Kisah tentang Brahmana (Kisah Relief Jatakamala 12)
Ringkasan:
Seorang guru yang terkemuka menceritakan kepada murid-muridnya bahwa ia telah hidup menderita dalam kemiskinan, dan oleh sebab itu ia meminta mereka untuk mengambil harta seseorang di tempat dan waktu yang tidak akan diketahui oleh orang lain. Murid-muridnya menyetujui perintah sang guru, kecuali seorang pemuda brahmana. Ketika sang guru bertanya mengapa ia nampak keberatan, pemuda itu menjawab bahwa tidak mungkin untuk mengambil sesuatu tanpa diketahui oleh satu orang pun, karena setidaknya dirinya sendiri akan mengetahuinya. Sang guru memuji kecerdasan sang murid.
12. Sang guru memberikan instruksi kepada murid-muridnya
Pada suatu ketika, Bodhisattva terlahir di sebuah keluarga brāhmana yang terkemuka. Ketika ia berusia pemuda, ia menetap di rumah gurunya yang adalah seorang brāhmana yang sangat termashyur. Pemuda ini memiliki kecerdasan yang sangat unggul, sehingga ia dapat mempelajari Veda dengan cepat dan membuat ia disukai oleh gurunya.
Suatu hari, sang guru bermaksud untuk menguji moralitas murid-muridnya. Sang guru memanggil mereka semua dan menceritakan kemalangannya karena tidak mendapatkan sokongan dari keluarga dan harus hidup dalam kemiskinan. Guru menceritakannya dengan sedemikian rupa sehingga para murid tersentuh mendengar kisahnya. Tidak ingin guru mereka menderita lebih lama lagi, mereka pun bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk meringankan penderitaan sang guru.
Guru pun menjawab bahwa ajaran para brāhmana mengizinkan seseorang untuk melakukan pencurian bila orang itu sedang berada dalam kesulitan. Oleh karena itu, sang guru meminta murid-muridnya untuk mengambil harta orang lain pada tempat dan waktu yang tidak akan diketahui oleh orang lain.
Murid-murid itu menyetujui perintah guru mereka, kecuali sang pemuda brāhmana tersebut. Ia menyadari bahwa perintah gurunya tidak sesuai dengan Dharma, sehingga ia merasa sedih dan menunduk.
Guru yang menyadari bahwa muridnya yang cerdas ini tidak menyetujuinya, bertanya-tanya dalam hati: “Mengapa dia tidak menyetujui pencurian? Apakah karena tindakan itu membutuhkan keberanian atau karena ia tidak patuh kepadaku? Atau apakah dia benar-benar tahu bahwa itu adalah tindakan yang jahat?”
Lalu guru bertanya kepada sang pemuda. Setelah memberi hormat kepada gurunya, pemuda brāhmana itu menjawab bahwa instruksi gurunya itu tidak dapat ia lakukan.
“Aku berpikir bahwa cara bertindak yang guru ajarkan kepada kami tidak dapat dilakukan. Tidaklah mungkin untuk melakukan perbuatan jahat tanpa terlihat. Mengapa? Karena tidak mungkin untuk benar-benar sendirian.
Bagi pelaku kejahatan, tidak ada satupun tempat di dunia ini untuk melakukannya sendirian. Bukankah para makhluk yang tidak terlihat dan sang Muni yang murni, yang matanya diberkahi dengan kesaktian, mengawasi tindakan manusia?
Karena tidak melihat mereka, orang bodoh mengira dia sedang sendirian dan melakukan tindakan buruk.
Aku adalah saksi yang jauh lebih cermat atas perbuatanku sendiri daripada orang lain. Orang lain bisa saja melihatku maupun tidak, karena pikirannya sibuk dengan urusannya sendiri. Tetapi diriku, yang bersemangat karena dipenuhi oleh nafsu, tahu dengan pasti bahwa aku sedang melakukan kejahatan.”
Setelah mendengarkan jawaban sang murid, gurunya menjadi sangat kagum dan gembira. Ia bangkit dari tempat duduknya, memeluk sang murid dan berkata, “Baiklah, sangat baik, putraku! Sungguh ucapan yang sangat baik, ucapan yang sangat baik, wahai Brāhmana yang mulia! Inilah kecerdasanmu yang tajam, dihiasi oleh ketenangan batin.”
Demikianlah, rasa tahu malu akan mencegah orang-orang bajik untuk melakukan perbuatan jahat.
Bagi pelaku kejahatan, tidak ada satupun tempat di dunia ini untuk melakukannya sendirian. Bukankah para makhluk yang tidak terlihat dan sang Muni yang murni, yang matanya diberkahi dengan kesaktian, mengawasi tindakan manusia? Karena tidak mampu melihat mereka, orang bodoh mengira dia sedang sendirian dan melakukan tindakan buruk. Lagipula aku sama sekali tidak mengetahui tempat yang sepi tanpa ada orang lain. Sekalipun aku tidak melihat ada orang lain, bukankah di sana ada diriku sendiri?
Aku adalah saksi yang jauh lebih cermat atas perbuatanku sendiri daripada orang lain. Orang lain bisa saja melihatku maupun tidak, karena pikirannya sibuk dengan urusannya sendiri. Tetapi diriku, yang bersemangat karena dipenuhi oleh nafsu, tahu dengan pasti bahwa aku sedang melakukan kejahatan.
Lebih baik mengambil mangkuk dan jubah kusam, melihat kemewahan rumah besar musuhnya sendiri, daripada dengan tanpa malu mengarahkan pikiran untuk membunuh kebenaran.
Orang bodoh melalaikan tanggung jawabnya, digerakkan oleh berbagai alasan; tetapi yang bajik tidak membiarkan diri mereka tersesat meskipun dalam kesulitan terbesar sekalipun. Pertapaan, pembelajaran, dan kebijaksanaan menjadi kekayaan mereka.
Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura Disusun oleh Garvin Goei Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti
Jātakamālā 12 – Brāhmaṇajātakam (Kisah tentang Brahmana)
Jātakamālā 12 – Brāhmaṇajātakam (Kisah tentang Brahmana)
Ditulis oleh: Ācārya Āryaśūra
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh: J. S. Speyer
Suntingan Bahasa Inggris oleh: Bhikkhu Anandajoti
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Garvin Goei
Rasa tahu malu melarang orang bajik untuk melanggar batas perilaku baik mereka. Inilah yang akan diajarkan berikut ini.
Pada suatu ketika diceritakan bahwa Bodhisattva terlahir kembali dalam keluarga Brāhmana yang termasyhur, yang bereputasi baik karena garis keturunan dan perilaku mereka. Mereka sangat dihormati dan terkenal, mematuhi tradisi mereka dan menjunjung tinggi pendidikan serta perilaku yang baik. Setelah secara berurutan menerima upacara-upacara pemberkahan yang berbeda: garbhādhāna, puṁsavana, sīmantonnayana, jātakarma, dan sisanya, ia berdiam di rumah gurunya, yang adalah seorang Brāhmana yang terkemuka oleh keunggulan pembelajarannya, oleh kelahirannya, dan oleh praktik tradisinya, dengan tujuan mempelajari Weda.
(1) Kecepatannya dalam menguasai dan mengingat teks-teks yang diajarkan kepadanya, baktinya yang taat yang menjadi nama baik keluarganya – suatu kebajikan dalam perilakunya yang dihiasi oleh ketenangan, sebuah ornament yang langka di dalam seorang pemuda, membuatnya disukai oleh gurunya.
(2) Kebajikan yang dipraktikkan tanpa henti adalah mantra sakti yang dapat memenangkan cinta kasih bahkan bagi yang sedang terbakar oleh api kebencian, apalagi bagi mereka yang berhati lembut.
Gurunya, dalam jeda waktu istirahat dalam pembelajaran suci, dengan tujuan menguji moral semua muridnya, sering memberi tahu mereka tentang penderitaannya yang dialami sebagai akibat dari kemiskinannya.
(3) “Baginya tidak ada bantuan yang diberikan oleh keluarganya, Tiada kegembiraan yang menjadi miliknya, bahkan pada hari libur, Dan meminta sedekah yang malang membuatnya sakit. Keinginan seorang yang miskin, bagaimanakah itu bisa terpenuhi?
(4) Menjadi miskin berarti diabaikan, dilahirkan untuk berkerja keras, Merupakan kondisi yang amat sulit, tanpa kesenangan, dilimpahi oleh kekurangan, menderita tiada henti.”
Bagai kuda unggul yang ditusuk dengan taji, murid-muridnya merasa sangat tersentuh dengan kata-kata guru spiritual mereka, dengan penuh kesungguhan memberikan kepadanya makanan yang lebih banyak dan dipersiapkan lebih baik dari biasanya. Tetapi dia berkata kepada mereka: “Tuan-tuan yang baik, jangan memaksakan diri dengan cara ini. Makanan yang diperoleh dengan meminta setiap hari tidak akan mengurangi penderitaan karena kemiskinan. Jika kalian tidak dapat menanggung kesulitanku, kalian sebaiknya menerapkan ini sebagai upaya kalian untuk mendapatkan kekayaan. Dengan melakukan ini, kalian akan bertindak dengan cara yang benar. Mengapa aku mengatakan demikian?
(5) Kelaparan dihilangkan oleh makanan, dan kehausan dihilangkan oleh air. Suara yang mengucapkan mantra bersama dengan obat dapat mengusir penyakit. Namun kepedihan akibat kemiskinan dihancurkan oleh kekayaan, yang membuat seseorang dihargai oleh sanak saudaranya.”
Murid-murid menjawab: “Apa yang bisa kami lakukan untukmu? Kami tidak bergembira karena merasa tidak berdaya. Bahkan,
(6, 7) Jika kekayaan dapat diperoleh dengan cara mengemis seperti makanan, kami tidak akan membiarkan Anda menderita oleh kemiskinan dengan cara seperti ini, wahai guru. Tetapi ini masalahnya:
Cara yang tepat, meskipun lemah, bagi para Brāhmana untuk memperoleh kekayaan adalah dengan menerima hadiah: tetapi orang-orang di sini tidak dermawan. Maka kami tidak berdaya, dan oleh ketidakberdayaan ini kami diliputi oleh kesedihan.”
Sang guru menjawab: “Tetapi masih ada cara lain untuk mendapatkan uang, dan itu dijelaskan dalam kitab-kitab hukum. Namun, kekuatanku habis karena usia tua, sehingga aku tidak dapat menerapkannya.”
Murid-murid berkata: “Tetapi kekuatan kami tidak dirusak oleh usia tua, guru. Jika kemudian, Anda menganggap kami mampu bertindak berdasarkan peraturan dari kitab-kitab hukum itu, mohon beritahu kami. Dengan demikian kami dapat membalas jerih payah Anda dalam mengajari kami.”
Sang guru berkata: “Tidak, alat untuk menghasilkan uang seperti itu hampir tidak tersedia untuk para pemuda yang pikirannya kurang memiliki tekad yang kuat. Tetapi jika Yang Mulia mendesakku, maka baiklah, kalian dapat belajar dariku tentang salah satu cara tersebut.
(8) Diajarkan bahwa pada masa-masa sulit, pencurian adalah mata pencaharian yang diizinkan bagi para Brāhmana. Menurutku kemiskinan merupakan kesulitan terbesar di dunia ini, sehingga kita tidak disalahkan untuk menikmati kekayaan orang lain. Seluruh barang ini, sesungguhnya, adalah milik para Brāhmana.
(9) Pria-pria seperti kalian, tidak diragukan lagi akan dapat memperoleh kekayaan melalui kekerasan. Namun kalian tidak boleh melakukan cara pengambilan seperti itu, kalian harus memperhatikan reputasi kalian. Oleh karena itu, kalian harus berusaha di tempat dan waktu yang tidak akan diketahui oleh orang lain (sendirian).”
Dengan ucapan seperti itu dia mengendurkan kekangan pada murid-muridnya. Oleh karena itu mereka berseru “Baiklah,” menyetujui kata-kata buruknya seolah-olah itu adalah baik, dan mereka semua berkeinginan untuk melakukannya. Semuanya – kecuali sang Bodhisattva.
(10) Kebaikan hatinya melarangnya untuk menuruti nasihat guru, dan sebaliknya langsung memaksanya untuk menentangnya, meskipun tugas itu telah diterima oleh para murid yang lain.
Disertai dengan rasa malu dan tatapan yang sedih, dia menunduk, menghela nafas lembut dan tetap diam. Sang guru menyadari bahwa Bodhisattva tidak menyetujui cara menghasilkan uang yang seperti itu, dan karena dia sangat menghormati kebajikan sang Mahāsattva itu, dia merenung: “Mengapa dia tidak menyetujui pencurian? Apakah karena tindakan itu membutuhkan keberanian atau karena tidak patuh kepadaku? Atau apakah dia benar-benar tahu bahwa itu adalah tindakan yang jahat?” Kemudian untuk mengetahui isi pikirannya yang sesungguhnya, dia berbicara seperti ini kepada Bodhisattva: “Katakanlah, wahai Brāhmana yang mulia,
(11) Mereka yang terlahir dua kali, tidak mampu menanggung kemalanganku, bersedia untuk menempuh jalan hidup yang diikuti oleh mereka yang bersemangat dan para pahlawan; tetapi di dalam dirimu aku tidak menemukan apa pun selain kemalasan dan kelambanan. Tentu, dirimu tidak terpengaruh oleh kesusahan kami.
(12) Bukankah penderitaanku sudah jelas? Seluruhnya terbuka di depan matamu. Aku telah menjelaskannya dengan ucapan. Meskipun demikian, engkau tetap diam! Bagaimana bisa pikiranmu tidak terganggu dan tidak tersentuh oleh kesedihan?”
Tersentak, Bodhisattva memberi hormat kepada guru, sambil berucap dengan gugup: “Langit melarang perasaan seperti itu! Sesungguhnya, bukan karena menginginkan perhatian atau berhati keras yang menyebabkan terdiam, juga bukan karena aku tidak tergerak oleh penderitaan guruku, melainkan aku berpikir bahwa cara bertindak guru ajarkan kepada kami tidak dapat dilakukan. Tidaklah mungkin untuk melakukan perbuatan jahat tanpa terlihat. Mengapa? Karena tidak mungkin untuk benar-benar sendirian.
(13, 14) Bagi pelaku kejahatan, tidak ada satupun tempat di dunia ini untuk melakukannya sendirian. Bukankah para makhluk yang tidak terlihat dan sang Muni yang murni, yang matanya diberkahi dengan kesaktian, mengawasi tindakan manusia? Karena tidak melihat mereka, orang bodoh mengira dia sedang sendirian dan melakukan tindakan buruk.
(15) Lagipula aku sama sekali tidak mengetahui tempat yang sepi tanpa ada orang lain. Sekalipun aku tidak melihat ada orang lain, bukankah di sana ada diriku sendiri?
(16, 17) Aku adalah saksi yang jauh lebih cermat atas perbuatanku sendiri daripada orang lain. Orang lain bisa saja melihatku maupun tidak, karena pikirannya sibuk dengan urusannya sendiri. Tetapi diriku, yang bersemangat karena dipenuhi oleh nafsu, tahu dengan pasti bahwa aku sedang melakukan kejahatan.
Karena alasan inilah, aku menyisihkan diri dari yang lain.” Dan memahami bahwa gurunya tenang dengan penjelasannya, Bodhisattva melanjutkan:
(18) “Aku juga tidak dapat meyakinkan diriku sendiri bahwa engkau akan menipu kami dengan cara ini, hanya demi mendapatkan kekayaan. Sungguh, siapakah yang mengetahui perbedaan antara kebajikan dan kejahatan, yang akan membiarkan dirinya tergoda oleh kekayaan dengan menindas kebajikan?
Mengenai tekadku sendiri, aku akan memberi tahu kepadamu tentang itu.
(19) Lebih baik mengambil mangkuk dan jubah kusam, melihat kemewahan rumah besar musuhnya sendiri, daripada dengan tanpa malu mengarahkan pikiran untuk membunuh kebenaran, bahkan dengan tujuan untuk menjadi raja para dewa!”
Mendengar kata-kata ini gurunya menjadi sangat kagum dan gembira, bangkit dari tempat duduknya, memeluknya, dan berkata kepadanya: “Baiklah, sangat baik, putraku! Sungguh ucapan yang sangat baik, ucapan sangat baik, wahai Brāhmana yang mulia! Ini menjadi kecerdasan tajammu yang dihiasi oleh ketenangan batin.
(20) Orang bodoh melalaikan tanggung jawabnya, digerakkan oleh berbagai alasan; tetapi yang bajik tidak membiarkan diri mereka tersesat meskipun dalam kesulitan terbesar sekalipun. Pertapaan, pembelajaran, dan kebijaksanaan menjadi kekayaan mereka.
(21) Bagai bulan yang terbit di musim gugur menghiasi cakrawala, demikian pula engkau adalah hiasan dari keluargamu yang sepenuhnya tak bernoda. Teks-teks suci yang telah engkau pelajari bermanfaat penuh bagimu. Engkau telah memahaminya dengan baik, tampak jelas melalui perilaku baikmu; dan kerja kerasku dimahkotai dengan keberhasilan, tidak menjadi sia-sia.”
Maka, rasa tahu malu melarang orang bajik untuk melanggar batas perilaku baik mereka. [Untuk alasan inilah para ārya harus memiliki perlindungan yang kuat di dalam rasa malu.
(Kisah ini) harus dikemukakan dengan kata-kataseperti ini: “Dengan cara ini, pengikut setia dari keyakinan kita (āryaśrāvaka), dijaga dengan baik oleh parit rasa malunya, menghindari apa yang berbahaya dan menumbuhkan apa yang bermanfaat.”
Begitu pula dalam ajaran-ajaran yang membahas tentang perasaan malu dan terkait opini masyarakat.]
Kisah tentang Unmadayanti (Kisah Relief Jatakamala 13)
Ringkasan:
Seorang pedagang menawarkan putrinya yang dijuluki “Unmadayanti” (dia yang membuat orang tergila-gila) untuk dinikahi oleh raja. Namun atas saran dari para Brahmana yang mengatakan bahwa Unmadayanti tidak membawa peruntungan bagi raja, raja menolak tawaran untuk menikahinya. Akhirnya Unmadayanti dinikahkan dengan Abhiparaga, salah seorang pejabat kerajaan. Suatu hari, ketika sang raja sedang melihat-lihat kota, ia tidak sengaja melihat seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu adalah Unmadayanti. Sang raja kemudian terus memikirkan Unmadayanti dan tergila-gila kepadanya. Abhiparaga yang mengetahui ini menemui raja dan mempersilahkan raja untuk merebut Unmadayanti darinya. Namun sang raja tahu bahwa hal ini tidak sesuai dengan Dharma, menolak penawaran tersebut.
13.1. Pedagang memberi tahu raja bahwa ia memiliki putri yang sangat cantik
Pada suatu ketika, Bodhisattva terlahir sebagai raja suku Sibi. Ia memerintah dengan benar dan berperilaku sesuai dengan Dharma. Di ibu kota negeri tersebut, hiduplah seorang pedagang yang memiliki putri berparas amat cantik. Semua pria mengagumi kecantikan putri pedagang tersebut, membuat mereka terus memikirkannya. Oleh sebab itu, putri sang pedagang dijuluki sebagai Unmadayanti, yang berarti “membuat tergila-gila”.
Bermaksud untuk menikahkan anaknya dengan sang raja, pedagang itu menghadap raja dan memberi tahu bahwa ia memiliki putri yang cantik. Menyambut perkenalan dari pedagang, raja mengirim beberapa Brahmana untuk melihat perempuan itu untuk menilai apakah putri sang pedagang memiliki tanda-tanda keberuntungan sehingga dapat dinikahi oleh raja.
13.2. Unmadayanti menjamu para brahmana
Pedagang itu kemudian mengantar para brahmana menuju ke rumahnya. Di sana, ia memerintahkan Unmadayanti untuk menjamu mereka. Para brahmana, setelah melihat Unmadayanti, tidak dapat mengalihkan pandangan mereka darinya. Kecantikan Unmadayanti telah menyentuh hati mereka. Ayahnya (sang pedagang), mengetahui bahwa ini sudah tidak benar, meminta Unmadayanti untuk masuk ke dalam rumah serta mempersilakan para brahmana untuk pulang.
13.3. Para brahmana melapor kepada raja
Sebelum menghadap kembali kepada raja, para brahmana mulai berdiskusi. Mereka berpikir bahwa kecantikan Unmadayanti dapat membuat seseorang tergila-gila, dan oleh sebab itu berbahaya bagi sang raja. Mereka berpendapat bahwa kecantikan Unmadayanti dapat mengurangi semangat raja dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai pemimpin kerajaan.
Mereka kemudian menghadap raja. Di sana mereka mengatakan bahwa Unmadayanti tidak cocok untuk dinikahi oleh raja:
“Kami telah melihat gadis itu, wahai raja yang agung. Dia cantik dan memiliki pesona yang indah, tapi tidak lebih lagi; dia memiliki tanda yang tidak menguntungkan, pertanda kehancuran dan ketidakberuntungan. Untuk alasan inilah Yang Mulia seharusnya tidak melihatnya, apalagi menikahinya.”
Raja, atas nasihat para brahmana, mengurungkan niat untuk menikahi Unmadayanti. Pedagang itu, yang tahu bahwa raja tidak tertarik dengan anaknya, kemudian menikahkan Unmadayanti dengan Abhiparaga, seorang pejabat kerajaan sang raja.
13.4. Raja melihat Unmadayanti
Waktu terus berjalan hingga tibalah festival Kaumudi, salah satu perayaan besar di kerajaan tersebut. Jalan-jalan dihiasi dengan dekorasi yang indah, disertai dengan suara-suara nyanyian yang indah dan meriah. Raja kemudian ingin menyaksikan pemandangan kota dan meminta agar para penjaga menemaninya. Raja menikmati pemandangan dan riuh meriah ibu kota, hingga akhirnya ia berada dekat dengan rumah Abhiparaga. Unmadayanti, yang kini sudah menjadi istri Abhiparaga, merasa kecewa karena pernah ditolak oleh sang raja. Ia kemudian berpura-pura penasaran ingin melihat raja, kemudian keluar dari dalam rumah. Raja, yang selama ini belum pernah meliaht Unmadayanti, akhirnya melihatnya untuk pertama kali. Kecantikannya yang luar biasa membuat sang raja terdiam menatapnya.
Ketika kembali lagi ke istana, sang raja terdiam. Benaknya terus terbayang-bayangi oleh sosok Unmadayanti, yang membuat ia bertanya kepada kusirnya mengenai sosok wanita yang ia lihat tadi. Sang kusir mengatakan bahwa wanita itu bernama Unmadayanti, istri dari pejabatnya sendiri yang bernama Abhiparaga. Mengetahui bahwa wanita tadi sudah bersuami, raja merasa putus asa.
“Ah! Sungguh, dia pantas menyandang namanya yang lembut dan terdengar indah. Unmādayantī yang tersenyum manis ini telah membuatku hampir gila. Aku akan melupakannya, tetapi aku selalu melihatnya dalam pikiranku; karena pikiranku bersamanya, atau lebih tepatnya, dia telah menguasai pikiranku. Dan pikiran lemah ini adalah salahku karena memikirkan istri orang lain! Tidak diragukan lagi, aku tergila-gila; rasa malu tampaknya telah meninggalkanku, seolah telah tertidur lelap.”
13.5. Abhiparaga menemui Sang Raja
Abhiparaga yang adalah pejabat sang raja mengamati bahwa ada yang tidak beres dengan sang raja. Ia kemudian mencari tahu penyebab hal itu dan mengetahui bahwa sang raja ternyata sedang tergila-gila dengan istrinya. Abhiparaga merenung sebentar. Ia menyadari bahwa seseorang yang dimabuk cinta dapat melakukan sesuatu yang berada di luar kendali, pun ia juga menghormati sang raja. Maka, ia meminta raja untuk bertemu secara rahasia.
Raja yang menyetujui ajakan tersebut kemudian bertemu dengan Abhiparaga. Pada pertemuan itu, Abhiparaga meminta agar raja mau merebut Unmadayanti yang adalah istrinya sendiri. Raja tentu saja menolak tawaran tersebut.
“Tidak, itu tidak mungkin. Aku akan kehilangan jasa kebajikanku dan aku tahu bahwa diriku tidak abadi. Selanjutnya, perbuatan jahatku juga akan diketahui oleh publik. Lagipula, jika api kesedihan membakar hatimu karena perpisahan ini, api itu akan melalapmu dalam waktu yang lama, seperti api yang membakar habis rumput kering.
Dan perbuatan seperti itu, yang akan menyebabkan penderitaan baik di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya, dilakukan oleh orang yang tidak bijaksana dan tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang bijaksana. Inilah alasannya.”
Namun Abhiparaga tetap bersikeras untuk menyerahkan istrinya kepada sang raja. Abhiparaga kemudian berusaha meyakinkan sang raja:
“Ini adalah kesepakatan di antara kita; tidak ada orang lain yang perlu mengetahuinya. Oleh karena itu, jangan pikirkan rasa takut akan disalahkan oleh pendapat masyarakat.”
Namun raja tetap bersikeras untuk tidak merebut Unmadayanti dari Abhiparaga, bahkan raja menyatakan bahwa ia menghormati mereka berdua.
“Siapa yang dengan melampaui kesetiaannya kepadaku tidak mengindahkan hidupnya sendiri, adalah temanku, yang lebih kucintai daripada kerabat-kerabatku sendiri. Istrinya harus aku hormati sebagai istri seorang teman.”
Dan untuk ketiga kalinya, Abhiparaga tetap berupaya agar raja dapat menikahi Unmadayanti. Tapi raja tetap menolaknya, mengatakan bahwa hal itu tidak sepantasnya ia lakukan. Raja kemudian menyampaikan bahwa rakyat-rakyatnya meneladani tindak-tanduknya. Jika ia berani merebut istri orang, maka rakyatnya pun akan meniru perilaku salah itu.
Selain itu, sang raja yang telah mengenal Dharma, paham bahwa ia harus mampu mengendalikan nafsunya sendiri. Ia tidak sehendaknya merebut istri orang lain. Ia harus mampu mengendalikan dirinya sendiri agar pantas untuk memimpin orang lain.
Setelah diyakinkan oleh sang raja, Abhiparaga kemudian memahami bahwa raja benar-benar tidak menginginkan istrinya. Abhiparaga merasa kagum dan berkata, “Oh! Sungguh para rakyat ini dicintai oleh nasib baik karena memiliki penguasa sepertimu, raja yang terhormat.”
Abhiparaga pun tetap hidup bersama dengan istrinya, dan sang raja tetap kukuh dengan pengendalian dirinya.
Orang-orang bajik enggan untuk mengikuti jalan hidup yang rendah, bahkan ketika sedang dilanda sakit yang sangat menyedihkan sekalipun. Keteguhan hati mencegah mereka dari tindakan seperti itu. Ini akan diajarkan sebagai berikut
Bagaimana mungkin kebahagiaan dapat dimiliki oleh seseorang yang melakukan perbuatan buruk, meskipun tidak ada yang menyaksikannya?
Siapapun, dengan mengabaikan kebenaran, tidak peduli terhadap celaan manusia atau akibar buruk di kelahiran berikutnya, akan memperoleh hal ini: dalam kehidupan ini orang-orang tidak akan mempercayainya; dan pasti, setelah kematian dia akan kehilangan kebahagiaannya.
Jika aku tidak mampu mengatur diriku sendiri, maka bagaimana dengan nasib orang-orang yang mengharapkan perlindungan dariku?
Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura Disusun oleh Garvin Goei Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti
Jātakamālā 13 – Unmādayantījātakam (Kisah tentang Unmadayanti)
Jātakamālā 13 – Unmādayantījātakam (Kisah tentang Unmadayanti)
Ditulis oleh: Ācārya Āryaśūra
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh: J. S. Speyer
Suntingan Bahasa Inggris oleh: Bhikkhu Anandajoti
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Garvin Goei
Orang-orang bajik enggan untuk mengikuti jalan hidup yang rendah, bahkan ketika sedang dilanda sakit yang sangat menyedihkan sekalipun. Keteguhan hati mencegah mereka dari tindakan seperti itu. Ini akan diajarkan sebagai berikut
Pada suatu ketika, Sang Bodhisattva, dengan mempraktikkan kebajikan, kejujuran, kemurahan hati, ketenangan pikiran, kebijaksanaan yang tiada banding, dan sebagainya, mengupayakan dirinya untuk kepentingan para makhluk. Dikisahkan bahwa dia adalah raja para Śibi, berperilaku bagai perwujudan dari kebenaran dan pengendalian diri, dan berniat untuk memajukan kesejahteraan rakyat-rakyatnya seperti seorang ayah.
(1) Bagai seorang ayah yang membimbing putranya, sang raja menjaga rakyat-rakyatnya dari perbuatan salah dan menjaga mereka dalam kebajikan-kebajikan mulia membawa sukacita baik dalam kehidupan ini dan berikutnya.
(2) Sang raja menjalankan keadilan sesuai jalan kebenaran, tidak membeda-bedakan sanak saudara dan yang lain, menghalangi para rakyat dari jalan perilaku yang salah, bagai tangga penuh bunga menuju surga.
(3) Sang penguasa memandang bahwa kesejahteraan para makhluk merupakan akibat dari moralitas dan merupakan tugas tunggalnya. Sepenuh dirinya bergembira dalam jalan kebenaran dan tidak dapat membiarkan orang lain melanggarnya.
Di ibu kota kerajaan itu, salah satu warga utama kota memiliki seorang putri yang sangat cantik. Kecantikan yang menawan dari paras dan pesonanya membuat dia tampak seperti perwujudan dari dewi Śrī atau Rati atau salah satu dari para bidadari.
(4) Tiada seorang pun, kecuali mereka yang tanpa nafsu, yang setelah melihatnya, mampu mengalihkan pandangan dari parasnya, kecantikannya yang mempesona di mata semua orang yang melihatnya.
Dan untuk alasan inilah, para kerabat memanggilnya Unmādayantī (“dia yang membuat tergila-gila”).
Ayahnya memberi tahu raja bahwa dia memiliki anak perempuan yang cantik seperti itu: “Yang Mulia, wanita yang cantik bagai mutiara telah muncul di tanahmu. Semoga Yang Mulia berkenan untuk memutuskan apakah Anda akan menerimanya sebagai istri atau menolaknya.” Kemudian raja memerintahkan beberapa Brāhmana yang dapat mengenali tanda-tanda keberuntungan dari para wanita untuk pergi dan melihat gadis itu, menilai apakah dia akan menjadi istri yang cocok atau tidak baginya. Ayah Unmādayantī membawa mereka ke rumahnya, dan memerintahkan putrinya untuk mengurus tamu-tamunya sendirian. Dia berkata dia akan melakukannya, dan mulai melayani mereka di meja dengan cara yang tepat. Tapi tidak lama kemudian:
(5) Para brāhmana itu menatapnya, terus melihat wajahnya. Dewa cinta telah menaklukkan keteguhan mereka. Mereka kehilangan kendali atas pandangan dan pikiran mereka, kesadaran mereka tersingkirkan seolah-olah sedang mabuk.
Karena mereka tidak dapat menjaga raut wajah mereka untuk tetap serius, sopan, dan tenang, terutama ketika sedang makan, sang perumah tangga menarik putrinya dari jangkauan pandangan mereka dan menghadirkan dirinya di depan para Brāhmana. Setelah itu mereka pergi dan pulang. Dan mereka mempertimbangkan sebagai berikut: “Kecantikan yang indah dari gadis itu, sesungguhnya, memiliki sifat yang sangat mempesona, ia bertindak seperti mantra yang sangat ajaib. Karena alasan inilah raja tidak pantas melihatnya, apalagi menjadikannya sebagai ratu. Tergila-gila oleh kecantikannya yang luar biasa, tidak dapat diragukan lagi, dia akan mengurangi semangatnya untuk melakukan tugas-tugas agama dan pemerintahannya, dan kelalaiannya untuk menjalankan pekerjaannya dengan baik akan memberi akibat buruk kepada rakyat-rakyatnya, karena itu akan menghalangi sumber keuntungan dan kesejahteraan mereka.
(6) Bahkan memandang gadis itu akan cukup menjadi penghalang bagi para Muni yang sedang berjuang mengejar kesempurnaan kebijaksanaan; apalagi untuk menghalangi keberhasilan seorang pangeran muda, yang hidup dalam kesenangan dan terbiasa mengarahkan pandangannya kepada objek indriawi.
Oleh karena itu sudah sepantasnya kita bertindak seperti ini.” Setelah memutuskan demikian, mereka pergi ke hadapan raja pada waktu yang tepat dan melaporkan hal ini kepadanya: “Kami telah melihat gadis itu, wahai raja agung. Dia cantik dan memiliki pesona yang indah, tapi tidak lebih lagi; dia memiliki tanda yang tidak menguntungkan, pertanda kehancuran dan ketidakberuntungan. Untuk alasan inilah Yang Mulia seharusnya tidak melihatnya, apalagi menikahinya.
(7) Istri yang tercela menutupi kemuliaan dan kemewahan dua keluarga; bagai malam mendung tak berembulan yang menyembunyikan keindahan dan tatanan di bumi serta di surga.”
Diberi tahu seperti itu, sang raja membayangkan bahwa dia memiliki tanda-tanda yang tidak menguntungkan dan tidak cocok dengan keluarganya, menjadi tidak berkeinginan lagi untuk memilikinya. Ayah gadis itu, sang perumah tangga, mengetahui ketidaksenangan raja, menikahkan putrinya dengan seorang Abhipāraga, pejabat raja itu sendiri.
Lalu suatu ketika, pada saat perayaan Kaumudī sedang dilaksanakan, sang raja ingin menyaksikan kemegahan pesta di ibukotanya itu. Dia menaiki kereta kerajaannya dan berkendara melewati kota yang menunjukkan pemandangan menyenangkan. Jalan-jalan beserta alun-alunnya telah ditaburi dan dibersihkan; lantai putihnya ditaburi bunga beraneka warna; bendera dan spanduk yang berwarna-warni melayang tinggi; di mana-mana ada tarian dan nyanyian, bersama dengan pertunjukan komedi, dansa, dan musik; aroma-aroma bunga yang berbaur, dupa, bubuk harum, wewangian, karangan bunga, minuman keras, juga minyak wangi dan minyak yang digunakan untuk membersihkan diri, memenuhi udara dengan keharuman; barang-barang bagus ditunjukkan untuk dijual; jalan-jalan utama dipenuhi oleh kerumunan warga kota dan tuan tanah yang bergembira dengan pakaian terbaik mereka.
Saat melakukan perjalanan ini, raja mendekati rumah Abhipāraga. Unmādayantī, yang marah kepada raja karena dia telah menolaknya karena dianggap memiliki tanda-tanda yang tidak menguntungkan, berpura-pura penasaran ingin melihatnya, lalu turun ke jalan, diterangi oleh sosoknya yang gemilang dari atap datar rumahnya, seperti kilatan petir yang menghantam bagian atas awan; sang raja, pikirnya di dalam hatinya, harus mampu menjaga keteguhan pikirannya dan kendali atas indranya yang tak tergoyahkan terhadap pemandangan orang yang tidak beruntung sepertiku. Oleh karena itu, ketika raja, yang penasaran ingin melihat kemegahan ibukotanya, sedang melihat sekeliling, matanya tiba-tiba tertuju padanya, ketika dia sedang menghadap kepadanya. Saat melihatnya, sang raja,
(8, 9) Meskipun matanya terbiasa dengan daya tarik keindahan para selirnya; meskipun dia mengikuti jalan moralitas, berwatak sederhana, dan telah melatih diri dalam menaklukkan indra-indranya; meskipun dia memiliki derajat yang tinggi dalam keteguhan; meskipun dia memiliki rasa malu yang kuat dan pandangannya takut pada penampilan wanita muda yang sudah dimiliki orang lain – meskipun demikian, dia tidak dapat mencegah kemenangan dari dewa cinta, dan menatap lama wanita itu, tidak berdaya untuk mengalihkan pandangan dari wajahnya.
(10) “Apakah dia mungkin merupakan perwujudan dari Kaumudī atau dewi dari rumah itu? Apakah dia seorang bidadari ataukah seorang penyihir? Karena tidak ada sosok manusia yang seperti itu.”
Demikianlah sang raja memikirkan itu dan tidak bisa cukup memandanginya; kereta yang lewat tidak bisa menuruti keinginan hatinya. Dia kembali ke istananya seperti orang yang berpikiran kosong, tidak memikirkan apa pun kecuali dia; keteguhan pikirannya telah dikacaukan oleh Manmathā. Kemudian dia diam-diam bertanya kepada kusirnya yang bernama Sunanda:
(11) “Tahukah engkau, rumah siapakah itu yang dikelilingi oleh tembok putih, dan siapakah dia yang kecantikannya bersinar di sana bagai kilat di awan putih?”
Sang kusir menjawab: “Yang Mulia memiliki seorang pejabat tinggi bernama Abhipāraga. Rumah itu adalah rumahnya, dan wanita itu adalah istrinya, putri Kirīṭavatsa, dan dia dipanggil Unmādayantī.” Setelah mendengar ini, mengetahui dia adalah istri orang lain menyebabkan hatinya berputus asa. Matanya terpaku dalam kesedihan. Beberapa kali dia menghela napas panjang dan dalam, tidak memikirkan apa-apa selain dia, kemudian berbicara sendiri dengan suara rendah:
(12) “Ah! Sungguh, dia menyandang namanya yang lembut dan terdengar indah. Unmādayantī yang tersenyum manis ini telah membuatku hampir gila.
(13) Aku akan melupakannya, tetapi aku selalu melihatnya dalam pikiranku. Karena pikiranku bersamanya, atau lebih tepatnya, dia telah menguasai pikiranku.
(14) Dan pikiran lemah ini adalah salahku karena memikirkan istri orang lain! Tidak diragukan lagi, aku tergila-gila; rasa malu tampaknya telah meninggalkanku, seolah telah tertidur.
15. Sementara asyik membayangkan diriku bersama dengan keanggunan sifatnya, senyumannya, penampilannya, oh suara lempengan logam yang muncul tiba-tiba itu, mengingatkanku kepada suara keras dari tugas-tugas urusan rutin kerajaanku, membangkitkan amarahku.”
Keteguhan hati sang raja diguncang oleh kekuatan cinta yang penuh gairah dengan sedemikian rupa. Dan meskipun dia berusaha untuk menenangkan pikirannya, penampilannya yang lesu dan tubuhnya yang kurus, pikirannya sering terlarut bersama desahan napasnya yang sangat jelas menunjukkan bahwa dia sedang jatuh cinta.
(16) Betapapun besarnya keteguhannya dalam menyamarkan sakit hatinya, hal itu terwujud dalam raut wajahnya, raut matanya yang kaku, dan anggota tubuhnya yang kurus.
Abhipāraga, pejabat raja, terampil dalam menafsirkan raut wajah dan gerak tubuh yang mengungkapkan perasaan batin. Ketika dia telah mengamati perilaku tuannya dan menemukan penyebabnya, juga karena dia menghormati raja dan mengetahui kekuatan berlebihan dari dewa cinta, dia tahu bahwa hal ini akan berlanjut buruk. Maka dia meminta kepada raja untuk bertemu secara rahasia; yang setelah dikabulkan kepadanya, dia mendatangi tuannya, dan setelah memperoleh izin, menyapanya:
(17, 18) “Wahai penguasa manusia yang bermata teratai, saat melakukan pemujaan kepada para dewa pada hari ini, seorang Yakṣa menampilkan dirinya di depan mataku dan berkata kepadaku: ‘Bagaimana mungkin kau mengabaikan raja yang telah jatuh cinta kepada Unmādayantī?’ Setelah berbicara demikian, dia segera menghilang, dan aku yang memperhatikan hal ini, mendatangi Anda. Jika ini benar, apakah karena ini Yang Mulia menunjukkan ketidaksukaan kepadaku dengan cara diam?
Oleh karena itu, semoga Yang Mulia berkenan membantuku untuk menerima genggaman tangannya dari tanganku.”
Raja menjadi bingung dan tidak berani mengangkat matanya karena merasa malu. Namun demikian, meskipun dia berada dalam kekuatan cinta, dia tidak membiarkan keteguhannya goyah, karena dia berpengetahuan dalam Dharma dengan latihan dalam waktu yang lama dan baik. Dia pun menolak tawaran itu dengan jelas, “Tidak, itu tidak mungkin. Untuk alasan apa? Dengarlah.
(19) Aku akan kehilangan jasa kebajikanku dan aku tahu bahwa diriku tidak abadi. Selanjutnya, perbuatan jahatku juga akan diketahui oleh publik. Lagipula, jika api kesedihan membakar hatimu karena perpisahan ini, api itu akan melalapmu dalam waktu yang lama, seperti api yang membakar habis rumput kering.
(20) Dan perbuatan seperti itu, yang akan menyebabkan penderitaan baik di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya, dilakukan oleh orang yang tidak bijaksana dan tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang bijaksana. Inilah alasannya.”
Abhipāraga menjawab: “Jangan takut bahwa engkau akan melanggar Dharma, Yang Mulia.
(21) Dengan membantuku melakukan pemberian, engkau akan bertindak sesuai dengan Dharma. Sedangkan jika engkau tidak menerimanya dari tanganku, engkau akan melakukan sebuah kesalahan, karena engkau menghalangi praktik memberi.
Dalam hal ini aku juga tidak melihatnya sebagai kesempatan untuk merusak reputasi Yang Mulia. Mengapa?
(22) Ini adalah kesepakatan di antara kita; tidak ada orang lain yang perlu mengetahuinya. Oleh karena itu, jangan pikirkan rasa takut akan disalahkan oleh pendapat masyarakat.
Selanjutnya, bagiku ini akan menjadi bantuan, bukan sumber kesedihan. Mengapa demikian?
(23) Kerusakan apa yang dapat diperoleh hati yang setia melalui kepuasan yang diperoleh dengan melayani kepentingan tuannya? Untuk alasan ini engkau dapat diam-diam menikmati cintamu; jangan mengkhawatirkan kesedihanku.”
Raja menjawab: “Sudahlah, sudah! Tidak ada alasan jahat seperti itu.
(24) Sesungguhnya, kesetiaanmu yang sangat besar kepadaku sedang menghalangimu untuk memahami bahwa membantu seseorang dengan memberi tidak selalu merupakan tindakan yang benar.
(25) Siapa yang dengan melampaui kesetiaannya kepadaku tidak mengindahkan hidupnya sendiri, adalah temanku, lebih aku cintai daripada kerabat-kerabatku. Istrinya harus aku hormati sebagai istri seorang teman.
Engkau sedang tidak sehat sehingga membujukku untuk melakukan tindakan salah. Dan apa yang engkau tegaskan, ‘tidak ada orang lain yang akan mengetahuinya’, apakah kesalahanku akan berkurang karena alasan ini?
(26) Bagaimana mungkin kebahagiaan dapat diperoleh bagi orang yang melakukan perbuatan buruk, meskipun tidak da yang menyaksikan? Sesedikit dia yang telah mengambil racun yang tak terlihat. Baik para dewa yang berpandangan murni maupun para pertapa suci di antara manusia tidak mungkin tidak menyaksikannya.
Selain itu, aku memberi tahu hal ini kepadamu:
(27) Siapakah yang akan benar-benar percaya bahwa engkau tidak mencintainya, atau bahwa engkau tidak akan terluka setelah engkau melepaskannya?”
Abhipāraga berkata:
(28) “Aku, bersama istri dan anak-anakku, adalah budakmu. Engkau adalah tuan dan dewa bagiku. Yang Mulia, pelanggaran apa yang mungkin terjadi jika engkau bertindak sesuka hatimu kepada budak perempuanmu ini?
Adapun engkau menegaskan bahwa aku mencintainya, apakah itu penting?
(29) Ya, Yang Mulia, dia adalah istriku tercinta, dan karena alasan inilah aku ingin dia diberikan kepadamu. Dia yang telah memberikan sesuatu yang disayanginya di dunia ini, akan menerima objek-objek indah berikutnya yang melebihi segala keindahan.
Oleh karena itu, Yang Mulia dapat membawanya.”
Raja berbicara: “Oh, jangan berkata begitu! Tidak mungkin bagiku untuk melakukannya. Mengapa?
(30) Aku berani melemparkan diriku pada pedang tajam atau ke dalam api yang menyala-nyala, tetapi aku tidak mungkin dapat menentang Dharma yang selalu kupatuhi, dan yang kepadanya aku berhutang kebahagiaan kerajaanku.”
Abhipāraga berkata: “Jika Yang Mulia tidak mau mengambilnya, karena dia adalah istriku, maka aku sendiri yang akan memerintahkannya untuk menjalani kehidupan sebagai seorang wanita penghibur, yang boleh dirayu oleh siapa pun. Maka Yang Mulia bisa membawanya. “
Raja menjawab: “Apakah kau sudah gila?
(31) Jika engkau meninggalkan istrimu yang tidak bersalah, engkau tidak hanya akan mendapat hukuman dariku, tetapi juga akan menjadi bahan celaan, juga mendapatkan kesedihan yang tak terhindarkan baik di kehidupan ini dan selanjutnya.
Berhentilah; jangan memaksakan tindakan buruk. Alihkan pikiranmu pada keadilan dan kejujuran.”
Abhipāraga berkata:
(32) “Dan jika aku bersikeras, aku benar-benar melakukan tindakan ini yang mungkin merupakan pelanggaran terhadap kebenaran dan dapat dicela oleh para manusia, yang menghilangkan kebahagiaanku – biarlah segala konsekuensi ini terjadi – aku akan dengan senang hati menghadap mereka dengan berani, berkat kegembiraan di dalam batin yang akan kurasakan karena telah membuatmu bahagia.
(33) Di dunia ini, tiada seorangpun yang kukenal yang lebih layak dari dirimu untuk dipuja dan menerima pemberian, wahai penguasa bumi yang paling perkasa. Kalau begitu, dengan tujuan untuk meningkatkan jasa kebajikanku, sudilah untuk menerima Unmādayantī sebagai pengorbananku, seperti pendeta yang sedang bertugas.”
Raja berkata: “Tidak diragukan lagi, kasih sayangmu yang besar untukku mendorongmu untuk berusaha menyenangkanku tanpa mempertimbangkan apa yang benar dan salah bagimu. Tetapi pertimbangan ini justru mendorongku untuk mencegahmu. Sesungguhnya, ketidakpedulian terhadap celaan manusia sama sekali tidak dapat disetujui. Lihatlah!
(34) Siapapun, dengan mengabaikan kebenaran, tidak peduli terhadap celaan manusia atau akibar buruk di kelahiran berikutnya, akan memperoleh hal ini: dalam kehidupan ini orang-orang tidak akan mempercayainya; dan pasti, setelah kematian dia akan kehilangan kebahagiaannya.
Dan karena itu aku tekankan ini ke dalam pikiranmu.
(35) Jangan pernah bersukacita dalam melukai kebenaran demi kehidupan.[4] Engkau akan menghasilkan kejahatan besar dan tidak perlu dipertanyakan lagi, keuntungannya kecil dan meragukan.
Selain itu, engkau juga harus mempertimbangkan hal ini.
(36) Orang bajik tidak menyukai kesenangan bagi diri mereka sendiri yang diperoleh dengan mengorbankan orang lain, yang membuat mereka menderita dengan membawa mereka ke dalam reputasi buruk dan sejenisnya. Untuk alasan inilah, dengan berdiri di atas dasar kebenaran, aku akan memikul tanggung jawab atas kepentingan pribadiku sendiri tanpa menimbulkan rasa sakit bagi orang lain.”
Abhipāraga menjawab: “Tetapi bagaimana ini bisa dikatakan tidak adil, jika karena digerakkan oleh ketaatan, aku mengutamakan kepentingan tuanku dan Yang Mulia menerimanya sebagai hadiah dariku? Para Śibi, para warga kota dan tuan tanah, juga akan bertanya-tanya: ‘Apa yang tidak adil dari perbuatan ini?’ Oleh karena itu, Yang Mulia, bawalah ia dengan senang hati.”
Raja menjawab: “Sesungguhnya, engkau memiliki keinginan yang kuat untuk membantuku. Tapi renungkanlah ini baik-baik: Siapakah di antara kita yang paling tahu tentang Dharma, seluruh Śibi, engkau, atau aku?”
Kemudian Abhipāraga menjawab dengan cepat:
(37) “Karena ketekunan dan perhatianmu dalam mematuhi para bijaksana, serta penghargaan besarmu terhadap pengetahuan suci, juga kebijaksanaan batinmu, Yang Mulia sebanding dengan Bṛhaśpati sebagai hakim yang paling kompeten dalam semua hal yang diajarkan dalam ilmu tentang “tiga rangkaian objek (trivarga).”
Raja berkata: “Dengan demikian, engkau tidak boleh menyesatkanku dengan masalah ini. Kenapa kukatakan demikian?
(38) Kejahatan dan kebaikan rakyat bergantung pada perilaku penguasa mereka. Untuk alasan ini, dan dengan mempertimbangkan kesetiaan rakyatku, aku akan terus mencintai jalan kebajikan di atas segalanya, sesuai dengan reputasiku.
(39) Seperti sapi yang mengejar banteng ke segala arah, mengikuti Langkah-langkahnya tanpa mengenal benar atau salah, dengan cara yang sama pula para rakyat akan meniru perilaku penguasa mereka dengan tanpa ragu dan tanpa gentar.
Engkau juga harus mempertimbangkan hal ini.
(40) Jika aku tidak mampu mengatur diriku sendiri, maka bagaimana dengan nasib orang-orang yang mengharapkan perlindungan dariku?
(41) Dengan demikian, mengingat dan memperhatikan kebaikan rakyat-rakyatku, kebenaranku sendiri, dan nama baikku yang tak bernoda, aku tidak membiarkan diriku tunduk pada nafsu. Aku adalah pemimpin rakyat-rakyatku, banteng dari kawananku.”
Kemudian Abhipāraga, pejabat raja, setelah ditenangkan oleh sang raja, menundukkan kepalanya dan dengan hormat merapatkan tangannya, mengucapkan:
(42) “Oh! Sungguh para rakyat ini dicintai oleh nasib baik karena memiliki penguasa sepertimu, raja yang terhormat. Kecintaanmu terhadap kebenaran yang benar-benar mengabaikan kesenangan tidaklah mudah untuk ditemukan, bahkan di antara mereka yang berdiam di dalam hutan pertapaan sekalipun.
(43) Di dalam dirimulah sebutan ‘agung’, oh Mahārāja, merupakan ornamen yang cemerlang. Karena kebajikan yang dianugerahkan kepada orang-orang tanpa kebajikan justru memiliki suara yang agak kasar, seolah digunakan untuk menghina.
(44) Juga tidak ada alasan lagi bagiku untuk terheran-heran atau gelisah dengan perbuatan agungmu ini, yang merupakan tambang kebajikan, bagai laut yang penuh permata.”
Orang-orang bajik enggan untuk mengikuti jalan hidup yang rendah, bahkan ketika sedang dilanda sakit yang sangat menyedihkan sekalipun. Keteguhan hati mencegah mereka dari tindakan seperti itu [dan mereka yang berpengetahuan dalam Dharma dalam waktu yang lama dan latihan baik. Dengan pertimbangan inilah, seseorang harus mengupayakan dirinya sendiri dalam mempraktikkan keteguhan dan pedoman Dharma.]
Kisah Upacara Pengorbanan (Kisah Relief Jatakamala 10)
Ringkasan:
Suatu hari, negeri tempat seorang raja yang arif dan bijaksana mengalami bencana kekeringan. Para tetua dan Brahmana mendesak raja untuk melakukan upacara pengorbanan hewan untuk menyenangkan para dewa, dengan harapan hujan akan segera turun. Namun sang raja tidak percaya dengan upacara pengorbanan nyawa karena hal ini adalah tindakan penyiksaan makhluk hidup. Setelah merenungi hal ini, sang raja kemudian meminta para petugas kerajaannya untuk mengumumkan bahwa ia akan melakukan upacara pengorbanan, di mana orang-orang yang melakukan kejahatanlah yang akan ditangkap dan dikorbankan. Raja melakukan ini tidak dengan tujuan agar rakyat-rakyatnya dapat mengendalikan diri selama kekeringan melanda negeri, agar bisa bertahan hingga musim penghujan. Mendengar kabar ini, para rakyat menjadi patuh terhadap aturan dan menghindari perbuatan jahat. Negeri menjadi aman dan tentram, dan berhasil melewati musim kemarau dengan baik. Hujan pun turun dan semua bersuka cita atas kebijaksanaan sang raja.
10.1. Karena bencana kekeringan, para Brahmana dan tetua mendesak raja untuk melakukan upaca pengorbanan
Pada suatu ketika, hiduplah seorang raja yang arif dan bijaksana. Kepemimpinannya yang sesuai dengan Dharma membuat negerinya makmur, disegani oleh kerajaan lain, dan rakyatnya bersukacita.
Namun terjadilah bencana kekeringan di negeri itu. Panen mulai gagal dan rakyat mulai panik. Para tetua, penasihat, dan Brahmana pun berdiskusi dengan raja tentang solusi dari permasalahan ini. Menurut mereka, bencana kekeringan ini terjadi karena kurangnya persembahan kepada para dewa, oleh sebab itu mereka menyarankan agar raja segera melakukan upacara pengorbanan hewan untuk menyenangkan hati para dewa.
Sang raja merasa bahwa solusi itu tidak sesuai dengan Dharma, tetapi ia menghormati para tetua dan Brahmana sehingga tidak berani menolaknya secara langsung. Raja kemudian mengalihkan topik pembicaraan, tetapi para tetua dan Brahmana justru mengungkit upacara pengorbanan itu kembali dan mendesak raja agar segera melakukannya. Mereka berucap:
“Anda selalu berhati-hati untuk tidak mengabaikan kewajiban Anda sebagai seorang raja, namun mengapa kali ini Anda begitu ceroboh dan lamban untuk melakukan upacara pengorbanan, yang harus dilakukan demi kebaikan rakyat-rakyat Anda?”
Sang raja tidak dapat menolak secara langsung dan meminta waktu untuk mempertimbangkan. Beliau kemudian merenungi bahwa upacara pengorbanan ini hendaknya tidak dilakukan, karena para dewa seharusnya tidak meminta pengorbanan nyawa yang tidak sesuai dengan Dharma. Sang raja juga kemudian berpikir dalam hati:
“Jika korban yang terbunuh dalam upacara pengorbanan benar-benar masuk surga, bukankah seharusnya kita para Brāhmana itu yang hendaknya mempersembahkan diri mereka sendiri untuk dikorbankan dalam upacara pengorbanan? Namun, aku tidak melihat mereka melakukan hal itu. Bagaimana mungkin nasihat ini dapat aku terima?”
10.2. Raja memutuskan untuk melakukan upacara pengorbanan
Meski raja tidak akan melakukan upacara pengorbanan hewan, tetapi ia tahu bahwa hal ini akan menimbulkan gejolak dari para tetua dan Brahmana, yang dituakan di dalam masyarakat. Raja tidak ingin menimbulkan konflik, tetapi ia juga tidak ingin membunuh para hewan demi kepentingan ritual. Raja pun berpikir keras untuk menemukan solusi dari konflik ini.
Setelah melalui perenungan, akhirnya raja pun menemukan solusinya. Ia memanggil para petugas kerajaan untuk hadir dan mengumumkan bahwa ia akan melakukan upacara pengorbanan:
“Aku akan melakukan pengorbanan manusia sebanyak seribu orang. Siapapun dari kalian yang kuanggap telah melanggar aturan perilaku moral dan meremehkan perintah kerajaan, orang itu akan kutangkap dan kujadikan persembahan dalam upacara pengorbanan. Orang-orang seperti itu pantas untuk dikorbankan karena mereka adalah noda bagi keluarganya dan bahaya bagi negaraku. Untuk melaksanakan ketetapan ini, aku akan menugaskan petugas kerajaanku untuk mengawasi perilaku kalian sepanjang hari!”
10.3. Petugas kerajaan mengumumkan upacara pengorbanan ke seluruh penjuru negeri
Setelah mendapat perintah dari raja, para petugas kerajaan pun menyebar. Mereka mengumumkan ke seluruh penjuru negeri – di setiap sudut kota dan pasar – bahwa raja akan melakukan upacara pengorbanan manusia, di mana manusia yang berperilaku jahat dan tidak bermoral akan ditangkap dan dikorbankan. Mereka juga mengumumkan bahwa raja akan menyebar para pengawas untuk mengawasi perilaku mereka setiap hari.
Para rakyat, setelah mendengar pengumuman ini, menjadi takut untuk berbuat jahat, terlebih setelah melihat para pengawas yang ada di setiap sudut wilayah. Mereka menjaga perilaku mereka dan lebih berwaspada terhadap tindak-tanduk mereka, lebih disiplin daripada sebelumnya. Orang-orang yang sering bertengkar menjadi berhenti bertengkar. Mereka menjadi lebih hormat satu sama lain, menghindari perselisihan dan saling memaafkan. Akibatnya, suasana kota menjadi sangat damai dan tentram.
Raja kemudian menerima laporan dari para petugas kerajaan bahwa tidak ada satu pun rakyat yang pantas untuk ditangkap dan dikorbankan, karena mereka semua telah berperilaku baik. Raja, setelah mendengar laporan ini, merasa sangat bersukacita. Ia kemudian mengumumkan bahwa akan segera melakukan upacara pengorbanan, tetapi yang dikorbankan adalah hartanya sendiri.
Maka kini para petugas kembali berkeliling ke seluruh penjuru negeri bahwa raja akan melakukan upacara pengorbanan harta. Di setiap desa, kota, dan pasar akan didirikan tempat-tempat berdana, di mana raja akan membagikan uang dan pakaian bagi mereka yang mengalami kesulitan.
Upacara pengorbanan harta ini membuat kemiskinan dan kelaparan lenyap dari negeri itu. Mereka pun dapat melewati bencana kekeringan ini dengan baik. Kemudian, musim hujan pun tiba dan kekeringan pun berlalu.
10.4. Para rakyat memuji kebijaksanaan sang raja
Setelah berhasil melalui bencana kekeringan, rakyat-rakyat kerajaan tersebut menyadari bahwa ini terjadi berkat kebijaksanaan raja dalam menemukan solusi. Mereka memuji-muji sang raja, sehingga puji-pujian terdengar di berbagai wilayah. Salah satu petugas kerajaan yang mengetahui hal ini kemudian menghadap kepada sang raja dan berkata,
“Oh! Berbahagialah para rakyat yang berada di dalam perlindunganmu! Sungguh tiada ayah yang dapat menjadi wali yang lebih baik bagi anak-anaknya selain baginda!”
Mereka semua pun bersukacita.
Dan jika korban yang terbunuh dalam upacara pengorbanan benar-benar masuk surga, bukankah seharusnya kita mengharapkan para Brāhmana itu yang mempersembahkan diri mereka sendiri untuk dikorbankan dalam upacara pengorbanan? Namun, aku tidak melihat mereka melakukan praktik seperti itu. Kalau begitu, siapa yang dapat menerima nasihat yang diberikan oleh para penasihat ini?
Wahai penguasa yang bijak, upacara pengorbanan mereka lakukan demi mencapai beberapa tujuan sesungguhnya adalah tindakan keji, karena menyebabkan penderitaan kepada pada makhluk hidup.
“Siapa yang menginginkan kebaikan kepada rakyatnya, dirinya berusaha, Dengan demikian mendatangkan keselamatan, kemuliaan, kebahagiaan. Tiada orang lain yang dapat menjadi raja seperti ini.”
Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura Disusun oleh Garvin Goei Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti
Jātakamālā 10 – Yajñajātakam (Kisah Upacara Pengorbanan)
Jātakamālā 10 – Yajñajātakam (Kisah Upacara Pengorbanan)
Ditulis oleh: Ācārya Āryaśūra
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh: J. S. Speyer
Suntingan Bahasa Inggris oleh: Bhikkhu Anandajoti
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Garvin Goei
Mereka yang berhati murni tidak akan bertindak menuruti bujukan orang jahat. Mengetahui hal ini, hati yang murni harus diupayakan. Ini akan diajarkan oleh berikut ini.
Konon, dahulu kala Bodhisattva adalah seorang raja yang memperoleh kerajaannya berdasarkan warisan turun-temurun. Dia telah mencapai keadaan ini sebagai akibat dari jasa kebajikannya. Dia memerintah wilayahnya dengan damai, tidak diganggu oleh pesaing mana pun, dan kedaulatannya diakui secara universal. Negaranya bebas dari segala jenis gangguan, kekacauan, ataupun bencana, baik hubungan dalam negeri maupun dengan negara asing yang tenang dalam segala hal; dan semua pengikutnya mematuhi perintahnya.
(1) Setelah menaklukkan hawa nafsu sebagai musuh-musuhnya, sang raja tidak mengharapkan keuntungan apapun atas usaha-usahanya, yang seolah tidak patut untuk dinikmati selain dmaksudkan untuk meningkatkan kebahagiaan rakyat-rakyatnya. Memegang kebenaran (Dharma) sebagai satu-satunya tujuan dari tindakannya, dia berperilaku bagai seorang Muni.
(2) Ia memahami bahwa secara alamiah manusia akan menetapkan nilai tinggi untuk meniru perilaku yang tertinggi. Untuk alasan ini, karena berkeinginan untuk membawa keselamatan bagi rakyatnya, dia tekun melaksanakan kewajiban spiritualnya.
(3) Dia mempraktikkan dana, menjaga perilaku moral (śīla) dengan ketat, melatih kesabaran, dan berjuang untuk kepentingan para makhluk. Wajah lembutnya sesuai dengan pikirannya yang dibadikan untuk kebahagiaan rakyatnya, dia tampak seperti perwujudan Dharma.
Meskipun wilayahnya dilindungi dengan baik olehnya, namun baik itu karena buah dari tindakan salah dari penduduk maupun ketidaksengajaan para dewa yang bertanggung jawab terhadap hujan, beberapa bagian wilayah itu dilanda oleh kekeringan, menimbulkan masalah yang merepotkan sebagai efek dari bencana tersebut.
Atas hal ini, sang raja, merasa sangat yakin bahwa bencana ini telah diakibatkan oleh kelalaian dirinya sendiri ataupun rakyatnya, dan sangat memperhatikan kesusahan rakyatnya, bahwa kesejahteraan mereka merupakan objek pikiran dan perhatian utamanya, menerima nasihat dari orang-orang yang kemampuannya diakui dan terkenal karena pengetahuan mereka dalam urusan agama. Maka, mengikuti nasihat para tetua di antara para Brāhmana, yang dipimpin oleh pendeta keluarganya (purohita) dan para menterinya, dia meminta mereka beberapa cara untuk mengakhiri bencana itu.
Mereka, yang mempercayai upacara pengorbanan yang diuraikan di dalam Veda sebagai penyebab hujan deras, menjelaskan kepadanya bahwa sang raja harus melakukan pengorbanan yang besar yang membutuhkan pembantaian ratusan makhluk hidup. Di dalam hati, welas asih sang raja tidak menyetujui pembantaian untuk upacara pengorbanan; Namun demi kesopanan, sang raja tidak mau menyinggung perasaan mereka dengan kata-kata penolakan. Dia melewatkan pembahasan ini, mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Tetapi karena mereka tidak dapat memahami pikiran sang raja yang mendalam, mereka kembali mendesak raja untuk melakukan pengorbanan ketika membahas masalah agama dengan sang raja.
(4) “Anda selalu berhati-hati agar tidak mengabaikan waktu yang tepat dalam melakukan berbagai macam tugas kerajaan Anda yang ditetapkan untuk memperoleh kepemilikan wilayah dan memerintahnya. Urutan tindakan Anda ini juga sesuai dengan kebenaran (Dharma).
(5) Lalu mengapa Anda yang (dalam semua hal lainnya) begitu pandai dalam menjalankan tiga serangkai (dharma, artha, dan kāma), mengangkat busur Anda untuk membela kebaikan rakyat Anda, kemudian menjadi begitu ceroboh dan lamban terhadap jembatan menuju dunia para dewa, yang disebut sebagai “pengorbanan” itu?
(6) Bagaikan para pelayan, raja-raja lain (pengikut Anda) menghormati perintah Anda, menganggap perintah Anda sebagai ukuran kesuksesan yang paling pasti. Sekarang waktunya tiba, wahai engkau yang telah mengalahkan musuh-musuhmu, untuk mengumpulkan berkah yang lebih tinggi melalui pengorbanan, yang akan memberikanmu kemuliaan yang bersinar.
(7, 8) Sesungguhnya, kesucian yang merupakan syarat untuk sebuah dikṣita sudah menjadi milik Anda, karena kebiasaan Anda dalam melakukan praktik memberi dan ketegasan Anda dalam pengendalian diri (berperilaku baik). Namun demikian, akan lebih baik bagi Anda untuk melunasi utang Anda kepada para dewa melalui upacara pengorbanan seperti yang diuraikan di dalam Veda.
Para dewa dipuaskan dengan pengorbanan yang pantas dan tanpa cela, menghormati para makhluk dengan (mengirimkan) hujan sebagai balasannya. Pertimbangkanlah, perhatikan kesejahteraan rakyat Anda dan diri Anda sendiri, dan bersedialah untuk melakukan pengorbanan secara rutin, yang akan meningkatkan kemuliaan Anda.”
Setelah itu dia memikirkan ini: “Sungguh, rakyatku yang malang dilindungi dengan sangat buruk, jika diberikan kepercayaan kepada para pemimpin seperti ini. Aku harus mencabut kebajikan dari kelembutan hatiku dengan mengandalkan perkataan orang lain, sedangkan aku mempercayai dan mencintai Dharma dengan penuh keyakinan. Sungguh,
(9) Mereka yang dikenal sebagai tempat perlindungan terbaik justru merupakan orang-orang yang berniat melakukan kerugian, mengatasnamakan Dharma. Sungguh disayangkan! Orang yang mengikuti jalan salah yang ditunjukkan oleh mereka, akan segera menemukan dirinya diarahkan ke dalam persimpangan jalan, dikelilingi oleh kejahatan.
(10) Apakah hubungan antara kebenaran dan menyakiti hewan? Apa hubungan antara penghuni alam para dewa, atau mengambil hati para dewa, dengan pembunuhan para hewan?
(11, 12) Dikatakan bahwa hewan yang disembelih berdasarkan ritual dengan doa-doa yang telah ditentukan ― seolah-olah rumusan suci itu adalah sedemikian banyak anak panah untuk melukainya ― akan pergi ke surga, dan dengan cara demikianlah mereka dibunuh. Dengan cara ini tindakan tersebut dimaknai seolah-olah dilakukan sesuai dengan Dharma. Namun ini adalah kebohongan.
Karena bagaimana mungkin dalam kelahiran selanjutnya, seseorang menuai buah dari apa yang telah dilakukan oleh orang lain? Dan dengan alasan apa hewan korban akan naik ke surga? Meskipun dia tidak menjauhkan diri dari perbuatan jahat, meskipun dia tidak mengabdikan diri pada tindakan baik, hanya berdasarkan karena dia telah dibunuh dalam pengorbanan, dan bukan atas dasar tindakannya sendiri?
(13) Dan jika korban yang terbunuh dalam upacara pengorbanan benar-benar masuk surga, bukankah seharusnya kita mengharapkan para Brāhmana itu yang mempersembahkan diri mereka sendiri untuk dikorbankan dalam upacara pengorbanan? Namun, aku tidak melihat mereka melakukan praktik seperti itu. Kalau begitu, siapa yang dapat menerima nasihat yang diberikan oleh para penasihat ini?
(14) Mengenai para dewa, mungkinkah mereka yang terbiasa menikmati ambrosia yang indah dari aroma, rasa, kemegahan, dan kekuatan yang tak tertandingi, disajikan kepada mereka oleh para bidadari yang rupawan, akan mengabaikannya untuk bersenang-senang dalam pembantaian hewan yang menyedihkan, bahwa mereka berpesta dengan omentum dan bagian lain dari tubuhnya yang dipersembahkan kepada mereka sebagai korban?
Oleh karena itu, ini adalah waktu yang tepat bertindak.” Setelah mengambil keputusan, raja berpura-pura ingin melakukan upacara pengorbanan; dan sebagai persetujuan atas kata-kata mereka, dia berbicara kepada mereka dengan cara ini:
“Sesungguhnya, aku terlindungi dengan baik dan sangat bersyukur, memiliki penasihat seperti Yang Mulia. Dengan demikian, aku bertekad untuk mengamankan kebahagiaanku! Oleh karena itu aku akan melakukan pengorbanan manusia (puruṣamedha) sebanyak seribu orang. Mohon agar para pejabat, di tempat bertugasnya masing-masing, diperintahkan untuk mendiskusikan persyaratan yang diperlukan untuk upacara itu. Tentukan juga tempat yang paling cocok untuk mendirikan tenda dan bangunan lain untuk sattra. Selanjutnya, waktu yang tepat untuk melakukan pengorbanan harus ditentukan (oleh para astrolog) dengan memeriksa pergerakan bulan, karaṇa, muhurta, dan konstelasi bintang yang menguntungkan.”
Purohita menjawab: “Agar Anda berhasil, Yang Mulia harus mengambil avabhṛtha (mandi terakhir) pada akhir satu pengorbanan; setelah itu Anda dapat melakukan yang lain secara berturut-turut. Karena jika seribu korban manusia akan ditangkap sekaligus, rakyat Anda pastinya akan menyalahkan Anda dan akan menjadi pergolakan besar dalam catatan mereka.” Kata-kata purohita ini telah disetujui oleh para Brāhmana (lainnya). Sang raja menjawab: “Jangan khawatirkan kemurkaan para rakyat, Yang Mulia. Aku akan mengambil tindakan untuk mencegah pergolakan di antara rakyat-rakyatku.”
Setelah itu raja memanggil sekelompok penduduk kota dan wilayah, dan berkata: “Aku bermaksud untuk melakukan pengorbanan manusia yang terdiri dari seribu korban. Tetapi tidak ada orang yang berperilaku jujur yang pantas untuk direncanakan sebagai pengorbanan yang aku lakukan. Dengan pemikiran ini, saya memberi kalian perintah ini: Siapapun dari kalian yang kuanggap melanggar batas-batas perilaku moral, meremehkan perintah kerajaan, dia akan aku perintahkan untuk ditangkap menjadi korban upacara pengorbananku, karena orang seperti itu adalah noda bagi keluarganya dan bahaya bagi negaraku. Dengan tujuan untuk melaksanakan ketetapan ini, aku akan menugaskan utusan yang cermat dan berpandangan tajam, yang tidak lalai, untuk mengawasi kalian dan akan melaporkan tingkah laku kalian kepadaku.”
Kemudian yang terdepan dari kumpulan itu, menangkupkan tangan mereka dan meletakkannya di dahi, berbicara:
(15, 16) “Yang Mulia, semua tindakan Anda adalah demi kebahagiaan rakyat Anda, bagaimana mungkin kami membenci Anda karena hal itu? Bahkan (dewa) Brahmā tidak bisa menentang perilakumu.
Yang Mulia, yang berwenang atas kebajikan, adalah pemimpin tertinggi kami. Untuk alasan inilah, apapun yang menyenangkan Yang Mulia tentunya menyenangkan kami juga. Sungguh, engkau hanya memikirkan kesenangan dan kebaikan kami.”
Setelah orang-orang terkemuka di kota dan desa menerima perintahnya dengan cara ini, raja meminta seluruh petugas kota dan kerajaan untuk menyebar, memberi tahu mereka untuk memperhatikan perilaku para rakyat, dengan tujuan untuk menahan pelaku kejahatan. Di berbagai tempat hal ini diumumkan dengan tabuhan gendering, hari demi hari, dengan seperti ini:
(17) “Raja, sang penyedia keamanan, menjamin keselamatan bagi setiap orang yang terus-menerus memupuk kejujuran dan perilaku yang baik bagi yang bajik. Namun, dengan niat untuk melakukan upacara pengorbanan manusia demi kepentingan rakyatnya, raja menginginkan seribu korban manusia yang diambil dari mereka yang senang melakukan perbuatan jahat.
(18) Oleh karena itu, siapa pun yang selanjutnya secara tidak bermoral terlibat dalam perilaku buruk, mengabaikan perintah raja kita, yang bahkan dipatuhi oleh raja-raja lain dan pengikut-pengikutnya, akan dibawa menjadi korban pengorbanan atas perbuatannya sendiri. Orang-orang akan menyaksikan penderitaannya yang menyedihkan, ketika ia merana karena kesakitan dan tubuhnya terikat di tempat pengorbanan.”
Ketika para penduduk mengetahui bahwa raja mereka mengawasi para pelaku kejahatan untuk dijadikan korban pada upacara pengorbanannya ― setelah mereka mendengar pengumuman kerajaan yang menakutkan itu hari demi hari, dan melihat para utusan raja yang ditunjuk untuk mengawasi dan menangkap orang-orang jahat muncul di berbagai tempat ― mereka meninggalkan segala keterikatan mereka pada perilaku buruk, dan menumbuhkan niat mereka dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan ajaran moral dan pengendalian diri.
Mereka menghindari setiap kesempatan untuk membenci dan bermusuhan, dan menyelesaikan pertengkaran dan perbedaan mereka dengan saling mencintai dan saling menghargai. Patuh terhadap ucapan orangtua dan para guru, bersemangat dalam kemurahan hati dan berbagi keramahan, sopan santun, kerendahan hati dengan sesame di antara mereka. Mereka hidup seperti di Kṛta Yuga.
(19) Ketakutan terhadap kematian telah membangkitkan pemikiran tentang kehidupan yang akan datang dalam diri mereka; rasa takut menodai kehormatan keluarga mereka telah menggerakkan perhatian mereka untuk menjaga nama baik mereka; kemurnian hati mereka yang besar telah memperkuat rasa malu mereka. Hal-hal ini sedang bekerja, dan orang-orang segera diistimewakan oleh perilaku mereka yang tak bercela.
(20) Meskipun setiap orang menjadi lebih berniat untuk menjaga perilaku yang benar dari sebelumnya, tetap saja para utusan raja tidak mengurangi kewaspadaan mereka dalam mencari para pelaku kejahatan. Hal ini bertujuan untuk mencegah orang-orang untuk terjatuh dari kebenaran.
(21) Raja, mendapat kabar dari utusan-utusannnya di wilayahnya, merasa sangat bersukacita. Dia menganugerahkan banyak hadiah kepada para utusan itu sebagai imbalan atas kabar baik yang mereka ceritakan kepadanya, dan memerintahkan para menterinya:
(22-24) “Perlindungan terhadap warga-wargaku adalah tujuan tertinggiku. Sekarang, mereka telah menjadi layak untuk menjadi penerima hadiah pengorbanan, dan untuk tujuan pengorbananku, aku telah menyediakan kekayaan ini.
Baiklah, aku berniat untuk menyempurnakan pengorbananku dengan cara yang kuanggap benar. Biarlah setiap orang yang menginginkan uang, yang diharapkan bisa menjadi bahan bakar untuk kebahagiaannya, datang dan menerimanya dari tanganku dengan sesuka hati. Dengan cara ini kesusahan dan kemiskinan yang mengganggu negara kita dapat segera disingkirkan.
Sungguh, setiap aku memikirkan tekad kuatku untuk melindungi rakyat-rakyatku dan bantuan besar yang kuperoleh dari kalian ― rekan-rekanku yang luar biasa dalam tugas ini ― seringkali kurasakan penderitaan rakyat-rakyatku membangkitkan kemarahnku, membara dalam pikiran bagai api yang berkobar.”
Para menteri menerima perintah kerajaan dan segera pergi untuk melaksanakannya. Mereka memerintahkan agar tempat-tempat berdana didirikan di semua desa, kota, dan pasar, juga di semua stasiun di jalan raya. Hal ini dilakukan agar orang-orang miskin dapat memperoleh pemberian-pemberian yang dapat memuaskan keinginan mereka, sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh raja.
(25) Maka kemiskinan pun lenyap, dan setelah menerima kekayaan dari raja, orang-orang mengenakan bermacam-macam pakaian dan perhiasan yang indah, mempertunjukkan kemegahan seperti pada hari-hari besar.
(26) Kemuliaan raja, yang semakin besar oleh sanjungan-sanjungan dari para penerima yang bersukacita atas pemberiannya, menyebar ke segala arah, seperti serbuk bunga teratai yang terbawa oleh riak kecil di sebuah telaga, menyebar ke permukaan yang lebih besar lagi.
(27) Dan setelah seluruh rakyat ― sebagai akibat dari tindakan bijak yang diambil oleh penguasa mereka ― bersungguh-sungguh dalam perilaku bajik, wabah dan malapetaka terkalahkan oleh pertumbuhan kualitas-kualitas yang mendukung kemakmuran. Wabah dan malapetaka memudar, setelah kehilangan cengkeraman mereka.
(28) Musim-musim saling berganti tepat waktu, menyenangkan setiap orang dengan keteraturan mereka. Akibatnya, bumi menghasilkan berbagai jenis jagung dalam jumlah yang banyak, juga berlimpahnya air serta teratai yang murni dan biru di dalam seluruh wadah air.
(29) Tidak ada wabah penyakit yang menyerang umat manusia; tanaman obat menjadi lebih berkhasiat daripada sebelumnya; musim hujan datang tepat waktu dan teratur; dan planet-planet bergerak dalam jalur yang menguntungkan.
(30) Tidak ada bahaya yang perlu ditakuti, baik itu dari luar ataupun dalam negeri, atau karena adanya ketidakseimbangan unsur alam. Melanjutkan tindakan baik dan pengendalian diri, menumbuhkan perilaku yang baik dan kesantunan, para rakyat di negara itu menikmati keistimewaan masa Kṛta Yuga.
Kemudian, dengan kekuatannya, raja melakukan upacara pengorbanan dengan cara yang sesuai dengan (aturan) Dharma, mengakhiri penderitaan orang miskin bersama dengan wabah penyakit dan malapetaka. Negara pun dipenuhi dengan rakyat-rakyatnya yang makmur dan berkembang, memancarkan kebahagiaan yang menggembirakan. Oleh karena itu, para rakyat tidak pernah bosan untuk mengucap syukur kepada raja mereka, memperluas kemasyhurannya ke segala arah.
Suatu hari salah satu pejabat tertinggi kerajaan, yang hatinya berkeyakinan (sejati), berbicara demikian kepada raja: “Ini adalah ucapan yang benar dalam kebenaran.
31. Raja, karena mereka selalu berurusan dengan semua jenis urusan, tertinggi, terendah, dan menengah, jauh melampaui kebijaksanaan orang-orang bijak mana pun.
Karena, Yang Mulia, Anda telah memperoleh kebahagiaan rakyat Anda baik di kehidupan maupun di kehidupan berikutnya, sebagai akibat dari pengorbanan Anda yang dilakukan dalam kebenaran, bebas dari tindakan salah penyembelihan hewan yang dapat dicela. Masa-masa sulit telah berlalu dan penderitaan akibat kemiskinan telah berhenti, karena manusia telah diteguhkan dalam sila perilaku yang baik. Apa lagi yang perlu dikatakan? Rakyat-rakyat Anda gembira.
(32) Kulit kijang hitam yang menutupi anggota tubuh Anda ini mirip dengan bintik di permukaan bulan yang cerah, keindahan alami dari sikap Anda juga tidak dapat terhalang oleh pengendalian diri yang Anda pikul, karena Anda menjadi seorang dīkṣita. Kepala Anda, yang dihiasi dengan tata rambut yang sesuai dengan ritual dīkṣā, memiliki kilau tetap indah saat dihiasi dengan kemegahan payung kerajaan. Dan, yang tak kalah pentingnya, dengan kemurahan hati Anda, Anda telah melampaui kemasyhuran dan mengurangi kesombongan dari mereka yang dikenal telah melakukan seratus pengorbanan.
(33) Wahai penguasa yang bijak, upacara pengorbanan mereka lakukan demi mencapai beberapa tujuan sesungguhnya adalah tindakan keji, karena menyebabkan penderitaan kepada pada makhluk hidup. Sebaliknya, pengorbanan Anda yang merupakan monumen kemuliaan Anda ini, sepenuhnya sesuai dengan perilaku Anda yang indah dan keengganan Anda pada kejahatan.
(34) Oh! Berbahagialah para rakyat yang berada di dalam perlindunganmu! Sungguh tidak ada lagi ayah yang bisa menjadi wali yang lebih baik bagi anak-anaknya.”
Yang lainnya berucap:
(35) “Jika orang kaya berdana, mereka biasanya didorong untuk melakukannya dengan harapan dapat menanam kebajikan dan perilaku baik itu dilakukan juga demi keinginan untuk memperoleh penghargaan yang tinggi di antara manusia atau keinginan untuk mencapai alam surga setelah kematian. Namun praktik berdana yang Anda lakukan itu memberikan manfaat kepada orang lain, yang tidak dapat ditemukan kecuali pada mereka yang berhasil baik itu dalam pembelajaran maupun dalam berlatih dalam kebajikan.”
Dengan cara inilah, mereka yang hatinya murni tidak bertindak sesuai dengan bujukan orang yang tak bajik. Mengetahui hal ini, hati yang murni harus diupayakan.
[Dalam pelajaran spiritual bagi para pangeran, juga, ini harus dikatakan:
“Siapa yang menginginkan kebaikan kepada rakyatnya, dirinya berusaha, Dengan demikian mendatangkan keselamatan, kemuliaan, kebahagiaan. Tiada orang lain yang dapat menjadi raja seperti ini.”
Dan dapat ditambahkan sebagai berikut: “(Pangeran) yang mengejar kemakmuran materi, harus bertindak sesuai dengan ajaran agama, menganggap perilaku religius rakyatnya sebagai sumber kemakmuran.”
Lebih lanjut, hal ini di sini untuk dikatakan: “Melukai hewan tidak pernah membawa kebahagiaan, tetapi berdana, pengendalian diri, penahanan nafsu dan sejenisnya memiliki kekuatan ini; untuk alasan inilah dia yang merindukan kebahagiaan harus mengabdikan dirinya pada kebajikan-kebajikan ini.”
Dan juga ketika sedang berkhotbah tentang Sang Tathāgata: “Dengan cara ini Sang Bhagavā menunjukkan kecenderungannya untuk memperhatikan kepentingan dunia, ketika beliau masih dalam kehidupan sebelumnya.”]
Kisah tentang Avisahya (Kisah Relief Jatakamala 5)
Ringkasan:
Avisahya adalah seorang kaya raya yang senang membantu orang-orang yang berada dalam kesusahan. Kemurahan hatinya membuat namanya sangat termahsyur, bahkan hingga ke alam para dewa sekalipun. Pada suatu ketika, Sakra (raja para dewa) ingin menguji hatinya. Dengan menggunakan kesaktian, Sakra menghilangkan seluruh harta milik Avisahya, menyisakan sebuah arit dan seutas tali saja. Menyadari hartanya lenyap, Avisahya justru semakin menyadari betapa menderitanya hidup dalam kemiskinan. Ia pun mengambil arit, mencari rumput, dan menjualnya untuk mendapatkan uang. Alih-alih menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri, Avisahya justru menggunakan uang itu untuk membantu orang-orang miskin yang masih datang kepadanya. Sakra merasa takjub atas kemurahan hati Avisahya, kemudian mengembalikan hartanya.
5.1. Bodhisattva terlahir sebagai Avisahya
Pada suatu ketika, hiduplah seorang pemimpin perkumpulan yang bernama Avisahya. Harta kekayaannya yang melimpah tidak menggelapkan matanya, ia justru menggunakannya untuk membantu orang-orang yang sedang berada dalam kesusahan. Hartanya terus ia gunakan demi kepentingan orang lain. Nama Avisahya sendiri sebenarnya adalah julukan yang diberikan orang-orang kepadanya, yang berarti “Tidak Terkalahkan” karena ia tidak terkalahkan oleh kejahatan dan keegoisan.
5.2. Avisahya senang membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan
Rasa welas asih dan kemurahan hati Avisahya sangat besar. Ketika ia melihat para pengemis yang datang meminta bantuannya, hati kecilnya tersentuh. Rasa welas asih mendorongnya untuk membantu mereka, dan dalam hatinya tidak ada ruang sama sekali untuk melekati harta bendanya. Ia menyadari betul bahwa segala materi adalah sementara, oleh karena itu harus ia gunakan untuk meringankan penderitaan orang lain.
5.3. Avisahya kehilangan harta bendanya dan tetap membantu sesama
Kemurahan hati Avisahya terdengar hingga ke alam para dewa, membuat Sakra – raja para dewa – merasa penasaran dengannya. Sakra kemudian berniat mengujinya. Pada suatu hari, Avisahya menyadari bahwa hartanya menghilang dengan semakin cepat. Tapi alih-alih berhenti membantu orang lain, Avisahya justru merasa semakin terdorong untuk berbuat baik karena menyadari hartanya akan habis tidak lama lagi dan ia akan kehilangan kemampuan untuk membantu sesama.
Hal ini membuat Sakra semakin merasa penasaran. Akhirnya, Sakra melenyapkan seluruh harta benda miliki Avisahya, menyisakan dua hal saja, yakni sebuah arit dan seutas tali. Dan ketika Avisahya menyadari ia sudah kehabisan harta, ia sama sekali tidak meratapi harta bendanya. Ia justru berpikir bahwa orang yang diam-diam mencuri isi rumahnya mungkin sedang membutuhkan bantuan dan tidak berani meminta, oleh karena itu setidaknya hartanya masih berguna untuk orang lain.
Tetapi orang-orang masih datang untuk meminta bantuan Avisahya, sedangkan ia menyadari bahwa ia sudah tidak memiliki apa pun untuk diberikan. Menyadari hal ini, ia semakin merasa iba dengan para fakir miskin. Akhirnya ia mengambil arit untuk mencari rumput, mengikatnya dengan tali, dan menjualnya untuk mendapatkan uang. Uang tersebut kemudian ia gunakan untuk membantu fakir miskin.
5.4. Sakra merasa kagum dan mengembalikan harta milik Avisahya
Sakra, menyaksikan hal ini, merasa sangat kagum dengan Avisahya. Tapi Sakra berniat mengujinya satu kali lagi. Ia menampakkan dirinya di depan Avisahya yang sedang menyiangi rumput, dan berkata,
“Bukan pencuri, air, atau api yang merampok kekayaanmu. Ini adalah akibat dari kemurahan hatimu sendiri, yang telah membawamu ke dalam kondisi ini. Hal ini membuat teman-temanmu merasa khawatir.
Untuk alasan inilah aku memberitahumu, demi kebaikanmu sendiri: tahanlah kecintaanmu yang menggebu-gebu terhadap berdana. Meskipun engkau miskin saat ini, jika engkau tidak memberi, engkau mungkin akan mendapatkan kembali kekayaan indahmu yang dulu.”
Tetapi Avisahya menjawab:
“Kekayaan datang dan pergi bagai kilatan petir, melekatinya akan menyebabkan banyak penderitaan; sedangkan berdana adalah sumber kebahagiaan. Bagaimana mungkin aku dapat memikirkan diriku sendiri saja?”
Sakra kembali menggodanya:
“Engkau harus mengumpulkan kekayaan yang melebihi kemegahan pesaing-pesaingmu, dan dengan ini hartamu akan terkumpul kembali. Lepaskanlah keinginanmu untuk membantu fakir miskin. Bukankah engkau tidak melakukan kejahatan apa pun, jika engkau tidak memberi karena sudah tidak memiliki apa-apa?”
Avisahya kembali menjawab:
“Durasi hidup kita tidak pasti seperti kemakmuran dari harta kekayaan kita. Setelah merenungkan ini, kita tidak boleh mementingkan kekayaan kita saat bertemu dengan fakir miskin.
Dan jika sekali lagi aku mendapatkan kekayaan yang besar, itu pasti akan menyenangkan pikiran para pengemis: dan untuk saat ini, bahkan dalam kondisi ini, aku akan memberikan dana sesuai dengan kemampuanku. Dan semoga aku tidak pernah ceroboh dalam menepati ikrar amalku, wahai Śakra!”
Mendengar hal ini, Sakra tidak mampu lagi untuk menguji Avisahya. Hatinya dipenuhi dengan kekaguman. Akhirnya Sakra mengakui bahwa ia hanya sedang menguji Avisahya, dan mengembalikan seluruh hartanya. Setelah meminta maaf terhadap apa yang sudah ia lakukan kepada Avisahya, Sakra berpamitan dan kembali ke alam surga.
Kekayaan berubah-ubah bagai kilatan petir; itu mungkin datang kepada semua orang, dan itu adalah penyebab dari banyak bencana; sedangkan berdana adalah sumber kebahagiaan. Dengan demikian, bagaimana mungkin seorang bangsawan berpegang teguh pada keegoisan?
Bahkan dia yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri daripada kepentingan orang lain, harus melakukan pemberian, bukan memedulikan kekayaan. Karena kemewahan yang besar tidak memberinya kegembiraan seperti itu, karena kegembiraan disebabkan oleh kepuasan yang dia nikmati dengan menundukkan ketamakan melalui perbuatan berdana.
Durasi hidup kita tidak pasti seperti kemakmuran dari harta kekayaan kita. Setelah merenungkan ini, kita tidak boleh mementingkan kekayaan kita saat bertemu dengan fakir miskin.
Ah! Betapa hatimu bersinar dengan kilau keagungan yang luar biasa, dan betapa ia telah menghapus kegelapan perasaan mementingkan diri sendiri sepenuhnya, bahkan setelah kehilangan kekayaanmu, harapan untuk memulihkannya tidak dapat merusaknya dengan mengurangi kemurahan hatinya!
Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura Disusun oleh Garvin Goei Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti
Jātakamālā 5 – Aviṣahyaśreṣṭhijātakam (Kisah tentang Avisahya)
(21) Avisahya tetap berbuat baik | Langkan Borobudur Lt.1 | Fotografi oleh Bhikkhu Anandajoti
Jātakamālā 5 – Aviṣahyaśreṣṭhijātakam (Kisah tentang Avisahya)
Ditulis oleh: Ācārya Āryaśūra
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh: J. S. Speyer
Suntingan Bahasa Inggris oleh: Bhikkhu Anandajoti
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Garvin Goei
Baik itu rasa takut terhadap kehilangan harta benda maupun harapan terhadap kekayaan di masa depan, tidak akan membuat orang bajik berkekurangan dalam praktik memberi, seperti yang akan diajarkan berikut ini.
Pada saat ketika Guru Agung kita masih menjadi Bodhisattva, beliau hidup sebagai seorang kepala sebuah perkumpulan, terlahir dari sebuah keluarga terpandang. Dia memiliki banyak timbunan kebajikan: kemurahan hati, kesopanan, moralitas, pembelajaran suci, pengetahuan spiritual, kerendahan hati, dan sebagainya. Kekayaannya yang melimpah membuatnya tampak seperti Kubera. Dia menghabiskannya dengan menerima semua orang sebagai tamunya dan mempraktikkan dāna bagai pengorbanan yang kekal (sattra). Singkatnya, dia adalah seorang dermawan terbaik dan hidup untuk kebaikan umat manusia. Karena dia tidak terkalahkan oleh kejahatan, keegoisan, dan lainnya, dia dikenal dengan nama Aviṣahya (yaitu, “Yang Tak Terkalahkan”).
(1) Pemandangan para pengemis memiliki efek yang sama padanya, seperti yang dia alami kepada para pengemis. Bagi kedua pihak itu adalah penyebab utama kegembiraan, karena itu menghancurkan ketidakpastian tentang pencapaian objek yang diinginkan.
(2) Saat diminta memberi, dia tidak mampu mengatakan “tidak”. Rasa welas asihnya yang besar tidak menyisakan ruang di hatinya untuk melekat pada kekayaan.
(3) Kegembiraannya naik ke puncak tertinggi, ketika pengemis mengambil hal-hal terbaik dari rumahnya. Karena dia tahu yang disebut sebagai barang-barang itu adalah sumber bencana kekerasan dan berat, dan karena itu menyebabkan ketidakpuasan dalam waktu singkat dan tanpa alasan yang jelas.
(4) Biasanya, kekayaan, yang digabungkan dengan ketamakan, dapat disebut sebagai pedati di jalan menuju kemalangan. Sebaliknya, dengan dia, mereka (kekayaan itu) mendukung kebahagiaan dirinya sendiri dan orang lain; barang-barangnya nampak berguna sesuai dengan namanya.
Jadi, Sang Bodhisattva menganugerahkan hadiah besar kepada orang-orang yang mengemis di sekitar, dan memuaskan mereka sepenuhnya, memberi kepada masing-masing sesuai dengan keinginannya dan dengan murah hati, dan menghiasi hadiahnya dengan memberi hormat kepada para pemohon.
Ketika Śakra, raja para dewa, mendengar tentang kemurahan hatinya yang luhur, ia tercengang terdengan keheranan dan ingin mencoba keteguhan tekadnya. ia membuat persediaan sehari-hari berupa uang, biji-bijian, perhiasan, pakaian menghilang hari demi hari; “Mungkin rasa takutnya terhadap kehilangan barang-barangnya dapat menggodanya untuk mementingkan diri sendiri.” Namun demikian, Bodhisattva tetap bertekad pada kebajikan berdana.
(5) Seiring dengan barang-barangnya yang lenyap, seperti tetesan air yang terkena pancaran matahari, begitu sering pula ia kembali memerintahkan barang-barangnya untuk diambil dari rumahnya, seolah-olah sedang terbakar, dan melanjutkan pemberiannya yang besar.
Śakra, raja para dewa, memahami Bodhisattva tetap tekun seperti biasanya dalam berdana, meskipun kekayaannya selalu berkurang. Kekagumannya bertambah. Sekarang dia menyembunyikan seluruh kekayaannya dalam satu malam, kecuali seutas tali dan sebuah sabit.
Ketika Bodhisattva terbangun saat fajar seperti biasanya, dia tidak melihat barang-barang rumahnya, baik itu perabotan, uang, biji-bijian, atau pakaian, atau bahkan pembantu-pembantunya. Rumahnya tampak kosong, sunyi, dan sedih, seolah-olah dirampok oleh para rākṣasa; singkatnya, hal itu begitu menyedihkan. Kemudian dia mulai merenungkan masalah itu dan mencari-cari, tetapi dia tidak menemukan apa pun yang tersisa selain seutas tali dan sebuah sabit. Dan dia berpikir sebagai berikut: “Mungkin seseorang yang tidak terbiasa mengemis, tetapi tidak ingin mencari nafkah dengan tenaganya sendiri, dengan cara ini telah menunjukkan kebaikan kepada rumahku. Dalam hal ini, barang-barangku telah digunakan dengan baik. Namun, jika karena kesalahanku, seseorang yang merasa iri hati dengan status tinggiku, menyebabkan mereka hilang tanpa menjadi berguna bagi siapa pun, itu sangat disayangkan.
(6) Kerapuhan dari persahabatan dengan keberuntungan telah aku ketahui jauh sebelumnya; tetapi fakir miskin menjadi sedih karenanya, karena inilah hatiku sakit.
(7) Ketika datang ke rumahku yang kosong, bagaimana perasaan mereka, para pengemis, yang sudah lama terbiasa dengan kenikmatan hadiah dan keramahtamahan dariku? Bukankah mereka akan seperti orang-orang kehausan yang datang ke kolam yang mengering?”
Namun demikian, Bodhisattva tidak menyerah pada kesusahan dan kesedihan. Dia justru menjaga keteguhan pikirannya. Meskipun dalam kondisi ini, dia tidak mampu meminta-minta kepada orang lain, bahkan teman karibnya sekalipun, karena dia tidak pernah menjalani mata pencahariannya dengan mengemis. Apalagi, karena dia sendiri merasa sulit untuk mengemis, maka rasa iba terhadap orang yang mengemis menjadi semakin besar. Kemudian sang Bodhisattva ― yang masih dengan tekad untuk memberikan makanan, penyambutan baik, dan sejenisnya kepada para pengemis ― mengambil tali dan sabit itu, dan pergi untuk menyiangi rumput hari demi hari. Dengan sedikit uang yang dia peroleh dari menjual rumput, dia memenuhi kebutuhan para pengemis.
Tetapi Śakra, raja para dewa, melihat ketenangannya yang tak tergoyahkan dan pengabdiannya terhadap berdana bahkan dalam keadaan sangat miskin sekalipun, tidak hanya dipenuhi dengan keheranan, tetapi juga dengan kekaguman. Menunjukkan tubuh dewanya yang indah, dia berdiri di udara dan berbicara kepada Bodhisattva untuk mencegahnya berdana: “Perumah tangga,
(8-10) Bukan pencuri yang merampok kekayaanmu, atau air, atau api, atau pangeran. Ini adalah kemurahan hatimu sendiri, yang telah membawamu ke dalam kondisi ini, yang membuat teman-temanmu merasa khawatir.
Untuk alasan inilah aku memberitahumu, demi kebaikanmu sendiri: tahanlah kecintaanmu yang menggebu-gebu terhadap berdana. Meskipun engkau miskin saat ini, jika engkau tidak memberi, engkau mungkin akan mendapatkan kembali kekayaan indahmu yang dulu.
Dengan mengonsumsi terus-menerus meski sesedikit apa pun, harta memudar; dengan mengumpulkan, sarang semut menjadi tinggi. Bagi dia yang melihat ini, satu-satunya cara untuk meningkatkan kepemilikannya adalah dengan menahan diri.”
Akan tetapi, Bodhisattva menunjukkan pemikirannya yang tinggi dan praktik dāna yang terus-menerus, ketika ia menjawab Śakra dengan cara ini:
(11) “Seorang pria (ārya), betapapun tertekannya, hampir tidak akan melakukan apa pun yang tercela (anārya), wahai engkau Yang Bermata Seribu! Jangan biarkan kekayaan seperti itu menjadi milikku, wahai Śakra, jika untuk mendapatkannya aku harus hidup sebagai orang kikir.
(12, 13) Siapakah, yang menganggap dirinya bagian dari keluarga yang jujur, yang akan menyerang orang-orang malang yang ingin menemukan obat untuk kesedihan mereka dengan mengemis seperti hendak mati?
Jadi, mungkinkah orang seperti aku ini, harus menerima permata, atau kekayaan, atau bahkan alam di antara para dewa, dan tidak menggunakannya untuk tujuan menyenangkan wajah para pengemis, yang menjadi pucat karena rasa sakit meminta?
(14) Penerimaan seperti itu, yang hanya akan cenderung meningkatkan sifat mementingkan diri sendiri yang buruk, bukan untuk memperkuat kecenderungan memberi, harus sepenuhnya ditinggalkan olehku; karena itu adalah malapetaka yang terselubung.
(15) Kekayaan berubah-ubah bagai kilatan petir; itu mungkin datang kepada semua orang, dan itu adalah penyebab dari banyak bencana; tetapi berdana adalah sumber kebahagiaan. Dengan demikian, bagaimana mungkin seorang bangsawan berpegang teguh pada keegoisan?
(16) Oleh karena itu, Śakra, engkau telah menunjukkan sifat baikmu kepadaku, aku juga berterima kasih atas simpati dan ucapan harapan baikmu; namun hatiku terlalu terbiasa dengan kegembiraan yang disebabkan oleh berdana. Lalu, bagaimana ini bisa menyenangkan dengan cara yang salah?
(17) Namun, bagaimanapun juga, kumohon engkau tidak marah akibat hal ini! Memang, tidak mungkin untuk menyerang benteng karakter asliku dengan kekuatan kecil.”
Śakra berkata: “Perumah tangga, apa yang engkau gambarkan adalah tindak tanduk bagi orang kaya, yang harta dan lumbungnya penuh hingga puncak, bagi mereka berbagai macam pekerjaan telah dilakukan dengan baik (oleh para pelayannya), yang telah menjamin masa depannya, dan telah mendapatkan kekuasaan di antara manusia, tetapi perilaku itu tidak sesuai dengan kondisimu. Lihat,
(18-20) Engkau harus mengumpulkan kekayaan yang melebihi kemegahan pesaing-pesaingmu yang seperti matahari terlebih dahulu, melalui berdagang secara jujur baik itu dengan mengikuti kecerdasanmu sendiri atau dengan mengikuti jalur perdagangan tradisional keluargamu, selama itu sesuai dengan nama baikmu. Maka pada kesempatan yang tepat, tunjukanlah kemewahanmu kepada orang-orang, dan bergembiralah kerabat serta teman-temanmu.
Kemudian, setelah memperoleh penghormatan yang pantas bahkan dari bagian raja dan menikmati nikmatnya keberuntungan seperti pelukan dari seorang kekasih yang penuh kasih sayang, jika kemudian muncul keinginan untuk berdana ataupun kesenangan duniawi, tidak ada yang akan menyalahkanmu.
Tetapi kecintaan terhadap berdana belaka, tanpa kepemilikan harta, hanya membuat seseorang datang kepada bencana, seperti burung yang ingin terbang di udara dengan sayap yang belum bertumbuh sempurna.
(21) Oleh karena itu, engkau harus memperoleh kekayaan dengan cara berlatih menahan diri dan mengejar tujuan yang sederhana, dan sementara itu melepaskan kerinduan untuk berdana. Dan bukankah engkau tidak melakukan kejahatan apapun, jika engkau tidak memberi karena tidak memiliki apa-apa?”
Bodhisattva menjawab: “Kumohon Yang Mulia hendaknya tidak mendesakku.
(22, 23) Bahkan dia yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri daripada kepentingan orang lain, harus melakukan pemberian, bukan memedulikan kekayaan. Karena kemewahan yang besar tidak memberinya kegembiraan seperti itu, karena kegembiraan disebabkan oleh kepuasan yang dia nikmati dengan menundukkan ketamakan melalui perbuatan berdana.
Ditambah lagi, bahwa kekayaan belaka tidak membawa kita ke surga, sedangkan beramal itu sendiri sudah cukup untuk memperoleh reputasi yang suci. Lebih jauh lagi, kekayaan adalah penghalang untuk menundukkan keegoisan dan sifat buruk lainnya. Kalau begitu, siapakah yang semestinya tidak mempraktikkan dāna?
(24) Bagaimanapun juga, dia yang melindungi makhluk-makhluk yang dikelilingi oleh usia tua dan kematian, ingin menyerahkan dirinya dalam praktik dāna, digerakkan oleh welas asih; dia yang karena penderitaan orang lain dilarang untuk menikmati kesenangan. Katakanlah, apa guna baginya kegembiraan yang sangat besar itu, seperti yang engkau miliki?
Dengarkan juga ini, wahai raja para dewa.
(25) Durasi hidup kita tidak pasti seperti kemakmuran dari harta kekayaan kita. Setelah merenungkan ini, kita tidak boleh mementingkan kekayaan kita saat bertemu dengan fakir miskin.
(26) Jika satu gerbong telah melewati lintasan di tanah, yang kedua akan melewati lintasan itu dengan yakin, dan seterusnya. Oleh karena itu, aku tidak akan menolak jalan baik yang pertama ini, bukan lebih memilih untuk membawa keretaku ke jalan yang salah.
(27) Dan jika aku sekali lagi mendapatkan kekayaan yang besar, itu pasti akan menyenangkan pikiran para pengemis: dan untuk saat ini, bahkan dalam kondisi ini, aku akan memberikan dana sesuai dengan kemampuanku. Dan semoga aku tidak pernah ceroboh dalam menepati ikrar amalku, Śakra!”
Terhadap kata-kata ini, Śakra, raja para dewa, dengan damai sepenuhnya berseru dengan pujian: “Luar biasa, luar biasa,” dan menatapnya dengan kekaguman dan kebaikan, berbicara:
(28, 29) “Orang-orang (lain) mengejar kekayaan dengan segala cara, baik itu dengan cara rendah maupun kasar dan merusak reputasi mereka, tanpa memedulikan bahaya, karena mereka terikat pada kesenangan mereka sendiri dan tersesat oleh ketidakpedulian mereka.
Sebaliknya, engkau tidak keberatan kehilangan kekayaanmu, atau kekurangan kesenanganmu, maupun tergoda olehku; Menjaga pikiranmu tetap teguh dalam meningkatkan kesejahteraan orang lain, engkau telah menunjukkan kebesaran sifatmu yang luar biasa!
(30) Ah! Betapa hatimu bersinar dengan kilau keagungan yang luar biasa, dan betapa ia telah menghapus kegelapan perasaan mementingkan diri sendiri sepenuhnya, bahkan setelah kehilangan kekayaanmu, harapan untuk memulihkannya tidak dapat merusaknya dengan mengurangi kemurahan hatinya!
(31) Namun, karena engkau menderita atas penderitaan orang lain, dan digerakkan oleh upaya welas asih demi kebaikan dunia, tidak mengherankan bagaimanapun juga, bahwa aku tidak dapat menghalangi engkau untuk berdana. Sekecil gunung yang cerah bersalju yang diguncang oleh angin.
(32) Tetapi untuk meningkatkan nama baikmu melalui cobaan, aku menyembunyikan kekayaanmu itu. Tidak lain dari percobaan sebuah permata, yang meskipun indah, dapat mencapai nilai puncak dari sebuah permata terkenal.
Kalau begitu, tuangkanlah pemberian-pemberianmu kepada para pengemis, puaskanlah mereka seperti awan hujan besar yang memenuhi kolam. Demi kebaikanku, engkau tidak akan pernah mengalami kehilangan kekayaanmu, dan engkau harus memaafkan perilakuku terhadapmu. “
Setelah memujinya, Śakra mengembalikan harta besarnya kepadanya, dan memperoleh pemaafannya, kemudian dia menghilang di tempat.
Maka dengan cara inilah, orang bajik tidak akan membiarkan diri mereka kekurangan dalam kebajikan praktik memberi baik itu karena hilangnya kekayaan mereka atau karena mengharapkan kekayaan.
Raja Kosala, yang tekun dalam praktik spiritual, dapat mengingat kembali kelahiran lampaunya sebagai seorang pelayan. Pada suatu ketika, saat sang pelayan melihat empat orang pertapa sedang berkeliling mencari makan, ia mengundang para pertapa itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Di sana ia menjamu mereka dengan semangkuk kecil bubur. Atas perbuatan bajik itu, ia terlahir kembali sebagai seorang raja. Setelah itu sang ratu, yang juga dapat mengingat kelahiran lampaunya, menceritakan bahwa ia juga pernah terlahir sebagai seorang budak dan menjamu seorang pertapa suci dengan makanan sisa. Meskipun pemberiannya sederhana, namun itu diberikan dengan hati yang tulus. Akibatnya, pada kehidupan ini ia terlahir sebagai seorang ratu.
3.1. Pelayan mengundang empat pertapa untuk masuk ke dalam rumah
Pada suatu ketika, hiduplah seorang pelayan miskin yang harus bekerja keras agar dapat menghidup diri dan keluarganya. Pada suatu hari, ia melihat empat orang pertapa yang terlihat tenang dan anggun. Ia kemudian mengundang keempat pertapa itu untuk mampir ke rumahnya dan menjamu mereka dengan semangkuk kecil bubur.
3.2. Seorang budak perempuan memberikan makanan sisa kepada pertapa suci
Sedangkan di tempat lain, hiduplah seorang budak perempuan. Saat itu ia melihat seorang pertapa suci. Hatinya tergugah oleh ketenangan pertapa itu, sehingga ia mempersembahkan makanan yang tersisa kepada sang pertapa. Meskipun pemberiannya sederhana, tetapi pemberian itu ternyata menjadi sebuah jasa kebajikan yang besar.
3.3 Sang raja menceritakan kisah kelahiran lampaunya kepada sang ratu
Di waktu yang lain, hiduplah seorang raja di negeri Kosala yang makmur. Raja ini terkenal tekun mempraktikkan Dharma. Pada suatu ketika, ia mampu mengingat kembali kelahiran lampaunya. Dan atas permintaan istrinya di depan para petugas kerajaannya, sang raja menceritakan kembali kelahiran lampaunya.
Ternyata sang raja adalah kelahiran kembali dari pelayan yang pernah memberikan semangkuk kecil bubur kepada para pertapa. Cerita ini membuat sang ratu bergembira.
Selain sang raja, sang ratu juga ternyata dapat mengingat kembali kelahiran lampaunya. Kini raja juga meminta ratu untuk menceritakan apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya, sehingga ia bisa terlahir kembali dalam kehidupan yang baik.
Sang ratu ternyata adalah budak perempuan yang pernah memberikan sisa-sisa makanan kepada seorang pertapa suci. Pemberian kecil itu ternyata tidak memberikan hasil yang remeh. Kini ia terlahir sebagai seorang ratu yang berparas cantik dan berstatus tinggi.
3.4. Raja memberikan khotbah Dharma
Sang raja, setelah mengingat kembali kelahiran lampaunya dan mengetahui kelahiran lampau istrinya, menyadari bahwa berdana dapat memberikan jasa kebajikan yang sangat besar. Ia kemudian berkata kepada para petugas yang sedang hadir:
“Bagaimana mungkin seseorang tidak mengabdikan dirinya untuk melakukan perbuatan baik dengan mempraktikkan dana dan sīla, setelah melihat hasil yang besar dan indah dari perbuatan baik yang kecil sekalipun?
Sesungguhnya berdana adalah harta karun yang besar, harta yang selalu bersama kita dan tidak dapat direbut oleh para pencuri dan lainnya. Berdana membersihkan pikiran dari kotoran keegoisan dan kemelekatan; ini adalah wahana yang mudah untuk menghilangkan penderitaan dalam perjalanan melalui Saṁsāra; ia adalah teman terbaik dan tetap kita, yang berusaha untuk mendapatkan kesenangan dan kenyamanan yang berlipat ganda bagi kita.”
3.5. Para petugas kerajaan bersuka cita setelah mendengarkan khotbah tersebut
Setelah mendengarkan buah yang besar dari berdana dan khotbah dari sang raja, para petugas kerajaan merasa bersuka cita. Mereka kemudian bertekad untuk tekun mempraktikkan kemurahan dengan sungguh-sungguh.
Maka pemberian apa pun yang dihasilkan dari keyakinan di dalam hati, dan diberikan kepada penerima yang layak, memberikan hasil yang luar biasa.
Lihatlah buah kemakmuran yang melimpah, yang dihasilkan oleh sebagian kecil bubur tanpa garam, kering, kasar, dan berwarna coklat kemerahan.
Bagaimana mungkin seseorang tidak mengabdikan dirinya untuk melakukan perbuatan baik dengan mempraktikkan dana dan sīla, setelah melihat hasil yang besar dan indah dari perbuatan baik yang kecil sekalipun?
Sesungguhnya berdana adalah harta karun yang besar, harta yang selalu bersama kita dan tidak dapat direbut oleh para pencuri dan lainnya.
Berdasarkan kitab “Jatakamala” karya Acarya Aryasura Disusun oleh Garvin Goei Foto relief oleh Bhikkhu Anandajoti
Jātakamālā 3 – Kulmāṣapiṇḍījātakam (Kisah Semangkuk Kecil Bubur)
(13) Sang raja mengajarkan Dharma, Langkat tingkat 1, Borobudur, foto oleh Bhikkhu Anandajoti
Jātakamālā 3 – Kulmāṣapiṇḍījātakam (Kisah Semangkuk Kecil Bubur)
Ditulis oleh: Ācārya Āryaśūra
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh: J. S. Speyer
Suntingan Bahasa Inggris oleh: Bhikkhu Anandajoti
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Garvin Goei
Pemberian apa pun, yang dihasilkan melalui keyakinan hati dan dipersembahkan kepada penerima yang layak, akan memberikan hasil yang luar biasa; tidak ada pemberian yang dapat diremehkan, seperti yang akan diajarkan berikut ini.
Pada saat itu, ketika Sang Bhagavā masih seorang Bodhisattva, beliau adalah raja Kośala. Meskipun beliau menunjukkan kebajikannya sebagai seorang raja, seperti ketekunan, kebijaksanaan, keagungan, kekuasaan, dan lainnya dalam tingkat yang sangat tinggi, kecemerlangan dari kebajikannya, kebahagiaannya yang besar, melampaui yang lainnya.
(1) Kebajikannya yang dihiasi oleh kebahagiaannya, semakin bercahaya bagai sinar rembulan, ketika musim gugur membuat kemegahannya meluas.
(2) Keberuntungan selalu mengikutinya bagai seorang kekasih, meninggalkan musuh-musuhnya dan menyayangi para pengikutnya.
(3) Kebajikan mencegah pikirannya untuk melakukan kejahatan, sehingga ia tidak menindas musuhnya sama sekali. Tetapi nasib baik mengikutinya dengan sedemikian rupa, menunjukkan kecintaannya kepada sang raja, sehingga musuh-musuhnya tidak berkembang meskipun tidak ditekan.
Pada suatu hari sang raja mengingat kembali kelahiran sebelumnya yang terakhir. Setelah mengingat kelahiran lampaunya, ia merasa sangat tersentuh. Dia melakukan pemberian yang lebih besar lagi dalam dāna – motif dan penyebab utama dari kebahagiaan – kepada para Śramana dan Brāhmana, kepada mereka yang malang dan para pengemis; ia tak henti-hentinya memupuk ketaatannya pada perilaku yang baik (śīla); dan dia menjaga latihan poṣadha dengan ketat pada hari-hari upavasatha. Selain itu, karena ia berkeinginan untuk membawa rakyat-rakyatnya ke dalam jalan keselamatan dengan cara memperbesar kekuatan tindakan yang bermanfaat, dia memiliki kebiasaan mengucapkan dua bait syair ini dengan hati penuh keyakinan di ruang pertemuan dan juga di bagian dalam istananya, penuh dengan makna:
(4) “Mendatangi para Buddha dengan memberikan penghormatan, sekecil apa pun, tidak akan menghasilkan buah yang remeh. Ini telah diajarkan sebelumnya hanya melalui kata-kata, namun sekarang dapat dilihat. Lihatlah buah kemakmuran yang melimpah, yang dihasilkan oleh sebagian kecil bubur tanpa garam, kering, kasar, dan berwarna coklat kemerahan.
(5) Pasukanku yang perkasa ini, dengan kereta dan kudanya yang indah serta kumpulan gajah kuat berwarna biru tua; kedaulatan atas seluruh bumi; kekayaan yang besar; nikmat keberuntungan; istriku yang mulia; lihatlah keindahan simpanan buah ini, yang dihasilkan dari sebagian kecil bubur kasar.”
Baik para menterinya maupun yang paling berharga di antara para Brāhmana maupun yang terkemuka di antara penduduk kota, tersiksa oleh rasa ingin tahu, memberanikan diri untuk bertanya kepada raja tentang apa yang ia maksud tentang dua bait ini, yang biasa ia ucapkan setiap saat. Kini karena raja yang terus mengulanginya, sang ratu juga menjadi penasaran; dan karena ia merasa lebih sedikit malu dalam mengajukan permintaannya, suatu hari, kesempatan untuk memasuki percakapan tentang topik itu muncul, dan ia mengajukan pertanyaan ini kepada sang raja di depan umum;
(6, 7) “Sungguh tuanku, setiap saat engkau melafalkannya, seolah-olah engkau melampiaskan kegembiraan yang ada di dalam hatimu. Tapi hatiku terusik oleh rasa ingin tahu atas perkataanmu itu.
Jika rakyat-rakyatku diizinkan untuk mendengarnya, maka katakanlah, apa yang Anda maksud dengan ucapan ini, tuan. Tentu ini bukanlah sebuah rahasia; oleh karena itu, ini harus diketahui oleh masyarakat, dan izinkan aku menanyakan kepadamu tentang ini.”
Kemudian raja menunjukkan sedikit kegembiraan pada ratunya, dan dengan wajah yang tersenyum lebar ia berbicara:
(8, 9) “Ketika mendengar ucapanku ini tanpa mengetahui penyebabnya, bukan hanya engkau, yang diliputi oleh keingintahuan, tetapi juga seluruh pejabat dan penduduk kota terusik dan terganggu oleh keinginan untuk mengetahui artinya. Dengarkanlah yang akan kukatakan ini.
(10) Bagaikan seseorang yang terbangun dari tidur, aku mengingat kelahiranku, ketika aku hidup sebagai seorang pelayan di kota ini juga. Meskipun aku menjaga sĪla, aku mendapatkan penghidupan yang menyedihkan dengan melakukan kerja upah bagi orang-orang yang ditinggikan hanya karena kekayaan mereka.
(11) Maka pada suatu hari aku akan memulai menawarkan jasaku untuk digunakan, tempat tinggal dari kerja keras, penghinaan, dan kesedihan, berjuang untuk mendukung (keluargaku) dan merasa ketakutan, jangan sampai aku kekurangan sarana mata pencaharian; saat itu aku melihat empat orang Śramaṇa dengan indera yang terkendali, yang disertai oleh kebahagiaan kepertapaan, pergi untuk menerima dana makanan.
(12) Setelah membungkuk kepada mereka dengan pikiran yang dilembutkan oleh keyakinan, aku dengan hormat menjamu mereka di rumahku dengan semangkuk kecil bubur. Dari tunas itu bermunculan pohon kebesaran ini, bahwa gemerlap lambang permata raja-raja lain sekarang terpantul dalam debu di kakiku.
(13) Memikirkan hal ini, aku melafalkan syair ini, ratuku, dan untuk alasan ini aku menemukan kepuasan dalam melakukan jasa kebajikan dan menerima para Arhat.”
Kemudian wajah ratu mengembang dengan kegembiraan dan keterkejutan. Dia mengangkat matanya dengan hormat kepada raja, berkata: “Sangat mungkin, sungguh, bahwa kemakmuran yang begitu besar adalah buah yang dihasilkan oleh perbuatan baik; karena engkau, baginda, telah menjadi saksi dari hasil perbuatan baik, sangat ingin (mengumpulkan) jasa kebajikan. Karena alasan inilah Anda tidak menyukai tindakan jahat, cenderung melindungi rakyatmu seperti seorang ayah, dan berniat untuk menghasilkan banyak jasa kebajikan.
(14) Bersinar dengan kemuliaan agung yang diperkuat oleh amal, penakluk raja-raja pesaingmu menunggu perintahmu dengan kepala tertunduk; semoga engkau dapat mengelola dunia ini hingga perbatasan samudra yang bertiupkan angin untuk jangka waktu yang lama!”
Raja berkata: “Mengapa ini tidak harus terjadi? ratuku!
(15) Sesungguhnya, aku akan berusaha sekali lagi untuk mempertahankan jalan menuju pembebasan, yang telah kucatat tanda-tanda indahnya. Orang-orang akan senang memberi setelah mendengar buah dari berdana; dan setelah mengalaminya sendiri, mengapa aku harus tidak bermurah hati,?”
Sekarang raja, dengan lembut memandangi ratunya, melihatnya bersinar dengan kemegahan yang hampir seperti dewa, dan ingin mengetahui alasan dari kecerahan itu, berkata lagi:
(16) “Seperti bulan sabit di tengah bintang, engkau bersinar di antara para wanita. Katakanlah, perbuatan apa yang telah kamu lakukan, sayangku, sehingga mendapatkan hasil yang sangat manis ini? “
Ratu menjawab: “Baik, tuanku, aku juga memiliki beberapa ingatan tentang hidupku di kelahiranku yang lampau.” Sekarang, ketika raja dengan lembut memintanya untuk mengatakannya, dia berbicara:
(17, 18) “Seolah sesuatu yang dialami di masa kecilku, aku ingat menjadi seorang budak, setelah mendanakan sisa-sisa hidangan dengan keyakinan kepada seorang Muni dengan nafsu yang padam, aku tertidur di sana, dan seolah-olah, dan terbangun dari tidur di sini.
Dengan tindakan bermanfaat ini pangeranku, aku mengingat, aku telah memilikimu sebagi tuanku, bersamamu berbagi dunia. Apa yang engkau katakan: ‘tentu saja, tiada manfaat kecil dari pemberian kepada orang-orang suci yang telah memadamkan hawa nafsu mereka’ – kata-kata ini kemudian diucapkan oleh orang suci itu.“
Kemudian raja, menyadari bahwa perkumpulan itu diliputi oleh perasaan bakti dan takjub, dan bahwa perwujudan dari hasil jasa kebajikan telah membangkitkan rasa penghargaan yang tinggi di dalam pikiran mereka terhadap tindakan yang berjasa, dengan sungguh-sungguh memberikan penekanan kepada mereka yang hadir seperti ini:
(19) “Bagaimana mungkin seseorang tidak mengabdikan dirinya untuk melakukan perbuatan baik dengan mempraktikkan dana dan sīla, setelah melihat hasil yang besar dan indah dari perbuatan baik yang kecil sekalipun? Tidak, orang seperti itu bahkan tidak layak dipandang, yang tenggelam dalam kegelapan ketamakan, harus menolak untuk membuat dirinya dikenal karena perolehannya, meskipun ia cukup makmur untuk melakukannya.
(20) Jika dengan meninggalkan kekayaan melalui cara yang benar – yang harus ditinggalkan dan tidak berguna sama sekali – berbagai kualitas baik dapat diperoleh; maka siapakah yang akan mengikuti jalan keegoisan setelah mengetahui pesona kebajikan ini? Sesungguhnya berbagai kebajikan yang berbeda dapat ditemukan melalui berdana.
(21) Sesungguhnya berdana adalah harta karun yang besar, harta yang selalu bersama kita dan tidak dapat direbut oleh para pencuri dan lainnya. Berdana membersihkan pikiran dari kotoran keegoisan dan kemelekatan; ini adalah wahana yang mudah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan melalui Saṁsāra; ia adalah teman terbaik dan tetap kita, yang berusaha untuk mendapatkan kesenangan dan kenyamanan yang berlipat ganda bagi kita.
(22) Semua diperoleh dengan berdana, apa pun yang diinginkan, apakah itu kekayaan yang berlimpah atau dominasi yang cemerlang, atau tempat tinggal di kota para dewa, atau keindahan tubuh. Siapa, setelah mengingat hal ini, yang seharusnya tidak melakukan dana?
(23) Berdana, dikatakan, merupakan nilai kekayaan; itu juga disebut penyebab utama dari dominasi, tindakan bakti yang agung. Bahkan kain lap untuk gaun, yang diberikan oleh orang yang berpikiran sederhana, adalah hadiah yang diberikan dengan baik.”
Mereka yang hadir, dengan hormat, menyetujui wacana meyakinkan dari sang raja ini, dan merasa tertarik untuk melakukan dana dan sejenisnya.
Maka hadiah apa pun yang dihasilkan dari keyakinan di dalam hati, dan diberikan kepada penerima yang layak, memberikan hasil yang luar biasa; sama sekali tidak ada yang seperti hadiah sepele seperti itu.
[Untuk alasan ini, berdana dengan hati yang setia kepada Komunitas Suci – bidang yang paling unggul dan pantas untuk (menabur) tindakan yang bermanfaat – seseorang dapat memperoleh kegembiraan yang terbesar, dengan mempertimbangkan sebagai berikut: “berkah seperti itu, dan bahkan lebih besar dari ini, semoga segera terjadi padaku juga.“]