Jātakamālā 16 – Vartakāpītakajātakam
(Kisah Anak Burung Puyuh)

Jātakamālā 16 – Vartakāpītakajātakam
( Kisah Anak Burung Puyuh )

Ditulis oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh:
J. S. Speyer

Suntingan Bahasa Inggris oleh:
Bhikkhu Anandajoti

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Garvin Goei


Bahkan api sekalipun tidak dapat menghancurkan kekuatan kata-kata yang dimurnikan dalam kebenaran. Dengan mengingat hal ini, seseorang hendaknya tergerak untuk mengucapkan kebenaran. Ini akan diajarkan sebagai berikut.

Pada suatu ketika, Sang Bodhisattva tinggal di sebuah bagian hutan sebagai seekor burung puyuh muda. Dia baru saja menetas dari telur beberapa malam sebelumnya dan tidak bisa terbang karena sayapnya yang lembut masih bertumbuh. Tubuhnya juga sangat kecil dan lemah, dengan beberapa anggota badan yang kecil sehingga hampir tidak terlihat. Dia tinggal bersama saudara-saudaranya di sarang yang dibangun oleh induknya dengan sangat hati-hati, yang mampu menahan air berkat lapisan rumput yang kuat. Sarang ini ditempatkan pada tanaman merambat di dalam semak belukar. Meskipun terlahir sebagai hewan, dia tidak kehilangan kesadarannya terhadap Dharma. Dia tidak akan memakan makhluk hidup yang diberikan oleh ayah dan ibunya kepada mereka. Secara khusus dia menyokong dirinya melalui makanan nabati yang dibawa oleh induknya seperti biji-bijian, buah ara dari pohon beringin, dan sebagainya. Sebagai akibat dari makanan yang kasar dan tidak mencukupi ini, tubuhnya tidak bertumbuh dan sayapnya tidak berkembang. Sebaliknya, burung puyuh muda lainnya yang memakan semua yang ditawarkan kepada mereka, tumbuh menjadi kuat dan memiliki sayap yang dewasa. Demikianlah aturan yang berlaku:

(1)
Dia yang tidak menghiraukan aturan-aturan Dharma akan memakan segala sesuatu dan akan berkembang dengan nyaman; tetapi mereka yang menghidupi diri sesuai dengan Dharma akan memilih makanannya dengan cermat dan menanggung kesukaran di kehidupan ini.

(2)
Sungguh mudah penghidupan burung gagak, binatang yang tidak tahu malu dan terbawa nafsu, yang melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Tetapi ini adalah kehidupan yang sangat salah.

(3)
Sedangkan makhluk yang rendah hati yang selalu mengejar kemurnian, yang tahu malu dan berhati-hati, dan yang mempertahankan dirinya hanya melalui cara hidup yang murni, memiliki penghidupan yang sulit.

Sementara mereka hidup seperti ini, kebakaran hutan besar terjadi di tempat yang tidak jauh dari mereka, dicirikan dengan suara besar yang tiada henti-hentinya, dengan munculnya awan asap yang mengepul, kemudian oleh percikan api yang terbang berserakan dari garis api. Kebakaran ini membuat para hewan ketakutan ― seolah menghantui hutan, merusak pepohonan dan semak belukar.

(4)
Api dibangkitkan oleh pusaran angin, yang seolah-olah mendorongnya untuk melakukan berbagai macam dan bentuk tarian, mengaduk-aduk lengan apinya yang merentang lebar, melompat menggoyangkan rambut asapnya yang berantakan dan berderak, menghilangkan keberanian dan kekuatan mereka (para hewan dan tumbuhan).

(5)
Ia melompat, seolah-olah sedang murka, ke atas rerumputan yang bergetar akibat sentuhan keras angin yang kencang, seolah-olah akan terbang; dan menginginkan mereka melalui percikannya yang berkilauan, membakar mereka.

(6)
Hutan itu, dengan gerombolan burung yang terbang menghambur dengan ketakutan dan kecemasan, dengan hewan berkaki empat yang ketakutan dan berkeliaran ke semua sisi, dengan asap tebal yang menyelimutinya, dan dengan suara derak api yang tajam, seolah-olah meraungkan kesakitan yang kuat.

Kobaran api itu, didorong ke depan seolah-olah ditekan oleh angin kencang, mengikuti rerumputan dan semak-semak, akhirnya mencapai sekitar sarang itu. Pada saat itu, burung-burung puyuh muda itu menjerit bingung dan ketakutan. Masing-masing memikirkan dirinya sendiri, bukan yang lain, dan tiba-tiba terbang secara bersama-sama. Hanya Bodhisattva, karena tubuhnya yang sangat lemah dan karena belum memiliki sayap, tidak melakukan upaya seperti itu. Namun Sang Mahāsattva mengetahui kekuatannya dan sama sekali tidak terganggu ketika api mendekat dengan cepat untuk melalap sarangnya, dia menyapanya dengan kata-kata yang lembut ini:

(7)
“Kakiku tidak cukup kuat untuk menyandang nama itu, demikian pula sayapku tidak bisa membuatku terbang. Kedua indukku juga telah terbang akibat gangguan yang disebabkan olehmu. Aku tidak menemukan apapun yang layak untuk ditawarkan kepada tamu sepertimu di sini. Untuk alasan inilah, engkau harus berbalik dari sini, wahai api.”

Ketika Sang Mahāsattva telah mengucapkan kata-kata ini, dimurnikan oleh kekuatan kebenaran,

(8)
Api itu, meskipun digerakkan oleh angin, meskipun mengamuk di bawah kayu kering yang bercampur dengan rerumputan gersang, tiba-tiba mereda, seolah-olah terhalang oleh sungai yang meluap setelah mendengar ucapannya.

(9)
Sampai hari ini, setiap kebakaran hutan yang mencapai tempat terkenal di Himalaya itu, betapapun tingginya nyala api, betapapun kuatnya angin, kebakaran itu akan mereda dan kehilangan kekuatannya seperti ular buas yang dipengaruhi oleh mantra.

Untuk alasan apa, kemudian, (kisah) ini dikemukakan? Ini akan dikatakan.

(10)
Bagai laut yang tidak dapat melampaui batasnya, atau bagai orang berbudi yang tidak dapat mengabaikan Dharma yang diajarkan oleh raja para Muni, demikian pula nyala api tidak dapat melanggar perintah orang-orang yang jujur. Mengetahui hal ini, seseorang hendaknya tidak meninggalkan kebenaran.

Maka, dengan cara inilah, bahkan api sekalipun tidak dapat kekuatan kata-kata yang dimurnikan dalam kebenaran. Mengingat hal ini, seseorang hendaknya tergerak untuk mengucapkan kebenaran.

[Kisah ini juga harus diceritakan, ketika berkhotbah tentang Sang Tathāgata.]

[Kembali ke daftar isi]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *