Borobudur

Jātakamālā 2 – Śibijātaka
(Kisah Raja Sibi)


Ditulis dalam Bahasa Sanskerta oleh:
Ācārya Āryaśūra

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris
ke dalam Bahasa Indonesia oleh:

Garvin Goei

Referensi terjemahan Bahasa Inggris:
J.S. Speyer
Clay Sanskrit Library


Dharma yang luhur ini harus disimak dengan penuh perhatian, karena melalui ratusan rintangan yang sulit Sang Bhagavā menemukan Dharma yang luar biasa ini demi kita. Inilah yang akan diajarkan melalui kisah berikut.

Saat sang guru masih merupakan seorang Bodhisattva, ia terlahir sebagai raja para Śibi, sebagai akibat dari akumulasi jasa kebajikan yang dikumpulkan melalui praktik dalam waktu yang sangat panjang. Sejak kecil ia sudah terbiasa menghormat kepada orang yang lebih tua dan terkendali dalam perilakunya, sehingga ia dicintai oleh rakyat-rakyatnya. Berkat kecerdasannya, ia mengembangkan batinnya dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Dia diunggulkan oleh kekuatan, kebijaksanaan, keagungan dan kekuasaannya, serta disenangi oleh keberuntungan. Dia memimpin rakyatnya seolah-olah mereka adalah anak-anaknya sendiri.

(1)
Kemuliaan yang terdiri dari tiga unsur (dharma, artha, dan kāma)
terlihat senantiasa menyertainya dengan gembira.
Ketiganya tidak kehilangan kemegahan mereka,
meskipun terdapat perbedaan di antara mereka.

(2)
Seperti ejekan bagi mereka yang besar dengan cara yang salah,
seperti malapetaka yang mengerikan bagi orang bodoh,
seperti minuman yang memabukkan bagi yang berpikiran lemah,
Demikianlah kejayaan yang ada di dalam dirinya, sesuai dengan namanya.

(3)
Berhati mulia, berwelas asih, dan bergelimang harta,
ialah raja yang terbaik,
yang bersukacita saat melihat wajah pengemis
berseri-seri dengan kegembiraan ketika mendapatkan   yang diinginkan.

Sang raja, sesuai dengan sifatnya yang senang memberi, membangun aula-aula derma di seluruh kota, dilengkapi dengan setiap jenis peralatan, barang, dan biji-bijian. Dengan cara ini dia mencurahkan hujan pemberiannya bagai awan Kṛta Yuga. Dia membagikannya dengan cara yang sedemikian rupa, sebagai wujud keagungan pikirannya, untuk memenuhi kebutuhan masing-masing sesuai dengan keinginannya, dengan rasa hormat yang indah dan kecepatan yang baik sehingga meningkatkan manfaat dari pemberiannya. Dia memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan makanan, memberikan minuman kepada mereka yang membutuhkan minuman; demikian pula dia membagikan tempat tidur, tempat duduk, tempat tinggal, makanan, wewangian, karangan bunga, perak, emas, dan sebagainya kepada mereka yang memintanya.

Kemurahan hati sang raja menyebar hingga ke luar negeri. Orang-orang yang berasal dari berbagai daerah dan belahan dunia pergi ke negara itu, dengan ketakjuban dan kegembiraan di hati mereka.

(4)
Para peminta, mengamati orang-orang yang lewat melalui pikiran mereka,
tidak menemukan kesempatan lain untuk mengajukan permintaan mereka
Demikianlah mereka masuk ke dalam kerumunan dengan wajah gembira,
bagai gajah liar yang masuk ke dalam danau besar.

Di sisi lain, ketika sang raja melihat mereka yang bergembira dengan harapan mendapatkan keuntungan berkumpul bersama dari segala arah, meskipun penampilan luar dari pengemis-pengemis itu sama sekali tidak menarik,

(5)
Sang raja tetap menerima mereka, dengan mata terbelalak gembira,
seolah-olah mereka adalah teman yang kembali dari negeri seberang.
Ia mendengarkan permintaan mereka seperti berita baik untuknya,
dan setelah memberi, hatinya merasa lebih puas dari pada para penerima.

(6)
Kemashyurannya atas kemurahan hatinya yang wang
disebarkan oleh suara para pengemis,
menghilangkan kebanggaan raja-raja lain,
Seperti aroma harum gajah menghilangkan bau nanah gajah lainnya.[1]

Suatu hari. saat raja sedang mengujungi aula derma, ia memperhatikan bahwa kerumunan pemohon sudah sangat berkurang, karena kebutuhan dari para pengemis sudah terpenuhi. Mempertimbangkan hal tersebut, ia merasa resah, karena kebiasaannya untuk memberi tidak dapat berjalan dengan baik.

(7)
Ketika menemui sang raja, dahaga keinginan para pemohon terpuaskan,
tetapi tidak dengan dahaga sang raja untuk memberi.
Begitu besar semangat sang raja untuk memberi,
sehingga tidak ada permintaan yang dapat mengalahkan tekadnya.

Kemudian pikiran ini muncul di dalam dirinya; “Oh, diberkatilah mereka yang terunggul di antara yang berbudi luhur, yang kepadanyalah para pengemis mengucapkan keinginan mereka dengan keyakinan dan tanpa pembatasan, bahkan meminta anggota tubuh mereka! Tetapi bagiku, mereka hanya berani meminta kekayaanku, seolah-olah mereka takut dengan kata-kata penolakan yang kasar.”

(8)
Menyadari pemikiran yang sangat luhur itu,
betapa kukuhnya ia untuk memberi, tidak melekati tubuhnya sendiri,
maka bumi pun bergetar,
bagaikan seorang wanita yang mencintai suaminya.

Permukaan bumi terguncang. Sumeru, penguasa pegunungan, bersinar dengan kilauan bermacam permata, juga ikut berguncang. Śakra, raja para dewa (Devendra), yang menyelidiki penyebab dari guncangan ini, menemukan bahwa pikiran luhur raja itulah yang menimbulkan getaran di permukaan bumi; dan saat dia terheran-heran, ia merenungi hal ini:

(9)
“Pemikiran apakah yang dipikul oleh raja ini,
sehingga batinnya penuh dengan kegembiraan dalam memberi?
Dia telah menetapkan batas kehendaknya untuk memberi,
dengan tekad yang kuat untuk berpisah dengan anggota tubuhnya sendiri?

Baiklah, aku akan mengujinya.”

Saat itu raja sedang dikelilingi oleh para pejabatnya, duduk (di singgasananya, di aula) di tengah-tengah majelis. Pengumuman telah digaungkan, mengundang siapa saja yang membutuhkan sesuatu; simpanan kekayaan, perak, emas, dan permata ditunjukkan oleh bendahara; kotak-kotak yang berisi berbagai jenis pakaian dibuka; berbagai kereta barang yang sangat bagus, yang pikulannya menutupi leher berbagai binatang penarik yang terlatih dengan baik, ditarik maju; dan para pengemis pun berkerumun masuk. Di antara mereka, Śakra, raja para dewa, telah menyamar sebagai seorang brāhmana tua dan buta, menarik perhatian raja. Sang raja tampil dengan tegas, tenang, dan lembut dengan penuh welas asih dan keramahan kepadanya, dan bersama pejabat-pejabatnya ia datang menemui brāhmana tua itu dan merangkulnya. Para pelayan kerajaan memintanya untuk mengatakan apa yang dia inginkan, tetapi iia mendekati sang raja, dan setelah mengucapkan salam dan berkat, berkata sebagai berikut:

(10)
“Aku, seorang tua yang buta, datang dari jauh
untuk memohon mata darimu, wahai raja tertinggi.
Untuk menjalankan aktivitas duniawi biasa,
satu mata sudah cukup, wahai penguasa bermata teratai.”

Meskipun Bodhisattva merasakan kegembiraan yang luar biasa saat keinginan hatinya terwujud, keraguan muncul di dalam dirinya. Apakah brāhmana benar-benar berkata demikian atau, pikirannya saja yang sedang membayangkannya karena sering memikirkannya. Karena ingin mendengar kata-kata permintaan mata yang sangat menyenangkan ini, dia kemudian berbicara kepada sang pemohon:

(11)
“Siapakah yang telah memerintahkanmu, wahai brāhmana agung,
untuk datang ke sini dan meminta satu mata dariku
Tak seorang pun akan dengan mudah berpisah dengan matanya
Siapakah yang berpikir bahwa ini tidak berlaku kepadaku?”

Śakra, raja para dewa yang menyamar sebagai seorang brāhmana, mengetahui maksud dari raja, dan menjawab:

(12)
“Śakra menyuruhku untuk meminta matamu,
sehingga membuatku datang ke sini.
Kabulkanlah penghargaannya beserta harapanku
dengan memberikan matamu.”

Mendengar nama Śakra, sang raja berpikir: “Tentunya, melalui kekuatan dewa, brāhmana ini akan mendapatkan kembali penglihatannya dengan cara ini,” dan dia berbicara dengan suara, jernih yang menunjukkan kegembiraannya:

(13)
“Brāhmana, aku akan memenuhi keinginanmu,
yang telah mendorongmu untuk datang ke sini.
Meski engkau menginginkan satu mata dariku,
aku akan memberikan keduanya!

(14)
Setelah aku menghiasi wajahmu dengan sepasang mata yang cerah bagai teratai,
pergilah, perlihatkan dirimu kepada orang-orang.
Mereka akan meragukanmu terlebih dahulu,
tetapi mereka akan merasa takjub ketika menyadarinya.”

Setelah memahami bahwa sang raja telah memutuskan untuk berpisah dengan matanya, para penasihat merasa bingung dan gelisah; kesedihan melanda pikiran mereka. Mereka berkata kepada sang raja:

(15)
Yang Mulia, kegemaran besar Anda dalam memberi
membuat Anda mengabaikan bahwa ini adalah salah dan merugikan.
Kami mohon, Yang Mulia, jangan lakukan ini.
Jangan merelakan penglihatan Anda!

(16)
Janganlah mengabaikan kami semua
demi satu brāhmana ini.
Jangan biarkan api kesedihan membakar rakyat-rakyatmu,
mereka yang telah engkau berikan kenyamanan dan kemakmuran.

(17)
Berikanlah kekayaan yang membawa keberuntungan,
seperti permata mulia, sapi perah,
kereta dengan hewan yang terlatih,
gajah yang kuat dengan keindahan anggun.

(18)
Berikanlah rumah yang nyaman untuk setiap musim,
bergema dengan suara gemerincing gelang kaki,
yang kecerahannnya melebihi awan musim gugur.
Tetapi jangan berikan penglihatanmu,
wahai engkau yang satu-satunya mata bagi dunia.

Selain itu, Baginda, Anda harus mempertimbangkan ini:

(19)
Bagaimana bisa mata seseorang
dipindahkan ke wajah orang lain?
Jika itu hanya bisa melalui kekuatan dewa,
mengapa harus matamu yang dibutuhkan?

Lagipula, Yang Mulia.

(20)
Mengapa pengemis malang ini membutuhkan mata?
Agar ia dapat melihat kemakmuran orang lain?
Kalau begitu, berilah ia uang,
mohon jangan bertindak gegabah!”

Kemudian raja menjawab para menterinya dengan lembut dan menenangkan

(21)
Ia yang memutuskan untuk tidak memberi
ketika telah berjanji untuk memberi,
sesungguhnya ia mengikatkan diri pada keserakahan
setelah melepaskan diri darinya.

(22)
Ia yang telah berjanji untuk memberi
tetapi tidak menepati janjinya
karena didorong oleh ketamakan,
bukankah ia adalah yang paling buruk?

(23)
Ia yang telah menguatkan harapan para pengemis
dengan berjanji untuk memberi,
tetapi mengecewakan mereka dengan melanggar janji,
sungguh tidak ada pemaafan baginya.

Dan sehubungan dengan pernyataanmu tentang ‘apakah kekuatan dewa itu sendiri tidak cukup untuk memulihkan penglihatan orang itu?’ Kalian harus diajarkan tentang hal ini.

(24)
Ada berbagai cara yang berbeda
untuk mencapai tujuan.
Demikian pula bahkan takdir (vidhi), meski dewa sekalipun
membutuhkan berbagai cara yang berbeda.

Oleh karena itu, hendaknya kalian tidak menghalangi tekadku untuk melekukan pemberian yang luar biasa.”

Para menteri menjawab: “Kami hanya memberanikan diri untuk memberi saran kepada Yang Mulia untuk memberikan barang, biji-bijian dan perhiasan, bukan mata Anda; ketika mengatakan ini, kami tidak membujuk Yang Mulia untuk melakukan kejahatan.”

Raja berkata:

(25)
“Hal yang diminta harus diberikan.
Hadiah yang tidak diharapkan tidak memberi kesenangan.
Apa gunanya air bagi seseorang yang terbawa oleh arus?
Maka itu, aku akan memberikan barang yang diminta oleh orang ini.

Setelah ini, perdana menteri yang lebih lebih dekat dengan raja, datang menghadap karena perhatiannya dan rasa hormatnya kepada raja, kemudian berbicara sebagai berikut: “Kumohon, jangan lakukan.

(26)
Anda sedang menggenggam kerajaan ini,
yang bersaing dengan kekayaan Śakra,
yang tidak dapat diperoleh tanpa kerja keras dan meditasi dalam jumlah besar,
membutuhkan berlapis-lapis pengorbanan untuk mencapainya,
membuka jalan menuju kemuliaan dan alam surga.
Tetapi Anda tidak memedulikannya dan hendak memberikan kedua mata Anda!
Apa tujuan dari tindakan ini? Dari mana asal mulanya?

(27)
Melalui pengorbananmu, Anda telah mendapatkan tempat di antara para dewa,
ketenaranmu bersinar jauh dan luas ke segala arah.
Kakimu mencerminkan kemegahan mahkota para raja.
Maka apa lagi yang Anda inginkan dengan menyerahkan penghilatanmu?”

Tapi raja menjawab menteri itu dengan nada lembut:

(28)
“Aku berjuang bukan demi seluruh alam di dunia,
juga bukan demi surga, kebebasan, atau pun kemuliaan.
Dengan maksud untuk menjadi penyelamat dunialah
aku mengupayakan agar jerih payah permohonan pria ini dapat membuahkan hasil.”

Kemudian raja memerintahkan agar salah satu matanya, cahaya indah yang tampak seperti kelopak bunga teratai biru, untuk diambil melalui petunjuk para tabib secara bertahap dan utuh, dan dengan kegembiraan terbesar dia menyerahkannya kepada pemohon yang memintanya. Lalu Śakra, penguasa para dewa, dengan kesaktiannya menciptakan ilusi yang sedemikian rupa sehingga raja dan para pengiringnya melihat mata itu memenuhi lubang mata sang brāhmana tua. Ketika raja melihat si peminta mata memiliki satu mata yang tidak tertutup, hatinya melapang dengan sangat gembira, dan dia memberinya mata yang satunya lagi.

(29)
Setelah mata diberikan, raut wajah sang raja
tampak seperti kolam teratai tanpa bunga teratai,
namun menunjukkan kepuasan, meskipun tidak dimiliki oleh para rakyat.
Di sisi lain, sang brāhmana terlihat dengan mata yang utuh.

(30)
Di seluruh istana maupun di kota,
air mata kesedihan membasahi tanah.
Tetapi Śakra tersentuh dengan rasa kagum dan puas,
melihat niat baik raja yang tidak tergoyahkan untuk mencapai pencerahan sempurna (Sambodhi).

Dan dalam tataran batin ini ia merenungi:

(31)
“Betapa teguhnya! Betapa bajiknya!
Betapa ia ingin memberi manfaat bagi para makhluk!
Meskipun aku telah melihatnya sendiri,
aku hampir tidak dapat mempercayai ini telah terjadi!

Maka, tidaklah benar bahwa orang yang memiliki kebaikan yang luar biasa ini harus menanggung kesulitan yang luar biasa dalam waktu yang panjang. Aku akan mencoba memunculkan penglihatannya kembali dengan cara tertentu.”

Setelah itu, ketika waktu telah menyembuhkan luka-luka yang disebabkan oleh operasi, dan telah mengurangi dan hampir meredakan kesedihan para penghuni istana, kota, dan desa; pada suatu hari sang raja berkeinginan untuk bertapa sendirian, sedang duduk bersila di tamannya di tepi kolam teratai. Tempat itu dipenuhi oleh pepohonan yang indah dan halus yang membungkuk karena beban bunganya; kawanan lebah bersenandung; angin sepoi-sepoi, segar, dan harum bertiup dengan nyaman. Tiba-tiba Śakra, raja para dewa menampakkan dirinya di hadapan raja. Ketika ditanya siapakah ia, dia menjawab:

(32a)
Aku adalah Śakra, raja para dewa,
aku datang untuk menemuimu.

Setelah itu raja menyambutnya dan berkata bahwa dia menunggu perintahnya. Setelah disambut dengan seperti itu, ia kembali berbicara kepada raja:

(32b)
“Pilihlah satu anugerah, wahai raja bijaksana (rājarṣi);
sebutkanlah apa yang engkau inginkan.”

Raja sudah terbiasa memberi dan tidak pernah menapaki jalan meminta-minta yang menyedihkan. Sesuai dengan rasa takjubnya dan pikirannya yang luhur, sang raja berkata kepadanya:

(33)
Kekaayaanku melimpah, wahai Śakra,
pasukanku besar dan kuat.
Tetapi kebutaanku, membuatku
hanya tertarik dengan kematian saat ini.

(34)
Tidak mampu melihat wajah para peminta
yang berseri oleh kesenangan dan keceriaan
ketika harapan-harapan mereka terpenuhi,
kini aku hanya menyenangi kematian, wahai Indra.

Śakra berkata: “Cukup dengan keteguhan hati seperti itu! Hanya orang berbudi luhur yang dapat mencapai keadaan sepertimu. Tetapi ini yang harus engkau katakan kepadaku;

(35)
Para pengemislah yang menyebabkanmu berada dalam kondisi ini,
bagaimana mungkin pikiranmu masih sibuk memikirkan mereka?
Katakan kepadaku! Jangan menyembunyikan kebenaran dariku,
dan engkau dapat segera mengambil cara untuk penyembuhanmu.”[2]

Raja menjawab: “Mengapa engkau bersikeras untuk membuat diriku bangga? Namun dengarkanlah, wahai raja para dewa:

(36)
Seyakin permohonan dari para pengemis,
baik itu di masa lalu maupun saat ini
yang terdengar menyenangkan bagiku sebagai berkah,
semoga salah satu mataku muncul di hadapanku!”

Tidak lama setelah raja mengucapkan kata-kata itu, dengan kekuatan kejujurannya yang teguh dan kumpulan tindakan baiknya yang luar biasa, sebuah mata muncul di hadapannya, menyerupai kelopak bunga teratai, yang meliputi pupil bagai batu safir. Bersukacita melihat kemunculan matanya yang ajaib ini, sang raja berbicara kepada Śakra sekali lagi:

(37)
“Dan seyakin, setelah memberikan kedua mata
kepada ia yang hanya meminta satu,
batinku tidak merasakan hal lain selain kegembiraan penuh,
semoga aku juga mendapatkan mata yang kedua!”

Raja baru saja selesai mengucapkannya, di hadapannya muncul satu mata yang lain, seolah-olah itu adalah sandingan dari mata yang pertama.

(38)
Bumi dan gunung-gunung berguncang,
lautan mengalir melewati perbatasan pantainya.
Genderang surgawi berbunyi,
dengan suara yang dalam dan menyenangkan.

(39)
Segala penjuru langit tampak tenang dan indah.
Matahari bersinar semurni cahaya musim gugur.
Berbagai macam bunga jatuh dari surga,
diwarnai oleh bubuk cendana.

(40)
Para makhluk surgawi, termasuk para apsarasa dan gaṇa,
datang berkumpul dengan mata yang terbelalak takjub.
Angin bertiup sepoi-sepoi dengan menyenangkan.
Kegembiraan berkembang di batin setiap makhluk.

(41)
Suara pujian terdengar di segala arah,
diucapkan para makhluk sakti melalui kekuatannya.
Penuh dengan kegembiraan dan kekaguman,
mereka mengagungkan perbuatan mulia sang raja:

(42)
“Betapa mulianya! Betapa ia berwelas asih!
Lihatlah kemurnian hatinya!
Betapa ia tidak peduli dengan kesenangannya sendiri!
Terpujilah engkau, yang unggul oleh keteguhan dan keberanianmu!

(43)
Dunia telah memeroleh kembali dirimu sebagai pelindungnya!
Kilau mata terataimu telah terbuka sekali lagi!
Sesungguhnya, simpanan jasa kebajikan adalah harta yang kokoh!
Sungguh, kebajikan telah memperoleh kemenangan yang besar!”

Kemudian Śakra memberikan tepuk tangan padanya, “Sangat baik, sangat baik!” dan berucap lagi:

(44)
“Kemurnian batinmu yang sesungguhnya
diketahui olehku, yang mulia.
Oleh karena itu, wahai raja,
aku telah mengembalikan matamu.”

(45)
Melalui mata ini,
engkau akan memiliki kekuatan tanpa hambatan
untuk melihat lebih dari seratus yojana ke segala arah,
bahkan menembus pegunungan yang menghalangi.

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Śakra menghilang dari tempat itu.

Kemudian, Sang Bodhisattva, diikuti oleh para pejabatnya,[3] yang matanya terbuka lebar dan hampir tidak berkedip karena rasa heran yang memenuhi pikiran mereka, naik ke dalam arak-arakan menuju ibukota. Kota itu menampilkan pakaian festival, dihiasi dengan bendera yang dikibarkan dan berbagai spanduk, warga melihat-lihat dan para brāhmana memuji raja dengan salam dan doa. Ketika ia telah duduk di ruang pertemuan, di tengah-tengah kerumunan besar, yang pertama-tama terdiri dari para menteri, para brāhmana dan para tetua, para penduduk kota dan desa, yang semuanya telah datang untuk mengungkapkan ucapan selamat mereka yang penuh hormat: ia mengkhotbahkan Dharma kepada mereka, mengambil isinya berdasarkan pengalamannya sendiri.

(46)
“Siapakah di dunia ini yang akan lamban
dalam memuaskan keinginan pengemis dengan kekayaannya,
setelah melihat aku memperoleh mataku ini melalui kekuatan surgawi,
sebagai akibat dari jasa kebajikanku dalam memberi?

(47)
Aku dapat melihat ke segala arah
dalam keliling seratus yojana
meskipun tersembunyi di balik gunung,
sejelas seolah-olah itu dekat.

(48)
Apa cara yang lebih unggul untuk mencapai kemakmuran,
selain memberi dengan welas asih dan kerendahan hati?
Setelah aku merelakan penglihatan duniawi,
aku menerima penglihatan surgawi.

(49)
Mengetahui ini, para Śibi, buatlah kekayaanmu berbuah
dengan melakukan pemberian dan melepaskannya.[4]
Inilah jalan menuju kemuliaan dan kebahagiaan
baik dalam kehidupan ini maupun berikutnya.

(50)
Kekayaan adalah sesuatu yang rendah dan tidak bermakna.
Kekayaan menjadi bermakna ketika diberikan untuk kesejahteraan para makhluk.
Ketika diberikan, kekayaan menjadi harta karun (nidhāna),
ketika tidak diberikan, tujuan akhirnya hanyalah kehancuran (nidhana).”

Demikianlah, melalui ratusan kesulitan yang sulit itulah Sang Bhagavā memperoleh Dharma yang luhur ini demi kita; karena alasan inilah khotbahnya harus didengar dengan penuh perhatian.

Seseorang harus menceritakan kisah ini ketika sedang mendiskusikan keluhuran batin Sang Tathagata, seperti kisah yang telah disebutkan sebelumnya.[5]

Begitu pula ketika sedang mendiskusikan welas asih, dan ketika menunjukkan hasil dari perbuatan baik yang telah muncul pada kehidupan ini, berkata: “Dengan cara inilah, jasa kebajikan yang telah dikumpulkan melalui perbuatan-perbuatan baik, menunjukkan kekuatannya di kehidupan ini, laksana mekarnya bunga yang pesonanya meningkatkan kemuliaan.”


[1] Dalam bahasa aslinya perumpamaan ini diekspresikan oleh figur retoris, yang disebut ślea.

[2] Cara ini adalah Tindakan Kebenaran, sebagaimana dalam Hardy, Manual of Buddhism, 197 menyebutnya. Dalam Jātaka Pāli, Sakka menghasut raja untuk itu secara sederhana. Contoh lain dari saccakiriyā, seperti yang ditata dalam Pāḷi, akan muncul dalam Cerita 14, 15, 16.

[3] Kemunculan para pejabat dan menteri yang tiba-tiba agak aneh di sini. Jātaka Pāli dapat menjelaskannya. ‘Pada saat yang sama, dikatakan di sana (4, hlm. 411) bahwa saat [mata] muncul kembali, seluruh pengikut raja (sabbā rājaparisā) hadir melalui kekuatan Sakka.’

[4]      Inti dari petunjuk kerajaan ini mungkin diilustrasikan oleh bagian-bagian yang sesuai dari narasi di Pāli Jātaka. Petunjuk di sana diberikan dua kali, dalam prosa dan dalam sajak, lihat Jataka terjemahan versi Fausböll buku IV, hal. 41, 22, dan hal. 412, 7.

[5] Yaitu kisah harimau betina.

[Kembali ke daftar isi]

Kisah tentang Maitribala (Kisah Relief Jatakamala 8)

Kisah tentang Maitribala
(Kisah Relief Jatakamala 8)

Ringkasan:

Maitribala adalah seorang raja yang memerintah dengan cinta kasih. Suatu hari, lima yaksa ingin mencelakai orang-orang di negara tersebut, tetapi gagal karena kekuatan cinta kasih Maitribala yang melindungi rakyat-rakyatnya. Merasa dendam, mereka menyamar menjadi brahmana, mendatangi Maitribala dan meminta makanan. Saat Maitribala menyajikan makanan kerajaan, mereka menolaknya. Mereka kemudian menampilkan wujud asli mereka sebagai yaksa dan meminta darah dan daging sebagai santapan. Raja yang menyadari ini justru merasa kasihan dengan mereka, karena makanan mereka yang begitu sulit untuk diperoleh. Ia kemudian memberikan darah dan dagingnya untuk mereka santap. Melihat hal ini, kelima yaksa itu merasa tersentuh. Mereka kemudian menyesali tindakan mereka dan meminta petunjuk dari sang raja. Maitribala kemudian mengajarkan mereka aturan dasar moralitas (tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berucap salah, dan tidak meminum minuman keras). Para yaksa berjanji akan mematuhinya.


8.1. Sekelompok yaksa bertemu dengan seorang penggembala

Pada suatu ketika hiduplah seorang raja yang bernama Maitribala. Sesuai dengan namanya (maitri = cinta kasih), sang raja sangat mencintai rajanya. Baginya, kesusahan rakyatya adalah kesusahannya juga; sehingga ia selalu berupaya untuk melindungi rakyat-rakyatnya dari segala bentuk mara bahaya. Ia memerintah dengan penuh bijaksana, menerapkan hukuman dan penghargaan tanpa melanggar aturan Dharma.

Pada suatu hari, datanglah lima yaksa yang diusir dari tempat asal mereka. Yaksa ini melihat bahwa kerajaan tersebut sangat makmur dan rakyat-rakyatnya sangat bahagia. Munculah keinginan dari dalam diri mereka untuk mencelakai rakyat di kerajaan itu dengan menyebabkan penyakit. Namun, berkat perlindungan dari kekuatan kebajikan sang raja, seberapa kerasnya mereka berusaha, mereka tidak berhasil mengusik kesehatan para rakyat di negara itu.

Melihat usaha mereka gagal, mereka mencari upaya lain. Mereka menyamar menjadi brahmana dan berkeliling di sekitar kerajaan itu, yang akhirnya bertemu dengan seorang penggembala. Meniru suara manusia, kelima yaksa itu bertanya kepada sang penggembala, : “Wahai teman yang sedang bertugas menjaga sapi, apakah engkau tidak takut tinggal sendirian di hutan yang sepi ini, di mana tidak ada manusia lain yang terlihat?”

Penggembala itu menjawab, “Hal apa yang harus aku takuti?”

“Apakah kamu belum pernah mendengar bahwa makhluk seperti para Yakṣa, Rākṣasa, atau Piśāca itu berwatak kejam?” jawab yaksa.

Penggembala itu kemudian menjawab bahwa orang-orang di kerajaan tersebut dilindungi oleh seorang raja yang sangat bajik dan bijaksana, sehingga mereka tidak dapat dicelakai oleh siapa pun termasuk para yaksa. Oleh karena itulah, ia tidak takut berada sendirian di hutan belantara pada malam hari.

Para yaksa yang mendengar jawaban ini menjadi sangat merasa penasaran dan mendesak penggembala itu untuk menceritakan lebih detil mengenai raja pelindung mereka yang sangat kuat itu.

Penggembala itu kemudian menjawab dengan keheranan,

“Begitu terkenalnya kekuatan raja kami, tetapi kalian belum pernah mendengarnya! Bagaimana ini bisa terjadi? Atau pernahkah kalian mendengarnya, tetapi tidak mempercayai keajaiban besar dari ketenaran itu, dan tidak mempermasalahkannya?


Aku menduga orang-orang di negeri tempat asal kalian datang ke sini karena enggan mencari kebajikan atau merasa acuh tak acuh tentangnya; Mungkin juga, simpanan jasa bajik mereka sudah habis , sehingga kemasyhuran raja kami telah menghindari mereka.

Raja kami telah memperoleh kekuatan ini melalui pikirannya yang tinggi. Lihatlah, wahai Brāhmana yang mulia. Kekuatannya terletak pada cinta kasih, bukan pada pasukannya yang beraneka ragam, yang dia pertahankan hanya untuk mematuhi tradisi. Dia tidak mengenal amarah, juga tidak mengucapkan kata-kata kasar. Dia melindungi tanahnya dengan cara yang tepat. Kebenaran adalah pengatur tindakannya, bukan pengetahuan berpolitik yang merupakan ilmu dasar itu. Kekayaannya berfungsi untuk menghormati yang bajik. Meski diberkahi dengan kualitas-kualitas yang luar biasa itu, tetap saja dia tidak mengambil kekayaan dari orang jahat bagi dirinya sendiri, juga tidak bersikap angkuh.”

8.2. Para yaksa mencari sang raja

Setelah mendengar penjelasan itu, para yaksa menjadi sangat marah kepada raja karena telah menghalangi tugas mereka untuk membuat sakit para rakyat. Oleh karena itu, mereka kemudian mendatangi sang raja dan meminta makanan. Raja yang memang senang membantu orang dan menjamu tamunya, bersukacita dan segera meminta para petugasnya untuk menjamu mereka dengan makanan terbaik. Tetapi kelima yaksa (yang sedang menyamar menjadi brahmana) itu menolaknya, tidak memakannya sama sekali. Hal ini membuat sang raja bertanya-tanya, “Jenis makanan apa yang cocok dengan pencernaanmu, sehingga bisa diambilkan?”

Pertanyaan itu mereka jawab, “Daging manusia mentah, yang baru dipotong dan masih hangat, beserta darah manusia, oh raja bermata teratai, adalah makanan dan minuman para yakṣa, wahai engkau yang taat dalam menepati janjimu.”

Setelah mereka menjawab pertanyaan tersebut, mereka segera menampilkan wujud asli mereka yang seram dan menakutkan, dengan gigi-gigi tajam dan mata yang berwarna merah menyala. Sang raja segera menyadari bahwa mereka adalah yaksa, bukanlah manusia, dan oleh sebab itulah mereka tidak menyukai makanan yang ia tawarkan kepada mereka.

8.3. Maitribala dan istrinya menerima kedatangan yaksa yang menyamar

Namun sang raja tidak merasa takut, ia justru merasa kasihan melihat mereka yang kelaparan ini. Ia berpikir bahwa betapa menderitanya para yaksa ini yang harus hidup dengan menyantap daging dan darah manusia, yang begitu sulit untuk diperoleh. Jika tidak mendapatkan daging dan darah, mereka akan mati kelaparan; tetapi jika ingin mendapatkannya, mereka harus menyakiti orang lain, yang justru hanya menambah perbuatan buruk mereka sehingga mereka tidak dapat mengakhiri penderitaan.

Sang raja kemudian menjawab, “Jika daging dan darah ini, yang aku tanggung hanya untuk kebaikan makhluk hidup sekarang dibuang dengan tujuan untuk menjamu para tamu, aku akan menganggap ini sebagai keberuntungan bagi diriku sendiri dengan manfaat yang besar.”

Para yaksa terkejut mendengar jawaban itu karena di luar ekspektasi mereka.

Raja kemudian memerintahkan para tabibnya untuk datang dan mengambil darahnya untuk diberikan kepada para yaksa itu. Menteri kerajaan yang mendengar ini segera mencegah sang raja menyakiti dirinya sendiri, tetapi raja sudah bertekad akan menjamu kelima yaksa itu dengan darah dan dagingnya. Raja pun menjawab,

“Diminta dengan cara yang jelas, bagaimana mungkin orang sepertiku berucap bohong dengan berkata tidak memiliki, ketika sedang memiliki, atau aku tidak akan memberi? Aku telah menjadi pemimpin kalian dalam hal kebenaran. Jika aku sendiri berjalan di jalan yang salah, bagaimana dengan kondisi rakyat-rakyatku, yang siap mengikuti teladan tingkah lakuku?”

Setelah berhasil menenangkan para menteri, raja pun memerintah para tabib untuk mengambil darahnya, kemudian ia memberikannya kepada para yaksa.

Yaksa-yaksa itu mengiyakan dan mulai meminum darah sang raja. Namun sementara para yaksa itu memuaskan dahaga mereka terhadap darah manusia, tubuh sang raja tiba-tiba bersinar terang. Darahnya mengalir seolah tidak bisa habis, membuat para yaksa kekenyangan dan meminta raja untuk berhenti menghidangkan darah lagi bagi mereka.

Raja yang sudah bertekad akan memuaskan lapar dan dahaga mereka, mengambil sebilah pedang yang tajam. Dengan pedang itu, ia memotong dagingnya sendiri dan memberikannya kepada para yaksa. Meski terlihat mengerikan, tetapi sesungguhnya sang raja tidak merasa sakit sama sekali, karena ia merasa sangat bergembira untuk memberi.

Kelima yaksa yang melihat ketenangan sang raja, meski darah dan dagingnya telah diambil, menjadi sangat kagum. Sifat jahat mereka pun melunak dan menghormat kepada raja,

Oh, ini sungguh sesuatu yang menakjubkan! Oh, sungguh sebuah keajaiban! Apakah ini benar atau mungkin hanyalah sebuah khayalan? Jangan lagi melukai tubuhmu sendiri! Tindakanmu yang luar biasa ini, yang dengannya Anda memenangkan hati semua fakir miskin, telah memuaskan kami.”

Mereka menundukkan kepala, meminta raja untuk berhenti. Air mata keluar dari mata mereka dan hati mereka dipenuhi oleh rasa sesal, kemudian berkata,

“Pantaslah orang-orang terdorong oleh ketaatan untuk menyatakan kemuliaan Anda di mana-mana. Śrī yang pantas, memandang rendah kolam teratai, senang tinggal bersamamu. Sungguh, jika surga, meskipun dilindungi oleh kekuasaan Śakra, tidak merasakan sesuatu seperti kecemburuan ketika memandang ke bumi ini, dijaga oleh kepahlawanan Anda – Surga, bagaimanapun juga, sungguh tertipu.

Apa lagi yang bisa kami ucapkan? Umat manusia merasa bahagia, sungguh, berada di bawah perlindungan orang seperti engkau; tetapi kami, kami benar-benar tertekan karena telah menyebabkan penderitaan kepadamu. Namun, kami berharap bahwa melalui makhluk sepertimu, dapat menjadi sarana keselamatan bagi kami, kami yang kejam seperti ini. Dengan harapan tersebut, kami mengajukan pertanyaan ini kepadamu.

Tingkatan luar biasa apa yang Anda miliki, sehingga bertindak dengan cara ini tanpa memperhatikan kebahagiaanmu sebagai raja?”

Sang raja kemudian menjawab,

“Pangkat tinggi yang termasyhur bergantung pada keberadaan, diperoleh dengan usaha, dan dapat dengan mudah hilang. Hal itu tidak bisa memberikan kesenangan dari kepuasan, apalagi ketenangan pikiran. Untuk alasan ini, aku tidak menginginkan kecemerlangan dari raja para dewa, apalagi sebagai seorang raja di bumi. Hatiku juga tidak akan puas, jika aku berhasil menghancurkan penderitaan diriku sendiri.

Aku lebih menganggap makhluk-makhluk tak berdaya itu, yang tertekan oleh perangkap dan penderitaan akibat bencana dan kejahatan yang kejam yang merupakan tanggungan mereka. Demi mereka, semoga aku melalui tindakan berjasa ini dapat mencapai pengetahuan tertinggi, dan mengalahkan hawa nafsu, musuh-musuhku. Semoga aku menyelamatkan makhluk-makhluk dari samudra kelahiran kembali, lautan ganas dengan ombak penuaan, penyakit, dan kematian!”

8.4. Kelima yaksa meminta maaf dan petunjuk dari Maitribala

Mendengar hal ini, kelima yaksa tersebut merasa merinding. Mereka kemudian membungkuk kepada raja dan meminta maaf atas perbuatan buruk yang telah mereka lakukan, kemudian meminta perintah dari sang raja agar dapat mereka ikuti.

Raja kemudian menjawab,

“Jika kalian sekarang berniat untuk melakukan apa yang mungkin menyenangkan bagiku, kalian harus menghindari perbuatan-perbuatan buruk yang bagai racun ini: menyakiti orang lain, mengingini barang atau istri orang lain, berucap tidak benar, dan minum-minuman keras yang memabukkan.”

Para yaksa kemudian berjanji untuk melakukan perintahnya. Setelah membungkuk memberi hormat, mereka menghilang di tempat.

Dan setelah itu, dewa Sakra muncul karena tersentuh dengan tindakan sang raja. Dengan kesaktiannya, ia menyembuhkan luka-luka Maitribala.

Demikianlah Maitribala menaklukkan musuh-musuhnya dengan kekuatan cinta kasih.

Jika daging dan darah ini, yang aku tanggung hanya untuk kebaikan makhluk hidup sekarang dibuang dengan tujuan untuk menjamu para tamu, aku akan menganggap ini sebagai keberuntungan bagi diriku sendiri dengan manfaat yang besar.

Diminta dengan cara yang jelas, bagaimana mungkin orang sepertiku berucap bohong dengan berkata tidak memiliki, ketika sedang memiliki, atau aku tidak akan memberi?

Aku telah menjadi pemimpin kalian dalam hal kebenaran. Jika aku sendiri berjalan di jalan yang salah, bagaimana dengan kondisi rakyat-rakyatku, yang siap mengikuti teladan tingkah lakuku?

Sekarang mempertimbangkan tubuhku yang lemah ini dan bahwa itu adalah tempat tinggal kesengsaraan, kupikir adalah hal yang buruk untuk bersikap ragu-ragu pada saat kemunculan pengemis yang tidak biasa seperti itu; sedangkan rasa cinta diri yang menyedihkan akan berada di sini dalam kegelapan yang paling dalam.

Dan jika kalian sekarang berniat untuk melakukan apa yang mungkin menyenangkan bagiku, kalian harus menghindari perbuatan-perbuatan buruk yang bagai racun ini: menyakiti orang lain, mengingini barang atau istri orang lain, berucap tidak benar, dan minum-minuman keras yang memabukkan.”

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah tentang Agastya (Kisah Relief Jatakamala 7)

Kisah tentang Agastya
(Kisah Relief Jatakamala 7)

Ringkasan:

Agastya, pemuda brahmana yang termashyur dan kaya raya, melepaskan seluruh harta bendanya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mengasingkan diri ke sebuah pulau untuk menjadi seorang pertapa. Sakra yang melihat kemuliaan praktik tapa ini hendak mengujinya dengan menghilangkan akar-akaran, buah-buahan, dan dedaunan yang menjadi makanan Agastya. Namun Agastya sama sekali tidak terpengaruh oleh kehilangan tersebut dan hanya menyantap daun kering yang direbus. Sakra kemudian menemuinya dalam wujud dewa, dan menawarkan enam permintaan. Agastya meminta agar ia terbebas dari keserakahan dan kebencian, diajuhkan dari orang-orang bodoh, dan didekatkan dengan orang bijak. Pada permintaan keenam, Agastya meminta agar Sakra tidak muncul lagi di hadapannya dalam wujud megah.


7.1. Bodhisattva terlahir sebagai pemuda brahmana bernama Agastya

Pada suatu ketika hiduplah seorang pemuda dari keluarga brahmana yang terpandang, sehingga ia berkesempatan untuk mempelajari Veda dan mendapatkan berbagai ritual pemberkatan. Tindak tanduknya sangat baik, ia bermurah hati kepada orang-orang dan menghormati mereka yang perlu dihormati. Pemuda itu bernama Agastya.

Meski terlahir dari keluarga terpandang dan mendapatkan penghormatan yang tinggi, ia memahami bahwa kehidupan perumah tangga bukanlah kehidupan yang ideal. Kehidupan perumah tangga mewajibkannya untuk mengumpulkan kekayaan dan menjaganya, serta kadangkala upaya untuk mengumpulkan kekayaan harus disertai dengan usaha yang salah. Mengetahui adanya potensi keburukan dari kehidupan perumah tangga, ia mulai memikirkan kehidupan tanpa rumah sebagai seorang pertapa.

Pertama-tama ia membuang kekayaannya yang melimpah, melepaskannya seolah itu hanyalah jerami. Ia membagikannya kepada yang membutuhkan, dan setelah itu ia pergi ke pulau Kara dan bertekad untuk hidup menyendiri. Di sana ia menjalankan praktik tapa dan bertahan hidup melalui akar dan buah-buahan yang ia kumpulkan.

Sakra, raja para dewa, mendapat kabar mengenai kemuliaan pertapaannya dan ingin membuktikan keteguhan hatinya. Melalui kesaktiannya, Sakra melenyapkan semua akar dan buah yang biasa disantap oleh pertapa di pulau itu. Bodhisattva, yang terserap ke dalam meditasi dan mampu berpuas hati, sama sekali tidak terusik dengan lenyapnya sumber makanan itu. Ia menata dedaunan di atas api, menjadikannya santapan dan berpuas hati untuk itu, juga sama sekali tidak memikirkan makanan yang lebih baik.

Raja Sakra menjadi terheran-heran dengan Agastya yang sama sekali tidak goyah oleh lenyapnya makanan. Kemudian, ia melenyapkan semua pohon, semak-semak, dan rerumputan yang ada di tempat itu sehingga Agastya tidak dapat menyantap dedaunan. Agastya, lagi-lagi, sama sekali tidak terusik oleh hal itu. Ia memungut daun-daun kering yang sudah gugur, merebusnya dalam air dan menjadikannya makanan tanpa merasa tidak nyaman sama sekali.

7.2. Agastya bersiap melakukan persembahan / pemberian

Sakra yang merasa semakin kagum berniat untuk mengujinya lebih jauh. Ia kini turun ke bumi, menyamar sebagai seorang tamu yang hendak menemui sang pertapa. Agastya menyambutnya dengan sangat baik, menunjukkan keramahtamahan dan menjamunya dengan daun rebus yang ia miliki. Semua dilakukan oleh Agastya dengan hati yang puas.

Demikianlah Sakra muncul kembali pada hari esok hingga hari kelima, dan setiap hari pula pertapa itu menjamu Sakra dengan daun rebus yang ia miliki dengan hati yang gembira.

Sakra yang melihat semua ini menyadari kekuatan pertapaan Agastya yang luar biasa, dan jika Agastya mau menggunakan kekuatannya, ia bisa memiliki alam para dewa yang saat ini dimiliki oleh Sakra. Maka Sakra mulai merasa takut dan gelisah. Ia kemudian muncul di depan Agastya dalam wujud seorang dewa, dan bertanya:

“Katakanlah, apa harapanmu, sehingga mereka dapat mendorongmu untuk meninggalkan sanak-saudara yang engkau cintai, yang meneteskan air mata saat kepergianmu, rumah tangga dan harta benda yang telah menjadi sumber kebahagiaan bagimu, dan mengambil jalan pertapaan yang berat ini?”

Agastya kemudian menjawab,

“Kelahiran yang berulang cenderung sangat menyedihkan; begitu pula usia tua dan penyakit yang membawa malapetaka, wabah yang menyedihkan itu; dan keharusan untuk mati adalah gangguan pada pikiran. Dari keburukan-keburukan itu aku bertekad untuk menyelamatkan makhluk-makhluk itu.”

Sakra yang mendengar ini menjadi semakin kagum dan hormat kepada Agastya, kemudian menawarkan permintaan untuk dikabulkan. Namun Agastya sudah tidak memikirkan kesenangan duniawi sama sekali dan berpikir bahwa meminta sesuatu tidaklah sesuai dengan kehidupan pertapaannya, oleh karena itu ia menjawab:

“Jika engkau ingin memberiku anugerah, itu mungkin menyenangkanku, aku meminta anugerah ini kepada para dewa yang paling utama: Semoga api ketamakan, yang setelah mendapatkan istri tercinta, anak-anak, kekuasaan, kekayaan yang lebih melimpah dari yang didambakan, masih terus memanaskan pikiran manusia untuk tidak pernah puas ― semoga api itu tidak pernah memasuki hatiku!”

Demikianlah Agastya menunjukkan kepuasan hatinya dan membuat Sakra memujinya. Lalu, untuk kedua kalinya, Sakra meminta Agastya untuk mengajukan permintaan,

“Muni, juga untuk kebenaran dan kalimat yang diucapkan dengan baik ini, aku dengan senang hati menawarkanmu imbalan dari anugerah yang kedua.”

Agastya kembali menjawab,

“Semoga api kebencian, yang menundukkan para makhluk yang kehilangan kekayaan, kehilangan kasta dan reputasi yang baik, seolah-olah mereka dikalahkan oleh serangan yang bermusuhan ― semoga api itu jauh dariku!”

Sakra kembali memuji Agastya atas ucapan tersebut, dan untuk ketiga kalinya meminta kembali agar Agastya mau mengajukan permintaan kepadanya.

Namun kali ini Agastya menjawab bahwa orang-orang yang dipenuhi oleh nafsu adalah orang yang bodoh, dan semoga ia tidak pernah melihat, mendengar, atau berbicara dengan orang seperti itu.

Demikianlah, untuk keempat kalinya, Sakra memberi kesempatan kepada Agastya untuk mengajukan permintaan.

“Bolehkah aku melihat orang bijak, dan mendengar orang bijak, tinggal dengan orang yang demikian, Śakra, dan bercakap-cakap dengan orang seperti itu! Inilah anugerah yang terbaik dari para dewa, kabulkanlah ini.” Jawab Agastya.

Namun Sakra memberikan kesempatan lagi kepada Agastya untuk mengajukan permintaannya yang kelima, yang dijawab oleh Agastya:

“Semoga makananmu, yang bebas dari kehancuran dan kerusakan; pikiranmu, yang indah karena praktik amal, dan para pengikutmu yang dihiasi oleh kemurnian perilaku baik mereka, menjadi milikku! Inilah anugerah terbaik yang kuminta.”

Sakra, yang masih terkagum-kagum dengan jawaban Agastya, memberikan kembali kesempatan untuk mengajukan permintaannya yang keenam. Namun kali ini Agastya menjawab:

“Jika engkau mau memberiku anugerah yang menyertakan kemurahan hati tertinggi bagiku, wahai yang teragung dari para dewa, jangan datang kepadaku lagi dalam kemegahanmu yang membara ini. Untuk anugerah ini aku meminta penghancur para Daitya.”

Mendengar jawaban itu, Sakra merasa terheran-heran karena orang-orang berusaha untuk bertemu dengannya dan mengajukan permintaan, tetapi Agastya justru tidak menginginkan apapun yang bersifat duniawi ketika bertemu dengannya. Sakra kemudian membungkuk kepadanya, memutarinya dari kiri dan kanan sebagai tanda hormat, kemudian menghilang dari sana.

7.3. Agastya melakukan persembahan / pemberian kepada Pratyekabuddha

Pada saat fajar tiba, Sakra muncul kembali di hadapan Agastya, namun kali ini ia datang bersama para dewa pengikutnya dan Pratyekabuddha. Mereka membawa makanan dan persembahan bagi Sakra

7.4. Sakra menyaksikan persembahan itu

Agastya, melihat kemunculan Pratyekabuddha, menerima makanan tersebut dan mempersembahkannya kepada Pratyekabuddha. Kejadian ini disaksikan oleh Sakra yang mengagumi kemuliaan batinnya, dan setelah peristiwa ini usai, para rombongan Sakra pergi dengan membawa persembahan.

7.5. Para hadirin menerima pemberian

Demikianlah Agastya yang kukuh dalam praktik tapa dan kepuasan hatinya.

Penghidupan tidaklah sulit didapatkan oleh orang-orang yang berlatih dengan tekun. Sebutkanlah, di mana rumput, daun, dan kolam air tidak dapat ditemukan?

Sederhana dalam apa yang dipelajari, ketidaktertarikan pada harta kekayaan, dan kepuasan di dalam pertapaan: setiap kebajikan yang luar biasa ini adalah harta tertinggi dari tiap-tiap hal tersebut.

Kelahiran yang berulang cenderung sangat menyedihkan; begitu pula usia tua dan penyakit yang membawa malapetaka, wabah yang menyedihkan itu; dan keharusan untuk mati adalah gangguan pada pikiran. Dari keburukan-keburukan itu aku bertekad untuk menyelamatkan makhluk-makhluk itu.

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah Sang Kelinci (Kisah Relief Jatakamala 6)

Kisah Sang Kelinci
(Kisah Relief Jatakamala 6)

Ringkasan:

Di sebuah hutan yang indah, hiduplah empat sekawan: kelinci, serigala, kera, dan berang-berang. Kelinci adalah pemimpin dari empat sekawan itu dan kerapkali memberikan khotbah tentang kebajikan kepada tiga sahabatnya. Pada suatu hari, Dewa Sakra menyamar sebagai seorang brahmana dan turun ke dunia, berpura-pura menangis karena tersesat, kelelahan, dan kelaparan. Empat sekawan segera menolongnya; serigala, kera, dan berang-berang menyajikan makanan mereka untuk disantap oleh brahmana. Tetapi kelinci, karena tidak memiliki apapun, tidak dapat mempersembahkan apa-apa. Kelinci pun bermaksud untuk mempersembahkan dirinya sendiri kepada brahmana, dengan cara melemparkan dirinya ke dalam api yang menyala. Dewa Sakra kagum atas kebajikan empat sekawan ini dan membawa mereka ke surga.


6.1. Sang Kelinci dengan Sakra yang menyamar sebagai brahmana

Pada suatu ketika, Bodhisattva terlahir sebagai seekor kelinci yang hidup di sebuah hutan. Tempat itu begitu indah, dipenuhi dengan berbagai tumbuhan merambat, rerumputan, dan pepohonan; berlimpah dengan bunga dan buah. Rerumputan hijau menghampar menutupi permukaan tanah bagai karpet, dan di salah satu sisinya terdapat sungai yang dialiri oleh air jernih.

Kelinci itu bersikap baik ke hewan-hewan lainnya di dalam hutan, sehingga hewan-hewan lain menghormati dan menyayanginya. Di sana, sang kelinci bersahabat dengan seekor berang-berang, serigala, dan kera. Ketiga hewan itu menganggap sang kelinci bagai guru karena kebijaksanaannya, dan mereka menghormati satu sama lain.

Pada suatu malam di saat bulan hampir penuh, sang kelinci mengumumkan kepada sahabat-sahabatnya bahwa besok adalah bulan penuh, di mana pada saat itu mereka harus menghormati tamu yang datang dengan menyajikan makanan berkualitas baik. Hewan-hewan itu setuju, kemudian memberi hormat kepada sang kelinci dan pulang ke rumahnya masing-masing.

Pada malam itu pula, sang kelinci merenung:

“Mereka bisa memberi hormat dengan beberapa makanan kepada tamu lain yang mungkin kebetulan datang, tetapi aku berada dalam kondisi yang menyedihkan di sini. Sama sekali tidak mungkin untuk memberikan tamu dengan bilah rumput yang sangat pahit yang kupotong dengan gigiku.

Oh! betapa tak berdayanya diriku! Ketidakberdayaanku merundungiku. Maka, apa gunanya hidup bagiku, karena seorang tamu yang seharusnya menjadi kegembiraan bagiku, dengan cara ini harus menjadi kesedihan!

Dalam kesempatan apa, tubuh yang tidak berharga ini, yang bahkan tidak dapat melayani seorang tamu, menyerah untuk memberikan keuntungan bagi siapa pun?

Kepemilikan yang sesuai dengan tujuan untuk menghormati setiap tamu mudah untuk didapatkann ; karena itu ada di dalam kekuatanku, tidak bisa dibanta, bukan milik siapa pun kecuali aku; itu adalah milik tubuhku.

Aku telah menemukan makanan yang layak untuk tamuku; Sekarang, hatiku, meninggalkan duka dan kesedihanmu! Dengan tubuhku yang kusam ini, aku akan mempraktikkan keramahan dan memuaskan keinginan tamuku.”

Lalu Sakra, raja para dewa, bermaksud untuk mencobai sang kelinci. Ia kemudian menyamar sebagai seorang brahmana dan turun ke hutan itu. Di sana dia menangis dan meratap dengan keras seperti orang yang tersesat, kelelahan, dan kelaparan. Dia terus meratapi nasibnya,

6.2. Sakra meminta bantuan

“Sendirian dan tersesat, setelah kehilangan gerobakku, aku menjelajahi hutan yang dalam, kelelahan oleh lapar dan letih. Tolonglah aku, wahai yang bajik!

Tidak mengetahui jalan yang benar atau yang salah, kehilangan arah pedomanku, mengembara secara acak, sendirian di hutan belantara ini. Aku menderita kepanasan, kehausan, dan kelelahan. Siapakah yang akan menggembirakanku dengan kata-kata bersahabat yang ramah?”

Empat sekawan itu, mengetahui bahwa ada seorang manusia yang tersesat dan kelelahan, segera menghampirinya dan memberi penghiburan. Berang-berang mengeluarkan tujuh ikan dan memberikannya kepada brahmana itu, serigala membawakan seekor kadal dan satu bejana susu asam untuk diberikan kepada brahmana itu, dan demikian pula kera membawa buah mangga yang sudah matang. Brahmana itu menyantapnya.

Kelinci, setelah memberi hormat keapda brahmana tersebut, kemudian berkata:

“Seekor kelinci, yang dibesarkan di hutan, tidak memiliki kacang, biji wijen, ataupun beras untuk dipersembahkan, hanya mempersiapkan tubuhku ini dengan api, dan setelah menyantapnya, bermalamlah di pertapaan ini.

Pada hari baik datanglah seorang pengemis, setiap hewan memberinya apa pun dari barang-barangnya yang dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi kekayaanku terbatas hanya pada tubuhku; ambillah, kalau begitu. Inilah seluruh kepemilikanku.”

Sakra, yang memahami bahwa kelinci bermaksud untuk mengorbankan dirinya, semakin berniat mencobainya. Melalui kesaktiannya, dia menciptakan tumpukan arang yang terbakar. Kelinci itu kemudian berucap dengan gembira:

“Aku telah menemukan cara untuk menunjukkan kepadamu kebaikanku. Maka, engkau harus memenuhi harapan di mana aku memberi engkau anugerah ini, dan menyantap tubuhku. Lihat, Brāhmana yang agung,

Merupakan kewajibanku untuk memberi dalam berdana, dan hatiku cenderung untuk melakukannya, dan pada orang seperti engkau aku telah bertemu dengan seorang tamu yang layak; kesempatan untuk memberi seperti itu tidak dapat diperoleh dengan mudah. Maka buatlah pemberianku tidak sia-sia, karena itu tergantung pada engkau.”

6.3. Kelinci mengorbankan dirinya

Usai mengucapkan hal tersebut, sang kelinci melemparkan dirinya ke dalam api yang berkobar. Raja Sakra yang melihatnya merasa kagum. Dengan kesaktiannya kembali, dia mengangkat kelinci itu ke atas dan menunjukkannya kepada para dewa, “Lihatlah, para dewa, penghuni kediaman surgawi, lihatlah dan bersukacitalah atas perbuatan yang menakjubkan ini, pengorbanan dari Bodhisattva ini!”

Setelah memuji kebajikan sang kelinci, Sakra menghiasi kedua puncak istananya dengan wujud kelinci. Kemudian, ketiga temannya – berang-berang, serigala, dan kera – tiba-tiba menghilang dari bumi dan terlahir kembali di alam para dewa.

Demikianlah kisah kelinci dan ketiga temannya yang bajik ini.

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah Sang Pemimpin Perkumpulan (Kisah Relief Jatakamala 4)

Kisah Sang Pemimpin Perkumpulan
(Kisah Relief Jatakamala 4)

Ringkasan:

Bodhisattva terlahir sebagai seorang pemimpin perkumpulan yang kaya raya. Di suatu kesempatan makan malam bersama istrinya di rumah, seorang pertapa suci mendekat ke rumahnya untuk menerima persembahan makanan. Bodhisattva kemudian bermaksud untuk memberikan makanan kepada sang pertapa. Namun Mara, sang penggoda, mengetahui hal ini dan berencana jahat. Melalui kekuatannya, ia memunculkan ilusi neraka yang tampak memilukan dan mengerikan. Namun Bodhisattva tidak gentar, ia tetap melangkah meskipun berisiko terjatuh ke dalam neraka. Ketika melangkah melewati neraka itu, tiba-tiba bunga teratai muncul dan menopang langkah sang Bodhisattva agar tidak terjatuh. Singkat cerita, Bodhisattva berhasil mempersembahkan makanan kepada sang pertapa suci. Mara pun gagal dan langsung menghilang.


4.1. Bodhisattva sedang bersama dengan istrinya

Pada suatu ketika Bodhisattva terlahir sebagai seorang pemimpin perkumpulan. Atas timbunan jasa kebajikan yang telah ia kumpulkan pada kelahiran-kelahiran sebelumnya, pada kehidupan ini ia memiliki kekayaan yang berlimpah dan kekuasaan yang luas. Ia pun memiliki sifat yang jujur dan adil sehingga sangat dihormati oleh orang lain.

Suatu hari, ketika Bodhisattva dan istrinya sedang makan malam di rumahnya. Ketika mereka sedang bersantap malam dengan masakan yang istimewa, munculah seorang pertapa yang mendekati rumahnya. Pertapa ini sesungguhnya adalah seorang Pratyekabuddha yang telah membakar habis seluruh nafsunya, dan kini dia datang untuk membantu meningkatkan jasa kebajikan Bodhisattva.

4.2. Bodhisattva dan istrinya mengantarkan makanan untuk pertapa suci

Bodhisattva, menyadari bahwa ada seorang pertapa datang untuk menerima pemberian makanan, berkata kepada istrinya, ““Sayangku, pergilah dan berikan makanan yang banyak kepada orang suci itu.” Sang istri mematuhi perintah dari suaminya itu, kemudian membawa makanan ke arah pintu rumahnya.

Tapi Mara, sang penggoda, tidak ingin Bodhisattva melakukan jasa kebajikan. Oleh karena itu ia berusaha menghalangi perbuatan baik Bodhisattva beserta istrinya dengan menggunakan ilusinya, memunculkan neraka yang amat dalam dengan pemandangan menakutkan dan suara teriakan yang memilukan. Api-apinya membara, membakar makhluk-makhluk yang berada di dalamnya secara mengerikan.

Melihat ini, sang istri merasa ketakutan dan kembali kepada suaminya.

Bodhisattva mengetahui bahwa ini adalah upaya jahat dari sang Mara untuk menggagalkan perbuatan bajiknya. Namun akal licik Mara tidak berhenti sampai di sana, ia kemudian berpura-pura baik dan mengatakan kepada Bodhisattva bahwa berdana kepada pertapa itu adalah perbuatan yang salah yang dapat mengantarkannya ke dalam neraka, oleh sebab itu ia harus segera menghentikan perbuatannya untuk memberikan persembahan kepada pertapa suci itu.

4.3. Neraka di hadapan Pratyekabuddha

Namun Bodhisattva tidak terperdaya oleh tipuan sang penggoda. Bodhisattva justru menjawab:

“Atas kemauanku sendiri, aku lebih memilih untuk jatuh ke dalam neraka yang berkobar ganas ini dengan cepat, sebagai mangsa api yang akan menjilatiku; daripada merasa bersalah karena mengabaikan mereka yang menunjukkan rasa percaya mereka dengan meminta dariku.”

Dan Bodhisattva, sambil membawa persembahan makanan itu, tetap melangkah menuju ke pintu rumahnya. Ia melangkah melewati neraka itu, dan tiba-tiba munculah bunga teratai yang menopang Bodhisattva berjalan agar tidak terjatuh ke dalam neraka.

4.4. Sang pertapa suci terbang ke angkasa

Akhirnya Bodhisattva pun tiba di pintu rumahnya, dan di sana ia memberikan persembahan makanan itu kepada sang pertapa. Mengetahui kebajikan ini, pertapa suci yang adalah seorang Pratyekabuddha itu kemudian melayang ke udara, menunjukkan keagungannya yang luar biasa. Sedangkan Mara, mengetahui rencananya telah gagal, langsung menghilang dan meninggalkan mereka.

Bodhisattva berhasil melakukan perbuatan baik yang bernilai luar biasa.

Atas kemauanku sendiri, aku lebih memilih untuk jatuh ke dalam neraka yang berkobar ganas ini dengan cepat, sebagai mangsa api yang akan menjilatiku; daripada merasa bersalah karena mengabaikan para pengemis yang menunjukkan rasa percaya mereka dengan meminta dariku.”

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah tentang Angsa (Kisah Relief Jatakamala 22)

Kisah tentang Angsa
(Kisah Relief Jatakamala 22)

Ringkasan:

Sepasang angsa (raja angsa & panglimanya) yang sangat termashyur karena keindahan wujudnya menjadi bahan pembicaraan di antara para manusia. Raja Brahmadatta, yang penasaran dengan kedua angsa itu, meminta para menterinya untuk menemukan angsa itu. Atas masukan dari para menterinya, sang raja membuat sebuah kolam indah yang menyaingi kolam tempat asal kedua angsa itu, kemudian mengumumkan bahwa ia menjamin keselamatan para burung yang datang mengunjungi kolam itu. Atas desakan para angsa yang ingin melihat danau indah tersebut, raja angsa, panglima dan angsa-angsa lainnya terbang ke sana. Kaki sang raja angsa kemudian terjerat oleh perangkap dari pemburu suruhan raja. Semua angsa melarikan diri kecuali Sumukha, sang panglima. Merasa kagum dengan kesetiaan Sumukha terhadap rajanya, pemburu itu membebaskan mereka berdua.


22.1. Para Angsa di Danau Manasa

Pada suatu hari Bodhisattva terlahir sebagai raja sekelompok angsa yang terdiri dari ratusan ribu angsa. Ia Bernama Dhṛtarāṣṭra, dan memiliki seorang komandan yang Bernama Sumukha. Sumukha sangat ahli dalam mengelola berbagai urusan, mengenal yang benar dan yang salah, serta memiliki daya ingat yang sangat baik. Hal ini membuat raja angsa menaruh banyak kepercayaan kepadanya.

Baik raja angsa dan Sumukha saling menghormati satu sama lain. Mereka memiliki hubungan yang sangat akrab bagai seorang guru dengan murid utamanya. Dan karena mereka berdua merupakan angsa yang paling unggul di antara yang lainnya, mereka mengajari sekumpulan angsa itu untuk berperilaku bajik dan damai.

Akibatnya, danau tempat mereka hidup yang Bernama danau Manasa itu menjadi sangat indah. Angsa-angsa itu hidup harmonis bersama, dengan suara-suara lembut yang menjadi pengiringnya. Di saat mereka sedang berkumpul bersama, mereka terlihat bagai kumpulan bunga teratai yang berada di atas permukaan air; namun ketika mereka sedang menyebar dalam kelompok-kelompok kecil, mereka nampak bagaikan awan putih yang sedang bergerak di angkasa. Demikianlah mereka menghiasi danau Manasa.

Melihat kualitas baik dari sepasang angsa ini, para dewa mengagumi kebajikan mereka berdua. Namun ternyata kabar tentang sepasang angsa unggul ini juga dibicarakan di antara para manusia, mulai dari para pertapa, bangsawan, hingga para pejabat kerajaan.

22.2. Raja meminta kepada para menterinya untuk menemukan angsa itu

Di tempat lain, di Benares, hiduplah seorang raja yang bernama Brahmadatta. Ia mendengar dari para pejabat kerajaannya bahwa ada sepasang angsa di Danau Manasa yang begitu agung dan menawan. Hal itu membuatnya merasa penasaran dan ingin melihatnya. Kemudian ia mengumpulkan para menteri, meminta mereka memikirkan cara agar bisa menemukan sepasang angsa tersebut.

Maka para menteri tersebut berdiskusi, mengerahkan kecerdasan mereka untuk memenuhi permintaan sang raja. Singkat cerita, mereka menyarankan agar raja membangun sebuah danau yang lebih indah dari Manasa di negerinya, lalu mengumumkan ke seluruh penjuru tempat bahwa raja akan menjamin para makhluk hidup yang datang ke danau itu, maka dengan demikian ada kemungkinan kedua angsa itu akan tertarik ke sana.

Raja menerima masukan tersebut dan langsung meminta danau itu untuk dibuat di salah satu wilayahnya.

Danau itu dibuat dengan begitu indah,

Pepohonan berbunga dengan indah, ditemani dengan ranting-ranting yang bergerak terkena hembusan angin. Lalu kawanan lebah kemudian datang, mendekati bunga-bunga teratai yang berada di permukaan air. Di bagian lain dari danau tersebut, kelopak bunga yang terjatuh memenuhi permukaannya, membuatnya nampak sangat indah. Airnya jernih dengan aroma bunga yang menyeruak menyebar ke seluruh bagian danau. Ikan-ikan berenang, gajah-gajah mandi di sana, benar-benar memberikan kesan yang indah.

Setelah itu, para petugas kerajaan berkeliling ke berbagai tempat, mengumumkan bahwa raja telah membangun sebuah danau yang indah bagi para unggas dan akan menjamin keselamatan mereka di danau itu.

22.3. Angsa bertemu dengan pemburu

Suatu hari, dua ekor angsa dari kelompok Bodhisattva tidak sengaja terbang melewati danau itu. Terlihat indah, mereka mendekati danau itu, kemudian terlena oleh kenyamanan yang ditawarkan di sana. Mereka berenang ke sana kemari, menikmati keindahannya yang luar biasa. Mereka kemudian berpikir, “Kita harus mengajak teman-teman kita ke tempat ini!”

Mereka pun kembali ke Manasa, lalu melapor kepada raja angsa dan Sumukha tentang keberadaan danau yang indah milik raja Brahmadatta itu. Angsa-angsa lain yang mendengarnya merasa penasaran dan meminta raja angsa untuk membawa mereka ke sana. Tetapi Sumukha, penasihat raja, menyarankan agar mereka tidak pergi ke sana untuk alasan keselamatan. Bagi Sumukha, danau itu adalah milik manusia, dan di dunia ini hanya manusia yang bisa mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan isi pikirannya (berdusta). Sumukha tidak yakin bahwa tempat itu aman. Tetapi angsa-angsa lainnya tetap mendesak raja agar mereka dapat pergi ke sana. Maka, untuk menengahinya, Sumukha menyarankan kepada raja untuk mampir ke sana tetapi hanya sebentar dan segera kembali lagi.

Maka raja angsa, Sumukha, dan kawanan angsa itu bersama-sama terbang ke danau milik raja Brahmadatta. Begitu tiba, mereka langsung disambut dengan keindahan danau itu: suara-suara lebah, bunga-bunga teratai, pepohonan yang bunganya bermekaran, air yang jernih, ikan yang berenang ke sana kemari, gajah yang sedang bermain air, juga angin yang bertiup lembut. Mereka langsung terlena dengan keindahan itu dan berenang ke sana kemari, menikmati keindahan dengan hati yang gembira.

Petugas kerajaan yang ditugaskan mengamati danau itu menyadari kehadiran raja angsa, kemudian segera bergegas kembali ke istana dan melaporkannya kepada raja. Mengetahui hal ini, hati raja sangat gembira. Ia memanggil salah satu pemburu andalannya untuk pergi ke danau itu dan menangkap angsa-angsa tersebut.

Di danau, para angsa itu sudah terlena oleh keindahannya dan lupa untuk kembali ke Manasa, tanpa menyadari bahwa pemburu sudah menyiapkan perangkap di berbagai sisi danau. Ketika para angsa sedang berenang ke sana kemari, salah satu kaki dari raja angsa terjerat oleh perangkap. Mengetahui bahwa danau ini tidak aman, raja angsa langsung berteriak, meminta kawanannya untuk segera terbang meninggalkan tempat itu. Mereka, mendengar peringatan dari rajanya, langsung terbang dengan ketakutan. Dalam hati mereka mengkhawatirkan keselamatan rajanya, tetapi juga takut akan ditangkap.

Berbeda dengan angsa-angsa lainnya, Sumukha tidak pergi. Ia tetap berada di danau itu, berada tepat di samping sang raja.

“Pergilah, Sumukha, pergilah; tidak bijaksana untuk berlama-lama di sini. Kesempatan apa yang bisa kau miliki untuk membantuku yang berada dalam kondisi seperti ini?” Perintah sang raja kepada Sumukha.

Sumukha menjawab, “

“Ini bukanlah kematian terakhir yang dapat kualami jika aku tetap berada di sini, lagipula meskipun aku pergi, aku juga tidak akan terbebas dari usia tua dan kematian. Aku selalu ada dalam setiap kemakmuranmu, bagaimana mungkin aku dapat meninggalkanmu dalam kemalangan?

Jika aku meninggalkanmu karena hal yang sepele, yakni demi hidupku sendiri, di mana aku dapat berlindung dari hujanan penyalahan?

Tidaklah tepat, tuanku, jika aku meninggalkanmu dalam kesusahanmu. Apapun yang terjadi padamu, aku akan dengan senang hati ikut menerimanya, wahai raja para burung.”

Demikianlah, begitu dalamnya persahabatan di antara mereka sehingga mereka ingin melindungi satu sama lain. Sang raja tidak ingin Sumukha ikut tertangkap seperti dirinya, dengan demikian memintanya untuk pergi; tetapi Sumukha tidak ingin meninggalkan sang raja yang selalu ia temani, sehingga ia bersikeras untuk bertahan.

Kemudian pemburu itu, menyadari bahwa ada angsa yang sudah masuk ke dalam perangkapnya, segera datang. Baik raja angsa dan Sumukha terdiam melihat pemburu itu datang. Pemburu melihat salah satu angsa sudah terjerat dalam perangkap yang ia buat, sedangkan angsa satunya lagi ternyata dalam keadaan bebas tetapi tidak pergi.

Karena penasaran, pemburu itu bertanya:

“Angsa ini, yang terperangkap dalam jerat yang kuat, kehilangan kebebasannya untuk bergerak. Untuk alasan inilah ia tidak bisa terbang ke angkasa meskipun aku mendekat. Tetapi engkau yang tidak terjerat, yang bebas dan kuat dan memiliki sepasang sayap, mengapa engkau tidak buru-buru terbang ke langit saat aku datang?”

“Dia adalah rajaku dan sahabatku yang aku cintai seperti hidupku sendiri, dia adalah penyokongku, dan dia sedang berada dalam kesusahan. Karena itulah, aku tidak akan pernah meninggalkannya, bahkan untuk menyelamatkan hidupku sendiri.

Oh! Andaikan pembicaraan kita ini mengarah pada akhir yang bahagia, temanku! Bebaskanlah kami sekarang juga jika engkau ingin memperoleh kemuliaan dari tindakan bajik!”

Pemburu yang tersentuh dengan jawaban itu, menjawab kembali:

“Aku tidak ingin menyakitimu, dan bukan engkau yang kutangkap. Pergilah bebas dan bergabunglah dengan teman-temanmu yang akan senang melihatmu!”

Sumukha yang menyadari bahwa hati pemburu itu mulai melunak, memohon agar ia mau melepaskan perangkap yang menjerat sang raja angsa. Pemburu, yang melihat keagungan sifat angsa ini, merasa semakin tersentuh dan melepas jeratannya, juga memuji angsa tersebut:

“Bahkan jika bertemu dengan manusia atau dewa sekalipun, sifat tidak mementingkan diri seperti ini pun merupakan sebuah keajaiban, seperti yang dipraktikkan olehmu yang mengorbankan hidupmu demi tuanmu.

Maka aku akan menghormatimu dan membebaskan rajamu. Sesungguhnya, siapakah yang mampu melakukan kejahatan terhadap orang yang lebih engkau cintai daripada kehidupan?”

22.4. Raja bertemu dengan kedua angsa agung tersebut

Demikianlah sang pemburu melepaskan raja angsa yang terjerat. Setelah permintaannya dikabulkan, Sumukha kemudian berbicara lagi kepada pemburu itu:

“Kgar kerja kerasmu tidak sia-sia, bawalah aku dan juga raja angsa ini, gendonglah kami di tiang bahumu, bebas dan tidak terikat, tunjukkan kami kepada rajamu di istananya.”

Pemburu menyetujui permintaan itu, menaruh mereka ke dalam keranjang tanpa mengikat maupun melukai mereka, kemudian membawanya ke istana untuk diperlihatkan kepada raja.

Melihat sepasang angsa yang nampak megah dan menawan itu, sang raja dipenuhi dengan rasa takjub. Raja kemudian bertanya kepada sang pemburu:

“Bagaimana engkau dapat memiliki dua ekor angsa ini di tanganmu, tanpa terluka dan tanpa terikat, meskipun mereka mampu terbang menjauh darimu yang berjalan kaki? Jelaskan kepadaku.”

Nisada membungkuk kepada raja dan menceritakan apa yang sudah terjadi sebelumnya.

Mendengar cerita tentang kedua angsa itu, sang raja menjadi semakin kagum. Ia kemudian mempersilakan kedua angsa itu untuk duduk di tempat duduk istimewa yang sudah ia persiapkan. Mereka kemudian bertukar salam dan saling memuji kebesaran satu sama lain.

Atas kejadian itu, raja Brahmadatta menghadiahi sang pemburu dengan pemberian yang sangat besar. Raja juga mengucapkan pertemanan dengan raja angsa dan Sumukha, dan mempersilakan mereka untuk datang kembali kapan pun.

Dan pada suatu kesempatan, raja angsa itu datang menjenguk sang raja dan membabarkan khotbah Dharma.

Aku selalu ada dalam setiap kemakmuranmu, bagaimana mungkin aku dapat meninggalkanmu dalam kemalangan?

Sungguh, ini adalah kebenaran bagi orang yang berbudi luhur, bahwa seorang sahabat yang setia tidak akan meninggalkan sahabatnya berada dalam kesusahan, bahkan dengan mengorbankan nyawanya sekalipun.

Bagi orang yang kaya raya, seorang sahabat yang mengungkapkan keinginannya dengan ucapan jujur adalah kepuasan yang lebih besar daripada kekayaannya sendiri. Karena alasan inilah, sikap tanpa pamrih di antara para sahabat adalah keuntungan yang besar.

Karena cinta kasih, ketika seseorang mendapatkan kesenangan, yang akan pertama kali diingat adalah sahabat-sahabatnya sendiri.

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah tentang Brahmana (Kisah Relief Jatakamala 12)

Kisah tentang Brahmana
(Kisah Relief Jatakamala 12)

Ringkasan:

Seorang guru yang terkemuka menceritakan kepada murid-muridnya bahwa ia telah hidup menderita dalam kemiskinan, dan oleh sebab itu ia meminta mereka untuk mengambil harta seseorang di tempat dan waktu yang tidak akan diketahui oleh orang lain. Murid-muridnya menyetujui perintah sang guru, kecuali seorang pemuda brahmana. Ketika sang guru bertanya mengapa ia nampak keberatan, pemuda itu menjawab bahwa tidak mungkin untuk mengambil sesuatu tanpa diketahui oleh satu orang pun, karena setidaknya dirinya sendiri akan mengetahuinya. Sang guru memuji kecerdasan sang murid.


12. Sang guru memberikan instruksi kepada murid-muridnya

Pada suatu ketika, Bodhisattva terlahir di sebuah keluarga brāhmana yang terkemuka. Ketika ia berusia pemuda, ia menetap di rumah gurunya yang adalah seorang brāhmana yang sangat termashyur. Pemuda ini memiliki kecerdasan yang sangat unggul, sehingga ia dapat mempelajari Veda dengan cepat dan membuat ia disukai oleh gurunya.

Suatu hari, sang guru bermaksud untuk menguji moralitas murid-muridnya. Sang guru memanggil mereka semua dan menceritakan kemalangannya karena tidak mendapatkan sokongan dari keluarga dan harus hidup dalam kemiskinan. Guru menceritakannya dengan sedemikian rupa sehingga para murid tersentuh mendengar kisahnya. Tidak ingin guru mereka menderita lebih lama lagi, mereka pun bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk meringankan penderitaan sang guru.

Guru pun menjawab bahwa ajaran para brāhmana mengizinkan seseorang untuk melakukan pencurian bila orang itu sedang berada dalam kesulitan. Oleh karena itu, sang guru meminta murid-muridnya untuk mengambil harta orang lain pada tempat dan waktu yang tidak akan diketahui oleh orang lain.

Murid-murid itu menyetujui perintah guru mereka, kecuali sang pemuda brāhmana tersebut. Ia menyadari bahwa perintah gurunya tidak sesuai dengan Dharma, sehingga ia merasa sedih dan menunduk.

Guru yang menyadari bahwa muridnya yang cerdas ini tidak menyetujuinya, bertanya-tanya dalam hati: “Mengapa dia tidak menyetujui pencurian? Apakah karena tindakan itu membutuhkan keberanian atau karena ia tidak patuh kepadaku? Atau apakah dia benar-benar tahu bahwa itu adalah tindakan yang jahat?”

Lalu guru bertanya kepada sang pemuda. Setelah memberi hormat kepada gurunya, pemuda brāhmana itu menjawab bahwa instruksi gurunya itu tidak dapat ia lakukan.

“Aku berpikir bahwa cara bertindak yang guru ajarkan kepada kami tidak dapat dilakukan. Tidaklah mungkin untuk melakukan perbuatan jahat tanpa terlihat. Mengapa? Karena tidak mungkin untuk benar-benar sendirian.

Bagi pelaku kejahatan, tidak ada satupun tempat di dunia ini untuk melakukannya sendirian. Bukankah para makhluk yang tidak terlihat dan sang Muni yang murni, yang matanya diberkahi dengan kesaktian, mengawasi tindakan manusia?

Karena tidak melihat mereka, orang bodoh mengira dia sedang sendirian dan melakukan tindakan buruk.

Aku adalah saksi yang jauh lebih cermat atas perbuatanku sendiri daripada orang lain. Orang lain bisa saja melihatku maupun tidak, karena pikirannya sibuk dengan urusannya sendiri. Tetapi diriku, yang bersemangat karena dipenuhi oleh nafsu, tahu dengan pasti bahwa aku sedang melakukan kejahatan.”

Setelah mendengarkan jawaban sang murid, gurunya menjadi sangat kagum dan gembira. Ia bangkit dari tempat duduknya, memeluk sang murid dan berkata, “Baiklah, sangat baik, putraku! Sungguh ucapan yang sangat baik, ucapan yang sangat baik, wahai Brāhmana yang mulia! Inilah kecerdasanmu yang tajam, dihiasi oleh ketenangan batin.”

Demikianlah, rasa tahu malu akan mencegah orang-orang bajik untuk melakukan perbuatan jahat.

Bagi pelaku kejahatan, tidak ada satupun tempat di dunia ini untuk melakukannya sendirian. Bukankah para makhluk yang tidak terlihat dan sang Muni yang murni, yang matanya diberkahi dengan kesaktian, mengawasi tindakan manusia? Karena tidak mampu melihat mereka, orang bodoh mengira dia sedang sendirian dan melakukan tindakan buruk.
Lagipula aku sama sekali tidak mengetahui tempat yang sepi tanpa ada orang lain. Sekalipun aku tidak melihat ada orang lain, bukankah di sana ada diriku sendiri?

Aku adalah saksi yang jauh lebih cermat atas perbuatanku sendiri daripada orang lain. Orang lain bisa saja melihatku maupun tidak, karena pikirannya sibuk dengan urusannya sendiri. Tetapi diriku, yang bersemangat karena dipenuhi oleh nafsu, tahu dengan pasti bahwa aku sedang melakukan kejahatan.

Lebih baik mengambil mangkuk dan jubah kusam, melihat kemewahan rumah besar musuhnya sendiri, daripada dengan tanpa malu mengarahkan pikiran untuk membunuh kebenaran.

Orang bodoh melalaikan tanggung jawabnya, digerakkan oleh berbagai alasan; tetapi yang bajik tidak membiarkan diri mereka tersesat meskipun dalam kesulitan terbesar sekalipun. Pertapaan, pembelajaran, dan kebijaksanaan menjadi kekayaan mereka.

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah tentang Unmadayanti (Kisah Relief Jatakamala 13)

Kisah tentang Unmadayanti
(Kisah Relief Jatakamala 13)

Ringkasan:

Seorang pedagang menawarkan putrinya yang dijuluki “Unmadayanti” (dia yang membuat orang tergila-gila) untuk dinikahi oleh raja. Namun atas saran dari para Brahmana yang mengatakan bahwa Unmadayanti tidak membawa peruntungan bagi raja, raja menolak tawaran untuk menikahinya. Akhirnya Unmadayanti dinikahkan dengan Abhiparaga, salah seorang pejabat kerajaan. Suatu hari, ketika sang raja sedang melihat-lihat kota, ia tidak sengaja melihat seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu adalah Unmadayanti. Sang raja kemudian terus memikirkan Unmadayanti dan tergila-gila kepadanya. Abhiparaga yang mengetahui ini menemui raja dan mempersilahkan raja untuk merebut Unmadayanti darinya. Namun sang raja tahu bahwa hal ini tidak sesuai dengan Dharma, menolak penawaran tersebut.


13.1. Pedagang memberi tahu raja bahwa ia memiliki putri yang sangat cantik

Pada suatu ketika, Bodhisattva terlahir sebagai raja suku Sibi. Ia memerintah dengan benar dan berperilaku sesuai dengan Dharma. Di ibu kota negeri tersebut, hiduplah seorang pedagang yang memiliki putri berparas amat cantik. Semua pria mengagumi kecantikan putri pedagang tersebut, membuat mereka terus memikirkannya. Oleh sebab itu, putri sang pedagang dijuluki sebagai Unmadayanti, yang berarti “membuat tergila-gila”.

Bermaksud untuk menikahkan anaknya dengan sang raja, pedagang itu menghadap raja dan memberi tahu bahwa ia memiliki putri yang cantik. Menyambut perkenalan dari pedagang, raja mengirim beberapa Brahmana untuk melihat perempuan itu untuk menilai apakah putri sang pedagang memiliki tanda-tanda keberuntungan sehingga dapat dinikahi oleh raja.

13.2. Unmadayanti menjamu para brahmana

Pedagang itu kemudian mengantar para brahmana menuju ke rumahnya. Di sana, ia memerintahkan Unmadayanti untuk menjamu mereka. Para brahmana, setelah melihat Unmadayanti, tidak dapat mengalihkan pandangan mereka darinya. Kecantikan Unmadayanti telah menyentuh hati mereka. Ayahnya (sang pedagang), mengetahui bahwa ini sudah tidak benar, meminta Unmadayanti untuk masuk ke dalam rumah serta mempersilakan para brahmana untuk pulang.

13.3. Para brahmana melapor kepada raja

Sebelum menghadap kembali kepada raja, para brahmana mulai berdiskusi. Mereka berpikir bahwa kecantikan Unmadayanti dapat membuat seseorang tergila-gila, dan oleh sebab itu berbahaya bagi sang raja. Mereka berpendapat bahwa kecantikan Unmadayanti dapat mengurangi semangat raja dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai pemimpin kerajaan.

Mereka kemudian menghadap raja. Di sana mereka mengatakan bahwa Unmadayanti tidak cocok untuk dinikahi oleh raja:

“Kami telah melihat gadis itu, wahai raja yang agung. Dia cantik dan memiliki pesona yang indah, tapi tidak lebih lagi; dia memiliki tanda yang tidak menguntungkan, pertanda kehancuran dan ketidakberuntungan. Untuk alasan inilah Yang Mulia seharusnya tidak melihatnya, apalagi menikahinya.”

Raja, atas nasihat para brahmana, mengurungkan niat untuk menikahi Unmadayanti. Pedagang itu, yang tahu bahwa raja tidak tertarik dengan anaknya, kemudian menikahkan Unmadayanti dengan Abhiparaga, seorang pejabat kerajaan sang raja.

13.4. Raja melihat Unmadayanti

Waktu terus berjalan hingga tibalah festival Kaumudi, salah satu perayaan besar di kerajaan tersebut. Jalan-jalan dihiasi dengan dekorasi yang indah, disertai dengan suara-suara nyanyian yang indah dan meriah. Raja kemudian ingin menyaksikan pemandangan kota dan meminta agar para penjaga menemaninya. Raja menikmati pemandangan dan riuh meriah ibu kota, hingga akhirnya ia berada dekat dengan rumah Abhiparaga. Unmadayanti, yang kini sudah menjadi istri Abhiparaga, merasa kecewa karena pernah ditolak oleh sang raja. Ia kemudian berpura-pura penasaran ingin melihat raja, kemudian keluar dari dalam rumah. Raja, yang selama ini belum pernah meliaht Unmadayanti, akhirnya melihatnya untuk pertama kali. Kecantikannya yang luar biasa membuat sang raja terdiam menatapnya.

Ketika kembali lagi ke istana, sang raja terdiam. Benaknya terus terbayang-bayangi oleh sosok Unmadayanti, yang membuat ia bertanya kepada kusirnya mengenai sosok wanita yang ia lihat tadi. Sang kusir mengatakan bahwa wanita itu bernama Unmadayanti, istri dari pejabatnya sendiri yang bernama Abhiparaga. Mengetahui bahwa wanita tadi sudah bersuami, raja merasa putus asa.

“Ah! Sungguh, dia pantas menyandang namanya yang lembut dan terdengar indah. Unmādayantī yang tersenyum manis ini telah membuatku hampir gila. Aku akan melupakannya, tetapi aku selalu melihatnya dalam pikiranku; karena pikiranku bersamanya, atau lebih tepatnya, dia telah menguasai pikiranku. Dan pikiran lemah ini adalah salahku karena memikirkan istri orang lain! Tidak diragukan lagi, aku tergila-gila; rasa malu tampaknya telah meninggalkanku, seolah telah tertidur lelap.”

13.5. Abhiparaga menemui Sang Raja

Abhiparaga yang adalah pejabat sang raja mengamati bahwa ada yang tidak beres dengan sang raja. Ia kemudian mencari tahu penyebab hal itu dan mengetahui bahwa sang raja ternyata sedang tergila-gila dengan istrinya. Abhiparaga merenung sebentar. Ia menyadari bahwa seseorang yang dimabuk cinta dapat melakukan sesuatu yang berada di luar kendali, pun ia juga menghormati sang raja. Maka, ia meminta raja untuk bertemu secara rahasia.

Raja yang menyetujui ajakan tersebut kemudian bertemu dengan Abhiparaga. Pada pertemuan itu, Abhiparaga meminta agar raja mau merebut Unmadayanti yang adalah istrinya sendiri. Raja tentu saja menolak tawaran tersebut.

“Tidak, itu tidak mungkin. Aku akan kehilangan jasa kebajikanku dan aku tahu bahwa diriku tidak abadi. Selanjutnya, perbuatan jahatku juga akan diketahui oleh publik. Lagipula, jika api kesedihan membakar hatimu karena perpisahan ini, api itu akan melalapmu dalam waktu yang lama, seperti api yang membakar habis rumput kering.

Dan perbuatan seperti itu, yang akan menyebabkan penderitaan baik di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya, dilakukan oleh orang yang tidak bijaksana dan tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang bijaksana. Inilah alasannya.”

Namun Abhiparaga tetap bersikeras untuk menyerahkan istrinya kepada sang raja. Abhiparaga kemudian berusaha meyakinkan sang raja:

“Ini adalah kesepakatan di antara kita; tidak ada orang lain yang perlu mengetahuinya. Oleh karena itu, jangan pikirkan rasa takut akan disalahkan oleh pendapat masyarakat.”

Namun raja tetap bersikeras untuk tidak merebut Unmadayanti dari Abhiparaga, bahkan raja menyatakan bahwa ia menghormati mereka berdua.

“Siapa yang dengan melampaui kesetiaannya kepadaku tidak mengindahkan hidupnya sendiri, adalah temanku, yang lebih kucintai daripada kerabat-kerabatku sendiri. Istrinya harus aku hormati sebagai istri seorang teman.”

Dan untuk ketiga kalinya, Abhiparaga tetap berupaya agar raja dapat menikahi Unmadayanti. Tapi raja tetap menolaknya, mengatakan bahwa hal itu tidak sepantasnya ia lakukan. Raja kemudian menyampaikan bahwa rakyat-rakyatnya meneladani tindak-tanduknya. Jika ia berani merebut istri orang, maka rakyatnya pun akan meniru perilaku salah itu.

Selain itu, sang raja yang telah mengenal Dharma, paham bahwa ia harus mampu mengendalikan nafsunya sendiri. Ia tidak sehendaknya merebut istri orang lain. Ia harus mampu mengendalikan dirinya sendiri agar pantas untuk memimpin orang lain.

Setelah diyakinkan oleh sang raja, Abhiparaga kemudian memahami bahwa raja benar-benar tidak menginginkan istrinya. Abhiparaga merasa kagum dan berkata, “Oh! Sungguh para rakyat ini dicintai oleh nasib baik karena memiliki penguasa sepertimu, raja yang terhormat.”

Abhiparaga pun tetap hidup bersama dengan istrinya, dan sang raja tetap kukuh dengan pengendalian dirinya.

Orang-orang bajik enggan untuk mengikuti jalan hidup yang rendah, bahkan ketika sedang dilanda sakit yang sangat menyedihkan sekalipun. Keteguhan hati mencegah mereka dari tindakan seperti itu. Ini akan diajarkan sebagai berikut

Bagaimana mungkin kebahagiaan dapat dimiliki oleh seseorang yang melakukan perbuatan buruk, meskipun tidak ada yang menyaksikannya?

Siapapun, dengan mengabaikan kebenaran, tidak peduli terhadap celaan manusia atau akibar buruk di kelahiran berikutnya, akan memperoleh hal ini: dalam kehidupan ini orang-orang tidak akan mempercayainya; dan pasti, setelah kematian dia akan kehilangan kebahagiaannya.

Jika aku tidak mampu mengatur diriku sendiri, maka bagaimana dengan nasib orang-orang yang mengharapkan perlindungan dariku?

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah Upacara Pengorbanan (Kisah Relief Jatakamala 10)

Kisah Upacara Pengorbanan
(Kisah Relief Jatakamala 10)

Ringkasan:

Suatu hari, negeri tempat seorang raja yang arif dan bijaksana mengalami bencana kekeringan. Para tetua dan Brahmana mendesak raja untuk melakukan upacara pengorbanan hewan untuk menyenangkan para dewa, dengan harapan hujan akan segera turun. Namun sang raja tidak percaya dengan upacara pengorbanan nyawa karena hal ini adalah tindakan penyiksaan makhluk hidup. Setelah merenungi hal ini, sang raja kemudian meminta para petugas kerajaannya untuk mengumumkan bahwa ia akan melakukan upacara pengorbanan, di mana orang-orang yang melakukan kejahatanlah yang akan ditangkap dan dikorbankan. Raja melakukan ini tidak dengan tujuan agar rakyat-rakyatnya dapat mengendalikan diri selama kekeringan melanda negeri, agar bisa bertahan hingga musim penghujan. Mendengar kabar ini, para rakyat menjadi patuh terhadap aturan dan menghindari perbuatan jahat. Negeri menjadi aman dan tentram, dan berhasil melewati musim kemarau dengan baik. Hujan pun turun dan semua bersuka cita atas kebijaksanaan sang raja.


10.1. Karena bencana kekeringan, para Brahmana dan tetua mendesak raja untuk melakukan upaca pengorbanan

Pada suatu ketika, hiduplah seorang raja yang arif dan bijaksana. Kepemimpinannya yang sesuai dengan Dharma membuat negerinya makmur, disegani oleh kerajaan lain, dan rakyatnya bersukacita.

Namun terjadilah bencana kekeringan di negeri itu. Panen mulai gagal dan rakyat mulai panik. Para tetua, penasihat, dan Brahmana pun berdiskusi dengan raja tentang solusi dari permasalahan ini. Menurut mereka, bencana kekeringan ini terjadi karena kurangnya persembahan kepada para dewa, oleh sebab itu mereka menyarankan agar raja segera melakukan upacara pengorbanan hewan untuk menyenangkan hati para dewa.

Sang raja merasa bahwa solusi itu tidak sesuai dengan Dharma, tetapi ia menghormati para tetua dan Brahmana sehingga tidak berani menolaknya secara langsung. Raja kemudian mengalihkan topik pembicaraan, tetapi para tetua dan Brahmana justru mengungkit upacara pengorbanan itu kembali dan mendesak raja agar segera melakukannya. Mereka berucap:

“Anda selalu berhati-hati untuk tidak mengabaikan kewajiban Anda sebagai seorang raja, namun mengapa kali ini Anda begitu ceroboh dan lamban untuk melakukan upacara pengorbanan, yang harus dilakukan demi kebaikan rakyat-rakyat Anda?”

Sang raja tidak dapat menolak secara langsung dan meminta waktu untuk mempertimbangkan. Beliau kemudian merenungi bahwa upacara pengorbanan ini hendaknya tidak dilakukan, karena para dewa seharusnya tidak meminta pengorbanan nyawa yang tidak sesuai dengan Dharma. Sang raja juga kemudian berpikir dalam hati:

“Jika korban yang terbunuh dalam upacara pengorbanan benar-benar masuk surga, bukankah seharusnya kita para Brāhmana itu yang hendaknya mempersembahkan diri mereka sendiri untuk dikorbankan dalam upacara pengorbanan? Namun, aku tidak melihat mereka melakukan hal itu. Bagaimana mungkin nasihat ini dapat aku terima?”

10.2. Raja memutuskan untuk melakukan upacara pengorbanan

Meski raja tidak akan melakukan upacara pengorbanan hewan, tetapi ia tahu bahwa hal ini akan menimbulkan gejolak dari para tetua dan Brahmana, yang dituakan di dalam masyarakat. Raja tidak ingin menimbulkan konflik, tetapi ia juga tidak ingin membunuh para hewan demi kepentingan ritual. Raja pun berpikir keras untuk menemukan solusi dari konflik ini.

Setelah melalui perenungan, akhirnya raja pun menemukan solusinya. Ia memanggil para petugas kerajaan untuk hadir dan mengumumkan bahwa ia akan melakukan upacara pengorbanan:

“Aku akan melakukan pengorbanan manusia sebanyak seribu orang. Siapapun dari kalian yang kuanggap telah melanggar aturan perilaku moral dan meremehkan perintah kerajaan, orang itu akan kutangkap dan kujadikan persembahan dalam upacara pengorbanan. Orang-orang seperti itu pantas untuk dikorbankan karena mereka adalah noda bagi keluarganya dan bahaya bagi negaraku. Untuk melaksanakan ketetapan ini, aku akan menugaskan petugas kerajaanku untuk mengawasi perilaku kalian sepanjang hari!”

10.3. Petugas kerajaan mengumumkan upacara pengorbanan ke seluruh penjuru negeri

Setelah mendapat perintah dari raja, para petugas kerajaan pun menyebar. Mereka mengumumkan ke seluruh penjuru negeri – di setiap sudut kota dan pasar – bahwa raja akan melakukan upacara pengorbanan manusia, di mana manusia yang berperilaku jahat dan tidak bermoral akan ditangkap dan dikorbankan. Mereka juga mengumumkan bahwa raja akan menyebar para pengawas untuk mengawasi perilaku mereka setiap hari.

Para rakyat, setelah mendengar pengumuman ini, menjadi takut untuk berbuat jahat, terlebih setelah melihat para pengawas yang ada di setiap sudut wilayah. Mereka menjaga perilaku mereka dan lebih berwaspada terhadap tindak-tanduk mereka, lebih disiplin daripada sebelumnya. Orang-orang yang sering bertengkar menjadi berhenti bertengkar. Mereka menjadi lebih hormat satu sama lain, menghindari perselisihan dan saling memaafkan. Akibatnya, suasana kota menjadi sangat damai dan tentram.

Raja kemudian menerima laporan dari para petugas kerajaan bahwa tidak ada satu pun rakyat yang pantas untuk ditangkap dan dikorbankan, karena mereka semua telah berperilaku baik. Raja, setelah mendengar laporan ini, merasa sangat bersukacita. Ia kemudian mengumumkan bahwa akan segera melakukan upacara pengorbanan, tetapi yang dikorbankan adalah hartanya sendiri.

Maka kini para petugas kembali berkeliling ke seluruh penjuru negeri bahwa raja akan melakukan upacara pengorbanan harta. Di setiap desa, kota, dan pasar akan didirikan tempat-tempat berdana, di mana raja akan membagikan uang dan pakaian bagi mereka yang mengalami kesulitan.

Upacara pengorbanan harta ini membuat kemiskinan dan kelaparan lenyap dari negeri itu. Mereka pun dapat melewati bencana kekeringan ini dengan baik. Kemudian, musim hujan pun tiba dan kekeringan pun berlalu.

10.4. Para rakyat memuji kebijaksanaan sang raja

Setelah berhasil melalui bencana kekeringan, rakyat-rakyat kerajaan tersebut menyadari bahwa ini terjadi berkat kebijaksanaan raja dalam menemukan solusi. Mereka memuji-muji sang raja, sehingga puji-pujian terdengar di berbagai wilayah. Salah satu petugas kerajaan yang mengetahui hal ini kemudian menghadap kepada sang raja dan berkata,

“Oh! Berbahagialah para rakyat yang berada di dalam perlindunganmu! Sungguh tiada ayah yang dapat menjadi wali yang lebih baik bagi anak-anaknya selain baginda!”

Mereka semua pun bersukacita.

Dan jika korban yang terbunuh dalam upacara pengorbanan benar-benar masuk surga, bukankah seharusnya kita mengharapkan para Brāhmana itu yang mempersembahkan diri mereka sendiri untuk dikorbankan dalam upacara pengorbanan? Namun, aku tidak melihat mereka melakukan praktik seperti itu. Kalau begitu, siapa yang dapat menerima nasihat yang diberikan oleh para penasihat ini?

Wahai penguasa yang bijak, upacara pengorbanan mereka lakukan demi mencapai beberapa tujuan sesungguhnya adalah tindakan keji, karena menyebabkan penderitaan kepada pada makhluk hidup.

“Siapa yang menginginkan kebaikan kepada rakyatnya, dirinya berusaha,
Dengan demikian mendatangkan keselamatan, kemuliaan, kebahagiaan.
Tiada orang lain yang dapat menjadi raja seperti ini.”

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti

Kisah tentang Avisahya (Kisah Relief Jatakamala 5)

Kisah tentang Avisahya
(Kisah Relief Jatakamala 5)

Ringkasan:

Avisahya adalah seorang kaya raya yang senang membantu orang-orang yang berada dalam kesusahan. Kemurahan hatinya membuat namanya sangat termahsyur, bahkan hingga ke alam para dewa sekalipun. Pada suatu ketika, Sakra (raja para dewa) ingin menguji hatinya. Dengan menggunakan kesaktian, Sakra menghilangkan seluruh harta milik Avisahya, menyisakan sebuah arit dan seutas tali saja. Menyadari hartanya lenyap, Avisahya justru semakin menyadari betapa menderitanya hidup dalam kemiskinan. Ia pun mengambil arit, mencari rumput, dan menjualnya untuk mendapatkan uang. Alih-alih menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri, Avisahya justru menggunakan uang itu untuk membantu orang-orang miskin yang masih datang kepadanya. Sakra merasa takjub atas kemurahan hati Avisahya, kemudian mengembalikan hartanya.


5.1. Bodhisattva terlahir sebagai Avisahya

Pada suatu ketika, hiduplah seorang pemimpin perkumpulan yang bernama Avisahya. Harta kekayaannya yang melimpah tidak menggelapkan matanya, ia justru menggunakannya untuk membantu orang-orang yang sedang berada dalam kesusahan. Hartanya terus ia gunakan demi kepentingan orang lain. Nama Avisahya sendiri sebenarnya adalah julukan yang diberikan orang-orang kepadanya, yang berarti “Tidak Terkalahkan” karena ia tidak terkalahkan oleh kejahatan dan keegoisan.

5.2. Avisahya senang membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan

Rasa welas asih dan kemurahan hati Avisahya sangat besar. Ketika ia melihat para pengemis yang datang meminta bantuannya, hati kecilnya tersentuh. Rasa welas asih mendorongnya untuk membantu mereka, dan dalam hatinya tidak ada ruang sama sekali untuk melekati harta bendanya. Ia menyadari betul bahwa segala materi adalah sementara, oleh karena itu harus ia gunakan untuk meringankan penderitaan orang lain.

5.3. Avisahya kehilangan harta bendanya dan tetap membantu sesama

Kemurahan hati Avisahya terdengar hingga ke alam para dewa, membuat Sakra – raja para dewa – merasa penasaran dengannya. Sakra kemudian berniat mengujinya. Pada suatu hari, Avisahya menyadari bahwa hartanya menghilang dengan semakin cepat. Tapi alih-alih berhenti membantu orang lain, Avisahya justru merasa semakin terdorong untuk berbuat baik karena menyadari hartanya akan habis tidak lama lagi dan ia akan kehilangan kemampuan untuk membantu sesama.

Hal ini membuat Sakra semakin merasa penasaran. Akhirnya, Sakra melenyapkan seluruh harta benda miliki Avisahya, menyisakan dua hal saja, yakni sebuah arit dan seutas tali. Dan ketika Avisahya menyadari ia sudah kehabisan harta, ia sama sekali tidak meratapi harta bendanya. Ia justru berpikir bahwa orang yang diam-diam mencuri isi rumahnya mungkin sedang membutuhkan bantuan dan tidak berani meminta, oleh karena itu setidaknya hartanya masih berguna untuk orang lain.

Tetapi orang-orang masih datang untuk meminta bantuan Avisahya, sedangkan ia menyadari bahwa ia sudah tidak memiliki apa pun untuk diberikan. Menyadari hal ini, ia semakin merasa iba dengan para fakir miskin. Akhirnya ia mengambil arit untuk mencari rumput, mengikatnya dengan tali, dan menjualnya untuk mendapatkan uang. Uang tersebut kemudian ia gunakan untuk membantu fakir miskin.

5.4. Sakra merasa kagum dan mengembalikan harta milik Avisahya

Sakra, menyaksikan hal ini, merasa sangat kagum dengan Avisahya. Tapi Sakra berniat mengujinya satu kali lagi. Ia menampakkan dirinya di depan Avisahya yang sedang menyiangi rumput, dan berkata,

“Bukan pencuri, air, atau api yang merampok kekayaanmu. Ini adalah akibat dari kemurahan hatimu sendiri, yang telah membawamu ke dalam kondisi ini. Hal ini membuat teman-temanmu merasa khawatir.

Untuk alasan inilah aku memberitahumu, demi kebaikanmu sendiri: tahanlah kecintaanmu yang menggebu-gebu terhadap berdana. Meskipun engkau miskin saat ini, jika engkau tidak memberi, engkau mungkin akan mendapatkan kembali kekayaan indahmu yang dulu.”

Tetapi Avisahya menjawab:

“Kekayaan datang dan pergi bagai kilatan petir, melekatinya akan menyebabkan banyak penderitaan; sedangkan berdana adalah sumber kebahagiaan. Bagaimana mungkin aku dapat memikirkan diriku sendiri saja?”

Sakra kembali menggodanya:

“Engkau harus mengumpulkan kekayaan yang melebihi kemegahan pesaing-pesaingmu, dan dengan ini hartamu akan terkumpul kembali. Lepaskanlah keinginanmu untuk membantu fakir miskin. Bukankah engkau tidak melakukan kejahatan apa pun, jika engkau tidak memberi karena sudah tidak memiliki apa-apa?”

Avisahya kembali menjawab:

“Durasi hidup kita tidak pasti seperti kemakmuran dari harta kekayaan kita. Setelah merenungkan ini, kita tidak boleh mementingkan kekayaan kita saat bertemu dengan fakir miskin.

Dan jika sekali lagi aku mendapatkan kekayaan yang besar, itu pasti akan menyenangkan pikiran para pengemis: dan untuk saat ini, bahkan dalam kondisi ini, aku akan memberikan dana sesuai dengan kemampuanku. Dan semoga aku tidak pernah ceroboh dalam menepati ikrar amalku, wahai Śakra!”

Mendengar hal ini, Sakra tidak mampu lagi untuk menguji Avisahya. Hatinya dipenuhi dengan kekaguman. Akhirnya Sakra mengakui bahwa ia hanya sedang menguji Avisahya, dan mengembalikan seluruh hartanya. Setelah meminta maaf terhadap apa yang sudah ia lakukan kepada Avisahya, Sakra berpamitan dan kembali ke alam surga.

Kekayaan berubah-ubah bagai kilatan petir; itu mungkin datang kepada semua orang, dan itu adalah penyebab dari banyak bencana; sedangkan berdana adalah sumber kebahagiaan. Dengan demikian, bagaimana mungkin seorang bangsawan berpegang teguh pada keegoisan?

Bahkan dia yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri daripada kepentingan orang lain, harus melakukan pemberian, bukan memedulikan kekayaan. Karena kemewahan yang besar tidak memberinya kegembiraan seperti itu, karena kegembiraan disebabkan oleh kepuasan yang dia nikmati dengan menundukkan ketamakan melalui perbuatan berdana.

Durasi hidup kita tidak pasti seperti kemakmuran dari harta kekayaan kita. Setelah merenungkan ini, kita tidak boleh mementingkan kekayaan kita saat bertemu dengan fakir miskin.

Ah! Betapa hatimu bersinar dengan kilau keagungan yang luar biasa, dan betapa ia telah menghapus kegelapan perasaan mementingkan diri sendiri sepenuhnya, bahkan setelah kehilangan kekayaanmu, harapan untuk memulihkannya tidak dapat merusaknya dengan mengurangi kemurahan hatinya!

Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura
Disusun oleh Garvin Goei
Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti