam kelahiran barunya tanpa usaha apa pun, seolah saat sedang tidur sekalipun.

Sang Mahāsattva menyayangi ikan-ikan di kolam itu seolah-olah mereka adalah keturunannya sendiri, menunjukkan kebaikan hatinya kepada mereka dengan berbagai cara: melalui pemberian, kata-kata yang baik, memperhatikan kepentingan mereka, dan sebagainya.

(2)
Dia mencegah mereka agar tidak berkeinginan untuk melukai satu sama lain, menumbuhkan kasih sayang satu sama lain. Berkat usaha dan kebijaksanaannya, Bodhisattva membuat mereka melupakan kebiasaan mereka untuk mencari makan dengan cara yang kejam.

(3)
Berada dalam perlindungannya, kawanan ikan itu menjadi makmur, bagaikan sebuah kota yang diperintah oleh seorang raja yang bertindak dengan cara yang benar, terbebas dari segala jenis kemalangan.

Suatu ketika, karena kurangnya nasib baik para makhluk dan kelalaian para dewa yang bertanggung jawab atas hujan, dewa tidak menurunkan hujan sesuai jumlah yang seharusnya. Akibat hujan jarang turun, danau itu tidak terisi seperti sebelumnya, yang biasanya diisi dengan air baru berwarna kuning oleh bunga-bunga pohon kadamba yang mengembang. Setelah itu, ketika musim panas tiba, sinar matahari yang semakin membara, meminum air dari danau itu hari demi hari, seolah-olah letih karena kelelahan; begitu pula bumi yang dipanaskan oleh sinar-sinar itu; demikian pula angin, yang seolah-olah ditemani oleh api, merindukan penyegaran. Ketiganya meredakan dahaga mereka di dalam danau, hingga pada akhirnya membuat (danau itu) berubah menjadi genangan kolam.

(4)
Di musim panas, matahari yang menyala-nyala, angin yang menyengat seolah sedang memancarkan api, dan bumi yang lelah karena demam, mengeringkan air, seolah-olah mereka akan meredakan amarah mereka.

Kawanan ikan tersebut telah berada dalam kondisi yang menyedihkan. Tidak hanya gerombolan burung yang terus menghantui dari tepi danau, bahkan gerombolan burung gagak mulai mengamati mereka sebagai mangsanya, karena mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain berbaring dan bermegap-megap. Bodhisattva merasakan penderitaan dan kesedihan kelompoknya, dan tergerak oleh welas asih, merenungi: “Oh! Malapetaka telah menimpa ikan-ikan malang ini!

(5)
Air semakin berkurang setiap hari, seolah-olah sedang berlomba dengan sisa usia makhluk hidup, dan awan diperkirakan tidak akan datang sama sekali untuk waktu yang lama.

(6, 7)
Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri; dan jika ada, siapa yang akan membawa kami ke tempat lain? Selain itu, musuh-musuh kami, diundang oleh bencana yang kami alami, sudah berkumpul untuk melawan kami. Tidak diragukan lagi, mereka sedang menunggu sisa air mengering untuk melahap ikan-ikan yang bersujud di bawah mataku ini.

Sekarang, tindakan apa yang tepat untuk dilakukan di sini?” Mengingat demikian, Sang Mahātmā hanya melihat satu cara untuk menolong, yakni dengan memanfaatkan kebenarannya. Oleh karena itu, sementara berduka oleh welas asih di dalam pikirannya dan menghela nafas yang panjang dan dalam, dia melihat ke atas ke langit dan berbicara:

(8)
“Sejujurnya aku tidak mengingat, betapapun aku sudah merenungkannya, bahwa aku pernah menyakiti makhluk hidup mana pun, bahkan dalam keadaan tersulit sekalipun. Dengan kekuatan kebenaran ini, semoga raja para dewa mengisi wadah-wadah air dengan hujannya.”

Ketika Sang Mahātmā mengucapkan kata-kata ini, terjadilah keajaiban yang disebabkan oleh kekuatan kebenarannya yang digabungkan dengan simpanan jasa kebajikannya, beserta bantuan para dewa, naga, dan yakṣa yang menggunakan kekuatan mereka. Di seluruh bagian langit tampak awan hujan, muncul pada waktu yang tepat meskipun bukan pada musimnya. Mereka melayang rendah, dipenuhi oleh air hujan; suara guntur yang dalam dan lembut terdengar dari mereka; sementara kilatan petir menghiasi puncaknya yang besar dan berwarna biru tua, menyebar di langit, seolah-olah sedang saling berpelukan dengan kepala dan tangan mereka secara perlahan mendekat.

(9)
Seperti bayangan gunung yang dipantulkan oleh langit, awan hitam muncul, mengelilingi cakrawala dan menimbulkan kegelapan dari atas.

(10)
Suara gemuruh petir kini bergema di sekitar, mendorong burung merak untuk mengucapkan teriakan kegembiraan dan melakukan berbagai gerakan tarian, seolah mereka memuji awan gemawan. Hiasannya ini, bersama dengan kilatan petir yang tak henti-hentinya memberikan kegembiraan dan tawa yang luar biasa yang menyorot gumpalan awan itu.

(11)
Kemudian awan melepaskan aliran hujan, yang jatuh seperti mutiara yang terlepas dari cangkangnya. Debu mereda, dan bau yang kuat menyebar dengan sendirinya, terbawa oleh angin yang mengiringi hujan petir.

(12)
Sinar matahari, meskipun kekuatannya telah mencapai tingkat tertingginya di musim panas, sekarang tersembunyi, dan arus air mengalir dari pegunungan, meluapi tepiannya dengan deretan buih yang mereka simpan.

(13)
Dan kilatan petir tipis, yang menyinari cakrawala lagi dan lagi dengan cahaya berwarna kuning keemasannya, menampilkan tariannya, bergembira dengan musik instrumen awan.

Sekarang, sementara arus air bening yang mengalir ke danau dari semua sisi dan memenuhinya, burung-burung gagak dan burung-burung lainnya telah terbang menjauh sejak awal munculnya badai petir. Kawanan ikan itu memulihkan harapan mereka untuk hidup, merasa sangat bersukacita. Namun Bodhisattva, meski hatinya diliputi kegembiraan, takut bahwa hujan akan berhenti, kemudian berbicara kepada Parjanya berulang-ulang:

(14)
“Mengaumlah, Parjanya, mengaumlah, dengan nyaring dan dalam! hilangkan kegembiraan burung gagak, curahkan airmu seperti permata yang diberkahi dengan kecemerlangan kilat yang menyala-nyala, pendamping mereka.”

Ketika Śakra, raja para dewa, mendengar hal ini, dia menjadi sangat heran dan pergi menemuinya secara pribadi. Memujinya dan berbicara:

(15)
“Sungguh, ini adalah kekuatanmu, efek dari kebenaranmu yang mendalam, wahai raja para ikan yang perkasa, yang membuat awan hujan ini mencurahkan airnya dengan suara guntur yang indah, seolah-olah mereka adalah wadah air yang dituang.

(16)
Sungguh aku harus dipersalahkan – atas kurangnya perhatianku – jika aku lalai mematuhi tindakan makhluk sepertmu, yang bertindak demi kepentingan para makhluk.

(17)
Karena itu, mulai sekarang engkau tidak perlu cemas lagi. Aku berkewajiban untuk membantu orang yang berbudi luhur dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. Maka wilayah ini, yang adalah tempat tinggal dari kebajikanmu, tidak akan pernah lagi didatangi oleh wabah yang sama di kemudian waktu.”

Setelah memujinya dengan baik, dia menghilang dari tempat itu. Dan danau itu memperoleh peningkatan jumlah air yang sangat besar.

Dengan cara ini, mereka yang melakukan perbuatan baik akan berhasil mewujudukan cita-cita mereka pada kehidupan ini, dan terlebih lagi di kehidupan selanjutnya. Karena alasan inilah, perilaku yang murni harus diupayakan.


[Kembali ke daftar isi]

JATAKAMALA 14 – SUPARAGAJATAKA

Jātakamālā 14 – Supāragajātakam
(Kisah tentang Suparaga)

Jātakamālā 14 – Supāragajātakam
(Kisah tentang Suparaga)

Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh:
J. S. Speyer

Suntingan Bahasa Inggris oleh:
Bhikkhu Anandajoti

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei


Ketika berdiam dalam Dharma, mengucapkan kebenaran sudah cukup untuk menghilangkan malapetaka. Maka apa lagi yang perlu dikatakan untuk menjelaskan kebaikan dari menjalankan Dharma? Mengetahui hal ini, seseorang harus menaati Dharma. Inilah yang akan diajarkan sekarang.

Dalam salah satu kelahiran lampaunya, Bodhisattva merupakan seorang nahkoda yang sangat terampil. Sebagai sifat para Bodhisattva yang tidak berubah, berkat ketajaman alamiah dari pikiran mereka, apapun cabang ilmu pengetahuan atau jenis seni yang ingin mereka ketahui, mereka akan melampaui yang paling bijaksana di dunia.

Oleh karena itu, Sang Mahatman memiliki setiap kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi nahkoda andal. Mengetahui jalan gemilang para dewata, dia tidak pernah bingung dengan wilayah langit karena mengenal tanda-tanga langit yang berbeda, yang permanen, yang sesekali, dan yang ajaib dengan sempurna. Ia terampil dalam menetapkan waktu tertentu adalah tepat atau tidak tepat. Melalui berbagai pertanda, mengamati ikan, warna air, jenis tanah, burung, bebatuan, dan sebagainya, dia tahu bagaimana memastikan bagian laut dengan benar. Lebih jauh lagi, ia adalah seseorang yang waspada, tidak mudah mengantuk dan tertidur; mampu menahan kelelahan akibat dingin, panas, hujan, dan sejenisnya. Ia berhati-hati dan sabar.

Dia terampil dalam seni mengemudikan kapal dan membawanya pulang, menjalankan profesinya sebagai orang yang mengantar para pedagang menuju tujuan mereka melalui laut. Dan karena pelayarannya sangat berhasil, dia diberi nama Supāraga. Pelabuhan tempat dia tinggal memiliki nama yang sama dengannya, yang sekarang dikenal sebagai Sūpāraga. Bahkan di masa tuanya, para pedagang yang menginginkan perjalanan lancar akan meminta bantuannnya, yang terkenal sebagai orang yang beruntung. Mereka memohon dengan sangat hormat, mengajaknya ikut di kapal mereka.

Maka, suatu kali terjadi bahwa para pedagang yang berdagang dengan Tanah Emas, yang datang dari Bharukaccha, merindukan perjalanan yang makmur, tiba di kota Supāraga dan meminta Bodhisattva untuk berangkat bersama mereka. Dia menjawab mereka:

(1)
“Bantuan apa yang kalian harapkan dari dalam diriku?
Usia tua telah menguasaiku, membuat penglihatanku berkurang;
dan sebagai akibat dari banyaknya kerja keras yang telah aku tanggung, perhatianku menjadi lemah.
Bahkan dalam pekerjaan fisik, aku merasa kekuatanku telah hampir habis.”

Para pedagang berkata: “Kami sangat mengenal kondisi tubuh Yang Mulia. Tetapi kami mengetahui bahwa engkau sudah tidak mampu untuk bekerja, sehingga kami tidak akan menyusahkanmu atau memberikan tugas apa pun sebagai tanggung jawabmu. Kami mencarimu karena alasan lain.

(2)
Debu yang disentuh dan disucikan oleh kakimu ― yang bagai teratai itu ―
akan membawa keberuntungan bagi kapal kami, sehingga perjalanan di atas laut akan menjadi nyaman,
bahkan jika diserang oleh bahaya besar sekalipun.
Dengan pemikiran inilah kami datang untuk mencarimu.”

Sang Mahātmā, meskipun tunduk pada lemahnya usia tua, naik ke atas kapal itu karena berwelas asih kepada mereka. Keikutsertaannya membangkitkan kegembiraan bagi seluruh pedagang itu, karena mereka merasa yakin bahwa perjalanan ini akan berhasil. Kemudian, dalam perjalanan, mereka tersesat di tempat kediaman para ular yang merupakan pasukan Asura. Pātāla yang sulit untuk ditembus, wadah air yang sangat besar, samudera besar yang dihantui oleh berbagai jenis ikan dan menggemakan suara ombak yang tidak pernah tenang, sedangkan angin terus mendorong sehingga mereka terbawa olehnya. Di bagian dasarnya terbentang berbagai jenis tanah yang menyembunyikan bermacam-macam batu mulia dan permukaannya dihiasi oleh berbagai buih seolah membentuk rangkaian bunga.

(3)
Rona biru tua yang seperti tumpukan batu safir terhampar di atas permukaan air,
seolah-olah langit meleleh oleh panasnya pancaran sinar matahari.
Mereka kehilangan pandangan terhadap garis pantai
dan berlari di atas lautan dalam yang mengelilingi mereka di semua sisi.

Setelah mereka berada di laut lepas, pada sore hari saat sinar matahari mulai kehilangan terangnya, suatu peristiwa besar dan sangat menakutkan muncul kepada mereka.

(4)
Tiba-tiba laut menjadi mengerikan. Angin kencang muncul,
menyebabkan suara air yang menakutkan, mencambuk permukaannya
sehingga tertutupi oleh buih yang tersebar oleh ombak yang pecah
Seluruh laut dibuat gaduh dari dasarnya.

(5)
Terguncang oleh badai, massa air yang sangat besar diaduk
dan digulung dengan kecepatan yang luar biasa.
Lautan menjadi tampak mengerikan,
seperti bumi dengan pegunungannya yang bergetar pada saat akhir dunia.

(6)
Seperti ular berkepala banyak yang mendesis,
awan berwarna hitam kebiruan dengan lidah api petirnya menutupi matahari,
tanpa henti menghasilkan suara gemuruh yang mengerikan.

(7)
Matahari, yang pancaran sinarnya disembunyikan oleh awan tebal, terbenam secara perlahan.
Kemudian kegelapan memunculkan dirinya, memanfaatkan waktu malam, dan meningkat.

(8, 9)
Dihujani oleh pancuran anak panah air hujan, ketinggian laut meningkat seolah-olah sedang marah,
dan kapal yang malang itu sangat terguncang seolah-olah sedang merasa takut,
membuat para penumpangnya merasa ketakutan, yang memunculkan sifat asli mereka
yang berbeda-beda sesuai dengan kualitas yang melekat pada mereka.

Beberapa diliputi oleh penderitaan dan tidak bisa berkata-kata karena ketakutan,
beberapa berperilaku berani dan sibuk bekerja untuk menghindari bahaya,
dan beberapa tenggelam dalam doa kepada dewa pelindung mereka.

Sekarang, angin kencang membuat air laut naik dan kapal melaju mengikuti arus. Para pedagang tidak menemukan daratan selama berhari-hari, mereka juga tidak mengamati pertanda-pertanda laut yang menguntungkan. Pertanda-pertanda yang mereka lihat, karena adalah hal baru bagi mereka, membuat mereka menjadi semakin sedih dan bingung karena ketakutan dan keputusasaan. Tetapi Supāraga, Sang Bodhisattva, menghibur mereka dengan mengatakan: “Kalian tidak boleh bingung dengan laut yang terombang-ambing dalam keadaan kacau; bukankah kita sedang menyeberangi samudra besar? Tidak ada alasan yang masuk akal bagi Yang Mulia untuk menikmati penderitaan. Mengapa?

(10, 11)
Kejahatan tidak dapat disingkirkan oleh kesedihan; oleh karena itu janganlah berkecil hati.
Tetapi dengan keberanian, mereka yang bijaksana melakukan apa yang harus dilakukan
untuk mengatasi berbagai kesulitan tanpa kesulitan.

Maka, singkirkanlah kesedihan dan kekesalan itu, mulailah bekerja,
manfaatkanlah kesempatan untuk bekerja.
Energi dari orang bijak, yang dikobarkan oleh keteguhan pikiran,
adalah tangan yang menggenggam keberhasilan dalam berbagai hal.

Hendaknya kalian masing-masing bertekad untuk melakukan tugas khusus.” Dan para pedagang, dengan cara ini dikuatkan oleh Sang Mahātmā, merindukan pemandangan daratan dan melihat ke bawah laut, melihat makhluk-makhluk yang memiliki sosok manusia dan tampak seolah-olah mengenakan baju zirah perak; mereka melihat makhluk-makhluk itu menyelam ke atas dan ke bawah permukaan air. Ketika mereka telah mempertimbangkan dengan baik sosok dan pertanda makhluk-makhluk tersebut, mereka memberi tahu Supāraga tentang fenomena itu, mengungkapkan keheranan mereka. “Sesungguhnya, di sini kita bertemu di lautan luas dengan fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini sebenarnya adalah

(12)
Beberapa makhluk yang tidak seperti prajurit para asura, mengenakan baju zirah perak,
dengan penampilan garang dan hidung buruk rupa yang menyerupai kuku berkaki empat;
sepertinya mereka sedang berolahraga di air laut,
tanpa henti menembak dan menyelam ke atas dan ke bawah permukaannya.”

Supāraga berkata: “Mereka bukan manusia maupun asura, melainkan ikan, pastinya. Janganlah takut pada mereka. Lagipula,

(13)
Kita terdorong jauh dari kedua pelabuhan. Ini adalah laut yang disebut Khuramālin.
Karena itu, kalian harus mencoba untuk berputar kembali.”

Tetapi mereka tidak dapat berbelok karena derasnya arus laut dan angin kencang yang terus berhembus mengejar mereka, mendorong kapal ke arah yang sama. Dan saat mereka maju lebih jauh ke laut, mereka melihat laut lainnya yang bersinar dengan kilau perak dan tampak cerah dengan kumpulan busa putih pada ombaknya. Melihat pemandangan yang menakjubkan ini, mereka bertanya kepada Supāraga:

(14)
“Laut besar apakah ini, yang seolah-olah mengenakan kain linen putih halus
dan menyelubungi perairannya dengan buihnya?
Terlihat menampung sinar bulan yang cair di permukaannya,
dan seolah-olah menunjukkan wajah tertawa di sekelilingnya.”

Supāraga berkata: “Aduh! kita menembus terlalu jauh.

(15)
Itu adalah laut Dadhimālin, yang disebut sebagai ‘samudra-susu’.
Tidaklah bijaksana untuk melangkah lebih jauh,
setidaknya jika masih mungkin untuk kembali.”

Para pedagang berkata: “Sudah tidak mungkin mengurangi kecepatan kapal, apalagi mengubah arahnya. Kapal didorong terlalu cepat oleh arus, dan angin bertiup berlawanan.”

Sekarang, setelah menyeberangi lautan itu, para pedagang melihat laut lain, yang ombaknya bergulung-gulung diwarnai dengan kemegahan emas yang menyerupai warna api merah kecoklatan. Dipenuhi dengan keheranan dan keingintahuan, mereka memberitahukannya kepada Supāraga.

(16)
“Sekarang terlihat seolah-olah ombak yang tinggi dan cerah
yang telah diwarnai dengan rona cerah matahari terbit.
Bagi kami mereka tampak seperti api yang besar dan menyala-nyala.
Katakanlah, laut apakah ini dan apa namanya?”

Supāraga menjawab:

(17)
“Agnimālin adalah nama terkenal dari laut ini.
Akan sangat bijaksana, sungguh, jika kita berputar balik sekarang.”

Demikianlah, Sang Bodhisattva, yang berwawasan luas, hanya memberi tahu mereka nama laut itu, tetapi menyembunyikan penyebab perubahan warna airnya. Setelah menyeberangi laut itu, para pedagang melihat bahwa warna laut berubah lagi; sekarang warnanya mirip dengan belukar rumput kuśa yang matang, dan airnya diterangi oleh kilau batu topas dan safir; dan didorong oleh rasa ingin tahu, mereka bertanya kepada Supāraga:

(18)
“Laut apa yang berada di depan pandangan kami saat ini?
Perairannya berwarna bilah rumput kuśa yang matang.
Pecahnya ombak yang ditiup angin memahkotainya dengan ornamen buih beraneka warna,
dan membuatnya tampak seperti ditumbuhi bunga.”

Supāraga berkata: “Para pedagang, kalian harus berusaha untuk kembali sekarang. Sangat tidak disarankan untuk pergi lebih jauh.

(19)
Ini adalah laut bernama Kuśamālin.
Seperti gajah yang tidak mengindahkan tongkat,
ia akan menyeret kapal dengan paksa bersama dengan ombaknya yang tak tertahankan,
dan akan mengambil kesenangan kita.

Dan para pedagang, karena tidak mampu memutar balik kapal, betapapun beraninya mereka mengerahkan diri, pada akhirnya menyeberangi laut itu. Kemudian mereka melihat laut lain, yang airnya berwarna kehijauan seperti berasal dari perpaduan kemilau zamrud dan beril, dan mereka bertanya kepada Supāraga:

(20)
“Laut yang kita lihat sekarang memiliki penampakan lain.
Perairannya memiliki kilau hijau zamrud dan menyerupai padang rumput yang indah;
mereka dihiasi dengan buih yang indah seperti bunga lili air. Laut yang mana lagi ini?”

Atas hal ini Sang Mahātmā, yang hatinya sakit saat melihat malapetaka yang akan menimpa para pedagang, menghela napas panjang dan dalam, dan berkata dengan nada rendah:

(21)
“Kalian sudah pergi terlalu jauh. Akan sulit untuk kembali dari sana.
Laut ini, Nalamālin, sudah dekat dengan ujung dunia.”

Ketika mereka mendengar jawaban itu, para pedagang malang itu benar-benar menderita. Pikiran mereka kehilangan tenaga, anggota tubuh mereka menjadi tidak berdaya, dan duduk dalam kesedihan yang mendalam. Mereka tidak melakukan apa-apa selain menghela nafas. Dan setelah menyeberangi laut itu juga, pada sore hari, ketika matahari dengan lingkaran sinarnya yang semakin redup seolah akan memasuki samudra, terdengar suara yang membingungkan dan sangat besar, menusuk telinga dan hati para pedagang. Kebisingan yang naik dari dalam laut ini seperti suara laut yang mengamuk, atau suara guntur yang muncul bersamaan, atau rumpun bambu yang terbakar dan berderak.

Mendengarnya, mereka tiba-tiba melompat dari tempat duduk mereka, gemetar ketakutan dan merasa sangat gelisah. Mereka memeriksa lautan di sekitar, merasakan massa air yang sangat besar jatuh ke bawah seolah-olah melewati tebing atau jurang. Pemandangan yang mengkhawatirkan itu memenuhi mereka dengan ketakutan, kesedihan, dan keputusasaan yang luar biasa. Mereka pergi kepada Supāraga, berkata:

(22)
“Kami mendengar suara yang besar sekali dari jauh,
hampir menusuk telinga kami dan menghancurkan pikiran kami,
seolah-olah Sang Penguasa Sungai sedang marah,
dan seluruh massa air laut ini tampaknya jatuh ke dalam jurang yang mengerikan.
Maka katakanlah, laut apakah itu, dan menurutmu apa yang sebaiknya dilakukan sekarang?”

Kemudian Bodhisattva berkata dengan gelisah: “Aduh! Sayang sekali!” dan melihat ke bawah ke laut, berbicara:

(23)
“Kalian telah datang ke tempat yang mengerikan itu, di mana tidak ada yang pernah kembali,
pintu masuk kematiannya yang seperti mulut, adalah mulut Mare yang terkenal itu.”

Mendengar hal ini para pedagang malang, yang memahami bahwa telah mencapai mulut Mare, harus melepaskan seluruh harapan hidup mereka, merasa tertekan oleh ketakutan akan kematian.

(24-26)
Beberapa dari mereka menangis dengan keras atau meratap dan berteriak.
Yang lain tidak melakukan apa-apa, mematung dalam kekhawatiran.
Beberapa dengan pikiran sedih memuja para dewa, terutama raja para dewa,
yang lain meminta tolong kepada para Āditya, Rudra, Marut, Vasu, dan kepada sāgara [laut] itu sendiri.

Yang lainnya menggumamkan berbagai doa,
dan ada juga yang memberikan penghormatan yang pantas kepada Devī.
Beberapa lagi pergi kepada Supāraga, dan dalam berbagai cara meratap dengan menyedihkan.

(27-29)
“Terlatih dalam kebajikan berwelas asih kepada orang lain,
engkau memiliki kebiasaan membebaskan rasa takut dari mereka yang berada dalam kesulitan.
Sekarang telah tiba waktunya untuk menggunakan kekuatanmu yang berlebihan itu.

Maka, putuskankah, wahai orang bijak, setelah menyelamatkan kami yang tertekan,
yang tak berdaya, yang telah berlindung kepadamu.
Lautan dalam murkanya akan menelan kita dengan mulut Mare-nya sekarang,
seperti suapan makanan.

Ini bukan seperti dirimu jika
mengabaikan penumpang malang ini binasa dalam gelombang yang bergulir.
Samudera besar mematuhi perintahmu.
Karena itu, hentikanlah amarahnya.”

Tetapi Sang Mahātmā merasa hatinya tertekan oleh rasa welas asih yang besar dan menghibur para pedagang malang dengan mengatakan ini: “Masih ada cara untuk menyelamatkan kita pada saat ini. Itu muncul di pikiranku. Aku akan menggunakannya. Tetapi kalian harus menunjukkan keberanian sejenak.”

Ketika para pedagang mendengar ini, harapan bahwa masih ada pertolongan, setelah itu, menghidupkan kembali keberanian mereka, dan memusatkan seluruh perhatian mereka padanya, mereka menjadi diam. Tetapi Supāraga, sang Bodhisattva, setelah melemparkan pakaian atasnya di satu bahu dan menekuk lutut kanannya di geladak kapal, melakukan penghormatannya kepada para Tathāgata, dengan sepenuh hatinya terserap oleh perbuatan bakti itu; setelahnya dia berkata kepada rombongan: “Jadilah kalian, pedagang laut yang terhormat, dan kalian, dewa-dewa yang berbeda, yang memiliki tempat tinggalmu di langit, saksi-saksiku.

(30)
Sejak aku mengingat diriku, sejak saat aku menyadari perbuatanku,
aku tidak mengingat pernah menyakiti makhluk hidup apapun.

(31)
Semoga dengan kekuatan ucapan kebenaran ini, beserta dengan kekuatan simpanan jasa kebajikanku,
semoga kapal berlayar dengan aman tanpa mencapai mulut Mare!”

Dan begitu besar kekuatan kebenaran Sang Mahātmā, begitu besar juga kemegahan jasa kebajikannya, sehingga arus dan angin berubah ke arah yang berlawanan dan membuat kapal mundur. Para pedagang yang melihat kapal itu berputar kembali, bergembira dengan kekaguman dan kegembiraan tertinggi, dan mengungkapkan penghormatan mereka kepada Supāraga dengan membungkuk hormat, mengatakan kepadanya bahwa kapal itu berputar kembali. Kemudian Bodhisattva memerintahkan mereka untuk tenang dan mengangkat layar dengan cepat. Dan karena diperintahkan demikian, mereka yang bertanggung jawab atas pekerjaan itu, setelah mendapatkan kembali dengan gembira kemampuan dan energi mereka, melakukan apa yang dia katakan.

(32)
Kemudian, gemerlap dengan sayap terbentang indah dari layar putihnya,
dan dipenuhi dengan suara ceria dan tawa awak kapal, kapal melaju di atas laut,
bagai flamingo di langit yang jernih dan tak berawan.

Sekarang ketika kapal, yang disukai oleh arus dan angin, pulang kembali dengan mudah seperti kereta-kereta surgawi yang bergerak di udara, dan dapat dikatakan sedang terbang sesuai keinginannya, pada waktu itu, ketika kegelapan yang berkumpul meluas jauh dan lebar, dan langit, tidak lagi dihiasi oleh cahaya senja yang redup, mulai memunculkan ornamen konstelasinya di cakrawala, di mana masih tersisa cahaya redup, pada saat itu, kemudian, dari dimulainya kuasa malam, Supāraga berbicara kepada para pedagang seperti ini: “Baiklah, para pedagang, saat menyeberangi laut Nalamālin dan yang lainnya, kalian harus menarik pasir dan batu dari dasar laut dan membebankan kapal kalian sebanyak mungkin yang bisa ditampung. Dengan latihan ini dia akan menjaga sisinya tetap kukuh jika diserang oleh badai yang ganas; selain itu, pasir dan kerikil yang diucapkan sebagai keberuntungan, pasti akan menguntungkanmu.” Dan para pedagang, setelah ditunjukkan tempat yang cocok selama ini oleh para dewa, yang melakukannya karena kasih sayang dan penghormatan kepada Supāraga, dari sana menyusun apa yang mereka maksud dengan pasir dan batu, dan memuat kapal mereka dengan beban itu. Tapi, sebenarnya, pasir dan batu-batu itu adalah beril dan permata lainnya. Dan dalam perjalanan satu malam itu mereka mencapai Bharukaccha.

(33)
Saat fajar tiba, mereka melihat dengan gembira kapal mereka penuh dengan harta karun:
perak, emas, safir, beril, dan pada saat yang sama mereka melihat bahwa mereka telah tiba di negara mereka;
dan bergembira dalam sukacita mereka memuji penyelamat mereka.

Dengan cara inilah mengucapkan kebenaran berlandaskan Dharma sudah cukup untuk menghilangkan bencana, apa yang bisa dikatakan lebih untuk menegaskan hasil yang baik dari menjalankan Dharma? Mengingat demikian, seseorang harus menaati Dharma.[Demikian pula, ketika berkhotbah atas bantuan seorang teman yang berbudi, dikatakan: “Dengan cara ini mereka yang bersandar pada seorang teman yang berbudi mencapai kebahagiaan.”]

[Kembali ke daftar isi]